Ia berdiri di tengah ilalang yang tumbuh semakin tinggi dari hari ke hari diatas tanah. Langit hari ini juga sama seperti hari lalu, biru cerah tanpa diiringi awan yang menggantung, menutupi sinar matahari. Angin yang berhembus, menggoyangkan ilalang, memberikan tanda kehidupan pada setiap tangkainya. Daun pepohonan yang tumbuh di depan sana pun juga bergoyang, ketika angin menerpanya. Namun, tidak begitu dengan rambut seorang pemuda yang tengah berdiri diantara ilalang disana. Rambut pirang panjangnya yang halus tidak sedikitpun bergerak, biarpun angin tengah berhembus melewati tiap helai rambut indahnya. Demikian juga wajabnya yang tidak merasakan hembusan angin. Ia seperti dilewati begitu saja oleh udara yang bergerak itu.
Ia lalu melihat sesosok berperawakan tinggi tegap tengah berdiri tidak jauh dari pohon di depan pemuda itu, mengenakan jubah yang menjuntai hingga ke tanah, menutupi kakinya. Ia melihat lebih seksama ke sosok itu, namun wajahnya tertutup oleh kerudung jubahnya itu. Apakah itu saudaranya yang tengah berhenti sejenak dari pekerjaannya di ladang? Ataukah ayahnya yang datang kemari mencarinya? Ia memanggil kedua orang itu, namun tidak ada jawaban dari orang tersebut. Ia hanya berdiri diam disana.
Karena penasaran, ia berjalan menghampiri orang tersebut, sembari berkata, "tuan, siapakah anda?" Ia masih tidak menjawab. "Dari manakah anda berasal?" Ia hanya memalingkan wajahnya sebentar dan menengadah.
melihat sosok di depannya menengadahkan wajahnya ke langit, pemuda itu sontak mengikutinya, lalu ia seperti memahami sesuatu. Dengan degup jantung yang semakin kencang, pemuda itu kembali menatapnya. Ia berteriak dalam hati, lebih tepatnya ia meneriaki dirinya sendiri untuk berbalik dan berlari. Akan tetapi, tubuhnya tetap diam dan kakinya seolah kehilangan kekuatannya. Jangankan hanya untuk mengangkat satu jari, kakinya justru tersujud tak berdaya di depan sosok itu. Nafasnya tersengal-sengal seperti seorang anak yang habis berlari kencang dan matanya terus melihat ke atas tanah, tempat dimana kakinya seharusnya berdiri. Alangkah terkejutnya ia, ketika rerumputan di sekelilingnya tertiup angin, bergoyang kesana kemari menembus kakinya yang tertekuk diatas tanah.
Ia mengulurkan satu tanganya dengan berdetak, menggapai sebuah batu seukuran kepalan tangannya dan mencoba untuk menyentuk batu itu. Seperti halnya rerumputan disana, tubuhnya hanya menembus batu padat itu. Sekali lagi, ia mencoba menggenggam batu disana, namun tetap sama saja. Tubuhnya tidak mampu menggenggam apapun disana.
Butuh beberapa waktu, anak laki-laki itu untuk menerima keadaanya saat itu. Meski awalnya ia merasa takut dan tubuhnya bergetar karena kenyataan itu, pada akhirnya ia dapat mengendalikan diri. Ia menengadahkan wajahnya dan masih melihat sosok itu melayang-layang disana.
"Apakah tuan datang untuk membawa saya ke suatu tempat?" Tanya pemuda itu, dengan suara serak dan sedikit bergetar.
Sosok berjubah hitam yang tengah melayang di depannya, hanya diam mendengarkan pertanyaan darinya. Ia lalu memalingkan wajahnya yang tertutupi kerudung jubahnya ke sebelah kanannya. Seolah itu adalah jawaban dari pertanyaannya, pemuda itu lantas berdiri sembari melihat kemana wajah sosok berjubah hitam itu memalingkan wajahnya. Ia seolah mengerti, kemana sosok berjubah hitam itu memandang. Dengan tubuh yang masih bergetar, ia lantas berdiri, lalu berjalan mengikutinya dibelakang.
Sosok berjubah hitam itu terus melayang tidak terlalu tinggi, namun juga tidak terlalu rendah. Ia terbang melewati rerumputan dan batu-batu dibawahnya dengan berlahan, seolah-olah ia mengimbangi kecepatan jalan pemuda di belakangnya yang berjalan mengikutinya. Ia terus mengikutinya dari belakang, meski ia tidak tahu akan dibawa kemana. Apakah itu benar menuju tempat yang ia ketahui ataukah mereka hanya akan melewatinya saja dan pergi ke tempat lain.
Dari belakang, sosok berjubah hitam itu terlihat agung, dengan tubuh tinggi besarnya yang melayang ditengah udara. Warna jubah hitamnya yang tidak seirama dengan cerahnya hari itu, membuat sosoknya terlihat jelas diantara pepohonan disana, seandainya ia dapat dilihat oleh mata.
Di bawah sosok itu, melintas dua ekor hewan kecil yang tengah berlari melintasi hutan. Ia lantas berjalan mengitari kedua mahkluk kecil berbulu itu, ketika mereka berhenti tepat dekat kakinya yang tak kasat mata oleh mereka. Pemuda itu teringat, ayahnya pernah memberitahukan nama hewan itu, namun kini ia melupakannya. Ia teringat mata berbinarnya, ketika ia melihat hewan kecil itu untuk pertama kali.
Hewan itu sangat pemalu, jika bertemu dengan hewan lain, terutama saat bertemu dengan manusia. mereka dengan gesit akan segera berlari kencang. Tapi kini mereka seolah tidak mengetahui kehadiranya. Ia kemudian berjalan lebih mendekat ke mereka. Masih tidak ada reaksi dari mereka. Mungkin mereka memang tidak melihatnya. Ah....kini ia tidak terlihat oleh mata mereka.
Terlintas dalam benaknya, bagaimana jika ada hewan yang melewati tubuhnya yang kini tidak kasat mata. Ia mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh kedua makhluk mungil itu.Ia membayangkan batapa halus bulu kuning kecoklatan yang membungkus seluruh tubuhnya. Dan benar, tangannya menembus tubuh mereka. Sedetik kemudian, usai tanganya telah melewati tubuhnya, hewan mungil itu seperti terkejut, lalu melihat ke atas, dimana pemuda itu berada.
Ia tersentak. Ia dapat melihat tepat ke tengah bola mata hewan di hadapannya. Warna mata kuning kecoklatanya, dengan pusat bola mata tengahnya yang hitam gelap. Kedua mata mungilnya tidak mengaluhkan pandangannya dari mata pemuda di hadapannya itu, seperti sedang membuat kontak mata satu sama lain. Apakah ia dapat melihatnya sekarang?
Tak berapa lama, hewan itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seketika, harapan hampa yang muncul entah dari mana, sirnah seluruhnya. Ia menyadari, sepertinya disini bukan tempatnya lagi.