Jihana menggeliat malas di tempat tidur sederhana. Matanya terasa silau tersebab cahaya menembus kaca jendela. Seiring detak jam dinding terdengar nyaring. Tidak ada suara ibu, hanya sayup-sayup kelontang panci atau wajan dari dapur.
Jihana mengambil gawai yang sedari tadi berbunyi sembari mengucek-ngucek mata.
“Halo! Ke mana aja, sih, lama banget ngangkatnya?” Suara itu terdengar sedikit kesal.
“Hoaaam, iya halo.” Jihana menjawab malas tanpa melihat nama si empu suara.
“Gila, ya, jam segini baru bangun, anak gadis kok males amat ....” Suara cempreng di seberang sana menjawab dengan geram.
“Iya, iya tahu kok gue emang mageran. Biasa aja nadanya, Nadira cempreeeeng.”
“Jadikan rencana kita hari ini?”
“Jadi dong!”
“Oke, Gue jemput jam 9 ya, Jihana Asmara si Ratu Magerrr ....” Bunyi 'R' yang terdengar cadel dari suara Nadira itu membuat Jihana terkekeh geli.
“Siap Nadira Aina si Ratu Cempreng dan Cadeeeeel.”
Nadira Aina, sahabat yang teramat Jihana sayangi sudah seperti kakaknya sendiri. Mereka bersahabat sejak di SMK dulu. Sebenarnya Nadira berusia setahun di atas Jihana, tetapi karena ekstrakurikuler dan banyak kesamaan hobi mereka menjadi sangat akrab.
Nadira memang tak semenawan Jihana, tetapi begitu menarik dengan kecantikan yang dimilikinya. Kepintaran dan ambisinya jelas terlihat dari pembawaannya.
Meski sama-sama dari keluarga sederhana. Setidaknya Nadira masih memiliki keluarga lengkap yang hidup damai hingga sekarang. Dari ayahnyalah ia tertular ambisi-ambisi yang kuat itu.
Terkadang Jihana pun tak memungkiri rasa irinya akan keberuntungan Nadira, tetapi bukan semacam iri yang ingin merampas. Sekadar ingin merasakan kelengkapan keluarga, tetapi mustahil. Meski demikian Jihana tetap bersyukur memiliki ibu yang teramat menyayangi dan disayanginya. Seorang ibu sekaligus figur Ayah bagi gadis itu. Wanita terkuat di sepanjang masa dalam hidupnya.
◇◇◇
Jihana segera membersihkan diri lalu mempersiapkan semua kelengkapan yang harus dibawa. Hingga nada pengingat pesan w******p terdengar mengalihkan perhatiannya.
Reno: Pagi, Jihan. Udah bangun belum?
Membaca pesan sapaan di pagi hari dari seseorang yang sangat disayangi, memang membuat Jihana tersenyum senang.
Jihana: Pagi juga, Ren. Udah kok, malah udah mandi.
Cekrek ....
Jihana membalas pesan itu disertai hasil swafoto, menampilkan dirinya yang sudah rapi dengan ciri khas rambut panjang yang diikat seluruhnya.
Reno: Kok tumben? Pasti mau jalan, nih? Ke mana?
Maafin gue, Ren.
Jihana menggerakkan jari jempolnya ragu.
Jihana: Mau pergi sama Nadira.
Reno: Ke mana?
Jihana: Ke Mall, biasa nyari-nyari buku desain buat ngembangin kemampuanku.
Jihana berbohong, padahal bukanlah hal itu tujuan yang sebenarnya.
Reno: Yaudah hati-hati, ya. Awas macem-macem. Padahal kamu bisa minta ditemenin sama aku kemaren?
Jihana: Kamu mana ngerti soal desain baju gitu, orang demennya main sama oli dan mesin, sih.
Reno: Iya juga ya, by the way aku juga hari ini ngampus buat beresin project yang tertunda dan bentar lagi deadline, nih.
Jihana: Yaudah, gih, siap-siap. Jangan lupa sarapan, oke?
Reno: Iya bawel, kamu juga, ya. ?
Jihana tersenyum melihat emoticon yang dikirimkan kekasihnya itu, terkadang Reno alay juga di usia yang sebenarnya sudah menginjak dewasa. Namun, itu tak mengurangi rasa cintanya terhadap pemuda itu.
Jihana: Iya, bapak calon Insinyur. ?
◇◇◇
“Mama masakin kesukaan kamu, nih,” kata Ratna saat Jihana tiba di dapur seraya menyajikan makanan.
“Wah, bau-baunya enak banget, Ma.” Memang masakan Ratna selalu enak.
Jihana segera mengambil piring lalu menyinduk nasi serta terong balado.
“Kok dikit banget? Biasanya suka makan banyak kalo dimasakin ini.” Ratna turut mengambil nasi dan lauk pauk, kemudian sarapan bersama anaknya.
“Jihan mau pergi bareng Nadira. Doain ya, Ma.”
“Pasti Mama doain segala yang terbaik buat kamu. Semoga berhasil, ya, Ji!”
Mereka pun segera meneruskan sarapan hingga tandas. Beberapa masa kemudian terdengar klakson motor dari luar.
“Nah itu kayaknya motor dia, Ma. Jihan pamit ya.” Ia menyalami ibunya seraya meraih bagpack yang tersampir di kursi.
“Iya, hati-hati.” Ratna meneruskan sarapannya.
◇◇◇
“Kita ke mana dulu?” Nadira memastikan.
“Ke tujuan pertama, sesuai list alamat yang udah gue tulis ini.” Jihana menyodorkan gawai, menampakkan note yang telah ia setting tanpa sandi. “Biar lo gak perlu muter arah lagi, itu udah gue susun dari urutan tempat yang terdekat.”
Nadira mengangguk paham, lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju tempat di list pertama.
Sesampainya di sana, dengan gesit Jihana turun dan segera mengambil sesuatu dari bagpack-nya. Setelah memastikan alamat yang tertera di benda itu sesuai dengan tujuan pertama, ia segera memberikan benda persegi panjang ke pos satpam. Jihana mengobrol sesuatu dengan satpam yang berjaga, setelahnya kembali naik ke boncengan.
“Lanjut, sekarang?”
“Bukan, tapi tahun depan.” Jihana menggoda Nadira yang senyum-senyum memainkan gawai miliknya.
Disambut tawa sumbang dari Nadira sambil menyimpan ponsel ke saku, kemudian melajukan kembali motornya. Ia mencuri pandang melalui kaca spion dan cekikikan sendiri.
“Bentar ya, kok rasanya ada yang aneh. Kesambet apaan sih, atau elo abis ketemu om-om brewok, ya?” Jihana celingukan tak paham.
“Gila, mana suka gue sama om-om, igh.” Nadira bergidik ngeri.
“Buktinya itu Khiritikh Roshan, lo suka, kan?”
“Beda lah, dia aktor favorit gue, dan bukan om-om. Ngerti!"
“Hahaha ....” Sekarang giliran Jihana yang tertawa melihat tingkah sahabatnya yang sangat tidak suka jika idolanya itu di-judge orang lain. Seolah Nadira sendirilah yang diledek.
“Jadi lanjut nggak, nih?”
“Iya, lanjut, Nadira cemprengku.” Jihana masih mengulum senyum. Tak ingin mood sahabatnya rusak. Ia kembali fokus dengan benda-benda dalam dekapan.
Sampai di tujuan kedua, ketiga, keempat, dan tempat-tempat selanjutnya, Jihana melakukan hal serupa. Hingga sampailah mereka di tujuan terakhir.
“Ini list terakhir, kan?” tanya Nadira memastikan, khawatir ada tempat yang terlupakan Jihana. Berhubung sahabatnya itu masih memegang dua amplop coklat.
“Iya, tunggu bentar, ya,”
“Siap!”
Jihana kembali menyimpan satu amplop ke bagpack-nya. Yang satunya lagi dititipkan di pos satpam yang di luar jendelanya tertempel info lowongan pekerjaan.
“Semoga berhasil, Ji. Jangan pernah patah semangat ya, gue juga pernah ada di posisi kayak lo.” Nadira menguatkan Jihana. Ia tahu memperoleh pekerjaan bukanlah hal gampang. Butuh banyak stok sabar dalam mencari dan menunggu tahap selanjutnya.
“Siap, Nad. Makasih, ya. Gak kebayang kalo nggak ada elo, berapa uang nyokap yang gue abisin buat naik ojol atau angkutan umum buat nyimpen lamaran-lamaran itu. Sedangkan gue nggak mungkin minta tolong ke Reno.” Jihana tersenyum, amat berterima kasih sekaligus merasa sedih.
“Kayak sama siapa aja, kita udah sahabatan lama. Ini mah cuma seupil wujud rasa syukur gue udah dikaruniain sahabat sebaik elo. Ya, meski pun kadang mageran juga. Hehehe ....” Nadira berusaha mencairkan suasana.
“Pokonya gue sayang elo.”
“Gue juga. Eh mampir dulu ke Gramed, yuk! Gue mau beli novel, nih.”
“Boleh, gue juga udah lama nggak cuci idung ehehe ....”
“Orang laen mah cuci mata, woy!”
“Gue kan beda!” Jihana berlalu meninggalkan sahabatnya sembari mengangkat bahu.
Ya, selama ini memang mereka memiliki hobi hampir serupa, termasuk menyukai buku. Namun, jika Nadira memang menyukainya untuk dibaca, berbeda dengan Jihana yang hanya senang menghirup aroma kertas-kertasnya.
Setelah pulang dari sana, Jihana dan Nadira langsung pulang, tetapi tepat saat baru keluar dari parkiran tanpa sengaja Nadira melihat seseorang hingga membuatnya membulatkan mata.
◇◇◇