Rembulan bersinar terang dan membulat sempurna menerangi langit kota. Jihana berdiri menghadap jendela kamar yang mengarah ke jalan. Terlihat sepasang muda-mudi berboncengan mesra. Ah, Jihana baru menyadari ternyata sekarang Sabtu malam. Quality time untuk para pasangan yang dilanda asmara, seperti dirinya dan Reno. Namun, kali ini tidak. Sudah berhari-hari Jihana tidak terlalu bersemangat terhadap kekasihnya. Jangankan bertemu, menelepon atau sekadar berbalas pesan pun jarang.
Entahlah, barangkali perhatian Jihana sedang teralihkan karena terlalu fokus mencari pekerjaan. Detik berikutnya, pikiran Jihana berkelana seraya tersenyum-senyum. Terhanyut dalam aliran sungai pikirannya yang bermuara pada keadaan yang dialaminya sehari yang lalu.
“Jihana Asmara,” panggil suara yang terdengar berwibawa sekaligus lembut.
Jihana pun segera menuju asal suara dalam ruangan berukuran 3x4 persegi, bercat putih, dengan rak buku berisi banyak map berwarna-warni. Di sudut ruangan terdapat meja dengan tumpukan amplop cokelat dan segelas es teh manis. Lengkap dengan kursi putar yang diduduki wanita berkemeja biru nan rapi pemilik tatapan tegas, berwibawa, dan penuh intimidasi.
Ternyata wajahnya tak seanggun suaranya. Jihana menatap wanita itu seraya mengangguk sopan dan duduk di kursi yang telah disediakan.
Wanita itu HRD di PT. Aquremindotama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang garmen berskala internasional.
“Silakan duduk!” perintah sang HRD.
“Baik, Bu.” Untuk ke sekian kalinya Jihana menghadapi sesi wawancara kerja di tempat yang berbeda.
“Silakan perkenalkan diri Anda!” Tatapan intimidasi itu kembali ditunjukkan sang HRD berwajah galak.
Jihana tak suka ditatap seperti itu, tetapi apa daya. Dia hanya seorang pelamar yang bertaruh dalam sebuah wawancara layaknya permainan ular tangga. Setiap jawaban gadis itu layaknya mata dadu yang akan menentukan langkah selanjutnya.
Jihana mulai memperkenalkan dirinya, latar belakang pendidikan, dan keahlian.
Sang HRD pun meneruskan ke pertanyaan selanjutnya. Jawaban-jawaban Jihana tidak sedikit pun membuat HRD itu berkomentar atau menunjukkan raut berbeda. Hingga tibalah di pertanyaan kelima.
“Ceritakan pengalaman yang Anda miliki!”
Jihana mulai merasa jantungnya memompa darah lebih cepat, pengalaman macam apa yang dimaksudkan sang HRD? Banyak sekali pengalaman yang pernah ia lalui. Pahitnya hanya dibesarkan seorang ibu, masa-masa SMK, atau letihnya mencari kerja? Ah, tentu saja semuanya bukanlah jawaban yang diharapkan. Jihana tidak cukup bodoh untuk menjawab pertanyaan menjebak itu dengan pernyataan konyol.
“Saya tidak memiliki pengalaman kerja apa pun.” Jeda yang cukup tenang membuat sang HRD menuntut penuturan selanjutnya. Sorot matanya masih mengintimidasi dan membuat darah si pelamar berdesir.
“Baiklah ...,” baru saja sang HRD hendak mengakhiri sesi wawancara ini, yang berarti adalah hilangnya kesempatan untuk pelamar di hadapannya.
Tak lama Jihana memotong dan menjelaskan seputar keaktifannya di organisasi dan ekstrakurikuler sekolah. Juga tentang segala yang berkaitan dengan posisi yang dilamarnya, kemudian diakhiri dengan kalimat. “Saya tidak akan terus menjelaskan tentang diri saya, tetapi semoga ibu bisa memberikan saya kesempatan untuk membuktikannya."
Mantap, tenang, dan meyakinkan tanpa dilebih-lebihkan. Jawaban itu sukses membuat sang HRD sinis itu urung mengusir Jihana secara halus.
Setelah itu, sang HRD melanjutkan tes wawancara. Ada beberapa pertanyaan yang membuat Jihana kurang percaya diri ketika menjawabnya. Terlebih saat ditanyakan perihal gaji, tetapi ia tetap berusaha mengendalikan diri.
Hingga akhir sesi wawancara, jantung gadis itu kembali terpacu. Berusaha menafsirkan mimik wajah sang HRD, sialnya wajah sinis itu tetap mendominasi. Jihana telah siap untuk menerima kemungkinan terburuk, seperti beberapa interview-nya di tempat lain. Gadis itu menunduk sembari memainkan jemari di pangkuan lalu mengembuskan napas perlahan.
“Baiklah, sampai jumpa di tes selanjutnya, hari Senin jam 8 tepat. Ada pertanyaan?” Sang HRD mengulurkan tangan dengan rona bersemu yang kini tersungging di bibir sinisnya.
Senyumnya ....
Ya, dugaan Jihana tidak salah, sebenarnya wanita ini tidak sesadis dan segalak ekspresinya. Barangkali hanya image yang ia bangun di awal untuk menguji mental calon-calon karyawan di perusahaan tersebut saja.
Gila ini baru tahap pertama, kan? Bagaimana tahap selanjutnya?
Jihana menepis apa yang tergambar di benaknya karena enggan berpikir terlalu jauh dulu.
“Jadi, maksud ibu saya lolos?” Jihana mengangkat kepala dengan netra berbinar-binar, memastikan sembari menyambut uluran tangan sang HRD.
“Ya, betul.” Seutas senyum kembali terlukis di bibir sinis wanita itu.
“Terima kasih, untuk pakaiannya bagaimana, Bu?”
“Sama-sama. Tetap formal, warna hitam putih.”
“Baik, Bu. Saya permisi.” Jihana pun berdiri sembari mengangguk sopan dan tersenyum ramah.
Disambut anggukan sang HRD.
Akhirnya setelah sekian banyaknya penolakan dan kabar yang tak jelas dari tempat-tempat yang Jihana lamar. Hingga sering membuatnya down. Ujian bagi para Jobsekers ya begitu, jika tak ditolak maka di gantung harapannya. Mujurlah di kesempatan wawancara kemarin Jihana mulai menuai kepastian.
Hingga pintu kamar berderit, pikiran Jihana seakan ditarik kembali ke masa kini.
“Belum tidur?” tanya sang ibu seraya berjalan ke arah putrinya.
Jihana menoleh seraya tersenyum. “Belum, Ma. Mama juga tumben malah ke sini?”
“Mastiin aja, biasnya ada Reno ngajak jalan bareng, kan. Kenapa sekarang nggak?”
“Lagi males aja.” Jihana meraih tangan ibunya yang kini mengusap puncak kepalanya.
Ratna menatap putrinya dengan mata digelayuti kantuk, ia tahu ada yang ganjil di balik suara anaknya.
“Mama tidur, gih, udah keliatan ngantuk gitu.”
Ratna pun mengangguk sembari tersenyum. “Yaudah, Mama kembali ke kamar, ya. Kamu juga jangan tidur malem-malem.”
“Siap, laksanakan.” Ia meletakkan tangannya menyerupai gerakan hormat.
Sang ibu pun melangkah keluar yang diikuti tatapan Jihana hingga pintu tertutup.
Gadis itu kembali teringat kekasihnya dan sang HRD. Memikirkan atas perbedaan sikap yang signifikan dalam waktu hampir berdekatan.
Kenapa di dunia ini ada manusia yang bisa bermuka dua di saat yang berdekatan?
Entah itu tuntutan pekerjaan atau apa, tapi tes wawancara di Jumat lalu membuat Jihana sedikit belajar. Ada beberapa hal yang tak bisa ia tunjukkan secara gamblang karena tuntutan keadaan misalnya.
Ah, bukannya aku juga bersikap seperti itu pada Reno belakangan ini? Apa dia enggak bisa mengendus kebohonganku? Reno tak sebodoh itu, kecuali ....
Kegembiraan Jihana sekejap terganti banyak praduga buruk. Ditambah malam, ini tak ada sekali pun kabar dari Reno. Hingga ia melesat ke dekat meja di samping dipan untuk meraih gawainya, kemudian mengirimkan pesan berkali-kali. Menunggu beberapa menit lalu dikirimnya lagi. Setelah puluhan menit berlalu dengan gelisah, tak juga menuai jawaban. Bahkan mencoba berkali-kali ditelepon pun tidak diangkat oleh kekasihnya. Embusan angin kembali membuai Jihana saat pikirannya melesat jauh dan membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Hingga kabut prasangka menggelapkan jalan pikirnya.
◇◇◇