Reno menggeliat malas di ranjang butut dalam kamar kos sempit milik seorang kawan baiknya, Regi. Sedangkan si empunya masih mendengkur dan tengkurap tak beraturan.
“Gila, sakit semua badan gue!” umpat Reno menyingkirkan kaki Regi yang menindih kakinya.
Meski begitu, Reno merasa lebih baik ketimbang pulang dan berdebat dengan ayahnya hanya karena hal serupa. Begitulah saat sang ayah, Surya pulang dari luar kota pasti api pertengkaran kembali terpercik di antara keduanya.
Reno mengecek gawai, banyak sekali panggilan tak terjawab dari nomor ibunya dan Jihana. Semalam, ia mengatur mode sunyi di benda itu dengan tujuan menghindari bujukan ibunya untuk pulang. Namun, sekarang masalah baru malah menghadang.
Reno: Ma, aku baik-baik aja. Uang saku untuk seminggu ke depan masih ada, kok. Aku akan pulang, tapi nanti. Mama yang tenang, ya.
Reno mengirimkan pesan itu kepada mamanya, Mutia.
Mama: Baiklah, Ren. Jaga diri baik-baik, jangan telat makan, di mana pun kamu, mama bisa pulang secepatnya.
Mutia sudah jauh lebih mengerti bagaimana keras kepala anak semata wayangnya itu, sama seperti watak suaminya.
Tanpa membalas lagi pesan itu, Reno beralih ke nomor Jihana.
Reno: Maaf, Ji. Semalem ada problem. Nanti aku jelasin.
Oke, kita ketemu di sana.
Reno menyanggupi permintaan Jihana untuk menemuinya di kafe Rona Senja.
◇◇◇
Kafe Rona Senja, bernuansa senja seperti namanya. Lampu-lampu led berwarna jingga serta hamparan awan memenuhi langit-langit, dilukiskan seolah disinari cahaya jingga yang tampak seperti aslinya. Ornamen-ornamen cantik serta seperangkat pernak-pernik khas kafe kopi turut menghiasi, menghidangkan santapan mata yang menyenangkan untuk para penikmatnya.
Jihana kini terduduk di meja nomor 18 seraya menunggu sang kekasih tiba. Ia memesan secangkir Espresso untuk Reno dan secangkir cokelat hangat untuk meringankan gigil di tubuh. Ia memang tak memesan minuman berkofein itu, karena sadar asam lambungnya bisa naik dengan cepat dan akan berpengaruh pada kesehatan. Sialnya pakaian yang ia kenakan tak cukup tebal untuk menepis hawa sang bayu. Salahnya pula yang memakai baju pendek dan celana sebetis di musim hujan seperti ini.
“Jihan.” Suara itu membuat Jihana menoleh.
Reno mengusap puncak kepala sang kekasih, lalu mengecupnya sekilas.
“Kamu kedinginan.” Pernyataan yang tak perlu diperjelas. Detik berikutnya, Reno melepaskan jaket parka army dan mengenakannya ke tubuh Jihana.
“Ckkk, aku lebih khawatir sama sikap dingin kamu akhir-akhir ini.” Sinis, Jihana mengatakannya tanpa ekspresi sama sekali.
“Maaf, mungkin aku berlebihan.” Reno menggenggam tangan Jihana yang sedikit menggigil dan terkepal di atas meja.
Jihana segera melepaskan tangannya, kemudian mengaduk cokelat hangat yang berangsur turun suhunya.
“Please Ji, jangan gini! Kamu kenapa jadi semarah ini?” Reno menyeruput Espresso di cangkirnya untuk sedikit menenangkan gejolak di d**a.
“Kamu yang kenapa?”
“Aku begini karena ka ....” Reno hampir keceplosan.
Kini Jihana yang merasa bersalah karena teringat dengan kebohongannya. Tak ingin salah berucap, ia lebih memilih menunggu kelanjutan dari kata-kata Reno.
“Karena kamu seperti menghindari aku dan aku bisa ngerasain itu. Aku pengin ngeliat, ada enggak, sih, rasa kehilangan di hati kamu kalo aku enggak kasih kabar.”
Penuturan Reno makin membuat Jihana merasa bersalah.
“Maafin aku, Ren.” Detik berikutnya gerimis turun dari langit-langit mata Jihana. “Sebenernya aa ... aku ....” Rintik itu menderas mengguyur pipinya.
“Udah, please jangan nangis gini!” Kini Reno beralih ke kursi di samping Jihana sembari menyandarkan kepala gadis itu ke pundaknya. “Kamu gitu karena sikap aku juga, kan? Aku yang egois ya, terlalu sibuk sama duniaku, sedangkan kamu beberapa minggu ini sering aku abaikan, aku yang harusnya minta maaf. Udah ya ....”
Sesenggukan Jihana mulai mereda. Berbanding terbalik dengan hujan yang lebih menderas. Pengunjung Kafe pun makin ramai. Entah sengaja datang atau sekadar mampir untuk berteduh sambil menunggu hujan reda.
“Kamu, kok, sehati sih sama langit?”
Kening Jihana berkerut, lambat menangkap maksud kekasihnya.
“Iya, hujan di waktu yang sama,” imbuh Reno terkekeh.
“Reno!” Jihana memalingkan wajah ke sembarang arah.
“Udah, dong, jangan ngambekan, malu tahu. Banyak orang gini!”
Ya, Jihana tak sadar pengunjung semakin banyak saja.
“Saking khidmatnya nangis, ya? Sebegitu kehilangannya, nih, enggak dikabarin?” Reno terkekeh.
“Please, deh, aku lagi enggak mood bercanda!”
“Oke, oke, oya gimana pendaftaran kamu ke Univ?”
Jihana menimang jawaban sejenak. Ia enggan menambah kesalahannya lagi. Baru saja hendak bersuara, tiba-tiba tepukan ringan di bahu membuatnya refleks menoleh. Diikuti arah pandangan Reno.
“Supprise banget dong, kita ketemu kalian di sini. Ngapain hmmm gadis mager ini?” Nadira langsung menggoda Jihana seraya menaik turunkan sebelah alisnya.
Baru menatap mata Jihana saja, Nadira tahu ada yang tidak beres dengan sahabatnya. Ia penasaran, tetapi menahan untuk bertanya karena tak ingin merusak suasana.
“Kebetulan, nih, ketemu kalian di sini, bisa lah ya double date gitu?” timpal Reno.
Deni, kekasih Nadira meninju lengan Reno, layaknya sahabat lama yang baru bertemu lagi karena terpisahkan kesibukan masing-masing.
“Apa kabar kalian?” sapa Deni.
“Baik, lo sendiri sama Putri Cempreng ini gimana?” Reno yang menjawab sembari terkekeh. Sedangkan Jihana hanya tersimpul.
“Ya seperti yang kalian liat, we are fine, and always together, 'makin lengket'.” Deni merengkuh pundak Nadira dengan kedipan sedikit genit.
“Ish ish, itu tangan please, deh." Nadira berlagak jijik, padahal senang sekali. Yang disambut tawa renyah Reno dan senyum ringan Jihana.
“Tahulah ya, putri cempreng gue ini sok jual mahal kalo di depan orang lain,” bisik Deni di telinga Reno.
Mereka pun duduk di seberang Reno dan Jihana.
“By the way kita rasanya kek anak SMK aja, ya. Berasa balik lagi ABG gitu,” celetuk Nadira.
“Jijik tahu, Nad, ih.” Jihana mencibir seraya mendelik.
“Akhirnya Ratu Mager lo ini bicara juga, Ren,” cibir Deni.
“Njirr! Sialan, lo!” Reno terkekeh, kemudian disambut tawa keempatnya.
Begitulah mereka jika sudah bersama, keempatnya memang telah bersahabat baik sejak SMK. Bahkan dulu, setiap libur panjang mereka kerap kali menyengaja untuk nongkrong atau rekreasi bersama.
“Saking asyiknya lupa mesen minuman kan, Den.” Nadira memotong di sela obrolan mereka.
“Yaudah kayak biasa aja.”
Nadira memesan Moccacino dan Late kepada salah satu pelayan. Setelahnya mereka kembali hanyut dalam aliran cerita nostalgia zaman SMK. Diwarnai suasana haru biru dan tawa membahana hingga hujan reda.
Persahabatan diwarnai cinta tak selalu berakhir menyedihkan, bukan? Namun, akankah tetap selamanya seperti ini?
Batin Jihana seraya menyesap cokelat hangatnya.
◇◇◇