Senin pagi yang ceria teruntuk jiwa-jiwa yang berbahagia. Lihatlah betapa lebar senyum-senyum mereka yang tak segan mengekspresikan isi hatinya! Juga ketegangan yang begitu kentara di raut beberapa kandidat karyawan. Merekalah barisan para pejuang amplop coklat di PT. Aquremindotama, termasuk Jihana salah satunya.
Waktu kian berlalu seiring jarum jam yang terus melaju. Seluruh kandidat diperiksa satu persatu oleh satpam yang telah ditugaskan. Mereka semua diberikan masker sekali pakai serta nametag visitor sebagai izin akses masuk ke area produksi. Selanjutnya mereka diarahkan menuju kantin yang terletak di lantai dua—di atas loker dan pos satpam.
Sepuluh kandidat pertama diarahkan menuju ruangan yang sama dengan tempat interview dilaksanakan. Sementara yang lainnya diperintahkan untuk menunggu giliran selanjutnya.
Jihana terduduk di bangku panjang yang diletakkan di kedua sisi meja panjang, tempat para karyawan makan. Setengah jam berlalu wajah-wajah bersemangat sekaligus tegang para kandidat, mulai berangsur tergantikan raut jemu. Begitu juga yang dirasakan Jihana. Ia mulai beralih tempat dan berjalan-jalan di teras kantin yang dikelilingi oleh pagar besi setinggi pinggang. Ia berdiri di sana sembari mengamati bangunan-bangunan di perusahaan itu.
◇◇◇
Satpam yang tadi mengarahkan mereka pun kembali dan menyebutkan nama sepuluh orang lagi. Termasuk Jihana yang segera menghampiri ke arah suara bersama sembilan kandidat lain.
“Sekarang kalian ikuti saya, HRD perusahaan ini telah menunggu kalian untuk tes selanjutnya,” papar sang Satpam yang tertulis nama Safarudin di nametag seragamnya.
Kesepuluh kandidat karyawan mengangguk, lalu mengekori Pak Safarudin.
“Hei, saya perhatikan kamu enjoi-enjoi aja dari tadi?” Seorang gadis berkerudung dengan lesung pipi menyapa Jihana.
Jihana tersenyum tipis, lalu menimpali, “Santai aja, kita bukan mau perang ini, kan?” timpalnya.
“Hehe ... bener juga. Oya, namamu siapa?” Gadis berlesung pipi itu tersenyum begitu manis.
“Jihana, kamu?”
“Azzahra, panggil aja Zahra.”
Jihana bisa melihat sorot ketulusan di mata Zahra, ia pun tersenyum ramah.
“Kalian, silakan duduk di sini dengan tenang, tunggu giliran dipanggil.” Pak Safarudin menunjuk deretan kursi di depan ruangan HRD PT. Aquremindotama, kemudian berdiri di depan pintu masuk ruangan itu.
Selang lima menit, sang HRD memberikan selembar kertas kepada Pak Safarudin sembari mengatakan sesuatu, kemudian enam orang di antara sepuluh orang pertama tadi diarahkan menuju salah satu gedung besar yang terpampang tulisan AREA PRODUKSI A beralaskan aluminium yang cukup besar.
“Perasaan tadi yang dipanggil sebelum kita, kan, sepuluh orang juga, ya. empat orang lagi ke mana?” tanya Zahra.
“Entahlah, Zahra.” Jihana pun merasa sangsi.
Rahma hanya menautkan kedua alisnya.
“Rahma Azzahra.”
Terdengar suara sang HRD memanggil nama salah satu kandidat.
“Kamu, bukan?” Jihana menoleh pada Zahra.
“Iya, nitip tas, ya,” ucap Zahra sembari menuju ruangan.
Jihana mengangguk.
Setelah puluhan menit terlewati, Zahra kembali duduk di samping Jihana dengan embusan napas lega, bergiliran nama kandidat lain yang dipanggil. Dua orang pelamar kembali duduk di kursi tunggu, tetapi kandidat keempat hanya mengambil tas dari kursinya sembari berlalu dari sana dengan raut kecewa. Kini, Jihana dan Rahma mengerti akan kesangsian mereka.
“Jihana Asmara.”
Mendengar namanya disebut, Jihana mengalihkan pandangan dari kandidat yang pulang lalu bergegas masuk.
“Silakan duduk!” Bibir sang HRD tersimpul. Ia masih ingat dengan gadis itu.
“Baik, Bu.” Jihana turut tersimpul.
“Silakan tunjukkan dengan jari dan sebutkan apa pun yang bisa kamu lihat di sana!” Sang HRD menyodorkan buku khusus tes buta warna berukuran A6 ke hadapan Jihana.
Jihana mulai membuka buku tersebut. Berawal dari lembaran pertama, jari telunjuknya menggores sesuai arah bentuk satu warna berbeda yang tercetak membentuk angka di sana.
“Angka Tujuh.” Jihana mulai menjawab.
Dia mengulangi kegiatan serupa, dan kali ini yang tercetak itu angka berbeda.
“Angka Dua belas.”
“Huruf D.”
“Huruf F.”
“Angka dua puluh delapan.”
Kegiatan jarinya di atas bentuk warna-warna di buku itu berulang kali terselesaikan dengan mudah, lembar demi lembar hingga halaman terakhir pun tandas.
“Di sini tidak ada apa pun, Bu.”
Sang HRD tersimpul. “Tepat sekali.”
Jihana mengembuskan napas sedikit lega, tentu saja sedikit saja penetralan pemompa darah di dadanya. Karena tes selanjutnya masih menanti untuk dijalani.
“Oke, sekarang kamu isi soal-soal ini dalam waktu 10 menit.”
Jihana segera mengambil kertas serta pulpen yang diserahkan sang HRD. Di sana terdiri dari lima soal matematika pecahan, dan sebuah gambar baju lengkap dengan keterangan-keterangan ukuran yang menyabet lima soal sekaligus. Untunglah itu bukan soal yang asing lagi bagi Jihana, yang notabenenya lulusan SMK jurusan tata busana.
Sang HRD masih memperhatikan Jihana sembari menuliskan sesuatu di sebuah buku. Sesekali ia menatap kandidat di hadapannya yang meski tersirat semu kegugupan dari gelagatnya, tetapi begitu berenergi dan memancarkan aura positif.
“Tiga menit lagi.” Sang HRD mengetukkan pulpen di atas meja.
“Hampir selesai, Bu.” Jihana menoleh sekilas tanpa menghentikan tarian pensilnya.
Tepat di menit kesembilan, Jihana berhasil menyelesaikan soal-soal itu tanpa kesulitan yang berarti. Hanya sedikit lupa tentang materi pecahan yang memang paling malas ia kerjakan semasa di sekolah. Mujurlah dulu ia sering belajar bersama Reno yang lebih mampu memberikan pengertian.
Ah pria itu memang cerdas dan Jihana menyayanginya.
Pikiran Jihana sejenak meninggalkan raganya, berkelana ke masa-masa menyenangkan yang lalu. Untungnya benak Jihana berhenti berkelana sebelum sang HRD sadar kealpaan gadis itu.
Sang HRD sedang memeriksa dengan begitu cermat dan gesit hasil tes yang diisi Jihana barusan, kemudian mengambil sebuah papan kayu dan sebuah wadah berisi balok dan tabung berukuran kecil warna merah dan biru. Papan tersebut berbentuk persegi yang jika ditaksir mungkin berukuran 30x30 cm persegi. Di permukaannya terdapat 6 baris deretan lubang-lubang berbentuk kotak dan lingkaran, ada yang kecil ada juga yang sedang, terletal secara acak. Dan di sisi kanan papan itu tertempel petunjuk warna merah dan biru yang ditempel secara bergantian di samping setiap barisnya.
“Kotak dan pin ini adalah media yang akan kamu gunakan untuk melaksanakan skill test,” papar sang HRD, “kamu tinggal memasukkan pin ini ke dalam lubang di papan itu sesuai dengan bentuk, ukuran, dan warnanya!” imbuhnya.
Jihana mengangguk paham.
“Waktumu dimulai dari sekarang!” Sang HRD menyalakan stopwatch di gawainya.
Dalam waktu yang cukup cepat sebagian dari pin-pin itu sudah dipindahkan Jihana ke dalam lubang-lubang di kotak persegi tadi. Jihana melakukannya sesuai arahan sang HRD. Belum genap 1 menit lewat 45 detik pin itu tandas telah dipindahkan seluruhnya.
“Sudah, Bu.”
Sang HRD, menuliskan nama Jihana di formulir yang sama dengan kertas yang diserahkan kepada pak Safarudin tadi.
“Selamat, kamu lolos. Silakan tunggu untuk beberapa saat sebelum diarahkan oleh satpam.”
“Terima kasih, Bu.” Jihana menyalami sang HRD, “saya permisi, Bu.” Lengkungan manis itu kembali mengembang di bibir Jihana.
◇◇◇