Penantian akan selamanya menjadi hal yang menjemukan, bukan? Apalagi jika tidak diisi dengan kegiatan apa pun. Rasa bosan merayapi hati, kaku menjalari sendi-sendi hingga kantuk mulai menyambangi. Sedikit harap banyak mustahilnya supaya jarum jam bergerak lebih cepat, tetapi sayangnya itu hanya angan Jihana dan kawan seperjuangan mengadu nasib di PT Akuremindotama.
Seperti angin menyejukkan badan, bagai air mineral mengenyahkan dahaga saat hal yang dinanti-nantikan pun tiba. Perintah dari sang HRD kepada Pak Satpam untuk arahan selanjutnya.
Sama seperti beberapa kandidat pertama, kelima calon karyawan yang lolos tahap seleksi kedua dipandu oleh Pak Safarudin menuju area produksi. Kini, mereka disuguhkan pemandangan lautan manusia bermasker yang sibuk berjibaku dengan mesin sesuai tugasnya masing-masing. Bising mesin bersahutan, suara lantang melengking sesekali. Seakan jadi jamuan pembuka bagi pendengaran kelima calon karyawan itu.
◇◇◇
“Kalian tunggu dulu di sini!” perintah Pak Safarudin.
Tepatnya dekat sebuah meja yang di sampingnya terduduk seorang pria berseragam berbeda dari karyawan lainnya.
“Sementara itu, kalian tunggu giliran untuk diuji keahlian di line pembinaan itu!” Pak Safarudin menunjuk barisan mesin-mesin yang berbanjar rapi ke belakang, kemudian beralih menatap mereka.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, Jihana memerhatikan bermacam-macam mesin terdapat di sana. Mesin jahit jarum satu, jarum dua, mesin obras, dan beberapa mesin lain yang kebanyakan belum diketahui jenisnya. Ya, di perusahaan eksportir besar ini pastilah menyediakan alat produksi yang lebih canggih dari pada penjahit rumahan seperti ibunya. Yang hanya mengandalkan dua jenis mesin saja—mesin obras dan jahit jarum satu.
Kemudian Pak Safarudin menghampiri seorang pria yang sedang menjahit, di sisi kanannya berdiri seorang kandidat pegawai. Pak Safarudin menyerahkan selembar kertas pada pria itu, lalu menginstruksikan sesuatu.
Satu persatu para kandidat karyawan dipanggil untuk diuji keterampilan. Sesekali sang Penguji terlihat berserapah, entah apa yang dikatakannya. Dari raut galaknya terlukis kekesalan yang begitu kentara.
Ternyata kabar burung yang beterbangan di luar sana tentang perusahaan ini benar adanya. Kekuatan mental mesti lebih mumpuni. Harap-harap cemas Jihana menanti giliran, tetapi ketika tiba masanya kegugupan malah menyambangi.
◇◇◇
Jihana kini menempati mesin jahit jarum 1 yang terlihat sedikit berbeda dari milik ibunya di rumah. Tentu saja mesin-mesin di sini sudah menggunakan alat serba otomatis. Mesin itu berukuran lebih besar dan memiliki layar monitor di bagian tengah badan mesin yang belum Jihana ketahui fungsinya. Dengan polos ia menanyakan kepada si Penguji tentang kegunaan monitor itu. Bukan jawaban yang didapatkan malah perintah dengan nada ketus supaya Jihana fokus pada sehelai kain berbentuk lingkaran yang baru saja diberikan.
Apa salah Jihana? Bukannya Jihana pun memiliki hak untuk bertanya akan hal-hal yang terkait dengan tugasnya?
Sabar ....
Kendati demikian, Jihana tetap mematuhinya.
“Jahit ini!”
Tanpa menjawab, Jihana mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia mula-mula menyalakan mesin tersebut, lalu menginjakkan satu kaki di pedal gas mesin. Ketika hendak mengangkat sepatu mesin yang terletak di kedua sisi jarum agar bisa meletakkan kain di sana, ia malah kebingungan.
“Kenapa belum ngejahit?” Pria berwajah galak itu sedikit membentak.
“I-itu,” Jihana tercekat, “senggolan untuk mengangkat sepatu mesinnya di mana ya, Pak?”
Rahang tegas lelaki itu mulai meregang, ia sadar akan kealpaannya. Berusaha mafhum, tak semua orang pernah menggunakan mesin otomatis seperti di sini.
“Ini mesin otomatis, paling terbaru. Cara mengangkat sepatu tekan bagian belakang pedal gas sekali, setelah terangkat dan kainnya udah terletak di sana. Injak pedal gas seperti mesin jahit manual biasanya,” papar si Penguji.
Jihana mengikuti petunjuk itu. Meski pun sisa-sisa kegugupan masih bersarang di badan, perlahan mampu ia atasi. Ia mulai melajukan mesin, lancar menjahit sesuai pola yang berbentuk seperti obat nyamuk.
Selanjutnya si penguji menyerahkan kain berpola seperti labirin persegi. Itu pun diselesaikan Jihana dengan cukup baik.
Helaian-helaian kain lain yang diserahkan si Penguji telah Jihana jahit sesuai dengan masing-masing polanya.
Tes dasar menjahit itu telah selesai kini Jihana diperintahkan untuk berpindah berdiri lalu digantikan si Penguji.
“Sekarang kamu mulai menjahit saku, perhatikan kedua ujung dari jahitan variasi ini!” Si penguji menunjuk badan belakang celana yang telah di simpannya di meja bidang mesin.
“Letakkan sudut-sudut bagian kiri dan kanan saku tepat di kedua titik yang telah tersedia. Jahitan harus tepat 1 mili di pinggiran saku, jangan jebol, jangan disambung, dan jangan bablas dari sakunya!” Si Penguji mulai menjahit dengan cekatan dan hasilnya teramat rapi.
Jihana memperhatikan dengan saksama.
“Satu lagi.” Si Penguji mengulangi mencontohkan kepada Jihana.
“Sekarang kamu coba!”
Jihana patuh. Ia segera duduk dan mengambil badan belakang celana, lalu meletakkan di bidang mesin persis seperti yang dicontohkan tadi. Ada sedikit hambatan yang dialaminya, posisi saku sebelah kanan dan kiri kurang seimbang karena ketika menjahit saku tersebut tergeser tarikan gigi mesin dan Jihana kurang pas ke pola ketika memperbaiki posisinya.
“Sudah dibilangin harus balance!” Si Penguji kembali tersulut geram.
Jihana hanya membisu, tak kuasa bersuara maupun menatap mata si penguji.
“Nih, coba lagi. Yang itu bongkar nanti aja!” titahnya.
Setelah beberapa saat berlalu, Jihana bertanya, “Begini, Pak?” Jihana menunjukkan hasilnya penuh kehati-hatian.
“Nah iya gitu. Teruskan! Ini kerjaannya,” si Penguji memberikan seikat kain bagian badan belakang kepada Jihana. "Kalo udah selesai, iket lagi. Terus simpen di sini. Terusin ke iketan selanjutnya." imbuhnya.
“Baik, Pak.” Jihana mengembuskan napas berat.
Baru saja beberapa waktu menjalani tahap itu, lelah sudah menggerogoti hati Jihana. Ya, ia lelah berpura-pura menjadi penurut seperti itu ketika suatu pemikirannya jelas ingin memberontak. Namun tidak, ia masih memegang teguh tekadnya.
Si Penguji kini beralih mengawasi kandidat karyawan yang lain.
◇◇◇
Jika semasa di sekolah setiap hari mendapatkan uang saku tanpa perlu bersusah payah dan berlelah-lelah meneteskan keringat terlebih dulu. Jika ada tugas tambahan pun tinggal mengatakan; Ma, aku butuh uang untuk ini, untuk itu, dan sebagainya. Bahkan tak jarang dari kita yang mungkin malah menggunakannya untuk sekadar bermain-main belaka. Dulu kita hanya mengajukan permintaan tanpa tahu cara mendapatkan. Namun, sekarang, Jihana baru memafhumi betapa besar harga yang harus dibayar untuk memperoleh penghasilan. Bahkan, meski baru sehari. Meski begitu, ia tidak akan membuat langkahnya terhenti hanya sampai di sini. Karena ini baru permulaan.
◇◇◇