“Kak, mau tuker jarum.” Tabung berisi jarum patah berpindah tangan dari Jihana ke wanita bermasker yang berada di ruangan khusus penukaran jarum. Disusul penyerahan kartu mesin.
“Jihana?” Keduanya saling tatap, meski pun sebagian wajah terbungkus masker kain tetap saja saling mengenal dengan baik melalui alunan suara dan kontak mata.
“Nadira?” Jihana tahu Nadira bekerja di sini, tetapi menyengaja tak mengabari perihal panggilan tesnya. Niat hati memberi kejutan, malah terbongkar lebih dulu. Ya, ia lupa, bahwasanya karyawan bagian produksi pasti akan berinteraksi langsung dengan admin jarum.
“Sejak kapan, ih? Kok, enggak bilang-bilang?” Nadira pura-pura merengut sembari cekatan melaksanakan tugasnya. Dia berlagak kecewa di balik sorot mata bahagianya.
“Kemaren, ma'af ...,” bujuk Jihana sembari merapatkan kedua telapak tangan di depan dagu dan bibirnya.
“Yaudah sana! Training yang bener! Biar kita tetep kerja sepabrik.” Guratan senyum itu tercetak jelas dari sepasang mata Nadira.
Jihana pun mengangguk seraya balas tersenyum. Ia berbalik, lalu menuju line pembinaan kembali.
◇◇◇
Waktu tak terasa begitu cepat berlalu, setelah hampir seharian berjibaku dengan mesin dan seabreg kerjaan. Kini, jam pulang pun telah tiba. Jihana dan kawan seperjuangannya diperintahkan oleh pengawas line pembinaan untuk pulang lebih dulu. Karena sekarang hal paling membahagiakan bagi para kandidat karyawan berstatus training itu telah tiba. Yakni kepastian penerimaan alias status 'karyawan' itu resmi disandang oleh mereka.
Selanjutnya, semuanya dipanggil ke kantor untuk menghadap personalia guna melaksanakan serangkai pengurusan hal-hal untuk meresmikan karyawan baru. Terkait penandatanganan kontrak kerja, penyampaian job description, hak dan kewajiban karyawan, serta peraturan-peraturan yang berlaku di perusahaan. Pengambilan sidik jari melalui mesin pinger, dan penyerahan seragam juga nametag karyawan.
Binar bahagia nan penuh syukur tak terelakkan lagi. Mereka benar-benar bersuka cita. Proses tak akan menghianati hasil, bukan?
“Alhamdulillah ya, Ji. Aku enggak sabar kasih tahu berita baik ini sama ibu, ayah, dan calonku.” Zahra mengamit lengan Jihana tatkala mereka keluar dari ruangan personalia.
“Iya, Zahra,” timpal Jihana yang turut berbahagia meski ada sedikit sesak yang menyelusup ke dadanya.
Nasib gue enggak seberuntung Zahra.
Kepada siapa lagi Jihana bisa membagi hal yang teramat patut disyukuri itu? Tak lain hanya kepada Mama dan sahabatnya, Nadira. Sementara Reno? Bisakah ia menerima realitasnya?
“Oya, Ji. Besok-besok aku istirahatnya bareng kamu terus, boleh?” Zahra menatap penuh harap kepada lawan bicaranya.
“Tentu. Pake minta izin segala, berlebihan amat.” Jihana sedikit mendelik seraya terkekeh.
“Oke, aku duluan, ya. Papa udah nungguin depan gerbang katanya.” Zahra mengacungkan gawai pada Jihana. "Oya, kamu balik bareng siapa?"
“Temen, masih di dalem.”
“Oh, oke. Sampai jumpa Senin depan!” pamit Zahra melambaikan tangan, lalu tersimpul.
Jihana kembali menghempaskan panggulnya di kursi yang terletak depan pos satpam. Ia menanti Nadira keluar dari tempat parkir.
◇◇◇
Benarkah itu dia? Apa gue gak salah liat?
Reno sengaja menghentikan motor saat melewati PT. Aquremindotama. Pasalnya ia melihat kekasihnya, demi memastikan penglihatan ia turun dan menyeberang jalan. Ia memerhatikan lekat gadis itu, dari baju yang dikenakan, Reno langsung paham penyebab gadisnya berada di sana. Ia tak habis pikir mengapa Jihana sampai hati menghancurkan kepercayaannya?
Reno mengepalkan tinju seraya menggemeletukkan gigi, kemudian menyeberang jalan lagi. Ia lekas naik motor dan menekan gas dalam-dalam. Detik berikutnya kuda besi gagahnya melesat membelah jalanan kota.
◇◇◇
“Wuiiih, selamat, ya! Udah resmi, nih, jadi karyawan Aquremindotama!” Nadira memstater motor sambil melihat mengetahui seragam yang dimasukkan Jihana ke tas selempangnya.
“Akhirnya setelah berbagai penolakan dan di PHP-in banyak perusahaan. Gue baru dapet kepastian.” Jihana menghela napas lega, ada binar bahagia yang terpancar dari netra teduhnya.
“Nyesekan mana sama ditolak dan di-PHP-in Do'i?" Nadira menaikkan sebelah alisnya.
"Gue yang nolak kali."
"Namanya itu karma, FYI karma, tuh, enggak selalu dari hal yang sama."
“Lo suka bener.” Tawa Jihana membahana, lontaran jenaka sahabatnya itu memang selalu mampu mencairkan suasana hatinya.
“Ayo naik! Eh malah bengong gitu?”
Jihana terkesiap dan lekas duduk di boncengan motor Nadira.
“Tadi keknya gue liat Reno, deh, Nad.”
Bukannya menjawab, Nadira malah teringat saat ia melihat Reno di parkiran Mall, ketika dirinya dan Jihana habis mengantarkan surat lamaran---beberapa hari lalu.
Ceritain atau enggak? Ia bertanya terhadap dirinya sendiri.
Ah sebaiknya jangan. Naanti malah memperkeruh keadaan.
“Masa, sih? Lo salah liat kali. Kampus sama rumah Reno enggak sejalur sama perusahaan ini, kan?”
“Bisa aja, kan, segala yang di dunia ini, tuh, enggak ada yang gak mungkin kalo Tuhan udah menghendaki."
“Beuh malah ceramah pula. Udahlah Ji, jangan apa-apa dipikirin kali. Kalem aja, lagian kalo emang itu Reno, belum tentu, kan, dia liat lo juga.”
Barangkali perkataan Nadira ada benarnya, ketimbang Jihana menerka-nerka atas hal yang belum terjadi. Sebaiknya fokus dengan apa yang menghadang sekarang, nyanyian sumbang cacing-cacing di perut, misalnya.
“Cacing di perut lo ember banget ya.”
“Hehehe, iya nih.” Jihana menggaruk kepalanya yang tak gatal, memalukan.
“Mau mampir ke kedai bakso, yuk!”
“Yaudah mampir, deh, tapi bayarin, ya?”
“Harusnya lo kali yang traktir gue.”
“Iya, nanti abis gajian pertama gue traktir bakso, deh ....”
“Sik asyik, sik asik di traktir Jihan, sik asik sik asik.”
“Dasar Nadira Tingting! Girang amat!”
“Emang Tingting, girang dong secara bulan depan bakal dapet bakso grentongan.” Nadira menjulurkan lidah kepada Jihana tatkala menepikan motor di depan kedai bakso Katresna Rasa. Aroma kuah bakso yang menggoda lidah untuk segera mencecapnya pun menguar.
“Emangnya tau gitu maksud gue bakso apaan?”
“Ya bakso kesukaan gue lah, semisal bakso Beranak, bakso Istighfar, dll.”
“Bukan!”
“Teruuuuss?”
“Bakso ikan, hahaha ....”
“Hahaha ..., Pelit emang!” Nadira hendak menoyor lengan Jihana, tetapi pemilik lengan malah kabur terlebih dulu masuk kedai.
Nadira amat senang melihat tawa sahabatnya kembali.
Memang, tekanan di pikiran kerap kali membuat Jihana lupa mengisi perutnya, hingga sakit lambung kembali menjangkit. Namun, tidak untuk kali ini, ia enggan mengorbankan kesempatan sebab terbawa perasaan. Ia bertekad fokus dengan tujuannya.
◇◇◇