Sontak berpasang-pasang mata memandang ke arah Jihana.
Rama langsung berdiri dari tempatnya dan menghampiri gadis itu.
“Jihan, lo, kenapa?” Rama segera meraih jemari Jihana.
"Sakit, Ram." Jihana merintih kesakitan seraya memegangi tangan kirinya. Sungguh ini kali pertama ia tertusuk jarum mesin jahit. Namun, lebih dari itu, luka di hati jauh lebih perih.
Sekilas mereka saling tatap, Rama menangkap definisi sakit dari perkataan Jihana bermakna ganda. Melalui sorot mata, getaran suara, pun dari gelagatnya. Malah gadis itu tampak tidak terlalu memedulikan setengah bagian jarum yang kini menancap cukup dalam di telunjuknya.
Ada luka lain yang dia rasakan.
Netra Rama kini beralih terfokus pada telunjuk Jihana, ia berlutut dan menumpukan sikutnya ke kursi panjang yang diduduki si empu telunjuk. Tangan kirinya menopang jemari Jihana dan menahan pangkal jari perempuan itu, sementara tangan kanannya berusaha mengambil patahan jarum yang bersarang di sana.
“Argh!” Jihana tersentak menahan perih dan tersadar dari lamunannya. Baru saja Rama hampir berhasil mengambil patahan itu, tetapi meleset karena pergerakan refleks Jihana.
“Diem dulu. Sedikit lagi jarumnya ampir lepas. Bahaya kalo ketinggalan di jari lo. Tahan sebentar, ya.” Rama menenangkan dengan suara lembut dan telaten.
Ucapan Rama barusan berhasil kembali meloloskan hujan di pipi Jihana.
Rama kembali mengerahkan cara seperti tadi berkali-kali, tetapi masih gagal. Pemuda itu mengubah posisi, kedua tangannya memegang pangkal dan ujung telunjuk Jihana. Mulutnya terbuka, gigi pemuda itu menggigit kuat patahan jarum yang menyembul. Sekali tarikan tanpa ragu-ragu, akhirnya jarum itu terlepas juga. Darah merembes dari bekas tancapan diiringi ringisan.
“Buruan bawa ke unit kesehatan, Ram,” ucap Dito seraya menyodorkan air mineral. “Minum dulu, Ji.”
Jihana pun meraih dengan tangan kanan, lalu meneguknya sedikit.
“Ada apa ini?”
“Jihana ketusuk jarum, Pak,” timpal Dito lagi.
Pengawas itu segera menghampiri mereka berdua.
“Kamu bantuin dia dulu aja, Ram. Gak papa pekerjaan kamu Bapak yang hendle sementara.”
Rama mengangguk sembari menahan buku-buku telunjuk Jihana supaya darah tidak makin banyak keluar, kemudian memapah gadis itu menuju UKP.
Jihana limbung, kepalanya makin berdenyut.
“Ckk, ketusuk jarum aja lebainya minta ampun. Dasar anak baru!” Kalimat pedas yang digumamkan Saras barusan membuat Dito menatap sekilas.
Jika saja Saras yang berada di posisi Jihana, mungkin ia bisa memaklumi dirinya sendiri. Terkadang ada saja manusia yang mudah menghakimi sesuka hati. Padahal tidak tahu sebab dan keseluruhan masalah yang menimpa orang lain. Terlebih jika hati telah terkontaminasi benih-benih benci.
◇◇◇
Langkah lebar Rama melaju terburu-buru, tangan kirinya memegangi telunjuk Jihana. Sedangkan tangan kanan digunakan untuk mendekap bahu gadis bermata teduh itu. Darah masih terus mengalir dari bekas tancapan jarum.
“Kenapa ini?” tanya satpam perempuan yang sedang berjaga.
“Ketusuk jarum,” timpal Rama.
Tanpa aba-aba lagi satpam itu segera membukakan pintu unit kesehatan, kemudian beralih mengambil segelas air mineral dan meletakkan di meja dekat brankar.
“Bu, tolong belikan air gula merah hangat. Ini uangnya.” Rama menyodorkan selembar uang berwarna ungu.
Langkah wanita tegap nan menjulang itu segera meninggalkan mereka.
Unit kesehatan PT. Aquremindotama memang menyediakan fasilitas kesehatan yang cukup memadai. Di sana terdapat sebuah brankar berukuran sedang dikelilingi tirai biru muda. Sebuah kursi dan meja yang dilengkapi buku data-data pasien dan pengambilan obat. Rak kecil obat-obatan dan kotak P3K, dispenser di pojok ruangan, serta wastafel yang dipisahkan sekat tembok.
Rama kini mengarahkan tangan Jihana ke wastafel, menyalakan kran, lalu membersihkan luka dengan telaten. Gerakan lembut Rama membuat Jihana terkesima, dalam jarak sedekat itu netranya bisa melihat dengan jelas wajahnya. Kulit hitam yang manis, dihiasi pahatan rahang tegas. Ukiran alis hitam nan tebal membingkai mata kecilnya. Hidung runcing bak tanjakan tebing yang mulus, pun kumis tipis yang terangkai rapi di atas bibir tipisnya.
Tak ada bising mesin, tidak juga riuh suara manusia, tak pula dengung musik yang nyaring, juga tiada celoteh Rama. Yang ada hanya hening dan degup di d**a merambat tiba-tiba.
Sejenak mereka bertukar pandang, menyiratkan tanya dan kekhawatiran dari netra Rama.
Semu malu terbersit dari sorot mata Jihana. Kedapatan memperhatikan pemuda yang selalu dikatainya dengan kalimat pedas itu. Kini Jihana menemukan sisi lain dari orang yang kini menjelma malaikat penolong untuk dirinya.
Darah yang mengalir mulai berangsur surut, Rama menuntun Jihana untuk terduduk di brankar, kemudian mengambil kotak P3K. Ia mengeluarkan alkohol dan kapas.
Sementara Jihana menunduk, seperti memperhatikan luka di jari padahal pikirannya sedang tertuju pada hal lain.
Rama meneteskan alkohol ke kapas, kemudian mengoleskan pelan ke bekas luka di telunjuk Jihana.
“Perih, Ram.”
“Sorry! Gue kurang hati-hati.” Ia meneteskan obat merah, lalu membalut luka itu.
“Lain kali lebih hati-hati, ya. Jangan terlalu banyak pikiran. Fokus lo jadi terganggu, kan. Kok bisa seceroboh ini? Lo Enggak biasanya kek gini.”
Berarti dia sering merhatiin gue? Ah yang benar saja?
Kini bibir gadis itu mengembang seraya menunduk gara-gara serentetan kalimat panjang Rama.
“Abis ini gue anter pulang, ya? Kerja juga enggak bakal bener, Ji. Darah lo keluar banyak.”
Baru saja Jihana hendak menjawab, sudah terpotong oleh suara wanita yang kini menyodorkan segelas air gula merah hangat dan sejumlah uang kepada Rama.
“Ini kembaliannya,” ucap wanita itu.
“Kembaliannya ambil aja, Bu.”
“Terima kasih. Bisa pinjam nametag-nya, Mba?”
Jihana menyerahkankan nametag miliknya, guna keperluan mengisi data di buku pasien unit kesehatan.
Usai itu, sang satpam membereskan kotak P3K, kemudian keluar.
“Minum dulu, ini bagus buat bantu ilangin pusing, kalo bisa abisin, ya.” Rama membantu Jihana memegangi gelas.
Gadis bermata teduh itu pun menuruti tanpa bantahan sedikit pun.
“Abis ini, lo pulang, ya? Atau mau dianter ke dokter?”
“Gak perlu Ram, gue baik-baik aja, kok. Masih kuat nerusin kerja.”
“Jihan, please kali ini aja, nurut sama omongan gue! Keadaan badan lo lagi enggak baik.”
“Gue tetep gak mau balik. Jangan maksa, dong, Ram.”
“Oke, gue enggak bakal maksa lo balik sekarang. Tapi tiduran dulu di sini, sampe nanti waktu istirahat! Jangan langsung kerja, biar gue mintain surat izin istirahat beberapa jam buat sedikit mulihin keadaan elo.”
Jihana akhirnya menurut karena kepalanya memang masih terasa pusing.
“Yaudah gue tinggal dulu ya, gue harus lapor ke distribusi absen sama nerusin kerja. Lo istirahat di sini, tidur nyenyak, ya.”
Rama hendak beranjak keluar sembari menutup tirai biru yang mengelilingi ranjang itu, tetapi tangan lembut berjemari lentik mencekal pergelangan tangannya.
“Makasih,” ucap Jihana lirih dengan setitik bulir bening menetes di pipi.
Langkah Rama terhenti seraya tersenyum. Terasa ada energi baru menyelusup ke hatinya.
“Sama-sama, Jihan.” Jemari pria hitam manis itu menyeka air mata di pipi gadis itu.
“Hei ngapain nangis, apa sakit lagi?”
Jihana menggeleng lemah.
“Yaudah gue balik kerja dulu. Nanti istirahat gue jenguk lagi.”
“Makasih.” Lirih Jihana kedua kalinya.
“Iya, kok elo yang jadi bawel, sih? Gue tinggal, ya.” Perkataan Rama hanya dibalas anggukan ringan oleh Jihana.
Kemudian Rama menutup tirai itu dan kembali menuju area produksi.
◇◇◇
“Ke mana, nih, bocah dua? Kok gak keliatan juga batang idungnya?” Nadira celingukan menatap antrean karyawan di pintu keluar gedung produksi.
Hingga area tersebut hampir lengang, Nadira masih yakin Jihana dan Zahra belum keluar. Karena dirinyalah yang paling pertama diperiksa satpam.
Nadira pun melaju menuju gedung produksi lagi. Tepat ketika ia berjalan, samar-samar mendengar ucapan Zahra, ia pun menuju ke arah suara.
“Loh, kok kalian di sini? Apa yang terjadi sama Jihan?” tanya Nadira khawatir.
“Tadi ada kecelakaan kecil, tapi udah gue obatin, kok,” timpal Rama.
“Ji, kayaknya gue duluan aja ya? Udah ada temen-temen lo ini. Gak papa, ya?” Rama tak enak hati merasa menjadi manusia paling tampan di ruangan itu. Bukan, tepatnya kurang nyaman dengan dirinya. Belum saatnya dia terlalu menunjukkan atas apa yang dirasakan, tetapi mau bagaimana pun dicegah kepedulian itu malah sulit dibantah.
Jihana mengangguk. Sementara Nadira mengambil alih posisi Rama berdiri tadi.
“Lo gak papa, kan?” Nadira memperhatikan tangan Jihana yang terluka.
“Gak papa kok, Rama aja yang lebay, cuma pusing biasa gegara semalem kurang tidur sama darah keluar cukup banyak,” timpal Jihana.
“Tadi Kak Rama tuh heroik banget loh, Kak Nad. Kek pahlawan di tivi-tivi gitu. Sampe rela gigit tuh jarum dan mulutnya pun kena lumuran darah dari telunjuknya Jihan. Keliatannya dia juga khawatir banget sama keadaan Jihan.” Zahra yang menyaksikan langsung insiden tadi memaparkan pada Nadira.
“O-M-G, beneran, tuh? Jangan-jangaaaan?” Nadira menaik turunkan alis kirinya menggoda Jihana.
“Paan, sih, Zahra juga dilebih-lebihin. Ya cuma kebetulan aja, dia yang deket mesin gue kali.” Jihana bersemu malu dan berusaha membantah.
“Alaahh tuh merah pipinya, keknya ada daging di balik roti nih hahaha ...,” goda Nadira lagi.
“Humberger dong,” timpal Jihana asal.
“Udah, yuk nanti lagi kita godain Jihananya, cacing di perutku udah berisik nih, Kak.” Kali ini Zahra melerai.
“Oiya, sama nih gue juga, yuk!” Nadira membantu Jihana beranjak dari ranjang itu dan melenggang bertiga menuju kantin.
Jihana tahu, kehilangan Reno memang amat menyakitkan. Bahkan hingga sekarang pun ia merasa hubungannya dengan pemuda bermata agak sipit itu belum benar-benar berakhir. Jauh di lubuk hatinya rasa yang sama masih bersarang di sana. Namun, ia bersyukur memiliki sahabat dan kawan seperti mereka. Hanya bersama mereka Jihana bisa sejenak melupakan sakit di hatinya.
Terimakasih,Tuhan!
Jihana berjalan dengan kedua lengannya diapit oleh Nadira dan Zahra. Ia menatap keduanya bergantian sembari tersenyum simpul.
Di sudut lain, tak jauh dari depan ruang unit kesehatan. Seseorang memperhatikan dengan sorot netra penuh kedengkian. Ia bisa melihat dengan jelas segala perlakuan Rama terhadap Jihana. Pun perhatian dari kedua sahabat gadis bermata teduh itu. Gejolak kebencian di dadanya semakin mendidih saja.
Orang itu melipat tangan angkuh dan berdecih sebal.
“Semua itu gak pantes lo milikin, Jihan!”
◇◇◇