Bertahun-tahun Rama sulit memaafkan keadaan, seakan membenci dirinya sendiri. Seusai luka amat dalam membuat dirinya sering menciptakan tawa tanpa ada rasa bahagia. Ya, ia memang sosok pria banyak bicara dengan seabrek celoteh kejenakaan meski hatinya teriris-iris di saat yang bersamaan.
Satu-satunya hal yang membuat ia tenteram, menatap purnama yang menggantung di langit. Seperti sekarang ini, ia terduduk di atas balkon rumah sembari menatap sang Dewi Malam dengan pandangan mengagumkan. Sebersit ingatan kala dulu bercengkerama bersama orang tuanya kini berputar di kepala.
“Purnama begitu indah, memang.” Nur, ibunya Rama menatap lekat ke atas sana sembari memangku anak laki-laki berusia enam tahun. Di samping Nur ada sang suami yang menikmati secangkir teh sembari mengembuskan jelaga dari mulutnya.
“Ibu, muji aku, ya?” Senyum ceria Rama kecil mengembang.
“Lihatlah ke sana, Sayang!” Tangan Nur menuntun jemari mungil Rama dan ditunjukkan mengarah ke tempat sang Purnama.
“Itu, kan, bulan, Ma?”
Tawa ringan turut terdengar dari Aryo, ayahnya Rama.
“Itu memang bulan sayang, jenis fase bentuk bulan itu ada banyak. Beberapa di antaranya yang sering kita sadari dan terlihat jelas; ada bulan sabit, bulan setengah, dan yang itu namanya bulan purnama, sama kayak nama kamu, Purnama Ramadhan.”
“Oooh, jadi yang bulat namanya purnama?” Tiba-tiba raut Rama kecil memberengut. “Apa karena aku juga bulet mama jadi namain aku Purnama juga?” sambungnya.
Sepasang suami itu terkekeh. “Ma, liat anakmu protes, tuh, sama nama pemberian kamu! Ayo tanggung jawab,” timpal Aryo menggoda.
“Ish, Papa ini.” Nur menepuk lengan suaminya pelan.
“Bukan gitu sayang, Mama kasih kamu nama Purnama itu karena mama emang suka sama bulan purnama, cahayanya indah dan terang banget di waktu malam yang gelap. Mama berharap kelak kamu menjadi manusia yang menyinarkan cahaya kebaikan meski itu di tempat yang buruk sekali pun. Juga semoga kamu banyak disenangi orang.” Nur menjelaskan dengan lembut seraya mengusap-usap pucuk kepala Rama yang berkupluk rajut.
Kini binar senang kembali terpancar dari mata Rama, “Kalo Ramadhan, artinya apa Ma?” tanya Rama kecil antusias.
“Itu karena kamu lahir di bulan Ramadhan, jagoan Papa tersayang, sini papa gendong kamu, duh pipimu bikin gemes!” Kini Aryo yang menimpali seraya meletakkan puntung rokoknya yang telah tandas ke dalam asbak.
Kemudian Aryo meraih tubuh Rama kecil dan diletakkan di punggung kokohnya. Pria berkumis tipis itu kini menggendong anaknya ke sana ke mari di teras. Diwarnai gelak tawa manja Rama kecil, pun riuh tepukan tangan Nur yang turut tersenyum simpul.
Pandangan Rama masih mengawang mengingat masa itu, lengkungan manis terlukis di bibirnya. Ia amat bersyukur memiliki orang tua lengkap yang hingga kini masih hidup damai bersama. Namun, sebagai anak ia belum betul-betul mampu berbakti kepada mereka, bahkan ia sempat membiarkan keluarganya dirundung duka karena kepergiannya ke luar kota bertahun-tahun lalu, tanpa kabar. Itulah perbuatan yang amat disesalinya hingga kini.
Aku gak akan pernah ngebiarin luka kembali menghampiri hati kalian karena perbuatan bodoh dan keegoisanku.
Janji Rama pada dirinya sendiri seraya memejam, lalu menengadah hingga wajahnya bermandikan cahaya sang Purnama.
◇◇◇
Setelah belasan menit berlalu, Rama mengambil gawai di saku jaketnya. Ia memotret keindahan malam yang berhiaskan bola bercahaya nun indah di langit sana, kemudian melihat-lihat kembali hasil bidikkannya hingga gambar-gambar itu tandas. Muncullah wajah seorang gadis. Terlihat santai dengan raut datar, sorot netra teduh juga memancarkan ketegasan. Perlahan bibir Rama terangkat menyunggingkan senyum penuh makna, untuk ke sekian kalinya ia memperhatikan potret gadis judes itu. Ya, Rama memang telah lama menyimpan foto tersebut diam-diam dari profil w******p si empunya.
Selanjutnya jemari Rama lincah mengetikkan sesuatu, apa lagi jika bukan sebuah pesan teruntuk gadis yang potretnya ditatap lekat barusan. Entahlah mengapa dia baru mengiriminya pesan? Padahal nomor gadis bermata teduh itu sudah bertengger lama di kontaknya.
Mereka pun berbalas pesan w******p, tak terduga ternyata perempuan sejudes Jihana begitu kalem jika melalui tulisan, kendati heran Rama malah mengetikkan balasan panjang lebar yang ia yakini akan menyebalkan bagi si penerima. Bahkan di kepala pemuda itu kini menayangkan sederet ekspresi ketus dan sebal Jihana. Yang malah membuatnya merasa gemas dan ingin terus menggoda gadis bermata teduh itu.
Gue coba VC dia ah! Biar bisa liat muka jutek dengan mata indahnya itu. Seru juga kan!
Sisi kejahilan rama semakin menjadi, bahkan sebersit ide itu muncul begitu saja. Bisa dipastikan setelah ini ia akan lebih menciptakan kejengkelan untuk Jihana.
Namun, sayangnya perhitungan Rama meleset. Jihana sama sekali tidak mengangkat panggilan video darinya. Pesan yang dikirimkan barusan pun diabaikan.
Ah udahlah, mungkin dia ketiduran. Besok-besok bisa gue lanjutin jailin dia.
Senyum miring tersungging. Hati pria bawel itu turut riang.
Ya, dia sekarang layaknya anak kecil yang memperoleh mainan baru saja. Ah tidak, mainan sama sekali bukan hal yang pantas untuk menggambarkan seorang gadis yang kini banyak menciptakan rekah senyum bahagia di hari-hari Rama. Entahlah semenjak pertemuan di hari pertama masuk kerja kala itu, Jihana mulai menyita perhatian pemuda penikmat purnama ini. Seperti ada suatu yang dulu pernah hilang lalu kembali pulang. Getar yang amat disadari Rama bukanlah hal biasa itu kini makin sering ia rasakan.
Bila saja Rama memang kembali dijatuh cintakan setelah sekian lama menyerahkan diri pada kesunyian. Maka dia berharap bukan untuk kembali dipatahkan. Sebab ia paham betul di mana sisi rapuhnya. Bukankah luka serupa akan lebih parah jika menimpa tempat sama yang bahkan belum pulih sepenuhnya? Semoga saja, kali ini dirinya tidak salah melabuhkan hati lagi. Tidak keliru menambatkan perasaan lagi. Segala harapan yang Rama panjatkan semoga terkabulkan sang Maha Pemilik Kekuasaan.
◇◇◇
“Hari ini kita akan kedatangan Buyer khususnya untuk orderan Carter,” ungkap Pak Arif ketika memulai breafing pagi di depan kerumunan para anggota line 25 yang tengah berdiri mengelilingi dirinya. Kemudian memaparkan seluruh prosedur kerja dan wejangan untuk lebih disiplin melebihi hari biasanya.
Keseluruhan anggota mangut-mangut memafhumi, kecuali Jihana. Ia memang menatap ke arah Suvpervisor, tetapi jiwanya berkelana entah ke mana. Hal itu begitu kentara dari sorot netra yang tertangkap oleh Rama yang berdiri berseberangan dengan gadis itu dan kerap mencuri pandang sedari tadi.
“Jangan lupa, pertahankan kualitas pekerjaan yang sudah baik, juga kuantitasnya pun tingkatkan! Jangan puas hanya dengan pencapaian dalam patokan, tetap terus berusaha lebih baik, lebih bagus, dan lebih meningkat lagi.”
“Baik, Pak!” timpal anggota tim serentak nan keras.
Jihana tersentak saat tersadarkan dari pandangan kosongnya.
“Baiklah, sebelum memulai bekerja mari kita panjatkan doa bersama sesuai keyakinan masing-masing, berdoa ..., mulai!” Pak arif menengadahkan kedua telapak tangannya sejajar dengan d**a dan menundukkan kepala, kemudian mengucapkan doa khidmat.
Usai itu, semuanya berangsur berhamburan menuju mesin masing-masing untuk menanti bel kedua berbunyi untuk mulai bekerja.
◇◇◇
“Jihan! Lo abisin aja yang warna itu! Gue mau mulai warna baru. Kalo ada susulan lo beresin juga! Biar nanti kedepannya ada stok buat proses setelah kita,” ucap gadis bermasker semerah darah sembari memindahkan beberapa ikatan ke tempat yang lebih dekat dengan mesin Jihana.
“Iya, Kak!”
Meski pun pikiran Jihana sedang kacau, sebisa mungkin berusaha profesional. Walaupun tak bisa dipungkiri kinerjanya menurun, lemas di tubuh tak bisa ditepis. Pun denyutan di kepala begitu mulai menyiksa, kendati seperti itu Jihana tidak mengeluh sedikit pun.
“Jihan! Jihan! Hei, kok bolot sih!” panggil Rama, sembari mendorong pundak Jihana asal.
Jika biasanya Jihana menjawab dengan ketus dan kerlingan judesnya, berbeda dengan sekarang. Ia hanya menjawab panggilan itu tanpa menoleh kepada Rama sedikit pun.
“Iya, Rama.” Jihana agak mengeraskan suaranya agar mampu berlomba dengan bising mesin.
Tumben nih cewek, kenapa ya? Atau gegara keisengan gue malem kemaren di chat yak? Ah gak mungkin, palingan lagi PMS dia.
Rama mengulum senyum jahil di balik masker abu-abunya.
“Jihan noleh bentar dong, tenang aja buyer belom dateng juga kali! Hei, liat gue!” Bukanlah Rama namanya jika bisa diabaikan begitu saja.
“Oke, apa Rama?” Kali ini Jihana menuruti pinta lelaki bawel itu, tanpa menggerutu, tanpa memikirkan perkataan menyebalkan Rama.
Kini dalam jarak yang cukup dekat Rama bisa melihat begitu jelas sembab di mata gadis bermata teduh itu.
Jejak tangisan. Dia bisa nangis juga ternyata, btw kenapa?
Rama kembali bertanya-tanya. Dan hatinya tak tahan ingin mengetahui alasan perempuan bermata teduh itu menangis. Tapi apa haknya? Ah entahlah perasaan yang mulai mengganggu membuatnya menjadi lebih kepo dari biasanya, khususnya tentang Jihana.
“Itu waktu malam minggu napa sih lo kagak angkat VC gue? Atow dugaan gue bener ya? Terus lo ngambek gara-gara itu?”
Please, Ram gue lagi enggak berselera nanggepin ucapan lo yang konyol itu. Lo gak tahu masalah gue!
Ingin sekali Jihana melontarkan jawaban itu, tetapi urung.
Berbarengan dengan ucapan Rama, Jihana malah kembali teringat pada kejadian menyakitkan di Sabtu malam lalu. Detik berikutnya tetesan bulir hangat menimpa pipinya. Raut Jihana kian semakin muram. Hening dalam kebisingan, pikirannya kembali terpaut pada satu nama, Reno. Lekas ia berbalik dan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Jangan sampai air mata itu sempat terlihat oleh orang lain, terutama Rama. Segera disekanya ujung mata sembari menggeleng sebagai bentuk tepisan atas pertanyaan dan pernyataan Rama.
“Arrgghhhhh,” pekik Jihana keras hingga membuat berpasang-pasang mata mengarah kepadanya.
◇◇◇