Seusai memakai piama satin navy, Jihana merebah di kasur. Meredakan kepenatan dan memulihkan badan. Semenjak ia dan kawan-kawan dipindahkan ke line baru yang notabenenya menuntut mereka supaya memenuhi target sesuai patokan perusahaan.
Untuk seukuran karyawan berpengalaman seperti Rama, itu bukanlah hal yang terlalu membebankan. Namun, lain halnya bagi Jihana yang baru pertama kali terjun ke dunia kerja. Perubahan terjadi amat signifikan; mulai cara bekerja, berpindah-pindah proses, mengejar efisiensi hasil, belum lagi tuntutan kualitas dan kuantitas yang teramat menguras pikiran dan tenaga.
Drrrt ..., drrrt ....
Jihana segera menegakkan kepala dan mengambil gawai di atas nakas. Netra lelahnya berbinar semangat, barangkali penantian balasan itu telah berbuah manis.
Nomor baru: Jihan?
Seketika binar itu berangsur sayu. Kecewa, ternyata bukanlah pesan dari kekasihnya.
Jihana pun mengabaikan.
Nomor baru: Lo sombong amat, sih!
Jihana: Iya, siapa?
Nomor baru: Rama, sorry gue ganggu, ya?
Sejujurnya amat mengganggu, tetapi entah kenapa akhir-akhir ini pemuda itu tidak terlalu menyebalkan. Bahkan menjadi menyenangkan dan sering kali membantu Jihana ketika kesulitan dalam urusan pekerjaan. Oya, dia pun beberapa kali memberikan tumpangan tanpa imbalan.
Jihana: Enggak kok, gue lagi santai ini.
Jihana menyimpan nomor baru itu ke kontaknya dengan nama 'Rama Beo'. Ya, meskipun sikap Rama berangsur berubah, tetapi kebiasaan banyak bicara pemuda itu tidak sedikit pun berkurang. Duh apa jadinya jika Rama tahu? Entahlah.
Rama Beo: Oya, maaf gue nyimpen nomor lo dari grup chat anak-anak se-line di tempat kerja kita, tanpa izin dulu.
Jihana: Gak papa kok, santai aja.
Rama Beo: Lo kalem ya kalo di chat mah. Atau enggak keliatan aja kali ya muka juteknya, gue VC ah biar bisa liat ekspresi lo.
Jihana: Paan sih, lo.
Panggilan video pun muncul dari nomor Rama.
Gila ni cowok kalo ngomong gak pernah main-main.
Rama Beo: Kenapa gak diangkat? Takut ya, kalo gue tebak sih muka lo berubah serem dan kriput-kriput gitu kalo malem. Iya, kan? Ngaku, lo!
Paan sih, si Beo, emangnya gue Nenek penyihir jahat yang awet muda cuma di siang bolong apa!
Sekali lagi, Jihana tetap mengabaikan ocehan Rama melalui pesan itu. Ia lebih memilih memutar instrumen biola yang syahdu nan mendayu. Layaknya Nina Bobo yang dinyanyikan ibu, alunan nada-nada itu menentramkan, menyugestikan ketenteraman di pikiran hingga ia terlelap.
◇◇◇
Ketukan di pintu membuat Ratna beranjak dari kursi.
“Eh, Nak Reno. Ayo masuk!”
“Iya, Bu. Ibu apakabar?”
“Baik, Alhamdulillah. Tentunya kamu baik-baik juga, ya?”
“Iya, Bu. Alhamdulillah.” Reno tersenyum simpul, tetapi matanya seperti mencari seseorang.
“Ini Nak, diminum ya tehnya. Ibu panggilkan Jihana sebentar.” Ratna berlalu menuju kamar Jihana.
Setibanya di kamar, perlahan Ratna menggerak-gerakkan kaki anak gadisnya. Ia berbicara setengah berbisik, “Jihan, Jihan, bangun. Jihan, bangunlah.”
Jihana mengerjapkan mata, “Emh, iya, Ma? Jihana ngantuk ....” Gadis itu menelisik.
“Itu Reno dateng, Jihan.”
Seketika itu, ia terlonjak dan duduk di kasur.
“Benarkah?”
Ia melompat dan tergesa-gesa menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
“Sebentar ya, Nak Reno. Jihannya abis ketiduran.”
Reno tak heran, barangkali sebab kesendirian dan masa-masa sepi Jihana tanpa dirinya membuat gadis itu sedemikian mudah terlelap.
“Hai, Ji.” Lengkungan menawan itu mengembang di bibir penuh milik Reno.
“Hmm.” Jihana hanya ber-hmm singkat.
“Oya, Mama tinggal Shalat isya dulu ya.”
“Iya, Ma.” Jihana yang menjawab.
“Ji, kenapa kamu nyambut aku kayak gini?”
“Masih mampu kamu nanya gitu?”
“Ya kenapa? Aku kesini karena ada yang mau aku omongin.”
“Oke, ngomong apa?”
“Tapi enggak di sini, kita ke Alun-alun gimana?”
“Terserah, aku ganti baju dulu.”
◇◇◇
Sepanjang perjalanan hanya ada bising kendaraan bersahutan diirungi riuh suara lautan manusia. Ah sabtu malam, memang selalu menjadi saksi untuk pasangan yang menganyam kisah penuh kasih. Kecuali sepasang insan yang kini berjalan beriringan, tanpa berbicara, tak ada tautan tangan mesra pun binar gembira turut enggan tercipta.
Bagaimana bisa tawa akan membahana layaknya kencan-kencan mereka berbulan-bulan lalu? Jika sekadar membuka suara saja tak ada yang sudi mendahului.
Kini mereka terduduk di sebuah bangku taman alun-alun kota. Reno menatap singkat wajah gadisnya.
Sementara Jihana sibuk memainkan gawai, sesungguhnya ia tak benar-benar sibuk, gadis bermata teduh itu hanya menggulir timeline i********: berulang kali.
“Ji, aku minta maaf!” Netra Reno masih terfokus ke arah lain.
Sementara Jihana masih hening dan menatap layar gawai.
“Aku tahu, aku salah udah biarin kamu sampe berminggu-minggu kayak gitu. Sungguh ini bukan karena ingin menguji kamu seperti sebelumnya. Tapi ....” Reno meragu, ada jeda singkat yang diciptakan seraya menghela napas. “Sejujurnya aku kecewa sama kamu.” Reno meremas kepalan tangan, matanya menunduk ke arah pijakkan.
Deg!
Pikiran Jihana langsung terbersit hal yang disembunyikannya.
“Kamu tahu aku kerja?”
“Ya, aku tahu.”
“Oke, mungkin kamu kecewa karena aku enggak nerusin kuliah, kan? Aku udah menduga itu, makanya aku nyembunyiin ini dari kamu. Kamu enggak akan ngerti gimana posisi aku. Kamu mah dari keluarga berada, ayah kamu bertanggung jawab membiayai. Sedangkan aku? Di sini yang aku liat ibuku.”
Ya, memang kenyataan Jihana tak meneruskan pendidikan. Tak bisa dimungkiri amat mengganggu pikiran Reno. Namun, lebih dari itu malah kebohongan Jihanalah yang membuatnya lebih kecewa. Seandainya Jihana bisa jujur dari awal, mungkin keadaannya tidak sampai seperti sekarang.
Sementara Jihana enggan mendengarkan penjelasan. Ingin rasanya ia meluruskan, tetapi mana mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa ayahnyalah yang meminta ia meninggalkan Jihana. Namun, walau bagaimana pun beliau Ayah Reno, ia tak ingin nama ayahnya tercoreng di mata orang lain. Terlebih itu di mata Jihana, gadis yang dicintainya. Biarlah ia yang menanggung seluruhnya jika kelak kebencian bersarang di d**a gadisnya.
“Bukannya kamu bisa ambil beasiswa, kan? Atau sambil kerja juga. Itu bisa membantu meringankan beban ibumu, Ji.”
“Kamu enggak ngerti, Ren! Ibu aku udah tua. Sedangkan kalo aku kuliah meski pun pake beasiswa dan aku sambil kerja. Itu tetep akan ngebuat ibu merasa bertanggung jawab dan mesti terus mencari uang lebih. Asal kamu tahu, aku sekolah SMA aja, ibu mesti kerja siang malem. Dia memang nyembunyiin dari aku. Dia mulai jahit lagi di saat aku udah tidur. Tapi aku tahu itu. Apalagi kalo aku kuliah, gimana sibuknya dia kerja. Aku lebih kenal bagaimana sifat ibuku!” Jihana menunduk, mengatur napasnya yang semakin tak beraturan.
“Aku enggak mau ibu terus-terusan kayak gitu. Aku mau ibu istirahat di masa tuanya ini. Bukan mauku juga terlahir dari benih seorang lelaki yang tak bertanggung jawab itu.” Sorot kebencian kini memancar dari netra Jihana.
Sejujurnya ingin rasanya Reno memeluk Jihana, gadis yang telah mewarnai hidupnya setahun belakangan. Namun, urung. Ia takut meruntuhkan kembali keberanian yang habis-habisan dibentuk untuk mengatakannya. Ia tak ingin lebih menyakiti gadisnya sebab harapan yang bisa saja kembali terbuka karena sikapnya.
Dengan segenap sisa keberanian yang berusaha ia pertahankan, serta melawan nyeri yang kini menerjang hatinya sendiri. Reno akhirnya mengatakan.
“Baiklah, hubungan kita atau pekerjaanmu?” Reno tahu ini akan melukai Jihana, pun dirinya sendiri.
Bak disambar petir di malam cerah berbintang, Jihana tak menyangka akan mendengar itu dari kekasihnya. Pemuda yang selama ini selalu bersedia menjadi tameng pelindung dari segala rasa sakit. Kini justru perkataan Reno layaknya silet menyayat-nyayat bagian tubuhnya yang paling rapuh. Perih.
Netra Jihana memanas, bulir bening sudah menggenang di sana. Ia segera menengadah supaya hujan di pipinya tercegah.
“Aku harap, kamu bisa mengerti. Tapi aku enggak bisa egois. Aku paham standar kamu gimana. Aku enggak bisa memenuhi itu, jadi maaf. Aku akan tetap memilih pekerjaanku. Demi ibuku.”
Jihana salah paham terhadap Reno, tetapi bukankah itu yang Reno inginkan? Melindungi nama baik ayahnya, dan mengorbankan nama baiknya sendiri.
“Baiklah, hubungan kita sampai di sini. Maaf!” Reno berkata lirih, dan tersirat nada tak rela dari suaranya. “Aku anter kamu pulang!” Ia beranjak berdiri sambil merapikan kemejanya.
“Gak perlu, kamu duluan aja.” Jihana ingin meluapkan kepedihan hatinya.
“Aku yang bawa kamu ke sini, aku masih punya tanggung jawab sampe kamu kembali ke hadapan ibumu dengan selamat, Jihan.” Reno berlalu menuju tempat parkir enggan kembali dibantah oleh gadis itu.
Jihana pun mengekori pemuda berkemeja navy itu, bulir bening akhirnya meluruh hingga membanjiri pipi tanpa suara. Buru-buru Jihana menghapusnya, ketika langkahnya makin dekat ke motor Reno.
◇◇◇