Hari kesepuluh Jihana menjalani masa-masa awal sebagai karyawan, ia melangkah malas. Kaki seakan mengenakan sepatu dari baja, berat sekali. Bulatan hitam tercetak jelas di bawah matanya. Pun jejak hujan semalaman begitu kentara di rautnya.
Jika bisa ia akan memilih kembali menarik selimut lalu terlelap. Sungguh baru tidur sebentar, hanya beberapa jam. Namun, mau bagaimana lagi tuntutan kewajiban mesti dipenuhi. Mana bisa dia absen begitu saja hanya disebabkan perihal perasaan, tentu tidak profesional, bukan?
Seperti biasa, gadis itu duduk di mesin sembari menunggu bel kedua melengking. Di belakangnya sudah ada Rama yang telah berkutat dengan pekerjaan.
“Rajin juga, tuh, si Beo!” Jihana bergumam. Sedangkan yang ditatap masih fokus dengan aktivitasnya.
Sedang yang lain ada yang masih asyik bercengkerama, bergosip, dan sebagian yang seperti Rama.
Saking tidak bersemangatnya, bel kedua telah melengking pun Jihana baru mulai bekerja dengan lesu. Kantuk sering kali menyambangi, bahkan deru mesin bersahutan, juga kicauan manusia yang mulutnya bak burung Beo di belakangnya itu tak jua mengalihkan hasrat ingin tidurnya.
Sekilas Jihana melirik ke arah Rama, tangan pemuda bermulut banyak itu cekatan menjahit, mata fokus, dan tidak berhenti sama sekali. Rama terlihat begitu profesional di bidang ini. Namun, lisannya pun turut bekerja. Mengobrol dengan Dito, karyawan di sebelahnya.
Terkadang Jihana kagum terhadap dedikasi Rama pun sekaligus kesal di saat yang bersamaan. Tatkala mulut tanpa rem pemuda itu terus saja bersuara. Apalagi seperti sekarang saat pikiran Jihana tak karuan. Ingin rasanya ia jahit kedua bibir manis lelaki di belakangnya itu.
“RAMA!” bentak suara bariton milik pria yang melajukan kaki menuju mesin Rama.
Sontak Rama dan Dito terlonjak, lekas menghentikan acara bergosip layaknya ibu-ibu berdaster yang berbelanja sayur.
“Pantes aja banyak permakan gini, kerjanya ngobrol terooos!” Suara itu milik Pak Arif, pengawas line pembinaan.
Syukurin, lo! Ngobrol mulu , sih!
Jihana kegirangan dalam hati seakan menang undian dan memperoleh hadiah yang amat bagus saja.
“Permakan bagian mananya, Pak? Saya rasa jahit sesuai petunjuk dan baik-baik aja, kok. Lagian saya periksa dulu sebelum diikat,” kilah Rama.
“Rasanya-rasanya! Rasa-rasanya! Cuma Rerasaan UDELMU! Nih liat!”
“Bentar, jangan-jangan ini jahitannya ketarik sama yang ngerjain proses setelah saya, Pak.” Rama menghampiri Saras dan Jihana, pemegang proses menjahit setelah bagian Rama.
“Kalian berdua, sini!” panggil Rama.
Keduanya pun menghampiri Pak Arif dan Rama.
Arghh, kok ngerembet ke gue sih!
Jihana merasa terseret ke kubangan masalah.
“Kalian jahitnya gimana, sih? Kok bisa bagian gue jadi berkerut gini?” Rama mengintimidasi Saras dan Jihana.
Sementara Pak Arif segera memeriksa ikatan hasil menjahit Reno.
“Apanya yang ngerut? Hasil jahitan gue baik-baik aja, kok! Gue ati-ati banget pas balikin bagian ini tuh. Maaf ya, Pak mungkin ini hasil jahit si Jihan, tuh!” kilah Saras membela diri.
“Jihan, ambil hasil jahitan kamu!”
Jihana masih mematung di sana, keningnya berkerut. Kok cuma gue sih yang diminta nunjukin hasilnya?
Kendati sangsi, Jihana tetap melaksanakan titah pengawasnya.
“Tuh, kan! Itu hasil jahitan si Jihan! Gue mah aman-aman aja. Lagian gue mah lebih dulu dari pada dia megang proses ini!” Saras memicingkan mata ke arah Jihana.
Sialnya, mengapa yang Jihana bawa ada beberapa yang kurang rapi. Padahal ia menyimpannya terpisah untuk diperbaiki dulu sebelum diteruskan ke proses selanjutnya. Namun, perkataan Saras itu terdengar seperti mengompori.
“Jihan! Kamu, tuh, jahit yang bener. Hati-hati kalo narik atau balikin bagian ini. Hasilnya jelek gini! Emangnya kalo kamu beli baju mau yang mengkerut-kerut kayak gini, hah?”
“Enggak, Pak.”
Sekilas Jihana menangkap binar kemenangan di mata Saras.
“Makanya, awas jangan gini lagi! Abis jahit periksa lagi hasilnya!”
“Baik, Pak.” Jihana hanya mengangguk patuh, mana berani ia membantah pengawas galak itu.
“Ini, tuh, barang EKSPORT! Bukan barang yang dijual di pasar abal-abal. Sedikit kesalahan aja bisa berakibat fatal, ngerti kalian!”
“Mengerti, Pak.” Rama dan Saras berkata serempak. Sedangkan Jihana hanya mengangguk dengan d**a sesak di tempatnya.
“Nih, Jihan. Perbaiki semuanya!” Pak Arif menyerahkan setumpuk permakan ke meja mesin Jihana.
“Semuanya kembali ke tempat masing-masing!” pungkas Pak Arif. Semua yang dipanggil tadi lekas mematuhi.
Jihana merasa tak mendapatkan keadilan, mengapa hanya dirinya yang dibentak-bentak seperti itu? Lalu kenapa hasil pekerjaannya saja yang diperiksa. Sedangkan hasil jahitan Saras sama sekali tak dihiraukan Pak Arif. Meski pun ia baru memegang proses ini, masa ia seluruh hasil pekerjaannya salah dan hasil pekerjaan Saras benar semua. Seharusnya sama-sama diperiksa dan turut memperbaiki, bukan? Bukankah proses tersebut hasil berdua bukannya dipegang sendiri olehnya?
◇◇◇
Mega mendung menggantung di langit sore, tak ada binar jingga di sana. Hanya gumpalan hitam berarak yang diselingi kilat yang melesat sesekali. Jihana memandang ke atas, rautnya serupa objek yang ditangkap netra. Lalu kembali tertunduk menatap ujung sepatunya di halte bus.
Biasanya gadis itu selalu pulang bersama Nadira, tetapi hari ini tidak. Sebab permakan tadi menahannya lebih lama di pabrik untuk diperbaiki. Belum lagi baterai gawainya habis, alhasil rencananya memesan ojek online pun diurungkan. Sehingga ia terdampar menanti bus di sana, untunglah ia tidak sendirian, masih ada beberapa penunggu angkutan umum juga.
Klakson berkali-kali dibunyikan oleh pengemudi motor matic hitam, seperti ditujukan pada Jihana. Instingnya membuat ia ingin menoleh. Benar saja, Rama membuka kaca helmnya dan melambai-lambaikan tangan terhadap gadis itu.
Rama?
Jihana sedikit tak memercayai penglihatannya.
“Lo ngapain di situ sendirian?” tanya Rama. Ini pertanyaan bodoh memang, entah mengapa indra pengecapnya terasa kelu, dia malah melontarkan kalimat itu.
Yaelah anak SD aja tahu kali apa yang dilakuin manusia di halte bus, yakali lagi masak.
Kekesalan masih menggumpal tersebab masalah permakan tadi. Padahal bukan kesalahan Rama, tetapi entahlah Jihana masih saja sebal pada pemuda itu.
“Nunggu bus!” ketus Jihana.
“Ayolah, jangan marah-marah mulu. Gue tahu kok lo kesel, kan, gegara masalah permakan tadi? Itu bukan salah gue. Gue cuma niat baik mau kasih tumpangan buat lo.”
Jihana mempertajam pendengarannya, khawatir telinganya keliru menangkap suara atau barang kali sedang berhalusinasi. Alih-alih menjawab, ia malah tertegun dan menatap skeptis terhadap lelaki bawel itu.
“Hei! Lo enggak kesambet, kan? Atau jangan-jangan mau pingsan, ya? Aduh nanti dikira gue apa-apain lagi.” Rama menggerak-gerakkan telapak tangan kanannya di muka Jihana.
Jihana mengerjap, dia tak salah dengar ternyata memang itu nyata.
“I-iya, apa?”
“Lo denger gak, sih? Gue nawarin tumpangan buat lo, ya dari pada terdampar di pinggir jalan gini. Liat, tuh, udah ampir gak ada orang, kayaknya mau turun ujan juga, nih.”
Rama benar, memang di tempat itu semakin lengang. Jihana menatap sekelilingnya, di sana hanya tersisa seorang wanita dan dirinya. Tak lama ibu itu pun dijemput oleh seorang pria yang mengendarai motor bebek.
Jihana mulai gelisah, menatap ke arah di mana biasanya bus yang melewati tempat tinggalnya tak kunjung tiba.
“Jadi, gimana? Mau, enggak? Banyak mikir banget ya, lo. Haduuuhhh.”
Yaampun, cerewet amat, sih, jadi cowok. Bisa enggak, dia diem sebentar aja. Atau dia bakal berubah pikiran, dan gue sendirian di sini?
Jihana menggeleng kuat membayangkan hal-hal buruk yang mungkin saja menimpa dirinya.
“Oh, jadi nolak, nih? Yakin? Gak takut gitu?”
Rama salah mengartikan gestur Jihana, bukan itu yang dimaksud gadis bermata teduh itu.
“Bukan gitu, iya gue ikut lo.”
“Haduh tinggal bilang iya aja susah amat, sih, kalo gue keburu berubah pikiran kan lo yang rugi, dasar cewek jutek!”
“Lo niat enggak sih kasih tumpangan?”
“Iya, iya. Niat kok, Mbak! Kalem aja .... Dasar jutek!”
Jihana hanya memutar manik matanya malas seraya membatin.
Itu mulut gak bisa dikondisiin banget ya.
Jika saja Jihana orang yang tak tahu balas jasa nan tak tahu diri ingin rasanya ia sumpel mulut Rama yang bak beo itu.
Kendati kesal setengah mati, Jihana tetap berusaha meredamnya. Walau bagaimanapun kini yang menjelma dewa penolong untuknya tak lain adalah manusia banyak bicara di depannya. Itu patut disyukurinya.
Terkadang bantuan datang secara tiba-tiba dari arah yang tak terduga. Bahkan dari orang yang membuat kita kesal sekali pun. Maka jangan terlalu membenci wahai hati.
◇◇◇