Malam makin larut, gulita menyelimuti semesta. Seakan turut menyelimuti jiwa Reno yang kini didera amarah, kecewa, dan luka. Ia berjuang mati-matian mengalahkan ego untuk berusaha mencari jalan tengah dan kepastian atas apa yang telah dilakukan kekasihnya.
Gawainya tak henti ia mainkan penuh pertimbangan. Sudah dua hari pesan-pesan dari Jihana ia abaikan. Di sisi lain pemuda itu ingin berusaha memahami tindakan gadisnya, tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal perasaannya.
Kendati begitu, ia masih mengkhawatirkan kesehatan Jihana. Mungkin kekasihnya pun melakukan hal serupa; merenung sampai lupa makan. Itu lebih membuatnya gusar. Namun, di sisi lain lagi Reno pun dipusingkan masalah dengan ayahnya.
Beberapa mas kemudian, hampir saja Reno mengetikkan suatu kalimat dan hendak mengirimnya kepada Jihana.
Tidak! Ini terlalu buru-buru.
Syukurlah di detik terakhir akal sehat Reno bisa mengalahkan egonya. Memang tidak seharusnya ia mengambil kesimpulan secara sepihak dan menentukan keputusan ketika amarah masih menguasainya. Itu sangatlah salah.
Pemuda itu menyugar rambut kasar. Lekas mengganti kalimatnya, maksud hati mengirimkannya kepada Jihana, tetapi diurungkan lagi.
Tiba-tiba nada pengingat pesan w******p berdering.
Jihana: Ren, malem. Kamu ke mana aja?
Reno tersenyum getir, alih-alih membalas, ia malah pergi dengan motor gedenya tanpa tujuan yang jelas. Yang ia ingin, sekadar mencairkan bongkahan es batu yang seakan membuat dadanya kian kebas.
“Jihaaaaaaan!” Teriakkan Reno melengking seirama deru knalpotnya yang memekakkan telinga.
Entah berapa kali putaran, Reno melajukan motornya menyusuri jalanan kota. Kepalanya kian terasa berat, petir menyambar seiring hujan memandikan tanah hingga licin.
Seiring deru knalpot nun nyaring, decit ban motor memilukan pendengaran. Selayaknya hati Reno yang semula kebas berubah nyeri, giginya bergemeletuk dengan gigil yang menguasai badan. Jaket kulit hitamnya tak mampu menepis kuyup sebab banyu yang terus berjatuhan. Jika saja dia tak ingat ibu dan orang-orang yang disayangi, sejatinya enggan menghentikan aksi bodohnya itu.
Kuda besi gagah itu kini bertengger di tempat parkir sebuah kafe. Reno berdecih kala menatap papan nama kafe tersebut. Lagi, berkaitan dengan seseorang yang menjadi penyebab kekalutannya. Kendati kesal, gigil di tubuh mengalahkan egonya, ia tetap masuk dan duduk di pojokkan kafe.
Reno memesan tiga cangkir Espresso sekaligus. Salah satu Barista kafe Rona Senja tak habis pikir dengan tingkah pengunjung yang satu itu, datang sendirian dalam keadaan kacau dan basah kuyup dengan pesanan sebanyak itu. Kendati tak lazim, si Barista tetap memenuhi permintaan pelanggannya. Toh itu malah menguntungkan, bukan? Kemudian Barista itu meminta pelayan kafe untuk mengantarkannya ke meja Reno.
Entah batang ke berapa yang telah disesap Reno, puntung rokok sudah setengah memenuhi asbak di meja hingga jelaga mengepul di sana.
Pemuda beralis tebal itu mulai meneguk Espresso, netranya menatap nanar cairan berkofein itu. Seolah masalah yang menderanya kini berpadu di sana sehingga rasa pahit makin pekat nan melekat di pengecap.
◇◇◇
Di keadaan seperti ini, di saat Jihana dirundung lara dan kecewa biasanya selalu ada Reno yang menghibur dan menenangkannya. Dengan tingkah dan perkataan jenaka mampu melegakan sesak yang menjamah jantungnya. Pun berusaha membujuk Jihana untuk segera makan supaya asam lambung tidak menyambangi perutnya.
Dan kini Jihana mengharapkan itu dari kekasihnya, meski sekadar mendengar suaranya pun tak apa. Namun, sekarang semua itu sekadar angan. Reno nyatanya benar-benar tak ada kabar. Bahkan dihubungi berkali-kali pun tidak membalas.
Kini Jihana merebahkan diri dan segera memeriksa gawainya. Masih berharap ada notifikasi balasan dari Reno, tetapi nihil. Ia kembali mengembuskan napas berat. Beribu tanya menyerang kepala, berjuta praduga menyerbu batinnya, hingga jelaga seakan menyusup memenuhi rongga d**a.
◇◇◇
Seorang gadis berambut sebahu, bermata lebar dibingkai kacamata bulat yang bertengger di pangkal hidung mancung kian mempermanis rautnya. Dia duduk sendirian di Kafe Rona Senja sembari mengetik sesuatu di laptop seraya menikmati secangkir Cappuchino.
Di sela kegiatan gadis itu, tanpa disengaja netranya berlabuh para seorang pemuda yang melenggang lesu menuju pojok ruangan. Penampilan serta rautnya terlihat begitu kacau. Sementara yang ditatap tidak menyadari kehadirannya, lebih tepatnya mengabaikan sekitar. Lama ia memperhatikan pemuda berjaket kulit itu, pikirannya mengawang.
Rasanya wajah itu gak asing, tapi siapa?
Sepersekian masa si gadis mengingat-ingat, terbersitlah sebuah nama. Ya, kini ia ingat kawan semasa SMP-nya itu. Tidak, bahkan dulu mereka lebih dari kawan. Alih-alih segera menghampirinya, ia lebih memilih menyelesaikan kegiatannya.
Di antara riuh cengkerama para pengunjung serta gemuruh hujan di luar, gadis itu sedikit mencuri dengar gumaman-gumaman kekesalan dari pemuda itu. Perlahan ia mulai mengerti arah benak dan permasalahan si pemuda.
“Kebenaran memang terkadang pahit, tapi masih bisa dinikmati, bukan? Seperti kopi itu,” ucap gadis yang mendekap laptop di tangan kanan, serta secangkir kopi di tangan kirinya.
Reno mengangkat wajah sekilas kemudian kembali terfokus pada Espresso-nya.
“Boleh gue duduk?” tanya gadis berambut sebahu dengan mata besar nun indah dipandang.
Reno hanya mengangguk samar, tanda menyetujui meski sedikit tidak tertarik.
Terbitlah senyum di wajah gadis itu seraya meletakkan benda-benda di tangan ke atas meja.
“Em, lo Reno, kan? Masih inget gue?”
Reno menegakkan tubuhnya, mengalihkan pandangan ke raut gadis berkacamata itu cukup lama seraya mengingat.
“Fania?” Lengkungan mulai terbentuk di bibir Reno, binar matanya berubah. Seakan mendapatkan payung di tengah deras hujan. Teduh.
“Sejak kapan lo ada di sini?” sambung Reno.
“Dari tadi, sebelum lo dateng juga gue udah di sini, Elonya aja yang enggak nyadarin kehadiran gue di meja itu.” Tatapan Fania mengarah ke meja yang didudukinya tadi.
“Sorry ..., Gue enggak merhatiin sekitar.”
“Banyak pikiran amat kayaknya ye, Bang.”
“Ah biasa aja, kok. Eh apa kabar, nih? Inget enggak, lo ngilang gitu aja abis lulus SMP.”
“Baik, Ren. Ya, lo juga tahu sendiri, kan? Setelah lulus bokap gue dimutasi ke luar kota sama atasannya, kami sekeluarga ikut pindah, dan gue sekolah SMA di sana. Terus setelah ayah gue dikembaliin lagi ke kota ini, kami kembali dan gue kuliah di sini.”
“Pantesan, tapi lo ngapain, sih, ngilang kek gitu. Semua sosial media gue, di-block segala, childish, njir!” Reno sedikit mengenang juga menyindir.
Fania menepuk jidat. “Maaf ..., waktu itu gue masih ABG labil.” Fania terkekeh. “Lo juga, kan, penyebabnya? Lo mutusin gue cuma gara-gara gue bilang mau sekolah di luar kota. Lebih childish, gak tuh!” ujar Fania tak kalah pedas.
“Terus sekarang masih labil juga?” Reno menaikkan sebelah alisnya.
Fania mengerti apa maksud yang tersirat dari perkataan Reno.
“Enggak, dong. Oke deh gue unblock, ya, semua sosmed lo. Dan udah gue refollow, kok. Sebenernya gue tuh lupa, Ren. Hehe ....”
“Emang ya, tetep aja pelupanya dipiara.” Reno mengacak puncak kepala Fania.
Fania mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf 'V' seraya tersenyum.
Tetap manis juga, Fan.
“Oya, gue perhatiin kabar lo keknya lagi enggak baik,” tebak Fania.
Reno menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian meneguk Espresso di cangkir kedua.
Fania pun mengerti makna gelagat mantan kekasih kecilnya itu. “Oke, kalo lo enggak mau cerita sekarang, gak papa. Lain kali, maybe?”
“Semoga lo ngerti, Fan.”
“Iya, tapi kapan pun lo butuh tempat buat ngeringanin beban pikiran. Gue selalu bersedia pasang telinga dan syukur-syukur bisa bantu elo,” tawar Fania tulus.
Begitulah Fania, sedari dulu ia selalu bisa menjadi penenang bagi Reno. Seperti air memadamkan api, layaknya awan meneduhkan terik mentari. Bersama Fania, Reno selalu merasa tenteram. Pertemuan tak disengaja itu membuat mereka seakan kembali mengulang kenangan yang terajut semasa remaja.
◇◇◇