Erika baru saja keluar dari dalam kamar mandi ketika ponselnya berdering. Masih dengan tubuh terlilit handuk gadis itu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja belajar. Ada nama Wulan di layar ponselnya.
"Helloow bestie... gue baru keluar dari kamar mandi nih," jawab Erika.
"Masih naked dong?"
"Mau liat? vicall yuk?"
"Najong deh,"
Erika tergelak.
"Eh Rik, gue, Ira, Dara mau nonton besok di kokas, loe gabung dooong,"
"Serius?"
"Suwer."
"Eeh, gue besok emang mau nonton di kokas tapi udah janjian sama mas Bimo," ujar Erika yang merasa kaget dengan rencana teman-temannya yang bisa sama dengan rencananya.
"Mas Bimo? Cowok loe?"
"Abang sepupu gue."
"Loe mau ambil jadwal jam berapa?"
"Jam sebelas."
"Lho koq bisa sama, kuys lah, bareng kita," ajak Wulan.
"Ato gue batalin aja pergi sama mas Bimo, biar bisa bareng sama kalian ya?" Erika mulai galau.
"Eh jangan. Mas Bimo orangnya asik gak?"
"Heem, kalo sama yang belum kenal cenderung diem sih, tapi dia baik koq,"
"Ganteng?"
"Ponten delapan koma lima deh,"
"Wuizz, grade A dong."
"Yo'i,"
"Fix kalo gitu jangan dibatalin, ajak aja mas Bimo loe besok, kenalin sama kita-kita, siapa tahu ada yang bakal jadi sodara'an sama loe,"
Erika tergelak. Dulu sewaktu masih sama-sama bersekolah di SMA yang sama dia pikir Wulan anak yang pendiam. Sekarang setelah mengenalnya lebih dekat rupanya gadis itu pun lumayan 'bocor'.
"Kalian besok naik apa ke kokas?" tanya Erika.
"KRL, turun di tebet."
"Oke deh, kita berkabar lagi besok ya,"
"Oke, daah," Wulan mengakhiri percakapan mereka.
Tadinya Erika mau memberitahu Bimo kalau besok ia janji ketemu dengan sahabat-sahabatnya di kokas, tapi setelah dipikir-pikir ia akhirnya tidak jadi memberitahu sepupunya itu. Takutnya setelah Erika memberitahu rencananya, Bimo malah batal menemaninya nonton. Abang sepupunya itu seperti alergi dengan makhluk yang namanya perempuan, apalagi kalau Erika berniat mengenalkannya dengan teman-temannya, pasti Bimo uring-uringan.
Lihat gimana besok aja deh.
*****
Keesokan harinya pukul sepuluh pagi Dara, Ira dan Wulan sudah menyusuri peron di stasiun Tebet. Ketiganya baru saja turun dari KRL yang mereka tumpangi.
"Erika udah ada kabar belum Lan," tanya Dara saat mereka sedang berjalan menyusuri peron menuju pintu keluar stasiun Tebet.
"Bentar, gue cek hape dulu," jawab Wulan sambil mengeluarkan ponsel dari dalan sling bag-nya.
"Eh, ini ada pesan dari Erika," ujar Wulan sambil menghentikan langkahnya untuk membaca pesan, "Katanya dia sama abang sepupunya lagi berhenti di samping Family mart, tapi gak bisa lama-lama disana soalnya jalannya dua arah dan sempit."
"Kuy lah cuss keluar, lumayan ada tebengan, hemat uang taksi," kata Ira.
Ketiga gadis itu pun menyiap access card mereka untuk di tap di pintu keluar. Setelah sempat celingukan sebentar akhirnya Wulan melihat Erika yang duduk di dalam mobil sambil melambaikan tangannya dari jendela yang terbuka.
"Wulan!" teriak Erika sambil nyengir lebar.
Yang dipanggil balas melambai lalu mengajak kedua temannya yang lain untuk menghampiri Erika. Mereka menengok ke arah kanan dan kiri sebelum menyeberang jalan yang tidak terlalu lebar tapi cukup ramai itu.
"Masuk say," ujar Erika dari balik jendela.
Wulan membuka pintu penumpang bagian belakang lalu masuk ke dalam mobil diikuti oleh Ira dan Dara paling akhir.
"Udah lama Rik?" tanya Wulan.
"Sepuluh menitan Lan, tadi kita muter dulu sekali, karena disini gak bisa parkir, banyak kendaraan lewat," jawab Erika, "Eh, kenalin ini abang aku mas Bimo."
Laki-laki yang disebutkan namanya tadi meletakkan ponsel yang sedari tadi dipegangnya di atas dashboard lalu mengangkat wajahnya dan menoleh ke belakang untuk bersalaman dengan ketiga teman sepupunya itu. Saat Bimo sedang bersalaman dengan Wulan dan Ira, Dara memang belum memperhatikan laki-laki itu karena masih sibuk membenahi posisi duduknya dan mengulangi mengunci pintu karena tadi ia menutupnya kurang rapat. Tapi begitu Dara mengangkat wajahnya untuk menyalami sebuah tangan yang terulur di hadapannya, kedua matanya langsung membelalak, tak terkecuali raut wajah Bimo yang juga menunjukkan rasa kaget yang tak bisa disembunyikan. Ya Allah, kenapa harus ada dia lagi sih?
Keduanya berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya dan pura-pura bersalaman sekilas lalu langsung melepaskan tangan masing-masing. Dara menyesali kebodohannya yang tak mengira kalau sepupu Erika itu adalah Bimo. Bukannya ia tak tahu, tapi ia tak menyangka kalau Erika akan pergi bersama Bimo. Pertama kali berkenalan dengan Erika dulu, Dara memang pernah menceritakan saat pertama ia bertemu dengan Bimo di Medan. Tapi kenapa Erika juga tidak memberitahunya kalau Bimo lah yang akan pergi bersamanya padahal Erika tahu kalau hubungan Dara dan Bimo tidak baik walaupun keduanya tidak mengenal secara akrab, tapi kesan masing-masing terhadap satu sama lain sudah jelek dari awal.
Dara hanya bisa menghela nafas pasrah lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia berusaha untuk tenang dan menikmati perjalanan ini. Bimo pun tak banyak bicara, hanya sesekali menjawab pertanyaan Erika. Percakapan lebih didominasi oleh Erika dan Wulan yang memang punya banyak pengalaman yang bisa dibagi bersama karena dulu mereka satu sekolah.
Dalam waktu lima belas menit mereka telah sampai di basemen satu kokas, untungnya masih ada space parkir yang tersisa jadi tidak perlu berkeliling lama-lama karena walaupun tempat parkir di kokas lumayan luas tapi tidak pernah sepi dari kendaraan pengunjung apalagi di saat hari libur begini.
Keempat gadis itu berjalan beriringan dua dua sementara Bimo mengambil sedikit jarak dan berjalan di belakang mereka.
"Eh Rik, abang loe koq mau nemenin kita-kita nonton? Biasanya cowok mana mau begitu, apalagi dia cuma sendiri, ceweknya empat, kita berasa gula-gula lagi nemenin mas gula deh," tanya Wulan setengah berbisik agar Bimo tak bisa mendengar percakapan mereka.
Erika terkikik mendengar perkataan Wulan.
"Iya gue gak bilang kalau mau ketemuan sama kalian," jawab Erika," Tadi pas dia jemput ke rumah gue gak ada ngomong apa-apa. Waktu sampe depan Basura baru gue bilang kalo temen gua lagi pada jalan ke kokas naik KRL, gue minta sekalian di jemput aja supaya gak repot cari taksi."
"Dia langsung mau gitu?" Ira penasaran akan reaksi Bimo saat Erika menceritakan rencananya bertemu teman-temannya.
"Gue ngomong tapi mata gue liat keluar jendela atau pura-pura sibuk sama hape, gue gak perhati'in reaksi mas Bimo," lagi-lagi Erika terkekeh.
"Jahat loe Rik," kata Wulan.
"Gak papa sekali-sekali. Doi tuh jomblo akut, mana tau bisa nyantol sama salah satu dari kalian, bisa sodara'an kita kayak yang loe bilang kemaren," jawab Erika. yang mengundang tawa ketiga temannya.
Mereka telah tiba di lantai atas tempat bioskop, suasana sudah lumayan ramai. Erika berjalan menghampiri Bimo yang sedang melihat-lihat poster-poster film di dinding.
"Mas," panggil Erika, "Kami mau nonton Tom Cruise, mas gak keberatan kan?"
"Terserah," sahut Bimo singkat, wajahnya datar.
"Mas mau duduk bareng atau pisah?"
"Terserah," lagi-lagi Bimo mengeluarkan kalimat sakti milik perempuan yang membuar Erika memutar bola matanya.
"Ya udah aku beli tiket dulu," ujar Erika lalu berlalu dari hadapan Bimo.
Setelah Erika meninggalkannya, Bimo berjalan menuju counter penjualan snack dan minuman. Laki-laki itu memesan lima gelas soft drink, dua popcorn ukuran jumbo dan tiga porsi kentang goreng.
"Nih bawa," ujar Bimo sambil mengulurkan empat gelas minuman, popcorn dan kentang goreng pada Erika saat sepupunya itu menghampirinya untuk menyerahkan tiket milik Bimo.
Bimo memegang segelas minuman dan seporsi kentang goreng untuk dirinya sendiri, sisanya dibawa oleh Erika dan Ira.
"Mas mau masuk duluan?" tanya Erika, "Kami mau ke toilet dulu, soalnya durasi filmnya panjang, sayang kalau lagi nonton nanti kebelet dan harus ke toilet,"
"Ya udah mas duluan ya," pamit Bimo dan langsung berjalan ke arah pintu masuk theater satu yang telah dibuka untuk pengunjung.
"Gila ya Rik, abang loe bener-bener grade A," puji Wulan sambil memandangi sosok Bimo yang berjalan menjauh.
"Iya tapi kayak kulkas," ujar Erika.
"Iya, kulkas grade A," mereka tertawa.
"Yuk ah, ke toilet dulu, nanti antri," ajak Dara yang sedari tadi tak banyak bicara.
Keempat gadis itu pun melangkah menuju toilet wanita. Setelah semua telah mendapat giliran masuk toilet, mereka pun masuk ke dalam bioskop. Film belum dimulai tapi kursi-kursi sudah hampir penuh terisi.
"Itu kursi kita," kata Erika menunjuk sederet kursi kosong di sebelah Bimo.
Karena Bimo duduk di pinggir jadi keempat gadis itu harus melewatinya untuk sampai ke kursi mereka. Dara yang masuk paling akhir tentu saja mendapat tempat duduk di sebelah Bimo. Gadis itu tak bisa berkata apa-apa. Walaupun merasa sangat tak nyaman tetapi ia tak berani meminta tukar tempat duduk dengan salah satu temannya karena pasti nanti mereka akan curiga kalau ia melakukannya.
Yang bisa Dara lakukan hanyalah duduk dengan posisi menghadap ke arah layar dan sekali-sekali miring ke arah kanan tempat Ira duduk. Dara sama sekali tak menoleh ke arah kiri, bahkan untuk melirikpun ia tak berani. Walaupun tubuhnya mulai merasa pegal tapi ia tetap berusaha mempertahankan posisi duduknya.
Saat pemutaran film sudah berjalan sekitar dua puluh menit, Erika menyorongkan bucket popcorn ke arahnya.
"Ra, tolong tawarin ke mas Bimo," ujar Erika