"Assalamualaikuuum,"
Suara salam yang terdengar dari arah luar tak membuat Bimo yang sedang tertidur di sofa depan televisi terbangun. Laki-laki itu masih saja memejamkan matanya dan seolah tak terganggu dengan suara sepupunya yang baru datang. Ia begitu mengantuk karena habis dapat giliran jaga di UGD tadi malam dan baru pulang pukul tujuh pagi.
"Yaa ampyuuuun, ini anak lajang udah siang masih pules, jauh jodoh baru rasa," seru Erika yang melihat sepupunya itu diam tak bergerak, padahal ia sengaja mengucap salam dengan suara keras karena saat bertemu budenya di halaman tadi ibu dari Bimo itu mengatakan kalau abang sepupunya itu masih tidur di depan televisi.
"Udah berapa lama tidurnya bude?" tanya Erika pada budenya yang baru saja menyusul masuk dari arah ruang tamu.
"Ya dari pulang koas tadi, sampai rumah jam tujuh langsung tepar. Ditawari sarapan pun sudah gak bergerak," kata bude Widya.
"Mas, mas, bangun," Erika menguncang tubuh Bimo. Pemuda itu sedikit menggeliat karena merasa terganggu.
"Mas! Iiiih, bangun dong, udah jam sepuluh ini," Erika semakin semangat membangunkan sepupunya itu.
"Apa sih Rik? Mas ngantuk," gumam Bimo dengan mata masih terpejam.
"Bangun, aku bawa batagor nih, oleh-oleh mama dari Bandung. Kalau gak mau bangun nanti batagornya aku habisin lho," ancam Erika.
"Apa'an sih, kamu yang bawa koq kamu juga yang niat ngabisin, itu namanya ngasih tapi gak ikhlas," gerutu Bimo sambil bangkit dari tidurnya dan duduk. Dia merasa percuma melanjutkan tidurnya karena Erika pasti tak akan berhenti mengganggunya kalau ia tetap tak bangun juga. Dasar sepupu gak ada akhlak.
"Mana batagornya?" tanya Bimo sambil mengusap wajahnya.
"Iih, mandi dulu dong, bau jigong tauk," protes Erika.
"Enak aja, mas udah sikat gigi tadi pagi pas mau subuh di rumah sakit,"
"Tapi badannya asem, belum mandi,"
"Orang ganteng mah bebas, belum mandi juga banyak yang naksir," narsis Bimo kumat lagi.
"Cuiih, perasaan... mana ada yang naksir mas Bimo, masih juara bertahan jomblo gitu koq," ejek Erika.
"Mas jomblo karena pilihan jalan hidup Rik," Bimo beralasan, "Punya pacar itu ekonomi biaya tinggi, perempuan kan banyak maunya, belum jadi istri udah minta ini minta itu."
"Ya ampyuun, sejak kapan di keluarga kita ada yang punya sifat pelit bin medit kayak gini?" Erika membelalakkan matanya dengan sedikit dramatis, "Budeee, mas Bimo nurun dari siapa sih pelitnya ini?"
Bude Widya muncul sambil membawa sepiring batagor komplit dan langsung menyerahkannya pada putra bungsunya itu.
"Yang jelas bukan nurun dari pakde sama bude lho Rik," kata bude Widya sambil tersenyum.
"Jelas bukan, makanya aku curiga, jangan-jangan waktu bayi mas Bimo ketuker di rumah sakit," ujar Erika ngasal.
Bude Widya tergelak mendengar gurauan keponakannya. Erika memang sering main ke rumah ini karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Airin, adik Widya. Dulu sewaktu Erika masih kecil dan Airin masih bekerja, adiknya itu sering menitipkan Erika di rumah Widya jadi hubungan Erika dengan Bimo dan ibunya sangat dekat dan mereka biasa bersenda gurau.
Bimo hanya mendengus dan tak menanggapi ocehan sepupunya. Ia mulai memakan batagor yang dibawakan oleh Erika tadi.
"Kapan mamamu kembali dari Bandung?" tanya Widya pada keponakannya.
"Tadi malam bude, sampai rumah hampir jam sembilan," jawab Erika.
"Nenek sudah sehat?"
"Alhamdulillah sudah bude, kemarin pagi sudah boleh keluar dari rumah sakit tapi harus benar-benar jaga pola makan, makanya sekarang pakai suster buat jaga nenek."
Nenek yang dimaksud ini adalah ibu dari papanya Erika atau mertua Airin yang tinggal di Bandung. Mertua Airin memang sedang dalam kondisi kurang sehat dan sudah beberapa kali masuk rumah sakit karena darah tingginya kambuh.
"Mas, besok ada jadwal jaga gak?" tanya Erika pada Bimo yang masih asik melahap batagornya.
"Nggak, mas libur dua hari, nanti senin jaga pagi,"
"Jalan yuk?"
Bimo menghentikan suapannya dan menatap ke arah Erika.
"Kemana?"
Erika nampak berpikir sejenak.
"Eemm, kemana ya?"
"Lah, ngajak pergi tapi gak punya tujuan, mending di rumah kita nonton neflix aja," ejek Bimo.
"Bingung aku tuh mas, antara nonton atau ngemall," ujar Erika galau.
"Nonton aja lah, mas malas kalau nemenin cewek ngemall, yang dibeli satu tapi tiga jam gak kelar-kelar,"
"Nemenin cewek nge-mall itu seperti ujian kesetiaan buat cowok mas," kata Erika.
"Apa hubungannya?" tanya Bimo heran.
"Ya, diibaratkan cowok harus melalui masa senang dan susah, senangnya bisa jalan berdua si cewek, gandengan tangan, bisa modus dempet-dempet, susahnya ya gitu, keliling mall sampe betis bengkak dan uji kesabaran juga bolak-balik keluar masuk toko, kalau si cowok bisa bertahan nemenin ceweknya sampai dapat barang yang di cari trus antarin lagi dia sampai pulang ke rumah artinya dia setia."
"Mana ada konsep begitu,"
"Dalam pacaran pasti ada, nanti kalau mas Bimo udah punya pacar baru bisa ngerasain deh, bisa praktek langsung teori aku tadi,"
Bimo hanya mengerucutkan bibirnya. Ia meletakkan piring yang telah kandas isinya di atas meja dan meraih gelas berisi air putih yang disediakan ibunya tadi.
"Dah ah, mas mau mandi dulu," ujar Bimo seraya bangkit dari duduknya dan hendak menuju ke kamarnya di lantai atas.
"Mas, jadi besok jam berapa?" tanya Erika meminta kepastian sebelum Bimo naik ke atas.
"Nanti lihat jadwal filmnya dulu, kita nonton yang siang aja supaya pulangnya gak terlalu sore, mas harus siapin stamina buat jaga senin pagi." jawab Bimo.
"Ya udah nanti aku chat ya buat jadwal besok," ujar Erika.
Bimo mengacungkan jempolnya lalu naik ke atas menuju kamarnya.
*****
Sementara itu di sebuah kos-kosan di kota Depok.
Ceklek.
Dara mengangkat wajahnya memandak ke arah pintu kamarnya yang tiba-tiba dibuka dari luar. Nampak Ira sahabatnya datang tergoboh sambil memegang ponselnya.
"Ra, lihat ini," ujar Ira sambil menunjukkan gambar pada layar ponselnya, "Ini film yang aku tunggu-tunggu teh udah main Raaa..,"
Dara langsung bengong melihat tingkah lebay Ira sahabatnya.
"Ieu film ganteng geus diputer di bioskop," kata Ira lagi dalam bahasa nenek moyangnya yang membuat Dara dobel bengong.
"Siapa?" tanya Dara seperti orang b**o.
"Tom cruise, Dara... Tom Cruise.. eleeuh, ganteng pisan euy," jawab Ira sedikit kesal karena Dara kurang tanggap dengan perkataannya.
"Hadeeeh, kau pun bicara pakek bahasa nenek moyang, mana aku tau apa maksudmu," kata Dara.
Wulan muncul di pintu kamar Dara.
"Ada apa?" tanya gadis berkacamata minus itu.
"Ini si Ira ngasih tahu kalau filmnya Tom Cruise udah main di bioskop," kata Dara.
"Iya, Lan... tapi..," Ira menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Wulan.
"Baru diputarnya di bioskop di Jakarta, di Depok belum," kata Ira dengan raut sedih. Ia adalah penggemar berat aktor ganteng tersebut dan selama tinggal di kampung ia tidak pernah menonton bioskop karena letak bioskop yang jauh dari rumahnya serta uang jajan yang pas-pasan tidak memungkinkan baginya untuk membeli tiket untuk menonton bioskop. Nah sekarang ini ia mendapat beasiswa dan biaya hidup yang lumayan tiap bulannya, dan gadis itu bisa menyisihkan sebagian buat ditabung. Waktu pertama melihat trailer film terbaru dari aktor kesayangnya itu di youtube ia sudah bertekad akan menonton begitu filmnya tayang di bioskop.
Dara menggaruk-garuk kepalanya, Ia tidak tahu harus bagaimana karena dulu ia pun jarang nonton bioskop, dengan alasan yang hampir mirip dengan Ira. Walaupun ia punya sedikit tabungan di saat sekolah dulu, tapi rasanya sayang menghabiskan uang yang susah payah dikumpulkannya hanya untuk membeli tiket serta cemilan yang harganya lumayan mahal baginya untuk nonton bioskop.
"Kalau begitu kita nontonnya di Jakarta aja," usul Wulan yang membuat Dara serta Ira sontak menatapnya.
"Dimana?" Ira yang pertama mengajukan pertanyaan.
"Coba lihat jadwal mainnya dimana aja?"
Ira menyerahkan ponselnya pada Wulan yang langsung menggulirkan jarinya di layar ponsel untuk melihat jadwal film di bioskop. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Wulang menyerahkan kembali ponsel itu pada Ira.
"Kita nonton di kokas yang jam sebelas. Dari sini kita naik KRL aja biar hemat, turun di stasiun tebet. Dari tebet kita bisa naik angkot atau ojol sampe kokas," kata Wulan.
Di antara mereka bertiga memang Wulan yang bisa diandalkan soal seluk beluk kota Jakarta karena ia lahir dan besar di kota ini.
"Ya, boleh, aing teh setujuh," ujar Ira dengan logat sundanya.
"Boleh lah," Dara pun ikut setuju, sekali-kali boleh lah mereka healing keluar depok untuk melepas penat dan mencari hiburan.
"Nanti gue coba hubungi Erika deh, siapa tahu dia mau ikut dengan kita besok. Kalau gak salah kokas itu gak terlalu jauh dari rumahnya," kata Wulan.
"Nah, betul itu Lan, biar tambah rame dan seru," ujar Dara sambil tersenyum.