Tak terasa sudah lima hari keluarga pak Usman berada di Jakarta untuk menemani Dara yang akan mendaftar masuk perguruan tinggi dan tibalah saatnya pak Usman dan istrinya harus kembali ke kampung halaman mereka meninggalkan Dara berjuang menempuh pendidikan di ibu kota. Walaupun berat rasanya meninggalkan anak gadis satu-satunya merantau tapi semua itu memang harus dilakukan demi masa depan sang putri tercinta yang mempunyai cita-cita tinggi ingin bisa merintis karir di bidang perbankan agar bisa memperbaiki perekonomian keluarga dan membahagiakan kedua orang tuanya.
Begitupun dengan Andri yang sudah harus kembali ke Surabaya karena cutinya telah habis dan esok senin sudah harus bekerja kembali. Pak Usman menitipkan pesan kepada anak sulungnya itu agar kalau ada waktu luang menyempatkan waktu untuk menengok adiknya yang sama-sama merantau di pulau Jawa walaupun beda kota. Tentu saja Andri menyanggupi permintaan orang tuanya, selain karena jarak Jakarta Surabaya juga lebih dekat dari pada Medan Jakarta, ia pun sebenarnya khawatir juga meninggalkan adiknya sendirian tanpa sanak saudara di ibu kota.
Namun justru Dara lah yang menguatkan hati kedua orang tua dan abangnya, meyakinkan mereka bahwa dirinya mampu hidup di perantauan dan akan belajar dengan bersungguh-sungguh. Bu Usman sampai menangis sesenggukan sambil memeluk Dara, ia begitu berat berpisah dengan putrinya itu. Walau pun sering kena marah tapi Dara adalah darah daging yang sangat disayanginya dan Dara pula lah yang selama ini menemaninya di rumah saat suaminya sedang bekerja dan Andri telah merantau ke Surabaya. Tentu nanti setibanya di Medan keadaan rumahnya tidak akan sama lagi. Pasti akan lebih sepi karena tidak ada lagi Dara yang nakal dan suka usil sehingga sering jadi sasaran kemarahannya.
"Hati-hati ya kau di perantauan. Jangan salah bergaul, jangan lupa sholat dan belajar yang betul, jangan banyak pecicilan, kalau naik 'kereta' jangan ngebut," nasihat bu Usman di sela isakannya sambil memeluk Dara.
Air mata bu Usman mengalir deras begitu pun lendir dari kedua lubang hidungnya. Bu Usman menarik kaos Dara di bagian lengan untuk menghapus ingusnya.
"Iih, mamak, koq ngelap ingus pake kaosku," sungut Dara.
"Eh, iya maaf, mamak gak sadar, kirain tadi baju mamak yang mamak tarik, rupanya kaosmu ya," ujar bu Usman sedikit malu.
Pak Usman dengan mata berkaca-kaca juga memberikan pesan yang panjang bagi putrinya. Ini pertama kalinya Dara tinggal jauh dari kedua orang tuanya. Tentu saja kedua orang tuanya pun merasa sedikit khawatir. Tapi melihat tekad putrinya yang kuat pak Usman pun mengikhlaskan Dara untuk merantau.
Karena waktu terus berjalan akhirnya Andri memutuskan acara tangis-tangisan itu.
"Udah yuk mak, yah, kita berangkat sekarang," ajaknya, "Nanti takutnya macet di jalan."
Rencananya ketiganya akan naik mobil yang di sewa Andri sampai di stasiun gambir. Dari sana Andri akan memesankan taksi online bagi orang tuanya ke bandara Soetta sementara ia akan naik kereta api Argo Bromo Anggrek ke Surabaya. Tepat pukul lima tiga puluh pagi Dara melepas tiga orang yang sangat disayanginya untuk kembali ke kediaman masing-masing.
Sepeninggal keluarganya Dara kembali ke atas untuk membereskan kamarnya. Ia harus mencuci peralatan bekas sarapan mereka tadi. Saat Dara membawa piring dan gelas kotor ke pantry yang ada di lantai atas ia bertemu dengan seorang gadis yang seumuran dengannya. Gadis itu tersenyum ke arahnya yang dibalas Dara dengan sapaan.
"Hai, mau masak ya?" tanya Dara karena melihat gadis itu membawa sebungkus mie instan dan sebutir telur.
"Iya, mau sarapan," jawab gadis itu, "Kamu udah sarapan?"
"Udah tadi sekarang tinggal nyuci piringnya, eh, kenalin namaku Dara," Dara mengulurkan tangannya.
"Oh iya, kita belum kenalan ya, aku Ira," keduanya pun berkenalan.
Akhirnya Dara tahu kalau Ira tinggal di sebelah kamarnya. gadis itu juga baru akan kuliah di universitas yang sama dengan Dara hanya beda jurusan, Ira memilih jurusan hukum. Ira berasal dari Sukabumi, ia datang ke Jakarta diantar oleh kedua orangtuanya tapi mereka sudah kembali ke kampung kemarin siang. Merasa sama-sama sebagai perantauan membuat keduanya cepat akrab.
Siang harinya mereka keluar bersama untuk mencari makan siang dengan naik motor Dara karena Ira memang tidak mempunyai kendaraan. Ira berasal dari keluarga sederhana, ia bisa kuliah karena mendapat beasiswa dari sebuah organisasi. Orang tuanya berprofesi sebagai petani dan ia memiliki dua orang adik yang masih bersekolah.
Karena merasa senasib akhirnya kedua gadis itu memutuskan untuk membeli bahan makanan dan memasak sendiri untuk bisa menghemat pengeluaran. Kebetulan di setiap dapur atau pantry baik yang ada di lantai bawah maupun atas disediakan lemari es jadi mereka memutuskan berbelanja bahan masakan ke pasar dan disimpan di dalam kulkas.
Hari-hari awal di perantauan Dara merasa bisa beradaptasi dengan baik. Beberapa orang penghuni kost ada yang sama-sama berstatus mahasiswi baru seperti dirinya dan Ira, ada juga yang sudah naik ke tingkat dua dan tiga. Hampir semuanya berasal dari almamater yang sama menjadikan mereka cepat akrab layaknya keluarga.
Tak terasa perkuliahan sudah dimulai. Hari-hari Dara pun mulai disibukkan dengan kegiatan perkuliahan. Setiap pagi ia berangkat bersama Ira, setelah menurunkan Ira di fakultas hukum ia akan melajukan motornya ke fakultas ekonomi. Lingkungan pertemanan Dara pun semakin luas. Banyak teman-temannya yang sama-sama merantau tapi ada juga yang tinggal di ibu kota. Termasuk Erika yang pernah ia jumpai bersama cowok jutek keponakan pak Handoko itu, rupanya gadis itupun satu fakultas dengan Dara. Awal perjumpaan mereka, Erika lah yang menegur Dara lebih dulu.
"Dara," panggil seseorang saat Dara keluar dari ruang kelas, "Kamu Dara kan?"
Gadis yang memanggilnya itu memastikan sekali lagi, Dara mengganggukkan kepalanya.
"Kenalin, gue Erika," kata Erika sambil mengulurkan tangannya, "Gue pernah liat loe di bank waktu mau bayar kuliah dulu."
Dara mengerutkan dahinya mencoba mengingat.
"Ooh, ya, kamu yang sama cowok jutek itu ya?" Akhirnya Dara berhasil mengingat sosok Erika.
"Hah, siapa?" tanya Erika bingung, tapi lalu ia menyadarinya dan tertawa lepas, "Cowok yang sama gue dulu ya? Jutek ya dia? Dia emang begitu, namanya Bimo, kakak sepupu gue."
Dara nyengir mendengar penjelasan Erika, "Sorry ya, aku bilang dia jutek."
Erika mengibaskan tangannya seperti tak peduli.
"Never mind lah, loe bukan orang pertama yang bilang begitu, "jawab Erika santai, "Mas Bimo emang pedes mulutnya. Eh, tapi koq loe tahu sih dia jutek? Emang pernah jadi korban?"
Karena Erika kelihatan ramah dan easy going maka Dara pun dengan santai dan tanpa beban menceritakan pengalamannya saat pertama kali bertemu Bimo di Medan. Erika yang mendengar cerita Dara pun tak dapat menahan tawanya. Mereka berdua seperti dua orang yang sudah berteman lama, tak kelihatan kalau keduanya baru saja berkenalan karena perbincangan mereka terlihat seru.
"Ya ampuuun mas Bimo segitunya," komentar Erika sambil terkekeh memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa, "Kalau gue ceritain sama bude pasti dia kena omel."
Dan perbincangan mereka berlanjut di warung bakso yang lokasinya tak jauh dari kos Dara. Tadi Dara menjemput Ira di fakultas hukum lalu mengenalkannya pada Erika. Mereka menikmati bakso sambil berbincang hal-hal random khan perbincangan cewek, mulai dari kuliner, cogan, k-pop dan sebagainya.
"Kau tinggal di mana Rik?" tanya Dara dengan logat medan yang masih kental.
"Di Jakarta Timur, dekat Kalimalang," jawab Erika.
"Jauh?" tanya Dara lagi
"Lumayanlah, sekitar satu jam dari sini kalau gak macet, kalau macet bisa dua jam"
"Gak capek nyetir jauh begitu?" Ira menimpali.
"Capek lah, tapi gue gak dikasih kos sama nyokap. Bisa naik KRL sih, cuma kan persaingannya brutal banget kalau pagi-pagi dan gue harus berangkat habis subuh, desak-desakan, sikut-sikutan, dari rumah udah mandi, wangi, cantik, sampe kampus ambyar."
Mereka tertawa mendengar cerita Erika. Ketiganya begitu mudah berbaur karena memang satu server, pembicaraan mereka selalu nyambung. Selesai makan bakso Erika mampir ke tempat kost Dara dan Ira. Rupanya di tempat kos Dara ada juga teman Erika yang berasal dari sekolah yang sama bernama Wulan yang memilih jurusan Sastra Inggris. Wulan terpaksa kos karena orang tuanya yang bekerja di sebuah BUMN harus pindah tugas ke Semarang. Makin lengkaplah circle pertemanan mereka.
Erika yang merasa betah di kos Dara sebenarnya iri dengan ketiga temannya itu yang tinggal berdekatan dalam satu atap, ia ingin bisa kos juga tapi sayang orang tuanya tidak mengijinkan. Menjelang sore barulah Erika pamit pulang kepada ketiga temannya, itu pun setelah ibunya tiga kali menelepon menanyakan posisinya karena sudah lewat dua jam dari waktunya pulang ia belum juga sampai di rumah. Ia pamit kepada dua teman baru dan satu teman lamanya dan berjanji esok akan berkumpul lagi.