Pasar tradisional yang menjadi tujuan rombongan keluarga pak Usman lokasinya tidak terlalu jauh. Mengikuti petunjuk dari bu Yanti penjaga kos, hanya dalam waktu sepuluh menit mereka sudah sampai. Tapi yang namanya pasar tradisional di pagi hari pastilah ramai dengan orang yang berjualan dan berbelanja sehingga agak susah bagi Andri untuk mencari tempat parkir, akhirnya diputuskan hanya Dara dan bu Usman yang masuk ke dalam pasar sedangkan Andri dan pak Usman menunggu di dalam mobil karena mobil mereka pun hanya bisa parkir di pinggir jalan.
Setelah mengeluarkan daftar kebutuhan yang akan dibelinya, Dara dan ibunya mulai memasuki pasar untuk mencari barang yang dibutuhkan. Namanya perempuan masuk ke dalam pasar, walau sudah membawa daftar belanjaan tapi barang yang dibeli sudah hampir bisa dipastikan banyak yang tidak ada di dalam daftar. Melihat banyak pedagang kaki lima menawarkan dagangannya pun bu Usman hampir kalap berbelanja kalau tidak ingat bakalan repot membawanya pulang ke Medan nanti. Dengan tangan penuh tentengan belanjaan ibu dan anak itu keluar pasar dan menuju ke pinggir jalan tempat mobil di parkir.
Pak Usman yang dari jauh sudah melihat kemunculan istrinya dari dalam pasar hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Lihat itu mamakmu, entah apa saja yang dibelinya, kalap dia." kata pak Usman kepada Andri.
Pandangan Andri ikut mengarah ke arah yang ditunjuk pak Usman, lelaki itu tersenyum maklum.
"Tak apa lah yah, gak sering-sering juga mamak jalan-jalan ke jakarta." katanya lalu membuka pintu mobil dan turun untuk membantu membawakan belanjaan ibu dan adiknya.
Setelah semua barang belanjaan dimasukan ke dalam mobil mereka pun segera melanjutkan perjalanan. Kali ini tujuannya adalah show room motor yang menjual sepeda motor bekas yang masih layak pakai. Dara tak menyangka kalau ayahnya benar-benar akan membelikannya sepeda motor.
"Yah, benar ini ayah mau belikan aku kereta?" (dalam bahasa sehari-hari di medan kereta sama dengan sepeda motor)
"Iya, sekalian lah, mumpung uangnya masih ada, dari pada nanti dihabiskan mamakmu buat belanja lagi," seloroh pak Usman yang membuatnya mendapat hadiah cubitan dari istrinya.
"Aduh duh, sakit..," jerit pak Usman.
Dara tertawa melihat ayahnya menjadi korban cubitan ibunya yang memang pedasnya melebihi sambal geprek level lima belas. Mereka berempat memasukin show room motor yang memang baru saja di buka karena waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi. Seorang sales langsung menyambut rombongan itu dengan ramah.
"Selamat pagi, bapak ibu, ada yang bisa dibantu?"
"Selamat pagi mas, saya mau cari kereta.. eh, sepeda motor untuk anak saya," jawab pak Usman.
"Boleh pak. Bapak mau pilih merek apa? Kebetulan disini lengkap pilihan mereknya,"
Laki-laki yang bertugas sebagai sales itu mengarahkan mereka kederetan sepeda motor berbagai merek yang dipajang di dalam maupun di teras show room itu.
"Kau mau merek apa, Ra?" tanya pak Usman pada putrinya.
"Hhmmm,. apa ya bang?" Dara berpaling pada abangnya untuk meminta pendapat.
"Terserah kamu mau yang mana? mau yang irit bahan bakar atau mau yang performa tinggi?" Andri balik bertanya.
"Yang irit aja, kan buat kuliah, bukan buat kebut-kebutan," tukas bu Usman yang sudah hafal kebiasaan putrinya kalau naik sepeda motor.
Dara langsung nyengir menanggapi perkataan ibunya.
"Ya udah deh yah, yang irit aja," kata Dara pada ayahnya.
"Kalau mau yang irit, merek ini saja. Kebetulan ini ada motor yang baru dipakai lima bulan, masih mulus, variant terbaru, dulu yang beli tiba-tiba kena PHK jadi dia tidak sanggup melanjutkan cicilan motor makanya dikembalikan ke show room." sales itu menjelaskan sejarah singkat si motor bekas yang baru dipakai selama lima bulan oleh pemilik lamanya.
Sales itu berjalan menuju sebuah sepeda motor berwarna merah yang memang terlihat masih mulus.
"Nanti kalau mau balik nama sulit gak mas?" Andri bertanya pada sales itu.
"Nanti kami bantu mas untuk balik namanya," sales itu menjanjikan.
Mereka semua memeriksa sepeda motor berwarna merah tersebut. Sales itu pergi ke dalam kantor show room untuk mengambil kunci untuk mencoba mesin motor.
"Gimana Ra, kamu mau yang ini?" tanya pak Usman.
"Berapa harganya ini pak? Mahal gak? Jangan sampai uang ayah habis nanti," ucap Dara khawatir.
"Udah, kamu gak usah mikir itu. Itu uang memang sudah ayah siapkan untuk sekolah kamu. Nanti kalau kamu sudah mulai kuliah biar mudah, kan kampus kamu juga jauh masuk ke dalamnya, kalau kamu ada kendaraan kan enak." ujar pak Usman.
"Ya sudah, aku mau yang ini, warnanya juga cakep," kata Dara, terus terang ia senang sekali dibelikan sepeda motor walaupun khawatir akan kondisi keuangan ayahnya karena ia tahu ayahnya hanyalah seorang guru yang gajinya tidaklah besar.
Tak lama sales itu kembali dengan membawa kunci sepeda motor. Ia memberikan kesempatan pada rombongan untuk mencoba menaiki motor tersebut. Setelah pak Usman, Andre dan Dara mencoba akhirnya mereka pun sepakat untuk membeli motor tersebut. Pak Usman dan Andri langsung mengurus pembayaran dan administrasi untuk balik nama motor tersebut. Mereka minta agar motor diantar ke alamat kost Dara nanti sore karena sekarang ini mereka ada keperluan pergi ke tempat lain.
Rupanya hari ini Andri memang berencana mengajak kedua orang tua serta adiknya untuk berkeliling kota Jakarta. Sepanjang perjalanan tak hentinya bu Usman berdecak kagum dengan pemandangan gedung-gedung tinggi yang berderet di kanan kiri jalan. Andri mengarahkan mobil ke daerah Mangga Dua dengan berbekal GPS. Mereka menuju pusat penjualan barang-barang elektronik yang paling lengkap. Disana Dara sampai terkagum-kagum melihat kecanggihan gadget terbaru yang harganya hampir menyamai harga mobil.
"Hah, serius itu bang, harga komputer buat main game bisa diatas seratus juta?" tanyanya dengan mata terbelalak saat mendengar seorang sales sedang menjawab pertanyaan dari seorang pembeli yang mencari komputer khusus untuk bermain game online yang super canggih.
"Ya betul, nanti dengan harga segitu mereka akan mendapat komputer dengan spec dan performa yang memadai untuk menunjang hobby bermain game," jawab Andre.
"Iiish, sayang banget uang segitu ya cuma buat main game," komentar Dara.
"Yaa, namanya udah hobby. Tapi jangan salah, rata-rata mereka yang beli perangkat komputer berharga mahal pasti juga punya penghasilan yang gak sedikit makanya mereka bisa beli barang-barang dengan harga selangit begitu. Biasanya perangkat itu selain untuk menyalurkan hobby juga bisa untuk mencari uang, seperti membuat konten, menjadi editor, designer dan lain-lain makanya penghasilan mereka per bulan juga tidak main-main, kalah gaji pegawai mah," ujar Andri sambil tertawa.
Dara manggut-manggut mendengar penjelasan abangnya. Mereka memasuki sebuah toko yang menjual berbagai jenis laptop. Andri ingin membelikan laptop untuk Dara guna keperluan kuliahnya. Setelah berkonsultasi dengan sales yang mendampingi mereka dan juga mempertimbangkan kebutuhan Dara akhirnya pilihan Andri jatuh pada sebuah laptop dengan kapasitas penyimpanan satu terra byte, memori dua belas giga dan processor besutan Razen. Dara yang memang tidak terlalu paham dengan spec dan performa laptop hanya mengangguk setuju ketika Andri menanyakan persetujuannya mengenai laptop yang dipilih untuk adiknya itu. Dibelikan laptop baru saja Dara sudah sangat bersyukur, mana mungkin ia pilih-pilih model dan merek, apalagi Andri juga sudah membayar lunas uang kuliah Dara untuk satu tahun pertama.
Setelah selesai bertransaksi Andre mengarahkan mobil menuju masjid Istiqal yang menjadi ikon ibu kota. Karena ini hari jumat halaman masjid dipenuhi dengan mobil-mobil yang parkir karena pemiliknya hendak melaksanakan ibadah sholat jumat. Andri dan pak Usman langsung masuk ke dalam masjid sementara Dara dan ibunya memutuskan menunggu di luar sambil melihat-lihat para pedagang yang menggelar berbagai dagangan di seputar halaman dan parkiran masjid.
"Mamak lapar?" tanya Dara.
"Belum terlalu sih, kenapa?"
"Aku sudah mulai lapar mak, aku mau beli siomay, mamak mau?" Dara menawarkan.
"Kita kongsi aja, nanti kekenyangan kalau beli sendiri-sendiri, habis ini kan kita mau makan siang," ujar bu Usman.
Dara menghampiri penjual siomay dan memesan satu porsi siomay. Sambil duduk di atas kursi plastik Dara menikmati siomay sambil memperhatikan sekelilingnya. Dari percakapan yang sekilas didengarnya dari para jamaah yang hendak sholat sepertinya banyak juga para pendatang dari luar kota yang hendak beribadah di masjid ini. Dara dapat mengenalinya dari logat saat mereka berbicara dengan sesama temannya.
"Mak, coba mamak lihat ibu yang pakai jilbab kuning itu, logatnya bicaranya macam dari Medan lho mak," bisik Dara pada ibunya.
Bu Usman nampak berkonsentrasi mencoba mendengarkan suara wanita yang sedang berbicara dengan orang di sebelahnya itu. Lalu wajahnya berbinar dan senyum sumringah muncul di wajahnya.
"Ehm bener ra, rupanya banyak juga orang-orang dari luar kota, coba kau tengok-tengok, mana tahu ada teman ngaji mamak yang kesini juga," kata bu Usman, "Soalnya minggu lalu waktu pengajian wak Upik gak ikut, katanya dia lagi ke Jakarta ke tempat anaknya yang baru melahirkan."
"Ya kalo wak Upik ke Jakarta buat nengok anaknya yang melahirkan pasti dia lagi jaga bayi sekarang mak, gak mungkin juga keluyuran kesini," ujar Dara.
Bu Usman terkekeh mendengar perkataan putrinya.
Setelah sholat jumat selesai, gantian Dara dan bu Usman yang masuk ke dalam masjid sementara Andri dan ayahnya memutuskan menunggu di depan pintu keluar masjid. Bu Usman terkagum-kagum melihat ruangan masjid yang besar itu.
"Masya Allah Ra, besar kali masjidnya," ujarnya tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Iya, makanya mamak jangan jauh-jauh dari aku, nanti nyasar keluarnya, soalnya banyak pintunya, aku aja rada bingung ini."
Mendengar perkataan Dara, bu Usman pun langsung merapatkan diri pada putrinya itu dan tak mau jauh-jauh darinya. Selesai sholat mereka pun keluar setelah sebelumnya bertanya arah pada petugas yang menjaga tempat penitipan sandal. Untungnya mereka berada di arah yang tepat dan begitu keluar dari pintu masjid Andri dan pak Usman sudah menunggu.
Hari ini Andri benar-benar mengajak keluarganya untuk melakukan city tour keliling kota Jakarta. Mereka singgah di beberapa tempat, bahkan sempat naik ke puncak monas tapi tidak terlalu lama karena bu Usman merasa gamang saat melihat ke bawah dan minta segera turun.
"Ih mamak pun, belum puas aku di atas udah minta turun aja," Dara sempat menggerutu.
"Gamang mamak, Ra, takut jatuh," ujar bu Usman.
"Kan dipagar rapat mak, ya gak mungkin jatuh lah," sahut Dara.
"Ah, pokoknya mamak ngeri. kalian kalo mau naik lagi, naiklah, biar mamak tunggu di bawah aja," kata bu Usman.
"Ya mana mungkin lah kami tinggalkan mamak dibawah sendiri, hilang pulak mamakku yang limited edition ini," canda Dara yang mendapat jeweran dari ibunya.
"Kau bilang pulak mamakmu ini limitet edisien, apa rupanya artinya itu?" tanya bu Usman sambil memandang wajah anaknya.
"Ya ampun, mamak udah ngegas duluan padahal gak tau artinya," Dara tak dapat menahan tawanya.
"Eh, kurang ajar, malah ngetawain mamak, durhaka kau nanti," omel bu Usman. Andri dan pak Usman yang berjalan di belakang Dara dan ibunya hanya menahan senyum melihat kedua wanita yang mereka sayangi itu sibuk berdebat.
"Mamak mau tau kan artinya limited edition?" tanya Dara yang diangguki bu Usman.
"Artinya jarang-jarang ada yang kayak mamak begini, galak, doyan ngomel tapi aku sayang banget sama mamak."ujar Dara sambil memeluk bahu ibunya dan menyandarkan kepalanya di bahu bu Usman.
Bu Usman yang tadinya sudah mau marah pun mengurungkan niatnya begitu mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut putri semata wayangnya itu. Rasa haru menyelimuti hatinya. Walau ia dibilang galak dan doyan ngomel, tapi ia sayang sekali pada Dara.