Dara berjalan mengikuti seorang perempuan setengah baya bernama Bu Yanti yang bertugas menjaga rumah kos-kosan itu. Bu yanti memimpin rombongan kecil itu menyusuri lorong kamar-kamar kos. Saat sampai di ujung lorong ada tangga menuju ke lantai atas, perempuan itu mulai menaiki tangga dengan Dara, Pak Usman, Bu Usman dan Andri mengikuti di belakangnya.
Sesampainya di atas rombongan itu berbelok ke arah kanan dan berhenti di pintu kedua. Perempuan itu membuka pintu menggunakan kunci yang dibawanya.
“Nah ini dia kamarnya, silahkan masuk,” Kata Bu yanti seraya membuka lebar daun pintu kamar kos dengan dinding berwarna kuning gading itu. Di dalam kamar itu ada sebuah tempat tidur kayu ukuran single dan sebuah meja belajar beserta kursinya yang terletak di dekat jendela. Di sudut dinding dekat pintu kamar mandi ada sebuah lemari kayu berukuran sedang dan jemuran handuk di sebelahnya.
“Fasilitas kamarnya sudah termasuk AC, tempat tidur single, meja belajar dan kursi, lemari pakaian dan kamar mandi di dalam. Udah komplit, jadi masuk kesini tinggal bawa koper,” Kata Bu Yanti berpromosi sambil tersenyum lebar.
“Ada wifi gak bu?” tanya Dara.
“Ada wifi, nanti kalau sudah kos disini akan dikasih passwordnya. Harga kos per bulan untuk kamar yang pakai AC satu juta lima ratus ribu sudah termasuk laundry satu setel pakaian per hari dan air minum galon disediakan di ruang TV lantai atas dan lantai bawah. Ada dapur juga di lantai atas dan di lantai bawah.”
Dara melangkah menghampiri kedua orang tuanya. Ditariknya tangan ayahnya menuju keluar kamar.
“Yah, kita cari yang harganya dibawah satu juga aja biar gak terlalu mahal. Gak usah yang pake AC juga gak apa,” Dara berbisik kepada ayahnya agar suaranya tidak bisa di dengar oleh ibu dan abangnya yang masih berada di dalam kamar bersama Bu Yanti.
Pak Usman menepuk lengan putrinya pelan.
“Hush, udah gak usah kamu pikirkan soal biaya, ayah masih sanggup bayar kuliah dan kos kamu. Ayah mau kamu nyaman disini jadi bisa fokus belajar,” Kata Pak Usman.
“Atau gak usah pakai laundry gimana yah? Dara bisa nyuci sendiri nanti. Mana tau harganya bisa kurang,” Dara mencoba bernegosiasi dengan ayahnya. Ia sungguh tidak mau menyusahkan ayahnya.
Dara memahami kalau gaji ayahnya sebagai guru tidaklah besar. Ini adalah rumah kos ketiga yang mereka datangi dan sepertinya kedua orangtuanya merasa cocok dengan lokasi dan suasana rumah kos ini. Selain lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus, lingkungannya juga tenang dan bersih.
“Nggak,” Tolak Pak Usman, “Ayah mau kamu fokus belajar gak perlu mikir soal cucian segala.”
Setelah berkata Pak Usman masuk kembali ke dalam kamar kos meninggalkan Dara yang masih berdiri diluar kamar. Menyadari ayahnya sudah meninggalkannya sendiri diluar, Dara buru-buru menyusul ayahnya kedalam kamar.
Saat memasuki kamar kos, Dara melihat ayahnya sedang berbicara dengan Bu Yanti.
“Jadi saya akan bayar untuk tiga bulan pertama ya Bu, tapi saya minta tolong diijinkan untuk dua malam ini istri saya bisa tidur disini menemani anak saya, maklum Bu, Dara itu putri kami satu-satunya,” Kata Pak Usman sambil tertawa kecil.
“Oh, boleh pak, gak apa, dua malam ini Ibu bisa tidur disini. Kapan rencana kembali ke Medan Pak?” tanya Bu Yanti.
“Rencananya minggu pagi Bu, jadwal penerbangan jam sembilan pagi.”
“Oh, baik kalau begitu kita ke bawah dulu ya pak supaya bisa saya buatan kwitansi pembayarannya. Dan ini kunci kamarnya Dara bisa pegang jadi udah bisa masukan barang. O iya, disini jam malamnya kalau hari kerja sampai jam sepuluh malam, kalau akhir pekan sampai jam dua belas, nah kalau ada keperluan dan akan pulang larut bisa ijin dulu ke saya. Nanti saya kasih nomor kontak saya supaya mudah kalau mau komunikasi.”
Dara menerima kunci yang diberikan oleh Bu Yanti, lalu rombongan itu pun kembali ke lantai bawah.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi, Pak Usman dan keluarga kembali ke penginapan untuk mengambil barang-barang Dara. Proses bolak balik penginapan ke rumah kos selesai saat menjelang adzan magrib.
Malam itu mereka memutuskan untuk beristirahat. Dara bersama ibunya tidur di rumah kos sementara Pak Usman dan Andri di penginapan. Setelah sholat isya mereka makan malam dengan menu nasi goreng yang dibeli dari tukang nasi goreng yang lewat di depan rumah kos. Mungkin karena lelah seharian mengurus pendaftaran kuliah dan mencari rumah kos, Dara tak membutuhkan waktu lama untuk terlelap.
Dara terbangun saat adzan subuh berkumandang. Ketika bangkit dari tempat tidur, dilihatnya ibunya baru saja keluar dari kamar mandi.
“Mamak udah mandi?”
“Udah. Enak segar. Kau mandilah, habis sholat subuh kita coba keluar sebentar, mamak mau lihat-lihat suasana disini.”
“Iya mak.”
Dara bergegas menyambar handuk di jemuran kecil yang terletak di sebelah pintu kamar mandi. Benar kata ibunya, mandi pagi membuat badannya merasa segar dan kantuk yang tadi masih menggelayuti matanya pun lenyap.
Selesai sholat subuh Dara dan ibunya keluar kamar setelah sebelumnya tak lupa mengunci pintu. Di lantai bawah mereka bertemu dengan Bu Yanti yang sedang membuka jendela di ruang tamu.
“Wah, pagi-pagi udah rapi, mau kemana ini?” tegur Bu Yanti ramah.
“Ini mamak mau lihat-lihat suasana di sekitar sini Bu, sekalian cari sarapan,” Dara yang menjawab mewakili ibunya.
“Oh, iya, karena disini banyak terdapat rumah kos, jadi banyak yang jual makanan. Keluar gerbang terus ke kanan nanti di ujung ada yang jual bubur ayam, di sebelahnya ada ketupat padang. Kalau mau nasi uduk dan lontong sayur juga ada, pokoknya disitu kalau pagi yang jual sarapan komplit,” Bu Yanti menjelaskan.
Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan, Dara dan ibunya segera keluar mengikuti petunjuk dari Bu Yanti.
Dan benar saja, sampai di tempat yang dituju sudah banyak orang yang berjualan dengan pembeli yang mulai berdatangan. Karena lokasi berjualan memang terletak dipinggir jalan jadi pembeli tak terbatas dari kalangan mahasiswa yang kos di lingkungan sekitar tapi juga orang-orang yang lewat hendak berangkat bekerja.
“Wah mak, bisa kalap kita jajan kalo macam ini,” Ujar Dara sambil nyengir.
Bu Usman menepuk lengan anaknya dan mengajaknya menghampiri tempat orang yang menjual kue jajan pasar. Setelah memilih beberapa potong risol, pastel dan kue lapis serta dadar gulung, mereka membayarnya dan beralih menuju tempat yang menjual makanan lainnya.
“Mamak mau sarapan apa?” tanya Dara pada ibunya.
“Coba kau telpon dulu abangmu, mereka mau sarapan apa? Kita belikan sekalian disini.”
Dara segera menuruti perintah ibunya dan menekan no telpon abangnya. Dalam deringan ketiga panggilannya diangkat oleh Andri.
“Assalamualaikum”
“……….”
“Bang, kalian mau sarapan apa? Dara sama mamak lagi di tempat orang jual sarapan.”
“……….”
“Banyak Bang, macam-macam. Bubur ayam, ketupat padang, soto campur, nasi uduk, jajan….”
“……..”
“Oh, ok kalo gitu. Tempatnya disimpang sebelum jalan masuk ke rumah kos, dipinggir jalan besar itu bang yang dekat toko ponsel kemaren.”
“………”
“Waalaikumsalam”
Dara menutup pembicaraan dengan abangnya dan memasukan ponsel ke dalam kantung celana katun yang dipakainya.
“Apa kata abangmu?” tanya ibunya.
“Abang sama ayah mau makan disini sekalian. Mereka lagi siap-siap.”
“O, baguslah, kan jadi bisa pilih sendiri seleranya,” Kata bu Usman sambil melihat sekeliling mencoba memilih menu yang diinginkannya untuk sarapan pagi ini.
“Dara mau makan bubur ayam aja mak, di Medan gak nemu yang jual sarapan bubur ayam.”
“Yakin kenyang kamu makan bubur?”
“Ya kalo gak nendang nanti nambah ketupat padang ha.. ha..,“ sahut Dara menjawab keraguan ibunya yang menyangsikan ketahanan lambungnya jika hanya diisi dengan seporsi bubur ayam.
Keduanya pun lalu melangkah menuju penjual bubur ayam yang kebetulan gerobaknya bersebelahan dengan penjual ketupat padang. Mereka memesan seporsi bubur ayam dan sepiring ketupat padang lalu duduk di kursi-kursi plastik yang disediakan di tempat itu.
Tak lama pesanan mereka sudah terhidang. Setelah menambahkan sambal dan kecap manis, Dara mengaduk bubur ayamnya dan mulai menyuap.
“Enak mak, mau rasa?” tawar Dara kepada ibunya.
Wanita separuh baya itu mengambil sedikit bubur dengan menggunakan sendok dan mencicipinya.
“Huaaah, pedes kali! Kebanyakan kau narok sambalnya,” omel Bu Usman kepada putrinya.
“Yang kayak gini aku sukak mak,” cengir Dara tanpa merasa bersalah.
“Kasian yang jual, rugi, cabe mahal tauk!”
Si penjual bubur yang mendengar percakapan ibu dan anak itu hanya tersenyum geli.
Tak lama datang Pak Usman dan Andri menghampiri mereka.
“Wah, aku mau juga lah ketupat padang,” Kata Andri sambil duduk di sebelah Dara, “Ayah mau makan apa?”
“Nasi uduk aja pakai tempe mendoan,” Sahut pak Usman.
Dara yang telah selesai menghabiskan buburnya segera bangkit untuk memesan sarapan yang diinginkan oleh ayah dan abangnya. Tak lupa ia juga memesan empat gelas teh manis hangat.
Setelah kembali duduk gadis itu membuka bungkusan plastik berisi jajan pasar yang tadi dibelinya. Ia mengambil satu buah dadar gulung dan mulai memakannya. Ketupat padang pesanan Andri sudah diantarkan oleh penjualnya. Tanpa menunggu lama Andri langsung menyuapkan potongan ketupat yang dicampur kuah gulai pakis itu.
“Habis ini kita kemana mak?” tanya Dara pada ibunya.
“Kita coba cari pasar, beli peralatan makan buat kamu,” sahut Bu Usman.
Seorang gadis remaja mengantarkan pesanan nasi uduk untuk Pak Usman yang segera memakannya.
“Ayah ada rencana mau cari motor buat Dara kuliah, supaya gak repot naik angkot, apalagi kalau pagi-pagi pasti ramai orang angkot bakalan penuh.”
Dara menghentikan kunyahan kue dadarnya dan memandang ayahnya dengan terharu. Sebegitu sayangnya ayahnya pada dirinya, sehingga semua kebutuhannya telah dipikirkan dan berusaha dipenuhi oleh laki-laki itu.
“Yah, gak usah yah, nanti uang ayah habis. Dara bisa naik angkot lebih pagi supaya gak rebutan nanti,” tolaknya.
“Ayah sudah sisihkan uang buat itu. Kau gak usah khawatir, Inshaa Allah ayah dan mamakmu gak kekurangan koq. Doakan saja ayah dan mamak sehat-sehat ya nak,” pesan Pak Usman pada putri kesayangannya itu.
Dara hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Setelah selesai sarapan dan membeli beberapa cemilan lagi, mereka kembali ke rumah kos Dara. Setibanya di depan pagar mereka meminta ijin kepada penjaga kos yang kebetulan sedang menyapu halaman lalu rombongan kecil itu memasuki kamar kos Dara.
Sesampainya di lantai atas Dara mengeluarkan kunci dari saku celana dan membuka pintu kamarnya. Ia sengaja membiarkan pintu kamar terbuka agar udara segar bisa masuk.
Dara meletakan kantong plastik berisi jajanan yang tadi dibelinya di atas meja belajar lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Ketika gadis itu keluar dari kamar mandi dilihatnya ayahnya duduk di kursi sementara ibunya duduk di pinggir tempat tidur dan abangnya merebahkan badannya di tempat tidur disamping ibunya.
“Udah ngantuk lagi bang?” tanya Dara menggoda Andri.
“He-eh, kangen tidur di dekat mamak,” kata Andri sambil menguselkan kepalanya ke atas pangkuan Bu Usman.
Bu Usman mengusap-usap kepala anak lelakinya itu dengan sayang. Ya, walaupun Andri bukan anak kandung mereka tapi kedua orang tuanya tidak menbeda-bedakan kasih sayang yang diberikan kepada Andri dan Dara.
Dara mencibirkan bibirnya melihat kelakuan manja Andri pada ibu mereka.
“Ra, ayah mau bicara,” Pak Usman tiba-tiba berkata.
“Tadi malam Andri berkata pada ayah, katanya abangmu itu ingin membelikanmu laptop.”
Dara terbengong-bengong menatap bergantian ke arah ayah dan abangnya.
“Heh, mulutnya mangap gitu, jelek tau!” kata Andri mengejek adiknya.
“Seriusan bang?” tanya Dara tak percaya.
“Serius apa’an? Jelek? Banget.” jawab Andri sambil terkekeh.
“Iish, abang, serius abang mau belikan aku laptop?”
“Iyaa,” Sahut Andri kalem.
“Tapi kan aku udah punya laptop,” ujar Dara bingung.
“Iya, tapi laptop lamamu itu kan bekas abang dulu, kapasitasnya gak mendukung kalo kamu nanti harus mengerjakan tugas-tugas kampus. Baterenya juga udah soak.”
“Tapi kan masih bisa dipake, bang… sayang,” kata Dara.
“Jadi gak mau nih dibeli’in laptop baru?” goda Andri.
“Eh, ya mau laah..,“ jawab Dara buru-buru, takut abangnya berubah pikiran.
Alhamdulillah, rejeki anak soleh, pikirnya.
“Ya udah, nanti habis ke showroom motor kita cari laptop buat kamu. Yang sedanglah, setidaknya bisa buat dukung kamu ngerjain tugas-tugas kuliah dan harganya juga masih terjangkau sama kantong abang.”
Tiba-tiba Dara sudah menubruk Andri dan memeluknya erat.
“Makasih ya bang, makasih… Abang baik banget… Dara doakan abang banyak rejeki dan segera dapat jodoh, amiiin,” Ujar Dara masih dengan posisi memeluk Andri.
Kedua orang tua mereka tertawa melihat kelakuan anak-anaknya. Mereka sangat bersyukur karena walaupun Andri dan Dara bukan saudara kandung tapi mereka saling menyayangi.
“Iya, sama sama,” Sahut Andri sambil mengacak rambut Dara.
“Abang kan udah nazar, kalau proyek kantor tembus dan bonus cair mau belikan kamu laptop sebagai hadiah diterima di universitas. Kamu rajin-rajin belajar ya dek, supaya kuliahnya lancar dan cepat selesai. Buat ayah dan mamak bangga,” nasihat Andri pada adiknya.
“Iya bang. Dara bakalan serius kuliah gak akan main-main. Perjuangan bisa diterima disini khan gak gampang, sayang kalau nanti sia-sia,” janji Dara.
Bu Usman mengumpulkan pakaian kotor dan memasukkannya ke dalam kantong plastik untuk dibawa ke laundry terdekat sebelum mereka berangkat ke pasar. Sebelum pergi Dara sengaja bertanya kepada Bu Yanti mengenai lokasi pasar tradisional terdekat. Tak lama rombongan itu pun berpamitan dan berangkat ke tujuan mereka.