Bimo memutus pembicaraan dengan adik ibunya barusan. Tante Airin tadi menghubunginya, meminta tolong Bimo untuk mendampingi Erika, anaknya, besok untuk lapor diri ke universitas tempatnya diterima menjadi calon mahasiswa dari jalur undangan.
Tadinya tante Airin berencana mengantarkan Erika tapi tiba-tiba ia mendapat kabar kalau ibu mertuanya masuk rumah sakit. Karena suaminya adalah anak tunggal dan kebetulan sedang tugas keluar kota jadi dialah yang akan menjaga mertua perempuannya yang sedang di rawat. Mertua laki-lakinya sudah meninggal dua tahun yang lalu. Jadi ibu mertuanya hanya tinggal sendiri ditemani pembantu rumah tangga di Bandung.
Rupanya tadi pagi tekanan darah ibu mertuanya tinggi jadi beliau tiba-tiba pingsan. Pembantu rumah tangganya meminta tolong pada tetangga untuk membawanya ke rumah sakit lalu menghubungi Yuda anaknya semata wayang. Yuda pun menghubungi istrinya di Jakarta untuk segera berangkat ke Bandung guna menjaga ibunya di rumah sakit.
Sebenarnya Bimo malas pergi bersama Erika. Bukan apa-apa, sepupunya itu hobby sekali menjodoh-jodohkan Bimo dengan teman-temannya. Katanya ia kasian melihat Bimo yang jomblo akut, malam minggunya cuma kencan sama buku.
Tapi tak mungkin juga Bimo menolak permintaan tante Airin untuk menemani Erika besok. Apalagi kalau nanti tante Airin sampai menelpon ibunya gegara Bimo yang menolak permintaannya, bakalan melayang uang saku sebulan. Walaupun Bimo seorang calon dokter ya tapi kan statusnya baru calon, belum bekerja sebagai dokter, jadi dia masih butuh uang jajan dari orang tuanya.
Itulah salah satu alasan kenapa Bimo enggan punya pacar dulu sebelum selesai urusan kuliahnya. Karena ekonomi biaya tinggi. Kalau punya pacar pasti pengeluaran bakalan dobel-dobel. Ngapel perlu bensin, makan berdua jadi bayar dobel, nonton berdua bayar dobel juga. Gak mungkin juga kalau pacaran cuma nonton Netflix sambil makan indomie rebus di rumah ye kan?
Tapi sebenarnya Bimo juga bukan termasuk mahasiswa kere. Uang saku dari orangtuanya jumlahnya lebih dari cukup. Belum lagi Ajeng sering mentransfer uang jajan untuknya juga. Malah kadang suami kakaknya juga mengiriminya uang, katanya untuk tambah-tambah biaya foto copy ha ha… dan biasanya jumlahnya lumayan banyak karena abang iparnya itu kalau mengirim uang padanya pasti dalam bentuk dollar.
Cuma memang masalah prinsip saja Bimo masih betah menjomblo. Dia ingin fokus pada pendidikannya dan tak perlu direpotkan urusan pacar yang harus diapelin tiap malam minggu. Selama ini Bimo merasa nyaman dengan kegiatan rutinnya di malam minggu yaitu main game hingga larut malam, atau jika sahabat-sahabatnya ada yang mengajak hang out barulah ia keluar rumah.
Dan hari kamis pagi Bimo menjemput Erika di rumahnya. Gadis itu sudah rapi menunggu di teras saat Mobil Bimo memasuki halaman.
Erika langsung menuju ke samping kiri mobil dan membuka pintu penumpang.
“Lho, kita langsung berangkat?” tanya Bimo.
“Ya iya lah, Emangnya mas Bimo mau bantuin mbak Tini jemur baju dulu?” sahut Erika ngasal.
“Gak ada gitu basa-basi nawarin sarapan kek, kopi kek.”
“Alah, pasti mas Bimo udah sarapan. Gak mungkin Bude Widya ngijinin anak ragilnya keluar rumah kalau belum sarapan. Kalau mau kopi nanti kita beli aja di outlet yang ada di pom bensin.”
Erika langsung memasang seatbelt dan memberikan Bimo senyum manisnya.
“Dah yuk mas supir, kita berangkat.”
“Dasar kamu,” Gerutu Bimo sambil memasukkan persneling untuk memundurkan mobil keluar dari halaman.
“Tau begini mas tadi tunggu di pinggir jalan aja jadi gak perlu repot keluar masuk,” Bimo masih ngedumel.
“Udah lah, pagi-pagi mukanya jangan ditekuk gitu, gak indah tau. Gimana ada cewek yang mau sama mas Bimo kalo muka lecek gitu.”
“Kalo ceweknya modelan kayak kamu ya mending mas menjomblo for a life time lah.”
“Hush, gak boleh ngomong gitu mas, nanti malaikat lewat dicatat lho,” tegur Erika.
“Nanti bisa-bisa mas jomblo akut forever ato dapet cewek yang lebih parah dari aku,” tambah gadis itu
“Oh, tentu tidak,” sanggah Bimo.
“Eh mas, tapi nanti kalo ada teman kuliahku yang cantik bakalan aku kenalin deh sama mas. Kan mas udah mau selesai kuliahnya, udah boleh lah tuh buka audisi milih pacar.”
“Jangan macam-macam kamu Rik.”
“Ih, mas ini, hampir semua laki-laki normal yang aku kenal itu kalo ngelilat cewek cantik pasti suka. Jangan-jangan mas gak normal ya?”
“Eh, sembarangan. Tulen ini.”
“Kayaknya hoax.”
“Sok tau.”
“Gak ada bukti.”
“Kamu mas turunin di halte depan itu ya,” ancam Bimo.
“Eh, gak, nggak.. iya deh, maaf. Kita masuk ke pom bensin di depan itu dulu ya mas, kita beli kopi. Kayaknya mas bimo belum ngopi ini bawaannya ngegas mulu dari tadi.”
Bimo tak menjawab dan hanya mengarahkan mobilnya kemasuki pom bensin dan mencari tempat parkir di depan outlet kopi.
Erika pun langsung turun menuju counter pemesanan. Bimo mengambil ponselnya untuk mengecek pesan dari teman dan grup perkuliahannya.
Tak lama Erika kembali masuk ke dalam mobil dan mengangsurkan segelas besar kopi s**u gula aren kesukaan Bimo.
“Trims.”
“Mau roti mas?”
Erika mengulurkan kantong kertas yang berisi roti di dalamnya.
“Nanti aja. Aku udah sarapan tadi di rumah.”
Bimo langsung menyesap es kopinya. Lalu meletakkan gelas kopinya di tempat khusus di samping kursinya dan mulai menjalankan mobil lagi.
“Tante Airin kapan berangkat ke Bandung?”tanya Bimo.
“Kemaren jam sebelas siang.”
“Zico ikut?” Zico adalah adik laki-laki Erika yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
“Nggak mau dia. Udah ada janji sama teman-temannya mau main futsal hari ini. Jadi mama cuma diantar supir.”
Lalu lintas kota Jakarta di hari kerja jangan ditanya, so pasti lah padat merayap. Bimo memperkirakan perjalanan dari daerah Duren Sawit ke Depok akan memakan waktu sekitar dua jam.
Memasuki kawasan Kalibata kepadatan lalu lintas semakin parah.
Erika mangutak-atik audio di dashboard untuk menyalakan musik. Suara Ed Sheeran mengalun memenuhi kabin mobil sedikit menghibur di tengah keriuhan suara klakson kendaraan yang saling bersahutan.
“Jadi nanti kalo udah masuk kuliah mau berangkat dari rumah tiap hari ato kost deket kampus?”
“Belum tau mas.”
“Eh, ngomong-ngomong, kamu ambil jurusan jurusan apa?”
“Ekonomi.”
Bimo mengangguk-anggukan kepalanya.
“Mas Bimo udah selesai kuliahnya kan?”
“Lagi tugas akhir.”
“Bentar lagi bisa nyuntik orang lewat donk,” Kata Erika menirukan syair lagu anak-anak si boneka susan.
“Masih lama, kan belum koas.”
“Hebat lah, akhirnya ada juga dokter di keluarga kita. Aku nyerah sih kalo disuruh masuk IPA.”
“Kenapa?”
“Aku gak suka pelajaran kimia, matematika juga sih, gak pernah temanan aku sama mata pelajaran yang dua itu.”
“Lah, ekonomi juga kan itung-itungan?”
“Beda mas, kalo ngitung duit aku senang,” sahut Erika sambil nyengir.
“Cewek matre.”ejek Bimo.
“Harus mas.”
Mereka tertawa bersama.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam akhirnya mereka sampai di tujuan. Suasana halaman kampus cukup ramai karena banyak calon mahasiswa yang sama-sama melakukan lapor diri.
Bimo memarkirkan mobilnya di area parkir yang hampir penuh. Setelah mematikan mesin mereka berdua keluar dari mobil dan menuju ruang administrasi.
Erika mengambil nomor antrian lalu mengeluarkan berkas-berkas yang sudah dipersiapkan dari rumah agar kalau nomornya dipanggil ia sudah siap dengan berkas yang akan diserahkan.
Hampir satu jam mereka berada di ruang administrasi. Setelah mendapatkan nomor untuk pembayaran biaya kuliah, Erika dan Bimo menuju tempat parkir mobil.
Begitu masuk ke dalam mobil Bimo langsung menyalakan mesin dan AC untuk menghalau udara panas dalam mobil.
“Mana roti tadi Rik, mas pengen ngemil sebelum ke bank. Nanti di sana pasti antriannya lama jadi bagus isi perut dulu.”
Bimo menenggak es kopi yang es batunya sudah mencair. Diambilnya roti yang disodorkan Erika, lalu keduanya makan roti dan menghabiskan sisa es kopi.
Setelah selesai, Erika mengumpulkan sisa gelas kosong dan plastik roti lalu memasukkannya ke dalam kantong kertas dan membawanya keluar mobil untuk di buang ke tempat sampah yang ada di pinggir tempat parkir mobil. Saat Erika sudah duduk kembali dan memasang seatbelt barulah Bimo mulai menjalankan mobilnya menuju gerbang keluar kampus.
Karena jarak yang tidak terlalu jauh dalam waktu lima menit mereka sudah sampai di depan bank. Rupanya pengunjung sedang ramai dan tidak ada lagi tempat untuk memarkirkan mobil.
Petugas parkir mengarahkan Bimo untuk parkir di halaman warung soto yang ada di sebelah bank. Setelah mematikan mesin mereka turun dari mobil.
“Ini aman parkir disini? Gak dimarahin yang punya warung?” tanya Bimo pada petugas parkir.
“Aman bos,” Sahut petugas parkir sambil mengacungkan jempolnya.
Bimo mengikuti Erika menuju pintu masuk bank. Seorang security yang bertugas menanyakan keperluan mereka lalu memberikan nomor antrian.
Seiring kakinya melangkah memasuki bank terdengar teriakan dari arah tempat duduk nasabah di ruang tunggu. Reflek Bimo mencari sumber keributan itu dan pemandangan yang terpapang di depan matanya membuatnya menggelengkan kepala dan tersenyum sinis.
Di kursi tunggu dekat dinding seorang gadis nampak memeluk laki-laki di sebelahnya dan wajahnya tampak gembira tak ada rasa malu sama sekali. Kelakuannya ini tentu saja menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya.
Mungkin merasa jadi pusat perhatian di tempat yang tenang, gadis itu melepaskan pelukannya dan kembali duduk menghadap ke arah depan. Bimo yang menatapnya menjadi semakin terkejut.
“Hah?! Itu kan… siapa ya namanya, Ah pokoknya cewek ngasal itu. Ngapain dia ada disini? Jauh amat mainnya,” Gumam Bimo tanpa sadar.
“Kenapa mas? Koq kayak ngedumel sendiri gitu?” tanya Erika. Matanya menelusuri ruang tunggu mencari kursi kosong.
“Eh, nggak koq,” Elak Bimo, tak ingin Erika curiga.
“Kita duduk disitu yuk,” Kata si gadis sambil menunjuk dua kursi kosong yang berada di ujung berhadapan dengan kursi yang diduduki pasangan yang menghebohkan tadi.
Bimo yang tak punya pilihan akhirnya mengikuti sepupunya itu dari belakang.
“Gak ada tempat lain ya Rik?” Bimo mencoba menawar.
“Gak ada mas, penuh semua. Lagi rame nih.”
Erika langsung menarik tangan Bimo dan setengah menyeretnya menuju kursi kosong yang tersedia.
“Permisi,” Erika saat lewat di depan Dara dan Andri.
“Silahkan.” Jawab gadis yang menghebohkan tadi sambil sekilas melirik ke arah pasangan yang melewatinya.
Bimo merasa kalau gadis yang duduk di depannya ini mengenalinya. Terlihat dari ekspresi matanya yang menyipit menatapnya.
Setelah duduk sekali lagi Bimo menatap pasangan di depannya, terutama ke arah si gadis, untuk memastikan apakah gadis itu merupakan orang yang sama yang dijumpainya saat berada di Medan.
Rupanya gadis itu pun sedang menatap ke arah Bimo. Begitu manik mereka bertatapan gadis itu langsung membuang muka.
Bimo terus menatap gadis di depannya tanpa menyadari kalau Erika memperhatikannya. Erika berganti-ganti menatap Bimo dan gadis di depannya yang masih terlihat tekun memperhatikan layar monitor televisi.
“Bening ya mas?” Bisik Erika di telinga Bimo.
“Hah? Apa?” Bimo tergagap tak mengerti dengan apa yang dikatakan Erika, “Kamu ngomong apa?”
“Nggak, itu Mas Bimo ilernya netes, nih dilap,” Sahut gadis itu asal sambil menyodorkan sehelai tissue.
“Ngaco kamu,” Menyadari kalau Erika sedang menggodanya Bimo pura-pura memandang ke arah security yang sedang membantu seorang nasabah untuk mengambil nomor antrian.
“Abis Mas Bimo mentang-mentang ngeliat yang bening-bening itu mata langsung melotot gak kedip, iler pun ngences.”
“Ngarang.”
Erika terkekeh.
“Uwu sekali ya mas yang di depan itu?” bisik Erika lagi.
Bimo mendengus kasar.
“Ajak kenalan gih Mas.” Erika mulai memprovokasi.
“Berisik!”
“Atau mau aku tanya’in no hp-nya?”
“Kamu nanti pulang naik angkot ya,” Sahut Bimo datar sambil beranjak.
“Eh, iya, iya, maaf, gak lagi, he he… duduk Mas, duduk.” Erika menarik tangan Bimo agar laki-laki itu kembali duduk di sebelahnya.
“Ngegas amat mas kayak emak-emak kurang duit belanja,” Erika memanyunkan bibirnya.
Bimo diam saja dan kembali duduk sambil mulai membuka ponselnya. Sepupunya ini memang biang usil. Kalau saja bukanTante Airin yang menelponnya kemarin untuk memintanya menemani Erika melakukan lapor diri dan membayar uang kuliah, pasti Bimo tidak akan mau menemani gadis ini.
Seharusnya Tante Airin yang menemani Erika, tetapi kemarin siang mertuanya masuk rumah sakit dan ia harus menjaganya jadi terpaksalah Bimo yang menggantikannya menemani Erika.
Bukan apa –apa, Erika itu memang type-type mak comblang sejati. Tahu kalau sepupunya ini masih jomblo, ia bolak-balik menjodohkan Bimo dengan teman-teman sekolahnya.
Bimo yang memang belum mau memiliki pacar tentu saja merasa tak nyaman bila berada di dekat sepupunya itu. Berkali-kali Erika mencoba mengajaknya berkenalan dengan teman-teman ceweknya yang katanya cantik, manis, imut, uwu dan sebagainya. Walaupun Bimo berkali-kali menolak tapi gadis itu tetap masih bersikeras.
“Kan lumayan Mas, biar malam minggunya gak gabut,”kata Erika kala itu.
“Gak mau, punya cewek itu ribet, apalagi kalo type-nya kayak kamu,” sahut Bimo.
“Memang kenapa kalo kayak aku? Kan bagus, cantik, manis, baik, limited edition lagi,” sahut Erika narsis.
“Ya gitu deh, manja, cerewet, usil. Bukannya asik malah bikin stress.”
“Ish dasar Mas Bimo. Kan Cowok biasanya senang sama cewek yang manja, jadi merasa dibutuhkan gitu.”
“Aku gak suka. Cewekku nanti harus mandiri, gak cengeng, dan gak usil juga kayak kamu.”
Begitulah percakapan mereka dulu yang membuat Erika kesal dengan jawaban Bimo dan sedikit merajuk. Beberapa hari gadis itu tidak menghubungi Bimo, padahal biasanya tiap hari ada saja alasannya mengirim pesan minta dibantu mengerjakan PR, minta dibeliin bakso dekat kampus Bimo, bahkan kadang sekedar pinjam charger ponsel, hadeeeh, sungguh alasan yang membagongkan.
Selanjutnya Bimo asik dengan ponselnya sampai nomor antrian mereka dipanggil teller. Saat Bimo menatap kursi di depannya rupanya telah berganti orang. Pasangan tadi sudah tidak ada di depannya.
Menghela nafas lega Bimo melangkah mengikuti Erika menuju ke counter teller.