“Assalamualaikum”
Terdengar suara orang mengucapkan salam dari luar kamar tempat Pak Usman menginap. Dara yang sedang asik main game bergegas meletakan ponselnya di atas tempat tidur dan melangkah ke arah pintu.
“Waalaikumsalam,” jawabnya sambil membuka pintu.
“Abang!”
Teriakan spontan Dara membuat kedua orang tuanya berpaling ke arah pintu masuk. Pemandangan yang mereka lihat membuat keduanya terharu. Dara terisak di pelukan abangnya. Keduanya bergegas menghampiri.
“Abang jahat, gak pernah pulang, aku kan rindu,” Rengek Dara.
“Iya, abang juga rindu. Maaf ya.kemaren kemaren belum bisa cuti, kan abang juga belum setahun masuk kerja, belum ada jatah cutinya. Ini juga cuma ijin dua hari, untung bos baik,” Ujar Andri sambil melepaskan pelukan Dara lalu menghampiri kedua orang tuanya dan mencium tangan mereka.
“Gimana di jalan, Ndri?”
“Alhamdulillah lancar, Mak. Mamak sehat kan.”
“Alhamdulillah sehat.”
“Jadi dari Gambir tadi naik apa kesini?”
“Bawa mobil rental Yah. Kemaren aku udah pesan online, jadi tadi mobilnya diantar ke Gambir. Aku sewa yang lepas kunci sampai nanti hari minggu balik ke Gambir lagi. Ayah, apa kabar? Maaf baru bisa jumpa sekarang ya, Yah. Nanti kalau sudah bisa cuti pasti Andri bakalan sering-sering nengok ayah sama mamak.”
“Iya, gak apa, ayah maklum koq. Kamu kan masih berjuang. Ayah sama mamak juga sehat-sehat aja,” Sahut Pak Usman.
“Gak usah dipaksakan kali buat pulang, Ndri. Bagus uangnya kamu tabung buat lanjut kuliah S2. Katanya kamu mau kuliah lagi kan?” Bu Usman menambahkan.
“Rencananya sih gitu Mak.”
“Kalo abang kuliah lagi terus kerjanya gimana?” tanya Dara.
“Nanti abang ambil kelas karyawan, ada yang jadwalnya malam dan sabtu pagi.”
“Kamu atur aja waktunya, asal jangan kecapek’an. Harus jaga kesehatan juga.”
“Iya Yah. Gak apa capek-capek dulu supaya bisa sukses kedepannya.”
“Amiin.”
“Sarapan dulu Ndri. Ini tadi ayah beli nasi gurih.. eh, kalau disini namanya nasi uduk ya, tapi gak ada sayur tauconya macam nasi gurih di Medan,” Kata Bu Usman.
“Andri mau mandi dulu Mak.”
“Oh, ya sudah. Kamu bawa handuk gak? Itu ada handuk juga dari penginapan sini belum mamak pakai karena kami pakai handuk yang bawa dari rumah.”
“Ada Mak.”
Andri membuka ranselnya untuk mengeluarkan pakaian ganti dan handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Dara sudah mempersiapkan semua berkas yang diperlukan untuk melakukan lapor diri ke kampus tempatnya lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru. Setelah Andri selesai mandi dan sarapan, rombongan itu pergi dengan mengandalkan aplikasi GPS. Untungnya letak penginapan mereka tidak jauh dari kampus sehingga perjalanan tidak memakan waktu lama.
Urusan pendaftaran Dara juga lancar dan tinggal melakukan pembayaran melalui transfer bank. Dara terkagum-kagum melihat bangunan kampusnya. Ada rasa bangga di hatinya karena bisa di terima di salah satu universitas terbaik di Indonesia.
Dilihatnya banyak calon mahasiswa baru yang juga melakukan lapor diri. Didengar dari percakapan mereka kelihatan kalau banyak juga yang berasal dari daerah karena logat bicaranya masih kental dengan logat daerah.
Setelah mendapatkan lembar bukti lapor diri, Andri mencari bank terdekat untuk melakukan pembayaran uang kuliah adiknya. Kebetulan ada bank yang letaknya tidak jauh dari kampus.
“Kamu punya rekening bank, Ra?” tanya Andri.
“Ada Bank Sumut.”
“Nanti kita buat satu lagi ya. Di Bank ini aja, sekalian buat m-banking supaya gampang kalau mau bayar kuliah gak perlu antri.”
“Iya, Bang,” Dara hanya mengiyakan perkataan abangnya. Pak Usman pun sepertinya setuju saja dengan apa yang diucapkan Andri karena dia tidak berkomentar apa-apa.
“Yah, nanti kalau di Bank lagi ramai biasanya dibatasi pengunjungnya. Jadi nanti Andri sama Dara aja yang masuk. Ayah sama Mamak tunggu di sebelah bank itu ada warung soto, sekalian makan siang aja. Soalnya kalau buka tabungan baru itu suka lama antri di CS.,” Kata Andri.
Saat tiba di depan bank yang dimaksud, Andri mencari tempat parkir. Sebelum meninggalkan mobil Bu Usman mengeluarkan sebuap amplop coklat dari dalam tas tangannya.
“Ini Ra, untuk bayar kuliah kamu.” Katanya sambil menyodorkan amplop itu ke Dara. “Masukan ke dalam tas mu.”
Dara menerima amplop berisi uang itu dan memasukkan ke dalam tas ranselnya. Rombongan itu pun turun dari mobil. Andri mengantarkan kedua orang tuanya ke warung yang menjual soto dan berpesan kepada pelayan agar memberikan apapun pesanan yang diminta oleh kedua orang tua itu.
Saat memasuki bank seorang security menanyakan keperluan mereka dan memberikan nomor antrian.
Suasana di ruang tunggu lumayan ramai dan didominasi mahasiswa yang akan melakukan pembayaran uang kuliah. Andri dan Dara memilih kursi kosong di sudut dan duduk berdampingan menunggu giliran dipanggil.
“Kamu udah siap mental kuliah di Jakarta?” Andri membuka percakapan setelah mereka duduk.
“Maksudnya?” Dara bertanya sedikit bingung.
“Ya, biasanya kamu sekolah di Medan semua ada yang nyiapin. Sarapan tinggal makan, baju tinggal pakai. Nah kalau merantau semua-semua harus sendiri. Belum lagi nanti tugas kuliah bejibun. Sanggup gak?”
“Inshaa Allah aku sanggup, Bang. Kan aku juga harus belajar mandiri, gak selamanya disuapi mamak dan ayah. Abang bisa, aku juga harus bisa,” Ujar Dara mantab.
Andri tersenyum menatap adik yang sangat disayanginya ini, walaupun Dara bukan adik kandungnya tapi mereka berdua sangat dekat.
“Sip, itu baru namanya adek abang,” Di acaknya kepala Dara pelan.
Adik yang dulu selalu mengekorinya kemanapun dia main, sekarang sudah menjadi remaja cantik yang akan menjadi mahasiswi. Dulu kalau Andri main bersama teman-teman lelakinya Dara pun ikut main. Untungnya teman-teman Andri tidak ada yang keberatan karena Dara bukan anak yang cengeng, gadis itu malah lebih nyaman bermain dengan anak laki-laki yang sebaya dengan abangnya.
Walaupun sifat cuek dan tomboynya masih belum hilang, tapi Dara memang seorang gadis yang cantik dengan perawakan ramping. Kulitnya kuning langsat dan bulu mata lentik dengan rambut hitam tebal sebahu yang lebih sering diikat ekor kuda.
“Nanti uang yang dari mamak tadi untuk buka rekening baru aja. Uang kuliahmu biar abang yang bayar.”
Dara menatap abangnya tak percaya mendapat rejeki nomplok.
“Serius, Bang?”
“He-eh.”
“Yeaay… makasih abangku yang ganteng,” Teriak Dara sedikit keras dan tanpa malu-malu langsung memeluk Andre.
Kelakuannya ini tentu saja menjadi perhatian orang di sekitarnya. Begitu pula dengan sepasang anak muda laki-laki dan perempuan yang baru masuk ke dalam ruang tunggu itu dan mendengar teriakan Dara, si laki-laki langsung menoleh mencari sumber keributan di tempat yang tenang itu. Matanya membelalak melihat pemandangan seorang gadis memeluk laki-laki di sebelahnya tanpa malu di tempat yang ramai seperti ini.
Saat Dara melepaskan pelukannya dan kembali duduk menghadap ke arah depan, anak laki-laki yang menatapnya itu semakin terkejut.
“Hah?! Itu kan… siapa ya namanya, Ah pokoknya cewek ngasal itu. Ngapain dia ada disini? Jauh amat mainnya.”
“Kenapa mas? Koq kayak ngedumel sendiri gitu?” tanya gadis yang berdiri disampingnya. Matanya menelusuri ruang tunggu mencari kursi kosong.
“Eh, nggak koq.”
“Kita duduk disitu yuk,” Kata si gadis sambil menunjuk dua kursi kosong yang berada di ujung berhadapan dengan kursi yang diduduki Dara.
Si laki-laki tak punya pilihan karena memang tinggal disana kursi kosong yang ada. Sepertinya hari ini antrian mahasiswa yang mau membayar uang kuliah sedang ramai. Untuk menuju kursi kosong itu ia harus melewati pasangan yang baru saja berpelukan tadi, Uh, sial.
“Gak ada tempat lain ya Rik?”
“Gak ada mas, penuh semua. Lagi rame nih.”
Si gadis yang bernama Erika langsung menarik tangan Bimo dan setengah menyeretnya menuju kursi kosong di depan Dara.
“Permisi,” Gumam Erika saat lewat di depan Dara dan Andri.
“Silahkan,” Jawab Dara sekilas melirik ke arah pasangan yang melewatinya.
Mata Dara menyipit ketika menatap laki-laki yang mengikuti langkah gadis di depannya.
“Eh, koq seperti si cowok bon cabe itu ya?”bathinnya.
Saat kedua anak muda itu sudah duduk di depannya, diam-diam Dara melirik ke arah si laki-laki.
Ups, sial, pas pulak dia liat ke aku juga, rutuk Dara dalam hati saat tak sengaja matanya bertatapan dengan mata Bimo.
Dara segera membuang muka pura-pura tertarik pada monitor televisi yang berada di atas counter teller yang menampilkan laporan nilai tukar mata uang asing.
Sesekali Dara melirik Andri di sebelahnya yang asik mengetikkan balasan chatting untuk rekan sekantornya.
“Lama ya, Bang,” Keluh Dara.
“Sabar, kalau antri di customer service memang lama,” Kata Andri masih sambil mengetikan sesuatu di ponselnya.
“Abang ngapain sih?”
“Ini balas chatting teman kantor, kan abang ijin dua hari jadi ya harus siap-siap juga kalo ditanya ini-itu soal kerjaan.”
Dara memberanikan diri melihat sekilas pasangan di depannya. Bimo nampak berdiri tapi tangannya langsung ditarik oleh gadis di sebelahnya hingga duduk lagi. Dan ia mendengar si gadis menggumamkan kata maaf mencoba membujuk Bimo agar tidak pergi.
Dara tersenyum sinis.
Huh positif, ini cowok udah mulutnya pedes macam cabe, sifatnya pun ambekan kayak cewek, ish amit-amit deh jangan sampe punya pacar kayak dia, bisik Dara dalam hati. Capek kali harus bujuk-bujukin cowok, harusnya kan dia yang bujukin ceweknya. Koq mau ya itu cewek sama dia? Kayak gak ada cowok lain aja, padahal tu ceweknya cantik lho.
Dara malah asik melamun memikirkan kedua pasangan di depannya itu hingga ia tak sadar kalau nomor antriannya sudah di panggil.
“Dek, ayok, nomornya udah dipanggil tuh,” Suara Andri membuyarkan lamunan Dara.
“Eh, iya Bang.”
Dara segera bangkit dan mengikuti Andri berjalan menuju meja customer service nomor dua.
Wanita di balik meja customer service menyapa mereka dengan ramah dan menanyakan keperluan mereka. Dara mengatakan kalau ia ingin membuka tabungan baru dan membayar uang kuliah.
Petugas itu lalu memberikan beberapa lembar formulir untuk diisi. Setelah semua prosedur selesai Dara melakukan penyetoran uang di kasir dan kembali ke meja Customer service untuk menerima kartu ATM dan mendaftar untuk aplikasi m-banking.
Hampir satu jam mereka ada di dalam bank ketika akhirnya segala urusan telah selesai dan mereka bisa keluar untuk menemui kedua orang tua mereka yang menunggu di warung soto. Saat hendak menuju pintu keluar Dara sudah tidak melihat Bimo dan pasangannya di tempat yang mereka duduki tadi.
Terik matahari menyambut mereka saat keluar dari pintu depan bank. Setelah dimanjakan dengan kesejukan pendingin udara dalam ruangan dan tiba-tiba sekarang sinar matahari langsung membakar kulitnya membuat Dara sedikit berjengit.
“Panas kali ya bang.”
“Iya, udah masuk kemarau ini,”kata Andri sambil memasuki warung soto diikuti Dara.
Saat tiba di meja yang diduduki kedua orang tuanya, Dara langsung menghempaskan bokongnya di kursi.
“Udah selesai semua nak?”
“Alhamdulillah, udah Yah,” Sahut Dara sambil mengeluarkan buku tabungan baru dari dalam tasnya.
“Ini tabungan baruku, Yah,” Katanya sambil menyodorkan buku tabungannya agar bisa dilihat ayahnya.
Pak Usman menerima buku tabungan itu dan membuka lembaran di dalamnya. Keningnya berkerut melihat angka yang tertera di saldo tabungan. Bu Usman menjulurkan kepalanya untuk ikut melihat buku tabungan itu.
“Uang kuliah kamu sudah dibayar belum, Ra? Koq saldo tabungannya banyak kali?”
“Sudah Yah. Tadi uang kuliah dibayari bang Andri, jadi uang yang dari mamak tadi untuk buka tabungan baru.”
“Betul itu, Ndri? Ayah sudah siapkan semua biaya untuk bayar kuliah dan kost adikmu. Baiknya uangmu ditabung untuk biaya pendidikan S2,” Kata Pak Usman.
“Tak apa, Yah. Kebetulan Andri baru ada rejeki, kemaren ada proyek tembus, kami menang tender, jadi dapat bonus lumayan. Itu rejeki Dara Yah, jangan ditolak. Selama ini ayah juga sudah menyekolahkan Andri, jadi sekarang gantian. Malah ini belum seberapa dibanding yang sudah ayah dan mamak keluarkan selama ini menyekolahkan Andri dari kecil.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Semoga kamu selalu diberi kemudahan dan kelancaran dalam mencari rejeki. Jangan lupa kau kirimlah sikit untuk Mamak dan adik kandungmu di kampung,” Kata Pak Usman mengingatkan keponakannya itu.
“Iya, sudah Yah. Tiap bulan juga Andri selalu kirim buat mamak dan pas ada bonus ini kirimannya juga Andri lebihkan.”
“Alhamdulillah. Itu yang penting, Ndri, jangan lupakan ibu kandungmu. Apalagi dia seorang janda, hanya mengharap kiriman dari anaknya untuk biaya hidup sehari-hari.”
“Ya sudah, kalian sholat lah dulu di mushola itu baru makan siang, mamak sama ayah sudah makan soto tadi, enak, seger. Ini menunggu kalian habis peyek dua bungkus,” Kata Bu Usman.
“Iya Mak. Mamak kalau mau tambah lagi silahkan mak. Biar kenyang,” Sahut Andri.
“Ah, sudahlah, mana sanggup lagi perut mamak ini. Cukup ngemil-ngemil aja lah buat menunggu waktu.”
Dara dan Andri pun beranjak menuju mushola yang ada di bagian belakang warung soto itu. Setelah selesai sholat mereka memesan makan siang dan menikmatinya sambil mengatur tujuan mereka selanjutnya untuk mulai mencari rumah kost bagi Dara.