Akhirnya kabar baik yang ditunggu-tunggu tiba juga. Dara berhasil lulus di fakultas ekonomi Universitas Indonesia. Ucapan syukur tak henti-hentinya diucapkan Pak Usman sekeluarga. Mereka juga tak lupa memberitahukan kabar baik itu kepada Andri yang berada di Surabaya.
Dibalik kegembiraan ada rasa sedih di hati Dara karena harus pergi meninggalkan kampung halamannya. Ada rasa iba membayangkan kedua orang tuanya hanya tinggal berdua di rumah. Walaupun ibunya sering memarahinya jika ia berulah, tapi Dara sangat menyayanginya.
Tapi ayahnya terus berkata pada Dara agar tetap semangat mengejar cita-cita dan jangan mengkhawatirkan mereka berdua.
“Kamu jangan berpikiran yang macam-macam. Pokoknya harus fokus belajar. Ayah dan mamak bakalan baik-baik saja disini. Nanti kan kalau libur kamu bisa pulang atau ayah dan mamak yang pergi ke Jakarta buat nengok kamu.” Pesan ayahnya sambil mengelus kepala Dara yang diletakkan di pangkuan ayahnya.
Ya, Dara ingin memuaskan diri bermanja-manja selagi belum berangkat ke ibu kota.
“Tapi ongkos pesawat kan mahal yah, sayang uangnya kalo sering bolak-balik.” Protes Dara.
“Ya gak apa, Uang bisa dicari. Mudah-mudahan Allah memudahkan langkah ayah dalam mencari rezeki.”
Dara mengaminkan perkataan ayahnya. Sementara itu Bu Usman hanya diam saja. Sedih hatinya harus berpisah dengan anak kandungnya. Tapi ia tidak mengungkapkan perasaannya, ia takut kalau Dara menjadi semakin berat melangkah untuk melanjutkan pendidikannya.
“Ladang akan ayah jual. Minggu lalu Pak Umar, yang punya tanah di sebelah ladang kita sudah ayah tawari, dia berminat, tinggal tunggu kesepakatan harga saja.”
“Lho koq dijual yah?” tanya Dara. Ia terkejut dengan keputusan ayahnya. Tanah ladang itu adalah warisan dari Kakeknya untuk ayahnya, pasti berat bagi ayahnya untuk mengambil keputusan ini, tapi apa mau dikata, mereka memang bukan orang berada. Ayahnya hanya seorang guru dengan gaji yang hanya cukup untuk menghidupi keluarganya secara sederhana walaupun tidak sampai kekurangan juga.
“Ya buat ongkos kamu ke Jakarta nanti. Kita cari kost yang agak bagus lah. Kamu perempuan, ayah khawatir kalau nanti kost kamu terlalu jauh. Sekalian nanti kalau ada sisa uangnya, ayah mau belikan kamu motor bekas untuk transportasi kamu kuliah disana.”
Air mata Dara tak kuasa dibendung lagi.
“Maaf yah. Ayah terpaksa harus menjual ladang warisan Atok. Dara janji akan belajar betul-betul supaya bisa buat ayah bangga.” isak Dara.
Bu Usman tak kuasa membendung tangisnya juga. Diusapnya airmata dengan punggung tangannya.
“Ssssttt… sudah. Jangan dipikirkan itu. Yang penting gimana caranya kamu bisa kuliah. Itu juga jalan dari Allah supaya kamu dimudahkan. Allah membukakan hati Pak Umar hingga mau membeli tanah yang ayah tawarkan. Itu rejeki kamu, Ra.”
“Besok ayah akan hubungi Pak Umar agar bisa langsung deal kesepakatannya supaya uangnya bisa cepat ayah terima. Kalau sudah ada uangnya, nanti langsung pesan tiket, kita bertiga pergi ke Jakarta.” lanjut Pak Usman.
“Kamu siapkan berkas-berkas yang diperlukan juga barang-barang yang mau kamu bawa. Kalau ada yang mau diurus secepatnya diurus supaya cepat selesai.”
“Baik yah. Kalau kita semua pergi, nanti Samson gimana, yah?” tanya Dara.
“Samson nanti titip aja dulu ke rumah Pak Nasir. Yang penting ada yang kasih makan dia. Kan dia memang gak pernah dikurung, jadi tidurnya bisa di teras. Nanti tempat pupnya disediakan tiga box sekalian.”
“Sedih aku harus pisah dari Samson, yah.” Ujar Dara.
“Jadi pisah sama mamak gak sedih?” celetuk Bu Usman.
Sontak Dara mendongak ke arah ibunya. Dengan mata yang tiba-tiba berkaca Dara bangkit dan menghambur ke pelukan ibunya. Keduanya berpelukan dan terisak.
“Mamak koq ngomong begitu? Pasti sedih kali lah Dara pisah sama mamak. Dara kan sayang sama mamak, walaupun mamak rada galak.”
Tangisan Bu Usman berubah menjadi kekehan mendengar omongan Dara. Dasar Dara gak ada akhlak!
Bu Usman melepaskan pelukannya. Diusapnya rambut putri semata wayangnya itu.
“Nanti kamu baik-baik di rantau. Belajar yang giat. Jangan pecicilan. Ingat ayahmu sudah berjuang supaya bisa menyekolahkanmu. Jangan buat perjuangannya sia-sia.” Pesan Bu Usman.
“Iya mak. Dara gak akan pecicilan. Pasti Dara ingat pesan mamak dan ayah.”
Dalam hati Dara berjanji tdak akan mengecewakan harapan kedua orangtuanya.
Tiba saatnya hari keberangkatan Dara ke Jakarta. Kebetulan ada juga tetangga Dara yang akan berangkat ke Semarang. Teguh, anak Pak Budi di terima di Universitas Diponegoro Semarang dan jadwal keberangkatannya juga sama, hanya beda penerbangan.
Jadilah para tetangga ikut mengantar kedua rombongan itu ke bandara. Pak Handoko dan Bu Rina ikut serta dalam rombongan. Mereka juga meminjamkan kedua mobil milik mereka agar dapat mengangkut para tetangga yang ingin ikut mengantar ke bandara.
Dalam perjalanan menuju Bandara kebetulan Pak Usman sekeluarga naik mobil yang dikemudikan Pak Handoko.
“Pak Usman ada kerabat di Jakarta?” tanya Pak Handoko.
“Dulu ada sepupu saya di Jakarta, tapi sudah empat tahun terakhir pindah tugas ke Lombok.” Jawab Pak Usman..
“Wah, jadi Dara benar-benar merantau ini ya, gak ada sanak saudaara.” Timpal Bu Rina.
“Iya bu, tapi nanti disana pasti banyak juga anak perantauan, jadi punya teman senasib.” Sahut Dara sambil tersenyum.
“Betul, pasti banyak juga anak-anak dari daerah. Banyak kawan seperjuangan nanti. Bapak dulu juga begitu, orang tua di Solo, Bapak kuliah di Bandung, eh, rupanya banyak sekali dapat kenalan dari daerah yang jauh. Bahkan ada yang dari Papua.” Kata Pak Handoko.
“Bimo juga di UI lho, Dara.” Tiba-tiba Bu Rina berkata. Sejenak Dara bingung dengan perkataan Bu Rina. Bimo? Siapa?
“Iya, tapi dia kedokteran, jadi kampusnya beda dengan ekonomi. Keponakan bapak itu kuliahnya di Salemba, kalau Dara nanti di Depok.” Pak Handoko menambahkan.
Barulah Dara connect kalau yang dimaksud Bu Rina adalah Bimo si mulut bon cabe level dua belas. Hah.
Untunglah kampus mereka berjauhan jadi potensi bakalan jumpa pasti kecil. Eh, tapi bukannya si judes itu sudah selesai ya kuliahnya? Ish, koq Dara jadi kepo sih?
Setelah tiba di bandara dan menurunkan semua bagasi dari mobil, Dara berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang ikut mengantarkannya ke bandara. Saat mengucapkan salam perpisahan kepada Lina, kedua gadis itu tak kuasa meneteskan air mata.
“Aku titip Samson ya, Lin. Jangan digalakin, nanti dia merajuk gak pulang-pulang.” Pesan Dara.
“Iya. Kau hati-hati ya di Jakarta. Jangan lasak kali. Nanti kita tetap kontak ya, jangan lupa sama aku kalau kau udah sukses nanti.”
“Ya gak bakalan lupa lah aku sama kau. Ku doakan juga kau sukses ya bisa jadi guru sesuai cita-citamu.”
Setelah sepakat untuk saling bertukar kabar akhirnya Dara sekeluarga memasuki ruangan check in bersama dengan Pak Budi dan Teguh
Saat menunggu waktu boarding Dara sempat berbincang dan bertukar nomor ponsel dengan Teguh. Akhirnya kedua rombongan berpisah karena jadwal penerbangan Dara lebih cepat sepuluh menit dari jadwal Teguh.
Selama dalam penerbangan Dara tak dapat memejamkan mata. Kepalanya dipenuhi bayangan mengenai bagaimana kehidupan di Jakarta yang akan dijalaninya. Senang, penasaran, sedih, dan takut bercampur jadi satu membuat perutnya seketika merasa mulas seperti stress bila akan menghadapi ujian.
Tiba bandara Soekarno-Hatta cuaca mendung dan sedikit gerimis. Pak Usman memesan taksi online untuk mengantarkan mereka menuju guesthouse yang berlokasi tak jauh dari kampus. Dara memang sudah mencari informasi mengenai penginapan dan rumah kost di sekitaran kampusnya. Rencananya besok setelah mengurus semua administrasi di kampus, mereka akan mencari rumah kost untuk Dara.
Sepanjang perjalanan menuju kota Depok Dara sangat antusias melihat pemandangan diluar jendela taksi yang mereka tumpangi.
Ini memang pertama kali bagi Dara menginjakan kakinya di ibu kota. Jadi kalau dibilang agak norak ya harap maklum aja deh. Berkali-kali Dara berdecak kagum melihat gedung-gedung tinggi dan artistik juga jalan-jalan yang saling silang.
“Mak, liat tuh, itu tinggi kali jalannya di atas, betumpuk tumpuk macam kue lapis ya mak? Gak ngeri itu supirnya ya?” tunjuk Dara ke arah jalan yang berada di atas mereka.
Pak Usman sesekali menimpali perkataan putrinya sambil tersenyum.
Perjalanan agak tersendat setelah taksi yang mereka tumpangi keluar dari jalan tol dan masuk ke arah Pasar Minggu. Karena masih hari kerja kendaraan lumayan padat. Setelah dua jam perjalanan akhirnya mereka tiba di tujuan.
Pak Usman membayar ongkos taksi lalu mengajak istri dan anaknya masuk ke ruang penerimaan tamu di guest house yang mereka datangi.
Seorang wanita berseragam batik menerima kedatangan mereka dengan ramah. Setelah menunjukan bukti reservasi mereka, petugas penerima tamu itu meminta kartu identitas Pak Usman.
Usai mencatat data diri Pak Usman, petugas itu menyerahkan sebuah kunci.
“Kamarnya melalui lorong ini lalu belok kiri ya pak, nomor empat belas, persis di depan kolam ikan.”
“Terima kasih, kak.”
Sesampainya di kamar Dara langsung merebahkan diri di atas kasur. Penat rasanya setelah melalui perjalanan dari rumahnya hingga sampai di penginapan ini, apalagi sepanjang perjalanan gadis itu tidak bisa memejamkan mata barang sedikitpun.
“Eh, buka dulu sepatumu.” Tegur Bu Usman.
“Capek kali aku mak.” Keluh Dara. Dengan malas tangannya mulai menarik sneakernya hingga terlepas.
“Tidur lah dulu. Ayah mau keluar cari makan. Kamu mau makan apa?”
“Nasi padang pakai ayam bakar aja kalau ada Yah. Lapar kali perutku, sarapannya tadi kan habis subuh.”
“Ya sudah, nanti ayah belikan. Mamak mau pakai lauk apa?” tanya Pak Usman kepada istrinya.
“Mamak pakai perkedel aja yah.”
Setelah mengganti sepatunya dengan sandal, Pak Usman segera keluar menuju jalan di depan penginapan yang memang ramai oleh penjual makanan.
“Mamak mandi duluan ya Ra.” Kata Bu Usman. Ketika tidak didengarnya sahutan dari Dara, Bu Usman menoleh dan mendapati kalau Dara sudah terlelap karena kelelahan.
Saat Pak Usman kembali dengan membawa kantung plastik berisi makan siang mereka, istrinya baru saja selesai mandi, sementara Dara masih tertidur nyenyak.
Bu Usman memutuskan untuk membangunkan Dara karena jam makan siang sudah lama berlalu.
“Ra, Dara, bangun, makan dulu. Ini nasinya nanti kembang kalau kelamaan dimakannya.”
Karena tidak ada reaksi, Bu Usman menggunjang tubuh Dara.
Akhirnya dengan berat Dara membuka matanya.
“Masih ngantuk aku mak, tapi lapar.” Kata Dara dengan suara serak.
“Cuci muka dulu lalu makan. Habis itu mandi dan sholat, nanti segar lagi.” Saran ayahnya.
Dara menuruti saran ayahnya dan melangkah kedalam kamar mandi untuk mencuci muka. Mereka makan tanpa bersuara karena semua memang merasa sangat lapar akibat perjalanan jauh yang melelahkan.
Sehabis magrib Andri menelpon ayahnya dari Surabaya. Ia sudah berada di stasiun Pasar Turi. Malam ini ia akan berangkat ke Jakarta naik kereta api untuk bertemu dengan keluarganya. Memang rencananya besok Andri akan membantu Dara mengurus pendaftaran di kampusnya.
Andri sengaja mengambil cuti dari kantornya agar bisa bertemu dengan Pak Usman sekeluarga. Mereka berencana untuk sama-sama mencarikan kost bagi Dara dan sekalian menikmati liburan bersama. Mumpung sekeluarga sedang kumpul di Jakarta.
Malam itu selepas isya Dara berbaring di tempat tidur sambil memegang remote tv yang digunakannya untuk mengganti saluran tv. Ia hanya sendiri di dalam kamar karena ayah dan ibunya keluar untuk membeli makan malam.
Dara yang masih merasa kenyang hanya meminta dibelikan martabak manis untuk cemilan. Rasanya perutnya masih penuh karena porsi nasi padang yang ia makan tadi benar-benar banyak dan ia menghabiskan semuanya. Mungkin efek kelaparan karena sarapan di medan tadi ia lakukan saat hari masih pagi sekali.
Gadis itu sedang menguap saat kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar.
“Heh, kalau menguap itu mulutnya ditutup.” Tegur ibunya.
Dara hanya nyengir.
“Jam berapa besok Bang Andri sampai yah?” tanya Dara.
“Sekitar jam setengah Sembilan.” Jawab Pak Usman, “Nanti abangmu langsung ambil rental mobil dari gambir jadi dia kesini nyetir sendiri.”
“Rupanya Abang tau jalan di Jakarta yah?”
“Ya, kata abangmu nanti dia pakai aplikasi map atau apalah itu.”
“Iya sih, sekarang semua serba gampang.”
“Ini martabaknya koq gak dimakan, Ra?”
“Nanti aja mak, masih penuh perutku. Aku mau tidur dulu, nanti malam kalau terbangun dan lapar aku mau makan martabaknya.”
Dara mulai mengambil posisi yang nyaman dan menutup badannya dengan selimut. Berada di kamar dengan pendingin ruangan seperti ini membuatnya merasa selalu ingin memejamkan mata. Di Medan dulu di kamarnya hanya ada kipas angin kecil, itu pun kadang nyalanya tersendat dan mengeluarkan bunyi yang berisik. Makanya Dara ingin menikmati nyamannya tidur di kamar yang sejuk. Mumpung masih disini, pikirnya.
Dengan senyum di bibirnya Dara memejamkan mata dan segera terlelap.