Sabtu siang itu Dara ditemani oleh Lina yang merupakan anak dari Pak Nasir tetangganya tadi. Rupanya Pak Nasir benar-benar meminta Lina untuk datang ke rumah Dara setelah dzuhur.
Lina yang kepo bertanya pada Dara mengenai kronologi kejadian di depan gang tadi. Sebenarnya Dara malas menceritakannya karena pasti akan membuat emosinya naik dan moodnya turun lagi. Tapi karena Dara merasa tidak enak kepada Lina yang sudah mau menemaninya makanya Dara menceritakan kejadian tadi kepada Lina.
Lina manggut-manggut mendengar penuturan Dara. Saat sampai di bagian SIM Dara yang disita oleh keponakan Pak handoko tadi, Lina tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya.
“Hah? SIM kau diambilnya? Koq bisa?”
“Itulah, seenaknya aja dia nahan SIM aku, kalo hilang gimana coba? Bukan gampang bikin SIM itu. Waktu ujian aku kena mental juga disenggak-senggak polisi yang sok galak,” Kata Dara berapi-api.
“Tau kau, dibilangnya SIM aku itu nembak, bikinnya di mall,” Tambah Dara sewot.
“Eh, tapi aku pernah jumpa cowok itu, ganteng juga lho dia,” Lina senyum-senyum sendiri, “Macam oppa oppa korea gitu.”
“Iish kau ini. Baru liat cowok kayak gitu aja udah melted. Ganteng kalo mulutnya pedes macan bon cabe level tiga puluh juga buat apa? Bikin ilfil tauk!”
Lina hanya nyengir mendengar Dara yang sewot. Sepertinya temannya ini sekarang punya dendam pribadi pada cowok yang telah menahan SIM nya itu.
“Eh, tapi kemarin ku dengar mamakku ngobrol sama istrinya Pak Handoko, katanya keponakannya itu mau balik ke Jakarta hari minggu besok. Jadi macam mana pula kalau SIM kau gak dibalikkannya?” tanya Lina sambil mengunyah kacang sukro yang dibelinya di warung sebelum datang ke rumah Dara tadi.
“Apa? Mati aku!” Dara melotot kaget.
“Lin, tolong aku. Bilang ayahmu buat bantu ngomong ke Pak Handoko nanti kalo rombongan pengantin udah balik kesini. Jangan tunggu lama-lama ya, langsung gitu. Kalo perlu kita cegat di ujung gang.”
“Ish, masak orang baru datang dicegat, Ra. Gak enak lah, mereka kan capek baru jalan jauh.”
“Ini urgent, darurat, Lin. Kalo SIM ku dibawanya ke Jakarta gimana? Kacau lah.”
Lina berpikir sejenak.
“Ya udah, nanti ku bilang sama ayahku.”
“Jangan nanti, sekarang,”rengek Dara.
“Gak bisa, Ra. Tadi waktu aku mau kesini ayahku baru mau tidur siang. Aku gak mau ganggu. Nanti aja ya,” Tawar Lina.
“Coba kau wa aja ayahmu, supaya begitu bangun tidur langsung baca pesanmu,” Desak Dara.
“Iyalah, iyalah, aku wa ayahku sekarang,” Akhirnya Lina mengalah dan mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada ayahnya.
“Makasih ya, Lin,” Ujar Dara lega, “Aku hutang budi sama kau. Nanti kalo SIM ku dah balik, kita makan bakso ujang di simpang barat, aku traktir.”
“Janji ya? Boleh tambah sate kerang kan?” wajah Lina berbinar mendengar janji Dara.
“Boleeeeh. Yang penting SIM ku harus balik dulu. Mana berani aku kesana kalo gak ada SIM, banyak polisi di simpang gatsu.”
Setelah itu mereka melanjutkan pembicaraan seputaran kelanjutan pendidikan masing-masing. Lina yang bercita-cita menjadi guru ingin melanjutkan kuliah di jurusan sastra Inggris. Sementara Dara masih berharap lulus di jalur undangan universitas negeri di ibukota jurusan ekonomi.
Sesekali Dara mengirimkan pesan kepada ayahnya menanyakan posisi rombongan saat ini supaya ia bisa bersiap-siap jika rombongan telah berada dekat di pemukiman mereka. Ayahnya mengatakan kalau rombongan akan kembali ke kota Medan pada pukul tiga sore. Perkiraan waktu tempuh perjalanan sekitar dua jam.
Saat adzan ashar berkumandang Lina pamit pulang dan berjanji untuk menemui dan menemani Dara saat akan menunggu rombongan pengantin kembali nanti.
Menjelang pukul lima sore Dara pergi ke rumah Lina setelah mandi dan sholat ashar. Pesan dari ayahnya mengatakan kalau rombongan sedang berhenti untuk sholat ashar dulu jadi kemungkingan sampai lewat sedikit dari waktu yang diperkirakan.
Dara duduk di teras rumah Pak Nasir ditemani Lina. Hatinya resah dan takut. Selain takut kalau Pak Handoko akan marah karena mobilnya rusak, Dara juga takut kena omelan ibunya.
Pengalaman mengajarkan pada Dara lebih baik jangan sampai membuat ibunya mengeluarkan jurus omelan kalau tidak ingin hidupnya menderita karena uang jajan yang di hentikan dan kunci motor yang disita.
Belum lagi kalau Pak Handoko minta ganti rugi kerusakan mobilnya. Mati lah aku! Bathin Dara resah. Bisa habis tabungannya. Padahal ia berencana ingin membeli jaket levi’s original, yang harganya lumayan mahal. Dia rela menabung dari uang jajannya berbulan-bulan demi bisa membeli barang yang diinginkannya itu.
Dara berdoa dalam hati, berharap seandainya memang harus membayar ganti rugi semoga itu tidak menghabiskan seluruh tabungannya sehingga ia masih bisa membeli jaket walaupun hanya jaket kw bukan yang asli.
Menjelang pukul lima tiga puluh mobil rombongan pengantar pengantin tiba di ujung gang. Dara yang telah bersiap-siap berdiri hendak menghampiri tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh Pak Nasir.
“Sudah, kamu tunggu disini saja. Biar bapak yang bicara dengan Pak Handoko dan ayahmu,” Kata Pak Nasir.
“Tapi Pak, gak enak saya dong, Masa bapak sendiri yang bicara,” Dara merasa sungkan.
“Kalau kamu ikut nanti mamakmu curiga. Kalau cuma Bapak yang kesana kan mamakmu nanti gak ikut nimbrung percakapan kami, paling juga langsung pulang, jadi kamu bisa aman,” Pak Nasir menjelaskan sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, Bapak pengertian kali sih Pak? Tau aja kalo mamak tuh suka ngamuk kalo aku bikin salah,” Dara mengelus dadanya, lega sedikit walau masih deg-degan.
Pak Nasir hanya terkekeh lalu berjalan menghampiri rombongan.
Dari jauh Dara memperhatikan Pak nasir memanggil ayahnya dan Pak Handoko kemudian mengajaknya berjalan agak menjauh dari rombongan yang mulai berjalan menuju rumah masing-masing.
Dara melihat ibunya berjalan masuk ke dalam gang bersama ibu-ibu rombongan lainnya. Ia pun menghampiri ibunya.
“Bawa apa mak?” tanya Dara sambil menunjuk kantong plastik yang ditenteng ibunya.
“Ini ada wajik dan kue lapis dari pihak pengantin perempuan. Ada ayam semur sama tauco juga ini, bisa buat makan kamu nanti. Katanya kamu mau bisa makan enak juga,” Jawab ibunya sambil mengulurkan kantong plastik itu pada Dara.
Aduh mamak ini, terus terang amat sih. Malu Dara ketauan kalau mengharap dapat oleh-oleh dari tempat pesta. Lagian mau makan enak ya masa harus nunggu dikasih orang sih? Mamak ini benar-benar manipol ah, keluh Dara dalam hati.
“Mamak aja lah yang bawa masuk. Aku baru keluar mau ngobrol sama Lina,” Dara beralasan. Padahal ia ingin bisa langsung menanyakan pada ayahnya nanti kalau pembicaraan dengan Pak Handoko sudah selesai.
Tanpa berkata lagi, Bu Usman masuk ke dalam rumah. sementara Dara masih celingukan mencari-cari sosok ayahnya dan Pak Handoko bersama Pak Nasir yang tidak terlihat lagi.
Hampir dua puluh menit Dara menunggu dengan resah sampai akhirnya di ujung gang terlihat ayahnya dan Pak Nasir berjalan bersisian masuk ke dalam gang. Dara gegas menghampiri.
“Gimana yah?” tanya Dara tanpa basa-basi.
“Apanya yang gimana?” tanya Pak Usman.
“Ish ayah. Yang tadi itu, SIM aku yang ditahan sama keponakan Pak Handoko itu lho Yah.”
“Koq bisa SIM kamu ditahan sama Bimo?” tanya ayahnya setengah menggodanya.
Oo, rupanya nama cowok judes itu Bimo.
“Ya aku kan gak sengaja bikin kaca lampu mobilnya pecah dan bodynya tergores. Tapi dia udah kayak polisi aja pake nahan-nahan SIM. Padahal itu gara-gara kucing nerjang aku, lihat nih, lenganku luka,” Dara menunjukkan goresan panjang bekas cakaran kucing di lengan kirinya sambil bersungut.
“Kamu udah minta maaf?” tanya ayahnya.
“Tadinya aku mau minta maaf, tapi dia parbada kali Yah, malah bilang aku ugal-ugalan dan SIM aku hasil nembak katanya, aku emosi lah. Gak jadi lah aku minta maaf.”
“Hush gak boleh begitu. Kamu harusnya minta maaf. Walau gimanapun juga kan mobil itu rusak karena terkena motor kamu yang jatuh.”
“Nanti aku minta maafnya sama Pak Handoko aja, gak mau sama ponakannya itu.”
Pak Usman hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan putri semata wayangnya itu. Ia memang tidak pernah bisa marah kepada Dara. Selalu sabar menghadapi tingkah laku putrinya yang terkadang lasak ini. Beda dengan istrinya yang bahkan tidak ragu menjewer telinga Dara jika gadis itu membuat kenakalan.
Sampai di depan rumah Pak Nasir mereka berpisah. Setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Nasir yang telah membantunya, Dara dan ayahnya kembali berjalan menuju rumah mereka.
“Jadi gimana Yah nasib SIM aku?” rengek Dara lagi.
“Kata Pak Handoko nanti akan ia mintakan pada ponakannya.”
“Terus, aku harus bayar ganti rugi gak, Yah?”
“Iya, nanti uang jajan kamu ayah potong selama sebulan,” kata-kata Pak Usman membuat Dara menghentikan langkahnya dan menatap ayahnya dengan tajam.
“Serius?”
Pak Usman menatap wajah khawatir putrinya dengan pandangan geli. Seketika Dara menyadari kalau ayahnya itu hanya menggodanya.
“Ish Ayah,” Dara mengerucutkan bibirnya.
“Pak Handoko tidak minta ganti rugi. Katanya mobilnya ada asuransi penuh,” Pak Usman menjelaskan.
“Alhamdulillah,” ujar Dara lega, “Pak Handoko itu baik banget ya, tapi koq keponakannya nyebelin sih?’”
“Hush!”
Dara hanya nyengir kuda. Hatinya lega karena uang tabungannya tidak jadi berkurang dan SIM nya akan kembali.
Dipeluknya erat lengan ayahnya sambil berjalan menuju rumah mereka dengan hati yang lega.
Minggu pagi itu Dara bermaksud mengunjungi rumah Pak Handoko untuk meminta maaf sekaligus menanyakan mengenai keberadaan SIM nya. Setelah mandi dan sarapan, sekitar pukul delapan pagi Dara berjalan keluar rumah menuju ujung gang,
Sesampainya di depan sebuah rumah berpagar hitam Dara menghentikan langkahnya dan memencet bel. Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka dan seorang wanita setengah baya keluar menghampiri Dara.
“Assalamualaikum, Wak.”
“Wa’alaikumsalam.Eh, Dara. Tumben pagi-pagi kesini, ada apa?” rupanya Bik Narti, art pak Handoko yang keluar menemui Dara.
Wanita itu membukakan pintu pagar.
“Ayok, masuk.”
Dara celingukan sejenak.
“Eh, Wak…. Pak Handoko ada?” tanyanya ragu karena melihat keadaan sekeliling yang sepi. Biasanya hari minggu begini istri Pak Handoko punya kebiasaan merawat tanaman-tanaman yang ada di halaman rumahnya.
“Bapak dan Ibu lagi antar Abang Bimo ke bandara. Hari ini dia pulang ke Jakarta,” Bik Narti menjelaskan.
Bibir Dara membetuk huruf O.
“Kalau begitu, nanti aja deh wak, aku balik lagi,” Kata Dara.
“Lho, gak masuk dulu?”
“Gak usah, Wak.”
Saat Dara hendak berbalik pulang, datang sebuah mobil putih hendak masuk ke halaman rumah. Pengemudi mobil itu menghentikan mobilnya di sebelah dara lalu membuka kaca disampingnya.
“Assalamualaikum, Pak,” Sapa Dara sopan. Rupanya pengemudi mobil itu adalah Pak Handoko yang ingin dijumpainya.
“Wa’alaikumsalam”
“Tumben Dara, udah lama gak main ke rumah Ibu,” Ujar Istri Pak Handoko.
Dara tersenyum menanggapi, “Iya Bu. Dara ada perlu sama Bapak.”
“Oh, ya udah, ayok masuk dulu,” Ajak Bu Handoko.
Bik Narti sudah membuka gerbang lebar-lebar agar mobil bisa masuk ke halaman.
Dara kembali berjalan masuk ke arah teras. Setelah mobil berhenti di depan garasi, kedua suami istri itu turun dan berjalan menghampiri Dara.
Dengan sopan Dara mencium tangan Pak Handoko dan istrinya.
“Kita ke dalam aja yuk, sekalian sarapan,” Kata Istri Pak Handoko.
“Eh, Dara udah sarapan tadi, Bu,” Tolak Dara.
“Ya gak apa, sarapan lagi. Ini ibu ada beli lupis, enak lho.”
Bu Handoko meraih pergelangan tangan Dara dan menariknya masuk ke dalam rumah.
“Bik, ini tolong disalin ke piring ya,” Katanya seraya menyerahkan kantong plastik kepada Bik Narti.
Dara mengikuti pasangan suami istri itu masuk kedalam rumah dan langsung menuju ruang makan.
“Kamu udah lama kali gak mau main kesini ya Dara,” Komentar Pak Handoko.
Dulu memang Dara cukup akrab dengan Wisnu, anak kedua Pak Handoko. Mereka adalah teman bermain sejak masih duduk di sekolah dasar. Dulu Wisnu sering mengajak teman-temannya termasuk Dara untuk bermain game di rumahnya atau sekedar duduk-duduk di teras untuk bernyanyi sambil bermain gitar bersama teman-teman mereka yang lain. Umur Wisnu lebih tua satu tahun dari Dara dan semenjak Wisnu kuliah di Bandung Dara memang tidak pernah lagi main ke rumah ini.
“Iya nih, Mbok ya sekali-kali main kesini nemeni ibu. Kalo pulang ngajar ibu kadang sendirian di rumah, kan bapak sering pulang malam, malah kadang dinas keluar kota,” Bu Rina menimpali perkataan suaminya.
“Eh, iya, maaf, Bu. Soalnya kemarin itu Dara juga lagi sibuk persiapan ujian.”
“Oh, kamu udah kelas dua belas ya? Udah mau lulus dong? Rencana mau kuliah dimana?” Bu Rina memberondong Dara dengan pertanyaan.
“Iya bu, ini udah selesai ujian, tinggal tunggu pengumuman lulus dan pengumunan hasil seleksi nilai untuk masuk universitas,”
“Rencananya kamu mau masuk mana?”
Pak Handoko duduk di sebelah istrinya. Bu Rina memberikan satu piring berisi lupis yang sudah disiram kuah gula aren kepada suaminya itu dan memberikan satu piring lagi kepada Dara.
“Kemarin Dara coba urusan ekonomi di UI dan Unpad, Pak.”
“Mudah-mudahan lulus ya, Dara. Kalau keterima di Unpad nanti kamu bisa deket sama Adit dan Wisnu tuh.”
“Iya Pak. Kemaren sebelum pilih juga sempet tanya-tanya ke Bang Wisnu sih.”
Karena asik berbincang dan makan lupis akhirnya Dara malah lupa tujuan awalnya datang ke rumah Pak Handoko. Sampai saat Bu Rina masuk ke dalam kamar dan keluar lagi lalu menyerahkan SIM milik Dara.
“Oh iya, ini SIM kamu yang kemarin disimpan Bimo,” Kata Bu Rina sambil mengulurkan SIM kepada Dara.
“Aduuuh Bu, terima kasih… terima kasih, ya, Bu,” Dara berulang-ulang mengucapkan terima kasih karena gembira.
“Sebenarnya Dara kesini juga mau minta maaf atas kejadian kemarin itu Pak, Bu. Dara benar-benar gak sengaja. Gara-gara kucing berantem Dara jadi jatuh dan motornya kena mobil Bapak. Maaf sekali lagi ya, Pak.”
“Iya, udah gak apa. Lagian mobilnya juga ada asuransinya koq,” sahut Pak Handoko sambil tersenyum.
“Ih, tapi Dara gak enak dong Pak, Harusnya kan Dara yang bayar biaya perbaikan mobil Bapak,” Ujar Dara sok baik, padahal dalam hati dia bersyukur karena terbebas dari kewajiban membayar ganti rugi sehingga tabungannya bisa aman.
“Udah, gak usah dipikirin. Lagian kan itu juga bukan salah kamu. Namanya juga musibah,” Bu Rina menimpali.
Duuuuh, dua orang ini koq baik banget sih, jadi pengen dijadiin mertua deh, bathin Dara. Hush, ngarep!
Setelah menghabiskan sarapannya dan berbasa-basi sejenak, Dara pamit pulang. Sebelum pulang Bu Rina memberi Dara satu kantong plastik berisi jambu air hasil panen di halaman belakang rumahnya. Dulu sewaktu masih sering main ke rumah ini, Dara suka memanjat pohon jambu yang ada disana. Pohon jambu itu buahnya manis dan jarang yang busuk.
Mendapat rejeki satu kantong plastik penuh berisi jambu air kesukaannya, tentu saja Dara tak kan menolak.
Wuiiiih, benar-bener calon mertua idaman, dah.