POV Bimo
Menjelang magrib Om Handoko dan Tante Rina tiba rumah. Saat mereka memasuki rumah aku sedang berada di dalam kamar. Selesai sholat magrib barulah aku keluar kamar. Biasanya di rumah ini sehabis magrib akan makan malam bersama. Niatku memang untuk menceritakan kejadian siang tadi kepada Om Handoko.
Saat tiba di ruang makan, ku lihat tante Rina sedang meletakkan semangkuk sayur di meja. Tante Rina menatapku sambil tersenyum.
“Sudah jadi beli oleh-olehnya tadi, Bim?” tanya Tante Rina.
“Sudah Tan.” Sahutku, “Tante kapan sampai?”
“Sekitar setengah jam yang lalu.”
Tak lama berselang Om Handoko memasuki ruang makan dan langsung duduk di sebelah Tante Rina. Tante Rina mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk serta sayur lalu memberikannya kepada om ku.
Aku pun mengambil piring dan nasi, menambahkan sepotong ayam goreng dan tempe serta sambal.
“Gak pakai sayurnya?” tanya tante Rina melihatku hanya menambahkan lauk tanpa sayur.
“He he… gak suka sayur itu, Tan.” Sahutku sambil nyengir.
“Eh, ini enak lho, sayur daun ubi tumbuk. Waktu pertama-tama pindah ke Medan juga tante gak suka, tapi lama-lama malah ketagihan. Dulu art yang suka masak ini dan tante gak pernah mau makannya. Lalu sekali waktu tante cicipi, eh koq malah ketagihan. Apalagi makannya pakai lauk balado ikan asin” Tante Rina menjelaskan lalu terkekeh.
“Kamu kan dokter, masa gak doyan sayur. Harusnya kan jadi contoh sama pasien supaya mau makan makanan sehat dan bergizi.” Om Handoko sedikit mengejekku.
“Bukan gak doyan sayur Om, tapi aku gak suka sayur daun ubi tumbuk ini. Kalau sayur lain pasti aku suka, atau daun ubi ini di gulai aku doyan lah.” Kataku aku membela diri.
Om dan tanteku hanya terkekeh mendengar pembelaanku. Biasanya memang saat makan malam seperti inilah aku bisa lebih lama berinteraksi dengan om dan tanteku.
Om Handoko merupakan pegawai bumn di perkebunan. Dia sering bertugas di luar kota tempat perkebunan itu berada. Kalau tante Rina adalah seorang dosen di universitas negeri di kota ini. Jadi sehari-hari mereka cukup sibuk.
“Kamu sudah siapkan semua yang mau dibawa besok, Bim? Pesanan mamamu ada semua kan?” tante Rina kembali bertanya.
“Sudah Tan. Oleh-olehnya komplit, banyak malah. Besok pasti overload bagasi.”
“Ya gak apa lah, kan gak sering-sering juga kamu kesini.”
“Iya juga sih tan, makanya tadi aku beli sekalian lima kotak bika ambon, lima kotak lapis legit, lima kilo manisan jambu.”
“Hah, banyak kali. Apa di Jakarta gak ada yang jual bika ambon dan lapis legit?” komentar Om Handoko.
“Ya ada lah, Mas. Tapi rasanya kan beda. Aku pernah beli di toko bakery waktu ke Jakarta, memang bentuknya sama tapi rasanya beda banget.” Tante Rina yang menjawab pertanyaan Om Handoko.
“Oh gitu ya. Pantesan tantemu ini kalau mau nengok Adit dan Wisnu ke Bandung, bawa oleh-oleh macam mau buka toko.”
Aku dan Tante Rina tertawa mendengar ucapan Om Handoko. Adit dan Wisnu adalah kedua anak Om Handoko dan Tante Rina. Mereka berdua memang kuliah di Bandung.
“Om, ada yang mau aku ceritakan,” kataku setelah ku lihat Om Handoko telah menghabiskan makanan dan minum air dari gelas di depannya.
“Cerita apa?” tanya Om Handoko sambil meletakkan gelas yang telah kosong di atas meja.
“Itu Om, maaf, ada sedikit kejadian di depan gerbang tadi dan kaca sign pecah serta body mobil tergores.”
“Oh, itu? Iya Om sudah tahu, tadi jumpa Pak Nasir dan kebetulan ada juga pak Usman, jadi Pak Nasir cerita kejadiannya,” Om Handoko mengelap mulutnya dengan tissue, “Sudah beres urusannya, besok mobilnya biar dibawa ke bengkel langganan, kan masih ada asuransinya juga.”
Aku mengangguk mendengar Om Handoko bicara. Alhamdulillah Om Handoko sama sekali tidak marah, malah terlihat begitu santai. Memang om ku ini orangnya easy going, gak pernah membesar-besarkan masalah. Jadi aku tak perlu repot-repot menjelaskan detail kejadiannya.
“Besok sehabis subuh Om antar kamu ke airport pakai mobil Tante saja. Kebetulan senin Om akan ke kebun, nanti dijemput sama supir kantor, jadi mobil bisa masuk bengkel. Nanti biar kantor yang urus.”
Tuh, benar kan. Berurusan dengan Om Handoko gak bakalan dipersulit. Malah akan dicari solusi yang mudah. Tak heran om ku ini disukai oleh bawahannya di kantor dan juga para tetangga. Aku juga mengetahuinya dari cerita supir kantor yang pernah menjemputku saat baru tiba di Medan dan Om Handoko tidak bisa menjemput karena sedang dinas luar kota.
Saat aku akan beranjak meninggalkan ruang makan, tiba-tiba Om Handoko berkata lagi,
“Oh, jangan lupa nanti SIM punya Dara kamu titipkan pada Tante ya, biar besok bisa dikembalikan ke dia.”
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Terus terang aku lupa soal SIM yang ku simpan tadi.
Heeh, enak sekali gadis itu, tak harus bertanggung jawab mengganti kerusakan. Aku yakin Om Handoko tak akan menuntut apapun atas kerusakan mobilnya. Karena itu bukan mobilku ya aku tak bisa protes, walaupun dalam hati aku seperti tak rela kalau gadis bernama Dara itu tak mendapat sanksi apapun karena telah membuat mobil om ku rusak.
“Baik Om.” Jawabku lalu segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil SIM dan memberikannya kepada Tante Rina.
Sebelum memberikan SIM itu kepada Tante Rina, kusempatkan dulu untuk mengambil gambarnya dengan ponselku. Mana tahu kapan-kapan butuh, kataku dalam hati sambil tersenyum licik.
Perjalanan menuju bandara berlangsung lancar karena hari masih pagi dan lalulintas belum terlalu ramai. Letak rumah Om Handoko yang dekat dengan jalan tol memudahkan akses ke bandara sehingga dalam waktu kurang dari tiga puluh menit kami telah tiba di sana.
Setibanya di depan lobby masuk aku turun dari mobil untuk mengambil troli lalu menurunkan barang-barang dari bagasi mobil. Sebelum memasuki area check in yang terletak di lantai atas, aku mencium tangan om dan tanteku dan mengucapkan terima kasih.
Tante Rina memelukku dan mencium kedua belah pipiku. Tante ku ini memang memperlakukanku selayaknya putranya sendiri. Dulu sewaktu masih kecil kalau aku nakal ya dia tak segan memarahiku juga. Persis kalau ia memarahi Adit dan Wisnu sepupuku.
“Hati-hati ya, Bim. Kalau sudah landing nanti jangan lupa kasih kabar. Kirim salam buat papa dan mama mu, juga Ajeng.” Pesan tante Rima. Aku mengangguk mengiyakan.
Om Handoko menepuk bahuku dan mengucapkan selamat jalan. Setelah itu aku pun memasuki area check in. Walaupun penumpang ramai tapi antrian tidak terlalu lama karena ada banyak loket check in.
Benar saja, bagasiku kelebihan muatan sekitar sebelas kilogram! Hebat kan. Aku betul-betul harus mengklaim biaya kelebihan bagasi pada mbak Ajeng nanti. Sesaat sebelum boarding aku sempat mengabari mama dan Tante Rina. Mama langsung membalas chattinganku dan memberi info kalau mbak Ajeng dan anaknya, Kenzi yang akan menjemputku.
Jarak Medan Jakarta yang sekitar dua ribu kilometer ditempuh dalam waktu dua jam sepuluh menit. Ketika berada di dalam pesawat aku sempat tertidur dan terbangun saat pesawat sudah berada di atas teluk Jakarta.
Setelah pesawat benar-benar landing barulah aku mengikuti antrian turun menuju tempat pengambilan bagasi. Karena bagasiku lumayan banyak tentu saja aku menghabiskan waktu cukup lama untuk mengambilnya.
Ponsel ku berdering menampilkan nama kakakku. Saat ku angkat, mbak Ajeng menanyakan posisiku yang ku jawab kalau aku masih antri untuk mengambil bagasi. Ku dengar suara Kenzi bertanya apa pesawatku sudah mendarat atau belum. Sebelum sempat ku jawab, mbak Ajeng sudah menutup teleponnya.
Akhirnya seluruh bagasiku berhasil terkumpul walau memakan waktu cukup lama. Memang dibutuhkan kesabaran ekstra saat kita mengantri bagasi, apalagi kalau jumlahnya banyak. Kadang barang-barang kita tidak datang pada saat yang bersamaan sehingga rasanya running belt berjalan sangat lambat dalam mengeluarkan bagasi penumpang.
Bergegas aku menuju ke pintu keluar. Dari balik kaca kulihat orang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun melambaikan tangan sambil berteriak memanggil namaku.
“Om Bimo!”
Aku melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Kenzi berlari ke arahku. Tak dihiraukan teriakan mbak Ajeng menyuruhnya agar berhati-hati. Sesampainya di depanku Kenzi menghambur ke dalam pelukanku dan langsung ku angkat tinggi-tinggi.
“Waduh, kamu tambah gede, makin berat nih.”
Kenzi tertawa dalam gendonganku.
Mbak Ajeng menghampiri kami dan mencium pipiku.
“Sehat kamu, Dek?”
“Alhamdulillah Mbak.”
“Kenzi koq gendong sih? Kasian Om Bimo, Kenzi kan udah besar, berat.” Kata mbak Ajeng pada Kenzi.
Kenzi menggelengkan kepalanya.
“Aku maunya digendong Om Bimo. Aku kan kangen, Mi.” kata Kenzi sambil tangannya memeluk leherku erat seakan takut dipaksa turun dari gendonganku.
“Gak apa mbak,” kataku, “Aku masih sanggup koq gendong Kenzi. Lebih berat lagi oleh-oleh pesenan mbak.”
Mbak Ajeng, menaikkan kedua alisnya.
“Maksud?”
“Maksudnya, sangking beratnya bagasi yang isinya oleh-oleh pesanan Mbak dan Mama jadi aku kena biaya overload deh.”
“Ooh, jadi ceritanya mau klaim ganti rugi gitu?”
“Yaa, asal Mbak pengertian aja.” Sahutku dengan wajah tanpa dosa.
“Dasar modus kamu.” Mbak Ajeng memukul bahuku. “Ya udah, nanti ku transfer aja ya.”
“Aseeeek.” Sorakku seperti anak kecil diberi permen, Kenzi ikut bersorak gembira walaupun aku tak yakin ia paham dengan apa yang kami bicarakan.
“Udah mau jadi dokter koq pelit. Harusnya kamu yang traktir dong sekalian syukuran gitu.” Kata mbak Ajeng.
“Ya, aku kan belum kerja Mbak. Masih miskin aku tuh. Uang bensin aja masih minta sama Mama.”
Aku dan Mbak Ajeng memang dekat walaupun jarak usia kami sekitar lima tahun. Kalau aku tidak punya uang, aku tak sungkan memintanya pada Mbak Ajeng.
Mbak Ajeng ini berprofesi sebagai notaris dan memiliki biro yang dikelolanya sendiri. Suaminya Mas Raka bekerja di perusahaan minyak di Qatar. Tiga bulan sekali mbak Ajeng pergi ke Qatar untuk berkumpul bersama suaminya atau Mas Raka yang pulang ke Indonesia.
Kami berjalan menuju tempat parkir kendaraan dengan Kenzi berada dalam gendonganku sementara mbak Ajeng meminta seorang porter membantu mendorong troli yang berisi bagasiku yang lumayan banyak.
“Kamu yang bawa ya.” Kata Mbak Ajeng sambil menyerahkan kunci mobilnya kepadaku.
“Mbak tadi nyetir sendiri?”
“He-eh.”
Aku menekan tombol unlock pada kunci mobil untuk membuka bagasi agar porter dapat menyusun barang-barang di dalam mobil.
“Kenzi mau duduk dimana?” tanyaku pada Kenzi. Anak itu menunjuk ke arah kursi penumpang di samping kursi supir.
“Di depan?” tanyaku memastikan dan Kenzi mengangguk.
Aku membuka pintu penumpang dan mendudukan Kenzi disana lalu memasangkan seatbelt. Setelah itu aku berjalan memutar menuju ke arah pintu supir. Porter sudah selesai menyusun barang. Setelah membayar jasa porter, Mbak Ajeng masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.
“Kita langsung ke rumah Mama atau ada tujuan lain?” tanyaku sambil menstarter mobil.
“Aku mau main time zone.” Teriak Kenzi.
Aku menatap ke arah Mbak Ajeng, meminta persetujuan.
“Jangan sekarang ya sayang. Om Bimo kan baru sampai, Eyang Uti dan Eyang Kung pasti kan kangen sama Om juga.” Mbak Ajeng membujuk Kenzi.
Kenzi langsung memasang wajah cemberut. Aku mengacak rambut Kenzie.
“Kita pulang dulu ke rumah Eyang ya, Nanti sore baru kita jalan-jalan main time zone.”
Mendengar perkataanku bola mata Kenzi langsung berbinar dan wajahnya ceria lagi.
“Benar ya Om? Kita mainnya yang lama ya, sampai dapat tiket segini.” Katanya sambil membuka kedua tangannya lebar-lebar sebagai isyarat seberapa banyak tiket time zone yang ingin ia dapatkan.
“Siap boss!” janjiku.
Mobil mulai meninggalkan area parkir bandara untuk menuju ke arah pintu tol. Jakarta di hari Minggu seperti ini lumayan ramai tapi perjalanan lancar tanpa ada kemacetan. Setelah tiga bulan tinggal di desa yang masih banyak ditumbuhi pohon-pohon dengan sawah hijau membentang dan udara yang bersih, kembali ke ibu kota sedikit membuatku merasa takut menghirup udara yang berdebu. Memang tingkat polusi di kota ini sudah semakin mengkhawatirkan.
Sepanjang perjalanan diisi oleh ocehan Kenzi yang bercerita mengenai sekolah dan teman-temannya. Sesekali mbak Ajeng bertanya mengenai pengalamanku selama KKN di desa terpencil juga kabar Om Handoko dan Tante Rina.
Ah, akhirnya selesai juga KKN dan aku bisa kembali lagi ke rumah.