POV Bimo
Pagi ini aku berniat membeli sarapan di gang belakang rumah Om Handoko. Kemarin pagi tante Rina mengajakku kesana untuk membeli nasi gurih dan lontong sayur serta gorengan. Rasanya enak dan cocok di lidahku. Mumpung masih berada di kota Medan, aku puas-puasin makan makanan khas daerah ini.
Karena om dan tante ikut acara mengantar pengantin ke kota Tebing Tinggi maka ku putuskan pergi membeli sarapan sendiri.
Om dan Tante memang hanya tinggal berdua karena kedua anak laki-lakinya melajutkan kuliah di Bandung. Di rumah ini memang ada seorang asisten rumah tangga tapi aku memilih untuk membeli sarapan sendiri ketimbang meminta tolong pada art. Toh jarak warung yang menjual sarapan itu juga tidak terlalu jauh dari rumah om ku.
Aku keluar rumah bersamaan dengan mobil rombongan pengantin akan berangkat menuju kota Tebing. Langkahku menyusuri gang yang bisa dilewati kendaraan roda empat menuju warung yang menjual sarapan.
Di sepanjang sisi gang rumah-rumah penduduk berderet rumah dengan halaman yang di penuhi pot-pot tanaman.
Saat aku tiba di depan warung itu, sang penjual baru saja selesai melayani seorang pembeli.
Pemilik warung yang mengenaliku sebagai keponakan om Handoko tersenyum ramah.
“Beli apa, Bang?”
“Nasi gurih satu, lontong satu, Bu. Bakwan dua, tempe dua,” Sahutku.
“Nasi dan lontongnya pakai telur bulat atau dadar?” tanya si penjual lagi yang aku lupa namanya walau kemarin tanteku sudah pernah memberitahu namanya padaku.
“Nasi pakai telur dadar, lontong pakai telur bulat.”
Penjual itu menyisihkan gorengan yang akan ku beli dan mulai menyiapkan pesananku. Seorang ibu datang untuk membeli sarapan juga. Kami saling senyum sekadar basa-basi.
“Wak, bakwannya habis ya?” tanya si ibu tadi.
“Iya bu. Tadi di borong sama Bu Retno untuk tukang yang mau memperbaiki atap rumahnya yang bocor katanya.” Jawab si ibu penjual sarapan, “Ini masih ada tahu dan tempe, kalau pisang masih ada di dalam sedang di goreng.”
Si pembeli pun mulai memilih-milih gorengan yang akan dibeli dan menyisihkannya.
Tak lama datang seorang pembeli lagi. Walaupun berjualan di gang, tapi pembeli sarapan di tempat itu cukup banyak.
“Beli apa Dara?” tanya si penjual lontong pada gadis yang baru datang tadi.
“Lontong wak, biasa. Sama gorengannya dua.”
“Sebentar ya, Uwak bungkuskan pesanan Ibu Hasan dan Abang ini dulu,” sahut si penjual.
“Kalo gitu gorengannya aku ambil satu dulu ya wak, lapar.” Kata si gadis yang rupanya bernama Dara. Tangannya langsung mencomot bakwan goreng milikku dan langsung menggigitnya.
Awalnya aku tidak menyadari sampai ketika si penjual sarapan itu berkata,
“Eh, aduh, itu bakwan punya Abang ini, tinggal dua biji. Gorengan yang ada tinggal tahu isi dan tempe.”
Tapi telat, bakwan goreng milikku telah masuk ke dalam mulutnya.
Si gadis bernama Dara itu sontak menghentikan kegiatan menggigit bakwan, tapi tetap saja itu bakwan sudah ada bekas gigitannya, ya kan?
“Uh… eh… ini maaf ya Bang, aku gak tau kalo bakwan ini punya Abang. Ini aku kembalikan.” Gadis itu terbata meminta maaf sambil meletakkan kembali bakwan yang sudah ada bekas gigitannya ke atas tempat gorengan.
Aku menatap Dara dengan pandangan jengkel. Gadis itu tak berani menatap wajahku. Ia memalingkan wajahnya.
“Ya siapa juga yang mau makan bakwan bekas gigitan kamu.” omelku pelan tapi kurasa ia dapat mendengarnya dengan jelas karena kulihat ia semakin salah tingkah.
Akhirnya ibu penjual sarapan berusaha menengahi.
“Ya udah, itu bakwan yang sudah kamu gigit ambil aja Dara, biar abang ini gorengannya ditukar sama tahu atau tempe. Gimana bang?” tanya ibu penjual sambil menoleh ke arahku.
Dara ikut menoleh, dan kami bertatapan mata. Gadis itu buru-buru membuang pandangannya ke arah lain. Sekilas ku lihat gadis ini berwajah cantik. Kulitnya putih bersih, hidung bangir, bibir merah merona. Eit, koq aku jadi menilai penampilan Dara sih?
Walau cantik tapi kalau kelakuan asal juga bisa bikin ilfil. Jadi perempuan koq gak tau sopan santun, main comot makanan orang. Kan bisa tanya dulu. Dasar gak ada akhlak. Aku menggerutu dalam hati.
“Iya Bu, gak apa,” Sahutku dengan ekspresi datar. Walaupun tidak ikhlas tapi terpaksa ku terima usulan dari si penjual sarapan tadi dari pada aku makan bakwan bekas gigitan si Dara, ish ogah deh.
Si penjual menyerahkan plastik kresek berisi pesananku. Setelah membayar pesanan dan mengucapkan terima kasih aku pun berlalu tanpa menoleh lagi.
Sesampai di rumah aku memberikan satu bungkus lontong sayur kepada Bik Narti, art di rumah om ku. Aku sendiri memilih sarapan nasi gurih dan bakwan goreng.
Hari ini aku akan pergi membeli oleh-oleh pesanan mama. Ya, setelah hampir tiga bulan berada di provinsi Sumatra Utara tepatnya di sebuah desa di daerah Kabanjahe, akhirnya aku berhasil menyelesaikan KKN dan akan kembali ke ibu kota.
Sebelum kembali ke Jakarta aku sengaja singgah ke rumah adik papaku yang tinggal di kota Medan. Sudah tiga hari aku berada disini dan rencananya besok akan kembali ke Jakarta dengan pesawat pagi.
Mama dan kakakku sudah mewanti-wanti agar dibelikan bika ambon, lapis legit dan manisan jambu yang merupakan oleh-oleh khas dari kota Medan. Berhubung besok aku mengambil jadwal penerbangan jam tujuh pagi, makanya semua pesanan mereka harus aku cari hari ini.
Tadi malam aku sudah meminta ijin pada om Handoko agar diperbolehkan memakai mobilnya untuk pergi membeli oleh-oleh. Tentu saja om ku itu mengijinkan. Jadi selesai sarapan aku pun lantas bersiap untuk berangkat.
Aku tahu kalau di pusat oleh-oleh itu selalu ramai pembeli. Tak jarang kita tidak kebagian karena banyaknya peminat. Tanpa berlama-lama aku pun mulai melajukan kendaraan membelah jalanan kota Medan yang mulai ramai di hari sabtu pagi.
Sesampai di tujuan untungnya semua yang akan aku beli masih tersedia cukup banyak stoknya. Aku mengambil beberapa kotak kue dan lima kilogram manisan jambu. Setelah kurasa cukup langsung ku bawa ke kasir untuk melakukan pembayaran dan sekalian dipacking.
Hups, lumayan berat juga packingan dua buah kardus berisi belanjaanku tadi. Kurasa besok bagasiku akan over load dan aku harus membayar biaya kelebihan muatan karena aku masih harus membawa satu buah kopor berisi pakaian dan satu buah travelling bag berisi buku-buku serta ransel.
Ingatkan aku untuk meminta ganti rugi pada kakakku atas biaya kelebihan bagasi ini ya.
Setelah meletakkan belanjaan di kursi belakang, aku mulai menjalankan mobil untuk kembali ke rumah Om Handoko.
Aku memarkirkan mobil di depan gerbang lalu beranjak turun untuk membuka pintu gerbang aku sengaja tidak membunyikan klakson karena tidak mau merepotkan Bik Narti hanya karena perkara membuka pintu gerbang.
Setelah membuka slot, aku mendorong pintu gerbang lebar-lebar agar mobil bisa masuk. Tiba-tiba terdengar bunyi…
Gubraaaak! Prang!
Saat aku mencari arah sumber suara, terlihat sebuah motor terguling di belakang mobil Om Handoko, ada pecahan kaca lampu sign berserak dibawah mobil.
Tak jauh dari sana seorang gadis terduduk dengan posisi telapak tangan kirinya menahan beban tubuhnya di trotoar.
Tak berapa lama orang-orang pun mulai berkerumun mengelilingi perempuan itu. Ada seorang bapak yang menghampirinya.
“Kamu gak apa-apa nak? Ada yang luka?” tanya si bapak.
Gadis itu hanya meringis, mungkin menahan pedih. Ia melihat ke arah lengan kirinya yang berdarah.
“Ini berdarah akibat cakaran kucing tadi ya. Tadi itu kucing lagi berantem, kejar-kejaran dari dalam gang sana,” Kata si bapak menjelaskan, “Lho, kamu anaknya pak Usman ya?”
Rupanya bapak tadi mengenali si gadis yang terjatuh dari motor itu.
Aku dan beberapa orang membantu menegakkan posisi motor yang terguling di sebelah mobil om Handoko. Ada pecahan berwarna merah berserakan di dekat mobil itu. Aku mengecek kerusakan pada mobil silver ini.
Kaca lampu sign pecah dan body belakang tergores cukup dalam. Aku menghampiri perempuan pengendara motor yang terjatuh itu. Saat itu ada seorang ibu mengulurkan segelas air mineral kemasan padanya.
“Minum dulu nak, biar hilang kagetnya,” Kata ibu itu pada si gadis.
Gadis itu menerima air kemasan dan meminumnya melalui sedotan. Kubiarkan gadis itu menghabiskan minumannya, setidaknya untuk menghilangkan shock akibat terjatuh dari motor.
“Kamu yang punya motor itu?” tanyaku setelah ia selesai minum.
Sambil memicingkan mata karena silau gadis berusaha melihat ke arah ku yang berbicara kepadanya. Rambut yang awut-awutan akibat terjatuh dari motor dan sebelah telapak tangan dipakai untuk menutupi sinar matahari di atas matanya membuatku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas
“Iya, itu motor saya. Kenapa Bang?” gadis balik bertanya.
Ya ampun, pakai tanya kenapa. Apa gak lihat ya itu kerusakan mobil akibat ditabrak oleh motornya. Mulai naik emosiku melihat reaksinya yang seperti tanpa dosa.
“Kamu harus ganti kerusakan mobil saya akibat ditabrak motor kamu!” kataku tanpa basa-basi lagi.
Gadis itu kaget mendengarnya. Ia berpaling ke arah mobil dan menatap serpihan berwarna merah yang bertebaran di lokasi tempat ia terjatuh tadi.
Gadis itu berusaha bangkit. Setelah bisa berdiri tegak, ia berjalan menghampiri mobil silver itu. Terlihat gadis itu memperhatikan kerusakan yang terdapat di body mobil. Mungkin menilai berapa kerugian yang harus ia bayar. Hah, bagus deh kalau sadar diri dan mau tanggung jawab, bathinku.
“Maaf, tapi saya gak se…” saat ia menoleh ke arahku, kamis ama-sama terkejut. Ternyata ia adalah gadis pembeli di warung penjual sarapan yang mengambil bakwanku tanpa ijin tadi pagi.
“Kamu?”
Aku tak dapat menyembunyikan perasaan kesal di wajahku..
“Kalau naik motor jangan ugal-ugalan?” gerutuku. “Kamu punya SIM gak?”
“Enak aja nuduh, saya gak ugal-ugalan!” sanggahnya, “Dan saya punya SIM.”
Lho, koq malah galakan dia? Bikin emosi jiwa nih anak.
“Mana SIM kamu?” tanyaku sambil menjulurkan tangannya.
Sekarang aku ingat namanya Dara. Aku ingin membuktikan kalau gadis ini benar-benar memiliki SIM. Banyak kan orang yang tidak punya SIM tapi berani berkeliaran di jalanan dan bertindak ugal-ugalan.
Gads itu terlihat kesal dan meraih dompet dari dalam saku celana jeansnya. Dikeluarkannya SIM dan diberikan kepadaku..
Aku mengamati dan membaca informasi yang terdaoat di SIM itu dengan seksama.
“Harusnya orang kayak kamu belum lolos bikin SIM, atau jangan-jangan kamu bikin SIM nya nembak ya? Atau bikin di mall?” ejekku..
“He dodol! Jangan sembarangannya! Ini SIM asli bukan kaleng-kaleng. Saya bikinnya juga pake test.”
“Kalau memang kamu bikin SIM dengan jalur yang benar seharusnya paham aturan di jalan raya dan gak ugal-ugalan. Mobil saya ini lagi parkir di depan gerbang lho, bukan lagi di jalan, koq bisa kamu seruduk sampai lampunya pecah begitu?” aku mempertahankan pendapatku.
“Saya gak ugal-ugalan ya! Saya paham aturan. Itu tadi ada kucing berantem dan loncat ke arah saya, makanya motor saya oleng dan jatuh. Salah siapa kamu parkir mobil sembarangan. Harusnya itu mobil kamu masukan ke dalam halaman, jangan di pinggir jalan.”
Perdebatan kami berdua semakin panas dan menjadi tontonan orang-orang di sekitar.
“Sudah-sudah, jangan ribut disini. Kita bicarakan baik-baik ya,” Bapak tadi berusaha melerai.
“Siapa nama kamu, nak?” tanya bapak itu kepadaku.
“Saya Bimo, Pak.”
“Nah nak Bimo, kita selesaikan secara kekeluargaan ya. Dara gak sengaja koq. Tadi saya juga lihat memang dia diterjang sama kucing yang lagi berantem makanya motornya oleng dan menabrak mobil nak Bimo,” Bapak itu berusaha menjelaskan dan membujukku.
“Terus gimana dengan mobil saya Pak? Kerusakannya ini harus diperbaiki kan? Dia gak bisa lepas tanggung jawab dong,” Kataku tetap ngotot meminta pertanggungjawaban.
Masalahnya ini bukan mobilku, aku juga pinjam. Kan tidak enak kalau nanti kalau mengembalikan mobil dalam keadaan rusak padahal waktu pinjam masih mulus.
Dara mendelikkan matanya ke arahku, aku pun balas menatapnya dengan tajam.
“Ya, begini saja. Kita kan tetangga. Kamu keponakan pak Handoko kan?” Aku mengangguk mendengar pertanyaan bapak itu.
“Pak Handoko kenal baik koq dengan Pak Usman, ayah si Dara ini. Nah karena saat ini Pak Handoko dan Pak Usman sedang sama-sama ikut mengantar pengantin ke Tebing, jadi nanti saja masalahnya dibicarakan lagi kalau para orang tua kalian sudah kembali, gimana?”
Aku memikirkan sejenak solusi yang ditawarkan bapak itu. Kemudian aku menghela nafas kasar.
“Baik Pak, saya akan tunggu sampai Om handoko pulang baru akan saya tanya pada beliau kelanjutan kasus ini. tapi sebelum ada keputusan dari Om Handoko SIM ini saya tahan ya pak, buat jaminan.”
“Eit, gak bisa!” protes Dara, “Apa hak kamu nahan SIM saya”
Kulihat wajah gadis itu sudah semakin memerah, entah karena menahan sakit atau karena kesal gara-gara SIM nya aku tahan. Aku tak peduli. Aku juga kan butuh jaminan agar dia nanti mau memperbaiki kerusakan mobil om Handoko.
Tanpa mempedulikan protes gadis itu , kumasukkan SIM ke dalam saku kemeja.
“Ya sudah pak, kalau begitu saya masukkan mobil ini dulu,” pamitku kepada Bapak tadi tanpa sedikitpun melirik ke arah Dara.
Setelah memarkirkan mobil di dalam halaman, aku berbalik untuk menutup gerbang. Tak kulihat lagi keberadaan gadis dan bapak tadi. Mungkin mereka sudah pulang. Orang-orang yang tadi berkerumun juga sekarang sudah membubarkan diri.
Ku ambil kotak kardus berisi oleh-oleh dari kursi belakang mobil dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal. Sungguh tak enak hatiku membayangkan harus menjelaskan kejadian tadi kepada om Handoko.
Dasar cewek gak ada akhlak!