Dara memejamkan matanya saat bokongnya mendarat di atas permukaan jalan yang berbatu. Pedih mak.
Kejadian itu sontak memancing orang-orang yang ada disana untuk berkerumun. Dara membuka matanya. Terik matahari membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali.
Telapak tangannya terasa pedih, mungkin lecet akibat tergores batu. Ada seorang bapak yang menghampirinya.
“Kamu gak apa-apa nak? Ada yang luka?” tanya si bapak terlihat khawatir.
Dara tak menjawab. Ia melihat ke arah lengan kirinya yang berdarah akibat cakaran kucing yang menerjangnya tadi. Bapak itu megikuti arah pandangan Dara.
“Ini berdarah akibat cakaran kucing tadi ya. Tadi itu kucing lagi berantem, kejar-kejaran dari dalam gang sana,” Kata si bapak menjelaskan, “Lho, kamu anaknya pak Usman ya?”
Rupanya bapak tadi baru menyadari bahwa gadis yang terjatuh dari motor itu adalah tetangganya. Begitu pun Dara yang mengenali Pak Nasir sebagai tetangga yang tinggal di dalam gang yang sama dengannya.
Beberapa orang membantu menegakkan posisi motor Dara yang terguling di sebelah mobil berwarna silver. Ada pecahan berwarna merah berserakan di dekat mobil itu. Seorang ibu mengulurkan segelas air mineral kemasan.
“Minum dulu nak, biar hilang kagetnya,” Kata ibu itu kepada Dara.
Dara menerima air kemasan itu. setelah mengucapkan terima kasih, ia meminumnya melalui sedotan. Beberapa orang berkerumun mengelilingi Dara yang masih terduduk di pinggir trotoar.
Sesosok tubuh tinggi menyeruak ke tengah kerumunan itu. Sosok itu menunduk menatap ke Dara yang masih duduk sambil meringis menahan perih di lengan kirinya akibat cakaran kucing yang cukup dalam dan juga luka di telapak tangannya yang tergores batu saat jatuh dari motor tadi.
“Kamu yang punya motor itu?” tanyanya.
Sambil memicingkan mata karena silau, Dara berusaha melihat wajah orang yang berbicara kepadanya.
“Iya, itu motor saya. Kenapa Bang?” Dara balik bertanya.
“Kamu harus ganti kerusakan mobil saya akibat ditabrak motor kamu!” kata orang itu sedikit ketus.
Dara kaget mendengarnya. Sontak matanya menatap serpihan berwarna merah yang bertebaran di lokasi tempat ia terjatuh tadi. Setelah ia amati rupanya serpihan itu adalah lampu sign mobil. Jantung Dara mencelos serasa mau lepas dari tempatnya.
Dara berusaha bangkit. Pak Nasir membantunya berdiri. Setelah bisa berdiri tegak, dengan tertatih Dara berjalan menghampiri mobil silver itu. Terlihat kaca lampu sign sebelah kanan pecah dan bumper mobil itu tergores serta sedikit penyok.
“Maaf, tapi saya gak se..,” Dara menoleh ke arah pemilik mobil itu dan terkejut. Ternyata si pemilik mobil adalah laki-laki yang dijumpainya di warung Wak Nur saat membeli sarapan tadi pagi.
“Kamu?”
Raut wajah kesal terpampang jelas di wajah tampan itu.
“Kalau naik motor jangan ugal-ugalan?” si laki-laki menggerutu. “Kamu punya SIM gak?”
“Enak aja nuduh, saya gak ugal-ugalan!” Dara terpancing juga emosinya, “Dan saya punya SIM.”
“Mana SIM kamu?” tanya si laki-laki itu sambil menjulurkan tangannya.
Dengan kesal Dara meraih dompet dari dalam saku celana jeansnya. Dikeluarkannya SIM dan diberikan kepada laki-laki itu.
Laki-laki di depannya mengamati dan membaca dengan cermat SIM yang ada di tangannya.
“Harusnya orang kayak kamu belum lolos bikin SIM, atau jangan-jangan kamu bikin SIM nya nembak ya? Atau bikin di mall?” ejek si laki-laki.
“He dodol! Jangan sembarangannya! Ini SIM asli bukan kaleng-kaleng. Saya bikinnya juga pake test,” Dara tersulut emosinya. Matanya melotot sengit. Ingin rasanya dia menyumpal mulut lemes laki-laki di depannya ini dengan sandal jepitnya yang putus talinya akibat terjatuh dari motor tadi.
“Kalau memang kamu bikin SIM dengan jalur yang benar seharusnya paham aturan di jalan raya dan gak ugal-ugalan. Mobil saya ini lagi parkir di depan gerbang lho, bukan lagi di jalan, koq bisa kamu seruduk sampai lampunya pecah begitu?” si laki-laki masih ngotot.
“Saya gak ugal-ugalan ya! Saya paham aturan. Itu tadi ada kucing berantem dan loncat ke arah saya, makanya motor saya oleng dan jatuh. Salah siapa kamu parkir mobil sembarangan. Harusnya itu mobil kamu masukan ke dalam halaman, jangan di pinggir jalan,”
Berdebatan keduanya semakin sengit dan memanas dan menjadi tontonan orang-orang yang berkerumun disekitar mereka.
“Sudah-sudah, jangan ribut disini. Kita bicarakan baik-baik ya,” Pak Nasir berusaha melerai.
“Siapa nama kamu, nak?” tanya Pak Nasir pada laki-laki itu.
“Saya Bimo, Pak.”
“Nah nak Bimo, kita selesaikan secara kekeluargaan ya. Dara gak sengaja koq. Tadi saya juga lihat memang dia diterjang sama kucing yang lagi berantem makanya motornya oleng dan menabrak mobil nak Bimo,” Pak Nasir berusaha menjelaskan duduk perkara kejadian yang memang dilihatnya secara langsung.
“Terus gimana dengan mobil saya Pak? Kerusakannya ini harus diperbaiki kan? Dia gak bisa lepas tanggung jawab dong,” Bimo masih tetap ngotot meminta pertanggungjawaban.
Dara makin mendelikkan matanya ke arah Bimo. Ingin rasanya ia menggaruk wajah tampan itu memakai kuku tajamnya, biar aja dia cacat, jadi jelek. Gak cocok punya wajah tampan tapi mulutnya judes banget, rutuknya dalam hati.
“Ya, begini saja. Kita kan tetangga. Kamu keponakan pak Handoko kan?” Bimo mengangguk mendengar pertanyaan Pak Nasir.
“Pak Handoko kenal baik koq dengan Pak Usman, ayah si Dara ini. Nah karena saat ini Pak Handoko dan Pak Usman sedang sama-sama ikut mengantar pengantin ke Tebing, jadi nanti saja masalahnya dibicarakan lagi kalau para orang tua kalian sudah kembali, gimana?”
Bimo nampak memikirkan solusi yang diberikan Pak Nasir. Kemudian ia menghela nafas kasar.
“Baik Pak, saya akan tunggu sampai Om handoko pulang baru akan saya tanya pada beliau kelanjutan kasus ini. Tapi sebelum ada keputusan dari Om Handoko SIM ini saya tahan ya pak, buat jaminan.”
“Eit, gak bisa!” protes Dara, “Apa hak kamu nahan SIM saya”
Dara sudah hampir menangis karena kesal dan menahan pedih akibat luka di tangan dan lengannya. Kakinya juga terkilir akibat terjatuh tadi.
Bimo tidak mempedulikan protes yang dilayangkan Dara. Ia mengantongi SIM gadis itu ke dalam saku kemejanya.
“Ya sudah pak, kalau begitu saya masukkan mobil ini dulu,” pamit Bimo kepada Pak Nasir tanpa sedikitpun melirik ke arah Dara.
Pak Nasir membimbing Dara untuk berjalan menuju arah gang rumahnya. Motor yang terparkir di sebelah mobil segera didorong oleh salah seorang tetangga Dara yang ikut menyaksikan kejadian itu.
“Pak, itu SIM saya nanti kalau gak dikembalikan gimana?” rengek Dara pada Pak Nasir.
“Sudah, nanti bapak yang bicara pada ayahmu. Nanti bapak yang akan menemani ayahmu ke rumah pak Handoko.”
“Janji ya pak, SIM nya harus balik ke saya jangan sampai hilang. Ish, susah tahu bikin SIM, pake test segala,” rengek Dara lagi.
Pak Nasir tersenyum mendengar rengekan Dara. Dara ini merupakan teman Lina, anaknya yang nomor dua. Dulu sewaktu kecil Dara sering main bersama Lina di rumahnya makanya ia cukup mengenal karakter Dara yang rada usil dan sedikit manja.
Sesampai di depan pagar rumah orang tuanya Dara membuka pintu pagar agar motor bisa dibawa masuk ke samping teras.
“Itu lukanya jangan lupa dibersihkan pakai alkohol dan dikasih obat ya. Kamu ada obat luka?”
Dara mengangguk. Ia berjalan ke arah pintu dengan tertatih karena kakinya yang terkilir terasa sakit.
“Itu kaki kamu terkilir ya?” tanya Pak Nasir yang melihat Dara berjalan terpincang-pincang.
“Sepertinya iya Pak,” Sahut Dara sambil meringis menahan sakit.
“Kamu bisa jalan gak?”
“Bisa Pak, gak parah koq sakitnya.”
“Ya sudah, nanti bapak akan suruh Lina kesini untuk nemami kamu ya.”
“Gak usah pak. Nanti malah merepotkan Lina, mana tahu dia ada acara,” Tolak Dara sungkan.
“Lina lagi di rumah koq. Dia gak ada acara kemana-mana,” Kata Pak Nasir, “Bapak pulang dulu ya.”
“Iya Pak, terima kasih ya.”
Pak nasir berjalan pulang ke rumahnya setelah terlebih dahulu menutup dan mengunci slot pintu pagar.
Dara menghampiri motor ayahnya untuk mengambil bungkusan nasi yang ada di bawah jok.
Baru diperhatikannya bahwa motor ayahnya tergores cukup banyak, untungnya kaca spion masih utuh. Sudah bisa dibayangkannya kalau ibunya nanti bakal mengomel panjang kali lebar karena kejadian ini.
Dara menghempusan nafas kasar lalu masuk ke dalam rumah. Bayangan nasi bungkus dengan lauk rendang kesukaannya sudah tidak lagi menggugah selera makannya. Ia hanya ingin ayahnya cepat pulang agar bisa menyelesaikan masalahnya dengan keponakan Pak Handoko tadi dan ia bisa mendapatkan SIM nya kembali.
Sial dua kali ah aku hari ini, gerutu Dara.
Entah kenapa dia bisa berurusan dengan laki-laki judes itu, sampai dua kali lagi. Bahkan yang kedua tadi sampai ia harus merelakan SIM-nya ditahan. Dara mengira-ngira berapa harga perbaikan mobil pak Handoko tadi. Sebagai orang yang menabrak mobil itu, ia sadar harus bertanggungjawab mengganti biaya perbaikannya. Hanya saja keuangannya juga kan terbatas, ia hanya seorang siswa yang baru lulus sekolah, belum bekerja, jajan saja masih minta sama orang tua, tentu saja ia tidak punya banyak uang, apalagi yang didengarnya perbaikan mobil itu biasanya mahal.
Bisa-bisa Dara terpaksa harus kerja rodi di rumah pak Handoko untuk mengganti biaya perbaikan mobil yang tak sanggup dibayarnya. Membayangkannya saja perut Dara sudah mulas. Bayangan bisa kuliah dan menjadi mahasiswi pelan-pelam memudar berganti bayangan dirinya memegang sapu dan pel sedang bersiap membersihkan rumah pak Handoko sebagai ganti rugi kerusakan mobilnya.
Hiii.... Dara bergidik ngeri.