Darah, Mawar, dan Janji
Hujan turun pelan, menetes di atas batu nisan yang mulai berlumut. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi bunga mawar yang layu.
Di sana, di tengah pemakaman yang sepi, sebuah tangan pucat meletakkan setangkai mawar hitam. Bunga itu tampak segar, namun di ujung kelopaknya menetes cairan merah—darah yang belum sempat mengering.
“Setiap janji akan menuntut balas,” bisik suara serak, nyaris tertelan angin. “Dan setiap cinta… akan selalu berhutang darah.”
Lalu senyap.
Hanya ada suara ranting patah dan desir hujan.
Beberapa tahun kemudian—
Nadine Ardelia Pramesti berdiri di depan pintu kosnya, baru pulang dari kampus. Hanya ada lampu jalan yang redup, dan dingin malam yang merambat di kulitnya. Pandangannya jatuh pada sesuatu yang tergeletak di depan pintu: setangkai mawar hitam, segar, basah oleh embun.
Tapi bukan itu yang membuat nadinya berdetak lebih cepat.
Di kelopak mawar itu, bercak merah pekat menetes, mengalir ke ubin lantai. Darah.
Di samping bunga, ada secarik kertas kusut dengan tulisan tangan yang tegas:
“Janji tak pernah mati, Nadine. Kau tahu itu.”
Tangannya gemetar. Ingatan yang selama ini berusaha ia kubur mulai mendesak naik ke permukaan. Janji lama, bisikan masa lalu, dan bayangan seseorang yang seharusnya telah tiada.
Mawar berdarah pertama telah datang.
Dan sejak malam itu, hidup Nadine tak akan pernah sama lagi.