“Hari yang terlihat biasa, sering kali menyimpan rahasia paling kelam.”
__________
Langit pagi itu masih berwarna pucat, seakan enggan meninggalkan kantung gelap malam. Nadine menatapnya lewat jendela kecil kos yang menghadap ke jalan sempit. Hujan tipis baru saja reda, menyisakan bau tanah basah yang merayap lewat kisi-kisi jendela. Ia mengikat rambut panjangnya yang sedikit kusut dengan karet seadanya, lalu menatap bayangannya di cermin kecil yang retak di sudut kanan.
Mata cokelatnya tampak lelah meski ini baru hari pertama kuliah semester baru. “Mungkin karena tidur terlalu larut lagi,” gumamnya. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat jantungnya berdebar sejak ia membuka mata pagi itu. Entah apa.
Kos Nadine terletak di gang yang ramai dengan suara motor dan penjual sarapan. Dari kejauhan terdengar panggilan tukang bubur, suara plastik berkeresek, dan derit sepeda tua yang lewat terburu-buru. Ia menghirup dalam-dalam aroma nasi uduk yang menyeruak dari warung depan. Kehidupan di sekitar kampus selalu bergerak seperti arus: deras, tak memberi jeda.
“Din, ayo bareng!” suara familiar memanggil dari bawah.
Itu Paqita, sahabatnya sejak semester satu. Nadine tersenyum samar lalu meraih tas ransel yang penuh dengan buku catatan baru. Ia menuruni tangga kos, disambut Paqita yang sudah menunggu dengan senyum ceria dan eyeliner hitam yang terlalu tebal untuk jam segini.
“Kau tidur jam berapa semalam? Matamu kayak panda,” tanya Paqita sambil meraih lengan Nadine.
“Entahlah. Jam dua mungkin. Nggak bisa tidur.” Nadine berusaha tersenyum.
“Kau harus belajar tidur cepat. Kau ini bukan kelelawar.”
Mereka berjalan menyusuri gang kecil, melewati Safira yang muncul dari warung kopi dengan segelas plastik es kopi s**u. Safira terlihat paling rapi di antara mereka—kemeja putih licin, jilbab abu-abu muda, dan senyum yang lembut.
“Din, kamu kelihatan pucat,” ujar Safira sambil menyerahkan sedotan cadangan. “Mau coba?”
Nadine menolak halus. “Aku nggak biasa minum pagi-pagi. Nanti malah makin deg-degan.”
Ketiganya kemudian bertemu Khaidir di gerbang kampus. Lelaki itu berdiri sambil memainkan kunci motor, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya belum sepenuhnya terjaga.
“Kalian ini jam segini sudah heboh. Aku aja baru bangun setengah jam lalu,” katanya sambil menguap lebar.
“Khaidir, kau memang nggak pernah berubah,” ejek Paqita.
Keempat sahabat itu berjalan melewati halaman kampus yang ramai. Suara mahasiswa lain bercampur jadi satu: tawa, sapaan, derit kursi di koridor. Aroma wangi rokok dari gerombolan laki-laki bercampur dengan wangi parfum murahan dari toko sebelah.
Di kelas, suasana masih kacau. Suara kursi ditarik, buku dibuka, orang bercanda sambil teriak. Nadine duduk di dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat pohon flamboyan dengan daun yang masih basah oleh hujan. Cahaya matahari menembus tirai tipis, membuat ruang kelas berkilau samar.
Namun, perasaan aneh itu tetap ada. Nadine merasa seperti ada sesuatu yang memperhatikannya. Sesekali ia menoleh, tapi hanya ada wajah-wajah mahasiswa yang sibuk.
“Din, kau melamun?” tanya Safira yang duduk di sebelahnya.
“Tidak… hanya capek saja.”
Sepanjang hari, kuliah berjalan seperti biasa. Ada dosen yang terlalu banyak bicara, ada tugas perkenalan kelompok, ada obrolan ringan di kantin. Nadine mencoba larut dalam rutinitas itu, tetapi hatinya tetap diselimuti kegelisahan samar.
Di kantin, Paqita heboh bercerita tentang film horor baru yang ingin ia tonton.
“Aku nggak mungkin nonton film itu sendirian. Jadi kalian harus ikut. Setuju?” katanya sambil menusuk nugget dengan garpu plastik.
“Aku ikut kalau jamnya nggak bentrok sama kerjaanku,” jawab Khaidir.
“Kalau aku… lihat dulu trailernya, deh,” kata Safira dengan ragu.
Nadine hanya tersenyum tipis. Ia menatap meja penuh sisa makanan, mendengar suara riuh di sekitar, dan sesekali mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ada seekor kucing hitam yang duduk menatapnya lama, sebelum akhirnya berjalan pergi. Entah mengapa itu membuat nadinya bergetar.
Hari berakhir dengan hujan deras. Mereka berteduh sebentar di halte sebelum berpisah. Safira dijemput kakaknya, Paqita pulang ke kos berbeda, dan Khaidir naik motor ke arah barat. Nadine berjalan sendirian menyusuri gang kecil menuju kosnya.
Jalanan basah berkilau oleh lampu jalan. Bau aspal dan tanah basah memenuhi hidung. Suara hujan yang menetes dari atap rumah beradu dengan gesekan sandal Nadine di jalan licin.
Ia membuka gerbang kos yang sudah sepi. Lampu lorong berkedip-kedip, membuat bayangan bergerak di dinding. Nadine mengusap lengan karena udara terasa dingin.
Saat membuka pintu kamarnya, ia langsung merasakan hawa berbeda. Seperti ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Di atas meja belajarnya, tergeletak sebatang mawar hitam. Kelopaknya basah, dan dari ujung durinya menetes cairan merah gelap yang menyerupai darah. Aroma anyir samar menusuk hidung.
Jantung Nadine berdegup keras. Tangannya gemetar ketika ia mendekat. Di bawah batang mawar, ada secarik kertas kecil, terlipat rapi.
Ia membuka perlahan. Tulisan tangan di atasnya miring, tinta hitamnya menembus kertas tipis:
“Janji itu belum lunas. Ingat malam yang kau lupakan.”
Udara kamar seakan membeku. Nadine berdiri kaku, hanya bisa menatap mawar itu dengan wajah pucat.
Entah dari mana datangnya, entah siapa yang menaruhnya—tapi sesuatu yang gelap baru saja memasuki hidupnya.
Dan ia tahu, ini baru permulaan.