“Rahasia yang dipendam hati, selalu mencari cara untuk keluar.”
_________
Pagi berikutnya, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar Nadine, namun tidak mampu mengusir resah yang masih melekat di dadanya. Mawar hitam itu… ia tidak berani menyentuhnya lagi sejak semalam. Hanya menutupinya dengan buku catatan tebal, seakan benda itu bisa hilang begitu saja jika ditutupi. Tapi rasa dingin dan aroma anyir samar masih menempel di udara kamar, membuat tidurnya semalaman terasa patah-patah.
Ia menatap cermin retak di sudut kamar. Wajahnya tampak lebih pucat, lingkaran hitam di bawah mata semakin jelas. Nafasnya pendek, dadanya sesak oleh pikiran yang tak mau berhenti berputar. Ia mencoba menggelengkan kepala, menepis bayangan kertas dengan tulisan miring itu—“Janji itu belum lunas. Ingat malam yang kau lupakan.”
Namun, sekeras apa pun ia berusaha, kata-kata itu terus berdengung di kepalanya.
⸻
“Din, kau sakit?” suara Paqita langsung menyergapnya ketika Nadine turun dari kos. Paqita sedang duduk di motor bebek tuanya, helm setengah terbuka, alis terangkat curiga.
Nadine tersenyum kaku. “Nggak… cuma kurang tidur.”
Safira yang muncul beberapa detik kemudian memperhatikan Nadine lebih serius. Dengan jilbab rapi dan wajah segar, kontras sekali dengan tatapan lelah Nadine. “Aku serius, kamu kelihatan nggak enak badan. Ada yang mau diceritain?”
Pertanyaan itu seperti paku menusuk perut Nadine. Ingin rasanya ia berkata tentang mawar itu, tentang darah yang menetes, tentang kertas yang membuatnya hampir pingsan. Tapi lidahnya terasa berat. Bagaimana mungkin ia menjelaskan semua itu tanpa terdengar gila?
“Tidak apa-apa. Mungkin aku cuma butuh tidur lebih panjang,” jawabnya, memaksa senyum.
Paqita mendengus. “Kalau kamu terus begadang kayak hantu, jangan salahkan kami kalau nanti kamu beneran jadi pocong.”
Nadine menepuk lengan sahabatnya, pura-pura kesal. “Kamu itu, kalau ngomong suka keterlaluan.”
Namun di balik canda ringan itu, ada sesuatu yang terasa tidak selaras. Paqita dan Safira mungkin menelan alasan Nadine begitu saja, tapi tatapan mereka yang sesekali mengamati wajahnya membuat Nadine merasa telanjang—seolah rahasianya bisa terbaca kapan saja.
⸻
Hari di kampus berlangsung dengan rutinitas biasa, tapi bagi Nadine, segalanya terasa lebih lambat. Suara dosen menjelaskan materi terdengar seperti gema jauh yang tak bisa ia tangkap penuh. Pena di tangannya bergerak, menuliskan catatan seadanya, sementara pikirannya melayang ke meja belajarnya, ke mawar yang masih tertutup buku catatan.
Di sela-sela kelas, Khaidir muncul dengan langkah malasnya. Rambutnya lebih berantakan daripada kemarin, dan jaket hitamnya masih basah karena gerimis.
“Hei, kenapa wajahmu kayak habis dimarahi ibu kos?” katanya sambil menaruh tas di kursi sebelah Nadine.
“Biasa aja,” jawab Nadine singkat.
Khaidir mencondongkan badan, berbisik cukup keras. “Atau jangan-jangan… ada cowok yang bikin kau begadang?”
Paqita, yang duduk di depan, langsung menoleh sambil menepuk meja. “Hei! Jangan nuduh sembarangan. Nadine itu masih suci hatinya. Kalau ada cowok yang deketin, aku orang pertama yang tahu.”
Nadine menutup wajah dengan tangan, merasa pipinya panas. “Kalian berdua bisa diam nggak?”
Tawa kecil terdengar. Safira ikut tersenyum, meski matanya tetap menatap Nadine dengan ragu. Hanya satu kalimat yang Safira lontarkan, lembut namun menusuk: “Kalau ada yang kamu sembunyikan, Din… kau tahu, kan? Kita di sini untukmu.”
Nadine mengangguk pelan. Kata-kata itu seperti beban tambahan. Rahasia yang ia simpan seolah makin berat hanya karena kebaikan sahabatnya.
⸻
Senja turun cepat hari itu. Setelah kelas usai, mereka berempat sempat duduk di kantin, berbicara hal-hal remeh. Paqita sibuk memutar-mutar ponsel sambil mencari trailer film horor yang sempat ia bahas kemarin. Safira mengingatkan tugas kelompok. Sementara Khaidir tidak berhenti menggoda Nadine dengan celetukan konyol.
Di antara tawa dan obrolan itu, Nadine sempat berpikir: mungkin ia bisa pura-pura melupakan mawar itu. Mungkin benar, ini hanya ulah iseng seseorang. Tapi semakin ia berusaha menyangkal, semakin jelas bayangan bunga itu dalam kepalanya. Mawar hitam, duri merah, kertas dengan tulisan miring…
Ia merasa seperti hidup di dua dunia sekaligus: dunia nyata yang penuh tawa sahabat, dan dunia gelap yang mengintainya dari balik pintu kamar.
⸻
Malam tiba. Nadine pulang ke kos dengan langkah berat. Lorong sempit itu kembali sepi, hanya suara jangkrik bercampur gerimis yang masih jatuh pelan. Lampu neon di sudut lorong berkelip, membuat bayangan dinding bergoyang.
Sesampainya di kamar, udara dingin menyambutnya. Buku catatan masih menutup rapat sesuatu di meja. Nadine tidak berani mengangkatnya. Ia hanya meletakkan tas, menyalakan kipas angin, lalu merebahkan diri di kasur.
“Besok aku akan berpura-pura tidak melihat apa pun,” bisiknya pada diri sendiri. “Besok aku akan normal.”
Tapi malam punya kehendaknya sendiri.
⸻
Tidur Nadine datang dengan gelisah. Nafasnya tersengal, tubuhnya berputar di kasur. Dalam mimpinya, ia berada di sebuah ruangan gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lilin. Udara di sana begitu dingin, menusuk tulang.
Di tengah ruangan, ada sosok dirinya sendiri… lebih muda, dengan rambut terurai dan mata berkaca-kaca. Gadis itu berbisik pelan, seakan mengulang kata-kata yang pernah ia ucapkan entah kapan.
“Aku janji… aku akan menebusnya. Aku janji… jangan tinggalkan aku sendirian.”
Nadine ingin menjerit, ingin bertanya pada bayangan dirinya itu—janji apa, pada siapa? Tapi suara tenggelam dalam keheningan berat.
Kemudian, dari kegelapan, sebatang mawar hitam muncul, berdiri tegak seakan tumbuh dari lantai. Dari kelopaknya, darah menetes pelan, membentuk genangan merah di bawah kaki Nadine. Aroma anyir semakin kuat, menusuk hidung, membuat dadanya sesak.
Dan di balik bunga itu, suara samar terdengar:
“Janji itu belum lunas…”
Nadine terbangun dengan tubuh basah oleh keringat, d**a naik-turun cepat. Kamar gelap, hanya cahaya lampu jalan masuk lewat jendela. Ia menatap meja belajarnya yang masih ditempati buku catatan tebal.
Di balik benda itu, ia tahu mawar itu masih ada. Menunggu.