“Tak ada pertemuan yang benar-benar kebetulan; sebagian adalah rahasia yang menyamar.”
________
Sore itu, langit kampus berwarna jingga kusam, seolah matahari enggan tenggelam tapi juga tak sanggup bercahaya penuh. Cahaya yang jatuh melalui pepohonan flamboyan di halaman membentuk bayangan panjang, melintang seperti garis-garis samar yang membelah tanah. Nadine melangkah pelan, menapaki koridor menuju kantin yang mulai lengang.
Suara sandal gesek di lantai, riuh obrolan mahasiswa yang berangsur sepi, dan aroma kopi hitam bercampur gorengan memenuhi udara. Ia merasa aneh—setiap langkahnya terdengar lebih keras dari biasanya, setiap tarikan napas lebih berat, seolah ada mata yang mengikuti geraknya dari kejauhan.
Dan benar saja, ketika ia berbelok menuju deretan kursi kayu dekat jendela, ia melihatnya.
Seorang pria duduk sendirian di pojok kantin. Rambutnya agak panjang, jatuh menutupi dahi, dan tatapan matanya tajam tapi tak sepenuhnya bisa dibaca. Di depannya hanya ada segelas kopi hitam yang sudah setengah dingin, asapnya hampir habis.
Nadine tidak mengenalnya secara pribadi, tapi wajah itu bukan asing. Ia pernah mendengar namanya disebut di antara mahasiswa lain: Tylerandi, atau lebih sering dipanggil Andi. Senior yang katanya jarang bicara, jarang hadir di kelas, tapi sekali muncul selalu meninggalkan kesan aneh.
Entah kenapa, saat mata mereka bertemu sekilas, d**a Nadine langsung mengeras. Ada sesuatu di balik tatapan itu—bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi seolah ia menatap langsung ke bagian terdalam dari dirinya.
Ia buru-buru memalingkan wajah, duduk di kursi agak jauh. Tapi pikirannya tidak bisa lepas dari keberadaan pria itu.
⸻
“Sendirian?” suara berat itu tiba-tiba datang dari samping.
Nadine terlonjak kecil. Ia baru sadar bahwa Andi kini berdiri di dekatnya, gelas kopi masih di tangan. Ia menatap Nadine tanpa senyum, tapi juga tanpa ekspresi dingin—lebih seperti seseorang yang ingin mendengar jawaban, padahal sudah tahu kebenarannya.
“Eh… iya. Teman-temanku sudah pulang duluan,” jawab Nadine, berusaha terdengar tenang meski tangannya gelisah di atas meja.
Andi menarik kursi di depannya, duduk dengan gerakan tenang. “Boleh aku duduk di sini?”
Nadine mengangguk pelan. “Silakan.”
Sunyi sejenak. Hanya terdengar suara kipas tua di langit-langit yang berdecit, dan percikan hujan tipis di luar jendela.
“Aku sering lihat kamu,” ujar Andi akhirnya. Suaranya rendah, agak serak, tapi terdengar jelas. “Biasanya kamu duduk dekat jendela kelas. Selalu menatap keluar, seperti mencari sesuatu.”
Nadine tercekat. “Mungkin cuma kebiasaan.”
Andi menyesap kopinya perlahan. “Kebiasaan tidak pernah muncul tanpa alasan.”
Nadine menelan ludah, tak tahu harus menanggapi apa. Ada sesuatu dalam cara Andi berbicara: tenang, tapi setiap kata seperti menempel di kulit, menimbulkan dingin.
⸻
“Nama kamu Nadine, kan?”
“Iya.”
Andi menatapnya lama. “Indah. Nama yang berarti harapan. Tapi aku rasa kamu sedang kehilangan harapan.”
Kata-kata itu menusuk Nadine dalam-dalam. Jantungnya berdetak tak beraturan. Bagaimana bisa seorang yang baru ditemuinya berbicara seperti itu, seakan tahu sesuatu yang bahkan tak ia akui pada sahabat-sahabatnya?
“Kenapa kamu bilang begitu?” tanyanya pelan, hampir berbisik.
Andi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kopi hitamnya, lalu berkata: “Karena matamu berbicara. Dan mata tidak bisa berbohong.”
⸻
Nadine mengalihkan pandangan ke luar jendela. Hujan makin deras, butirannya memukul kaca dan membuat bayangan pepohonan kabur. Di dadanya, rasa takut dan penasaran bercampur jadi satu.
“Kalau kamu sering lihat aku,” kata Nadine mencoba terdengar wajar, “kenapa baru sekarang bicara?”
Andi mengangkat bahu tipis. “Karena baru sekarang waktunya. Pertemuan itu selalu datang sesuai jadwalnya.”
Ucapan itu membuat bulu kuduk Nadine meremang. Ia menggenggam erat jemari di pangkuannya, mencoba mengusir kegelisahan.
“Jadwal apa maksudmu?”
Andi tersenyum samar. “Nanti kamu akan tahu.”
⸻
Sunyi kembali menyelimuti mereka. Nadine merasa seolah seluruh kantin hilang, hanya ada dirinya dan Andi, duduk berhadapan dalam ruang yang dipenuhi gema pertanyaan tak terjawab.
Andi meneguk sisa kopinya, lalu berdiri. “Aku harus pergi.”
Nadine mengangguk. “Baik.”
Namun sebelum benar-benar meninggalkan meja, Andi menunduk sedikit, menatap Nadine dalam-dalam. Suaranya pelan, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Nadine membeku.
“Jaga dirimu. Ada hal-hal yang lebih dekat darimu daripada yang kau kira.”
Kemudian ia berjalan pergi, meninggalkan aroma samar kopi dan jejak langkah berat yang berangsur hilang di koridor.
⸻
Nadine tetap duduk, tubuhnya kaku. Kata-kata Andi bergema di kepalanya, bercampur dengan bayangan mawar hitam di mejanya, dan mimpi samar tentang janji yang terlupa.
Hatinya bergetar: pertemuan ini bukan kebetulan. Tidak mungkin.
Ia tahu, entah bagaimana, Andi memiliki kaitan dengan semua yang mulai mengelilinginya.
Dan itu berarti, ini baru awal dari sesuatu yang lebih gelap.