“Ada janji-janji yang tidak tidur, bahkan ketika kita menutup mata.”
_______
Angin malam merambat pelan lewat celah jendela, membawa sisa bau hujan yang belum kering. Kamar Nadine redup; satu-satunya cahaya datang dari lampu kecil di meja yang kepala lampunya dibalut selotip agar tak terlalu menyilaukan. Buku catatan tebal masih menindih sesuatu di bawahnya—sebatang mawar hitam yang sejak kemarin ia pura-pura lupakan. Kipas angin tua berputar, suaranya seperti napas rapuh yang tersengal setiap beberapa detik.
Nadine duduk di tepi kasur, lutut rapat, punggung bersandar pada dinding dingin. Ia menatap ponsel yang menampilkan jam 00.43, lalu mematikannya. Ia mencoba berdoa sebentar—bukan doa yang rapi dan panjang, hanya potongan-potongan kalimat yang disusun oleh rasa takut. Seperti itu, kepalanya sedikit lebih ringan. Ia memejamkan mata.
Malam menebal.
Mulanya hanya suara jauh—seperti gema langkah seseorang di lorong panjang. Satu, dua, jeda. Satu, dua, jeda. Nadine tahu ia telah tertidur ketika suara itu tidak lagi datang dari luar kamar, melainkan dari dalam kepalanya sendiri.
Dalam mimpinya, ia berdiri di sebuah tempat yang tidak punya nama. Seolah halaman sekolah yang lupa ditandai di peta, atau lapangan kota yang dicopot dari ingatan orang-orang. Tanahnya lembap, berbau lumpur dan akar. Langit tampak terlalu rendah, kelabu, dengan sayatan tipis cahaya bulan yang tersisa seperti goresan kuku pada kaca. Di kejauhan ada tembok bata yang setengah roboh, ditelan sulur-sulur tanaman yang berkilau basah. Angin membawa suara bisik-bisik yang tidak punya sumber, kalimat-kalimat berantakan yang hanya berani berdiri setengah.
“Nadine.”
Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa, hanya bayangannya sendiri yang memanjang di tanah, lebih gelap daripada seharusnya. Bayangan itu bergerak sedikit terlambat dari gerak tubuhnya, seperti enggan menyatu.
“Nadine,” panggilan itu datang lagi, lebih dekat. Lembut, tapi membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia melangkah, satu, dua, jeda. Tanah menghisap telapak kakinya, meninggalkan jejak kecil yang segera terisi air. Ia menyentuh tembok bata; dingin, licin, lumutnya menempel pada ujung jarinya. Ada setitik darah di sana—bukan miliknya, ia yakin—seperti cat yang disapukan jari seseorang yang tergesa. Jantungnya berdebar, ritmenya mengimbangi irama suara langkah yang terus menerus itu.
Di tengah tanah lapang yang tidak sepenuhnya lapang itu, ada bangku besi tua. Di atasnya, sebuah jam saku tergantung pada rantai tipis, berputar pelan seolah ditarik angin. Jarum jamnya tidak bergerak. Nadine mendekat dengan hati-hati. Ketika ia mengangkat jam itu, sesuatu menyentuh punggung tangannya—hangat, ringan, seperti napas.
“Jangan tinggalkan aku sendirian,” kata suara itu, samar, dari belakangnya.
Nadine menoleh cepat. Sosok itu berdiri tak jauh: setinggi dirinya, kurus, wajahnya kabur seperti dilapisi uap kaca. Rambutnya—apakah itu rambut?—terlihat pekat dan basah. Sosok itu tidak melangkah mendekat, tapi jaraknya terasa mustahil dekat, seperti hanya dipisahkan oleh satu helai napas.
“Kau ingat aku?” tanya sosok itu tanpa suara mulut, hanya gerakan bibir yang tidak sepenuhnya selesai. Ia mengangkat telapak tangan, ada bekas luka tipis memanjang dari pergelangan ke tengah telapak. Bekas yang Nadine kenali entah dari mana; pengenalannya datang bukan dari memori, tetapi dari tubuhnya sendiri yang bereaksi—dadanya sesak, tenggorokannya kering.
“Aku…” suara Nadine tidak stabil. “Siapa kau?”
Sosok itu tertawa tanpa suara, bahunya naik turun samar. “Kau yang berjanji,” katanya. “Kau yang memintaku menunggu.”
Kata berjanji memecah sesuatu di dalam kepala Nadine, seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan air tenang. Riak-riaknya menjalar ke mana-mana, menyentuh masa lalu yang seolah ditutup kain. Ia melihat kilasan: pagar besi yang berkarat, hujan deras yang memukul punggungnya, dua tangan yang saling menggenggam di bawah atap halte yang bocor. Ia mendengar suara dirinya sendiri—lebih muda, lebih berani—berkata cepat-cepat, “Aku janji. Jangan takut. Aku akan kembali.”
Kapan ia mengucapkan itu? Di mana? Pada siapa?
Mimpi menolak menjawab. Sebagai gantinya, angin membawa wangi tanah basah yang bercampur anyir tipis. Di tepi lapangan yang bukan lapangan itu, sesuatu bergerak: sebatang mawar hitam berdiri, tumbuh begitu saja dari tanah, duri-durinya panjang dan tajam seperti tulisan tergesa. Dari ujung salah satu durinya, menetes cairan merah gelap, satu tetes, dua, hilang ditelan tanah.
Nadine melangkah mundur. “Apa ini?” bisiknya.
Sosok itu memiringkan kepala, sedemikian rupa hingga kedekatannya terasa seperti beban di bahu. “Kau tidak melupakannya. Kau hanya menaruhnya di bawah buku.”
Mawar itu seakan tumbuh lebih tinggi sekarang, kelopaknya membuka satu per satu, memperlihatkan rongga gelap di tengahnya, seperti mata yang tak berkedip. Dari dalam rongga itu, terdengar suara berbisik-bisik, bukan bahasa yang ia kenali, tapi ritmenya seperti doa lama yang diucapkan terlalu sering sampai kehilangan makna. Hembusan dingin menyapu leher Nadine.
“Janji itu belum lunas,” kata sosok itu. Suaranya mendekat dan menjauh dalam satu tarikan napas. “Kau berjanji dengan sesuatu yang bukan hanya milikmu.”
“Aku tidak ingat,” kata Nadine, kali ini suaranya pecah. “Kalau aku berjanji, kapan? Pada siapa? Kenapa aku tidak ingat?”
Sosok itu tidak menjawab. Mata—atau bagian wajah yang kira-kira menjadi mata—menatapnya sengit dengan keteduhan yang aneh. Ia mengangkat jemari dan mengetuk pelan jam saku di tangan Nadine. Tuk. Jarum detik yang sedari tadi beku bergerak setengah detik, lalu berhenti lagi. Di sela sunyi, Nadine mendengar sesuatu yang baru: detak jantungnya sendiri, keras, memantul pada rongga tembok. Detak itu bergema, berebut tempat dengan bisikan yang semakin ramai.
“Jangan tinggalkan aku,” kata sosok itu lagi—kali ini seperti meniru suara Nadine yang lebih muda. “Kau janji… kita akan menebusnya bersama.”
Dunia mimpi berubah tepinya. Tembok bata memanjang, menjadi lorong yang tak selesai. Dari ujung lorong, seseorang berlari, menabrak bayangan orang lain, terjatuh, menahan nyeri di lutut, bangkit lagi. Nadine ingin berlari ke arah itu, ingin menolong, tapi kaki-kakinya menancap. Saat ia memaksa bergerak, tiba-tiba ada tangan—dingin, basah—mencengkeram pergelangannya dari balik punggung.
“Jangan,” bisik tangan itu. “Kalau kau melihat ke sana, kau akan mengingat. Dan kalau kau mengingat, sesuatu akan menagih.”
“Apa yang akan menagih?”
“Tetaplah tidur,” bisik yang lain, lebih jauh, lebih tua. “Tetaplah lupa.”
Nadine tak bisa. Ia menoleh, membebaskan pergelangan tangannya. Lorong itu seperti mulut panjang yang tertelan gelap. Di lantai, ada jejak-jejak air yang membentuk setengah huruf—atau setengah nama—yang digeser oleh langkah-langkah terburu. R… atau A… atau hanya coretan angin.
Mawar hitam di tengah lapangan berderak pelan seperti kain yang dikoyak, dan darah kembali menetes, menorehkan titik-titik merah pada kulit Nadine yang dingin. Ia menggigil. “Aku takut,” katanya lirih, bukan kepada siapa-siapa, tapi mimpi itu mendengar.
“Takut adalah cara janji mengingatkan jalan pulang,” jawab suara yang tidak punya wajah. “Kau janji, Nadine. Dan kami mendengar.”
Kami. Kata itu melintas seperti bayangan burung di permukaan air. Siapa kami? Kenapa bukan aku?
Sebelum pertanyaannya sempat membentuk kalimat, mimpi itu runtuh dari tepinya. Langit kelabu pecah, suara kipas angin tua menguat dari sangat jauh menjadi sangat dekat, dan bau tanah basah menjadi bau kamarnya sendiri—campuran kertas lama, deterjen murah, dan logam dari gagang jendela. Nadine membuka mata.
Kegelapan kamarnya bukan kegelapan mimpi, tetapi kegelapan yang ia kenal: lampu jalan menepi lewat kisi-kisi jendela, membuat garis-garis pucat di dinding. Ia mendengar napasnya sendiri menggasak, keringat merembes dari pelipis ke leher. Kaosnya menempel di punggung. Ia menelan ludah yang pahit.
Jam di ponsel menunjukkan 03.17.
Di suatu tempat dalam bangunan kos, pipa air berderit sebentar, lalu sunyi lagi. Nadine duduk perlahan, mencoba menata napas. Ia menoleh ke meja belajar—buku catatan tebal masih di sana, menutup sesuatu yang tidak ingin dilihat. Ia ingat mimpinya seperti mengingat bau seseorang yang pernah dekat: tidak seluruhnya, tapi cukup untuk membuat d**a sakit.
Ia bangkit, berjalan pelan ke pintu. Gagangnya dingin. Dia memeriksa kunci—masih tertutup rapat, dengan rantai kecil yang mengikat dari dalam. Nadine mengintip dari lubang mungil: lorong kosong, lampu neon berkelip sekali, lalu stabil. Suara helaan kipas dari kamar tetangga. Tidak ada langkah.
Ia menoleh ke jendela. Kunci jendela juga masih terpasang; pengaitnya berkarat, sulit dibuka dengan satu tangan. Kaca jendela berlendir embun tipis dari sisa hujan. Tak ada yang berubah. Semuanya seperti semalam.
Kecuali satu hal.
Di atas meja belajarnya, tepat di sisi buku catatan yang menindih mawar pertama, ada sesuatu yang belum ada ketika ia memejamkan mata: sebatang mawar hitam kedua. Ia tahu itu bahkan sebelum lampu diputar lebih terang. Kelopaknya mengilap dalam redup, hitamnya seperti menyerap cahaya, bukan memantulkannya. Di sepanjang durinya, cairan merah menggenang, siap menetes jika meja diguncang. Wangi anyir samar merayap pelan, memenuhi ruang sempit di sekitar meja. Ada sensasi metalik di lidah Nadine, seolah ia menggigit koin.
Ia mendekat, setiap langkah terasa memutus serat tenang yang tersisa dalam tubuhnya. Tidak mungkin, pikirnya. Pintu terkunci. Jendela terkunci. Tidak ada jalan lain.
Di bawah batang mawar kedua, tidak ada secarik kertas—tidak ada tulisan miring seperti semalam. Hanya setitik tanah gelap di ujung batang, melekat pada serat kayu meja, meninggalkan noda bulat sebesar koin kecil. Nadine menyentuhnya dengan ujung kuku: masih lembap, dingin, berbau hutan yang terlalu lama menahan air.
Tubuhnya bereaksi duluan. Ia mundur setapak, lalu dua. Napasnya memburu lagi. “Tidak,” katanya pada ruang yang tidak perlu meyakinkan siapa-siapa. “Tidak mungkin.”
Ia memaksa otaknya bekerja, mencari penjelasan: mungkin ia lupa mengunci pintu? Mungkin buku catatan bergeser, mawar pertama terjatuh, dan… tidak. Mawar pertama masih tertutup rapi; ia bisa melihat ujung daun yang terselip dari bawah buku. Dan yang ada di atas sekarang jelas mawar lain—kelopak, bentuk, bahkan aroma anyirnya lebih segar, lebih menusuk. Seolah-olah seseorang menaruhnya barusan, baru saja, sebelum jam 03.17.
Nadine menempelkan telapak tangan di dadanya, merasakan detak yang lebih cepat dari seharusnya. “Siapa di sini?” tanyanya, pelan, sebuah kebodohan refleks yang diharapkan tidak perlu dijawab.
Kosong membalas kosong.
Di cermin kecil di sudut kamar, ia menangkap pantulan dirinya: rambut kusut, mata merah, wajah pucat. Di belakang gambar itu, refleksi meja dengan dua mawar—satu di bawah buku, satu berdiri sendiri—membentuk sudut gelap yang tampak seperti mulut sempit, menunggu.
Ia melangkah ke pintu lagi dan menguji kunci untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, menggeser rantai kecil, menekan daun pintu. Pintu itu tidak bergeming. “Tidak mungkin,” ulangnya, kali ini hampir seperti doa.
Di luar, seekor kucing melenguh pendek, bunyinya terpantul oleh lorong. Nadine mengangkat ponsel, hendak menulis pesan di grup kecil mereka—Paqita, Safira, Khaidir—jari-jarinya sudah menyusun kata “bangun nggak?” namun ia berhenti. Apa yang harus ia jelaskan? Mawar hitam? Darah? Pintu terkunci? Mimpi yang mengandung janji yang bahkan tak bisa ia ingat utuh? Kata-kata itu akan terdengar seperti permainan pikiran orang yang kurang tidur. Dan, di dalam sesuatu yang lebih jujur dari logikanya sendiri, ia merasa diawasi. Seolah satu gerakan ceroboh—satu pesan—akan mengundang sesuatu untuk lebih dekat.
Nadine menurunkan ponsel, mematikannya lagi. Ia menatap mawar itu lama. Kelopaknya tidak bergerak, tentu saja, tetapi rasanya setiap detik bunga itu semakin ada, mengisi udara, menuntut tempat di kamarnya, di pikirannya, di tubuhnya.
Ia melangkah mundur sampai punggungnya menyentuh dinding, lalu slidings perlahan ke lantai. Lututnya ditekuk, lengan memeluk diri. Dinginnya lantai menembus tipis kaus kaki. Di kepalanya, kalimat dari mimpi bergaung—Kau berjanji. Dan kalimat dari semalam ikut menyusup, seperti tetap hidup di balik benda-benda: Janji itu belum lunas.
Nadine menutup mata, tapi yang datang bukan tidur. Yang datang adalah kesadaran baru, tajam, tak menyisakan ruang bagi alasan: seseorang—atau sesuatu—bisa masuk ke kamarnya tanpa ia sadari, bisa bergerak di antara napasnya, di antara detiknya, meninggalkan mawar berdarah seperti tanda tangan yang tidak membutuhkan saksi.
Dan kalau itu bisa terjadi sekali, dua kali—berapa kali lagi sampai janji yang ia lupa itu menagih seluruhnya?