“Rahasia yang dipendam terlalu lama selalu menuntut ruang untuk bernapas.”
_______
Pagi itu, udara di koridor kos masih lembap sisa hujan semalam. Nadine berjalan tergesa menuju kampus, berharap bisa menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya dengan senyum tipis. Tapi Paqita sudah menunggunya di gerbang kampus, dengan kedua tangan bersilang di d**a, wajah penuh curiga.
“Kau kira aku tidak melihat, Din?” katanya tanpa basa-basi. “Kamu makin pucat setiap hari. Matamu seperti orang yang baru kehilangan sesuatu. Ada apa?”
Nadine mencoba menghindar, menunduk sambil menarik ranselnya lebih erat. “Aku hanya kurang tidur.”
“Kurang tidur dari kapan? Dari kemarin? Dari lusa? Atau dari seminggu lalu?” Paqita menatap tajam, nada suaranya lebih dalam dari biasanya. “Jangan bohong. Aku tahu kalau ada sesuatu yang kau sembunyikan.”
Mereka berjalan berdampingan di trotoar, melewati bau gorengan dari kantin depan kampus. Suara mahasiswa yang bercanda di kejauhan kontras dengan ketegangan di antara mereka. Nadine menggigit bibir, berusaha mengendalikan napas yang mulai tidak teratur.
“Paq, tolong jangan sekarang. Aku nggak mau membicarakan ini.”
“Kenapa?” Paqita menghentikan langkahnya, menatap lurus. “Kau pikir aku ini sahabat hanya untuk dengar ceritamu yang lucu-lucu saja? Kalau kamu sakit, aku harus tahu. Kalau kamu punya masalah, aku harus dengar. Tapi sekarang, aku bahkan merasa… kamu menjauh.”
Kata-kata itu menusuk Nadine. Ia membuka mulut, tapi yang keluar hanya helaan napas. “Aku cuma nggak siap. Itu saja.”
Mata Paqita melembut sedikit, tapi masih ada bara yang tersisa. “Kalau kamu terus memendam, Din, jangan salahkan aku kalau suatu saat aku berhenti bertanya. Karena peduli itu capek kalau tidak pernah diberi ruang.”
Nadine menelan ludah, kepalanya menunduk. “Aku tahu. Maaf.”
Sunyi menutup percakapan mereka. Hanya suara langkah sepatu menabrak genangan air kecil yang tersisa di jalan. Di dalam hati, Nadine ingin sekali meraih tangan Paqita, berkata jujur, menceritakan tentang mawar-mawar hitam dan pesan-pesan samar itu. Tapi mulutnya terkunci oleh rasa takut. Bagaimana jika Paqita menertawakannya? Atau lebih buruk, bagaimana jika ia percaya, lalu ikut terseret dalam mimpi-mimpi kelam itu?
⸻
Hari kuliah berjalan datar. Safira tampak sibuk dengan catatannya, Khaidir sesekali menggoda, tapi suasana hati Nadine tetap kelabu. Setiap kali ia menoleh, ia bisa merasakan tatapan Paqita masih menembusnya—bukan sekadar menatap wajah, tapi seolah ingin merobek kulit untuk menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam.
Sepulang kuliah, Nadine berjalan cepat, meninggalkan Paqita yang memanggilnya dari kejauhan. Malam itu, ia menyalakan lampu kamar lebih terang dari biasanya. Bau samar dari mawar berdarah kedua masih mengisi udara, meski ia sudah membungkusnya dengan kantong plastik tebal. Aroma anyir dan manis bercampur, seperti besi panas yang disiram hujan.
Tangannya gemetar ketika ia membuka kantong itu. Kelopak mawar hitam masih basah, darah menempel pada plastik, membentuk noda merah tua. “Kau tidak nyata,” bisiknya, suaranya pecah. “Aku akan membuatmu hilang.”
Ia membawa kantong itu keluar kos, menyusuri jalan gelap di mana suara jangkrik bercampur dengan dengung lampu jalan. Udara malam menusuk kulitnya, membuat bulu kuduk berdiri. Ia terus berjalan sampai ke sungai kecil di ujung gang, tempat air mengalir deras membawa sampah plastik dan ranting.
Dengan satu tarikan napas panjang, Nadine melempar mawar itu ke dalam arus. Kantong plastik berputar sebentar, lalu tenggelam, hilang ditelan hitamnya air. Ia menutup wajah dengan tangan, mencoba percaya bahwa ini akhirnya selesai. Bahwa semua ini hanyalah permainan pikirannya sendiri.
Namun saat ia kembali ke kos, masuk ke kamar, dan mencoba memejamkan mata, bisikan samar datang dari sudut kepala. Tidak jelas, hanya gumaman yang mirip suara dirinya sendiri, tapi lebih muda, lebih putus asa.
“Janji itu belum lunas…”
Nadine menutup telinga dengan bantal, berusaha tidur.
⸻
Pagi berikutnya, cahaya matahari masuk lewat jendela. Burung gereja bercicit di atap, suara motor mahasiswa yang tergesa-gesa memenuhi gang. Nadine bangkit dengan kepala berat, rambut kusut menempel di pipi. Ia berusaha meyakinkan diri: mawar itu sudah hilang, hanyut jauh bersama arus.
Tapi ketika membuka pintu kamar untuk berangkat kuliah, tubuhnya membeku.
Di depan pintu, tergeletak sebatang mawar hitam yang sama. Kelopaknya masih basah, darah menetes segar ke lantai koridor, meninggalkan bercak kecil merah gelap di ubin.
Udara pagi yang seharusnya segar justru terisi aroma logam anyir yang menusuk hidungnya. Nadine mundur setapak, dadanya berdegup keras. Pintu kos di sebelah masih tertutup, lorong sunyi, tak ada siapa-siapa.
Namun bunga itu ada di sana, menunggu, seakan seseorang—atau sesuatu—selalu tahu ke mana ia melangkah.
Nadine berdiri mematung, tangannya gemetar di gagang pintu.
Ia sadar kini: ia tidak bisa lari dari janji itu. Rahasia yang ia coba buang selalu menemukan jalan pulang.