“Tawa kadang hanyalah tirai tipis, di baliknya rahasia masih bernafas.”
⸻
Safira-lah yang pertama kali melontarkan ide itu.
“Ayo kita keluar sore ini,” ucapnya di kantin kampus, sambil menepuk meja. Matanya berbinar dengan semangat yang jarang muncul belakangan ini. “Sekadar makan bareng, jalan sedikit, ngobrol tanpa beban. Kita butuh udara segar.”
Paqita mengangkat kedua tangan seperti sedang menyerah. “Akhirnya! Aku sudah hampir menyerah dengan hidup ini gara-gara nugget beku kantin. Kalau aku mati keracunan nugget, tolong bikin tugu peringatan di depan kelas.”
Tawa kecil terdengar di meja sebelah, tapi Paqita tidak peduli. Ia malah menegakkan tubuh, ekspresi dramatisnya membuat Nadine hampir tersenyum.
Safira melirik Nadine. “Din, kamu ikut, kan?”
Nadine menunduk sebentar sebelum mengangguk. “Ya… ikut.”
Jawaban itu singkat, tapi cukup untuk membuat Safira lega. Ada senyum tipis di wajahnya, walau Nadine tahu sahabatnya bisa membaca gurat lelah di matanya.
⸻
Sore itu, mereka bertiga berjalan menuju kafe baru dekat taman kota. Jalanan padat suara motor, klakson bersahutan, dan pedagang kaki lima berteriak menawarkan dagangan. Udara bercampur antara asap knalpot, bau sate ayam, dan gorengan hangat.
Nadine berjalan di tengah, langkahnya berat tapi tersamarkan oleh semangat kedua sahabatnya. Sesekali Paqita menggandeng lengannya, seperti memastikan ia tidak menghilang di antara keramaian.
Kafe itu hangat sejak pintu kacanya didorong. Lampu kuning temaram menggantung rendah, memantulkan cahaya pada dinding kayu yang berlapis poster musik lawas. Aroma kopi segar bercampur wangi kayu manis, membuat udara penuh rasa manis dan pahit sekaligus. Musik akustik mengalun lembut, suara gitar samar mengisi ruang.
Mereka memilih meja dekat jendela besar yang menghadap taman. Dari sana, terlihat langit yang perlahan memerah, anak-anak berlari mengejar balon, dan pasangan muda yang duduk berdekatan di bangku taman.
“Ini lebih baik,” kata Safira sambil menaruh tas. “Kita butuh momen kayak gini.”
“Ya ampun, aku bisa bernafas lagi,” tambah Paqita sambil menjatuhkan tubuh ke kursi.
Nadine duduk pelan. Kehangatan kafe itu merembes ke tubuhnya, sedikit mengikis dingin yang sejak beberapa hari menempel di d**a.
⸻
Obrolan pun mengalir. Mereka bercanda tentang dosen yang selalu mengulang kata “pada intinya”, tentang mahasiswa populer yang baru putus cinta, bahkan tentang tukang parkir depan kampus yang hafal plat motor semua orang. Tawa mereka sesekali pecah keras, bercampur dengan bunyi sendok dan gelas di sekitar.
Nadine ikut tertawa, meski tawanya tidak sepenuhnya lepas. Untuk sesaat, ia merasa kembali normal. Tapi begitu ia menoleh, matanya menangkap seorang gadis asing di meja seberang.
Rambut hitam lurus sebahu, kulitnya pucat nyaris berkilau di bawah lampu, senyumnya manis ketika berbicara pada pelayan. Gerakannya anggun, terlalu halus. Gadis itu terlihat… sempurna.
Dan dalam hitungan menit, gadis itu menghampiri meja mereka.
“Hai,” sapanya ramah. “Kalian Nadine, Safira, dan Paqita, kan? Aku Diva. Kita satu kelas di teori komunikasi. Boleh gabung?”
Safira langsung menyambut. “Oh, tentu. Duduklah.”
Diva menarik kursi dengan gerakan tenang, lalu duduk. Dalam waktu singkat ia sudah menyatu, ikut tertawa pada lelucon Paqita, menimpali obrolan Safira, bahkan menoleh ke Nadine dengan senyum hangat.
“Senang akhirnya bisa ngobrol langsung,” kata Diva. “Kalian terlihat kompak sekali. Lingkar persahabatan yang hangat.”
Safira tersenyum. “Kita memang sudah lama bersama.”
“Aku selalu percaya,” lanjut Diva, “bahwa persahabatan itu tempat perlindungan paling aman.”
Kalimat itu membuat Nadine bergidik. Kata aman justru memanggil kembali bayangan mawar hitam berdarah, dan kertas bertuliskan janji yang belum lunas. Ia menunduk, mengaduk minumannya.
⸻
Malam merambat turun. Lampu-lampu di kafe makin redup, musik berganti lebih pelan. Safira dan Paqita tampak larut dalam obrolan dengan Diva. Nadine hanya sesekali menimpali, tapi matanya terus mengamati gerak-gerik gadis itu. Terlalu ramah, terlalu manis, terlalu sempurna—seperti sosok yang sengaja diciptakan untuk menenangkan semua orang.
Ketika mereka akhirnya berpisah di depan kampus, Diva melambaikan tangan sambil tersenyum. “Kita harus sering keluar bareng. Aku merasa sudah jadi bagian dari kalian.”
Paqita dan Safira menyahut riang, tapi Nadine hanya membalas dengan anggukan singkat. Ada sesuatu dalam dirinya yang berbisik: ada yang tidak benar.
⸻
Malam itu, Nadine membuka pintu kamar kos dengan tubuh lelah. Ia meletakkan tas di meja, menyalakan lampu, dan hampir langsung merebahkan diri di kasur. Tapi sesuatu membuatnya berhenti.
Ia membuka resleting tas, hendak mengambil buku catatan. Di sela halaman, ada secarik kertas terlipat rapi.
Tangannya gemetar saat menariknya keluar. Tulisan tinta hitam miring, sama persis dengan yang pernah ia temukan bersama mawar berdarah:
“Bahkan ketika kau tertawa bersama mereka, aku tetap melihatmu.”
Napas Nadine tercekat. Pintu kamar terkunci rapat, jendela tertutup, tas selalu di sampingnya sepanjang sore.
Tapi kertas itu ada di sana.
Jantungnya berdegup kencang. Ruang sempit kamar mendadak menelan udara, membuatnya sulit bernapas.
Ia sadar: tidak ada tempat yang benar-benar aman. Bahkan lingkar persahabatan yang hangat pun bisa ditembus oleh sesuatu yang terus membayangi.