“Di ujung telepon, tawa sering menjadi tirai untuk retak yang tak ingin kita tunjukkan.”
⸻
Malam menyusup pelan seperti kabut yang tak ingin dilihat. Kamar kos Nadine diterangi lampu meja kecil; cahayanya temaram, menimpa halaman buku catatan yang belum disentuh sejak sore. Kipas angin tua berputar, sendi-sendi besinya berdecit setiap beberapa detik seperti napas orang yang gelisah. Dari lorong, suara sandal seseorang lewat, srek… srek…, lalu menjauh, digantikan bunyi pintu ditutup pelan. Jauh di luar, motor melintas dengan knalpot yang agak serak, meninggalkan jejak dengung yang cepat pudar.
Di sudut meja, mawar hitam berdiri seperti bayangan yang lupa pulang—kelopaknya pekat, duri-durinya menampung sisa merah yang sudah mengering. Nadine menghindari menatapnya terlalu lama. Sejak menemukan secarik kertas terselip rapi di tasnya—tulisan yang sama persis dengan pesan mawar—kepalanya seperti dipenuhi lebah: riuh, panas, dan tak bisa diam.
Ponsel bergetar pelan di samping buku. Nama yang muncul di layar membuat bahunya menurun sedikit, seperti seseorang yang baru ingat bernapas.
Lani.
Nadine menatap sebentar, menelan ludah, lalu mengusap telapak tangannya pada celana training. Ia tekan tombol hijau.
“Haloo…” suara adiknya langsung meluncur, cerah dan manja. Ada bunyi renyah plastik di seberang sana, seperti seseorang sedang membuka bungkus keripik. “Mbak lagi apa? Kok baru angkat? Jangan-jangan lagi pacaran nih.”
Nadine tertawa kecil, separuhnya lega, separuhnya untuk menyamarkan sesuatu. “Pacaran sama buku catatan,” katanya. “Itu pun dia yang nolak aku.”
Lani pura-pura mendesah kecewa. “Ya ampun, kasihan sekali kakakku. Sudah cantik, pintar, baik hati, tapi dicuekin buku catatan. Buku macam apa itu? Suruh ke sini, biar aku nasehatin.”
Suara Lani membawa aroma rumah yang jauh—bau kayu lemari lama, bunyi televisi dari ruang tengah, langkah Mama yang biasanya pelan mendekat membawa teh. Nadine memejamkan mata sekejap, membiarkan kenangan itu menghangatkan bagian dingin di dadanya.
“Kamu di rumah?” tanya Nadine. “Mama di mana?”
“Di dapur. Lagi bikin kolak, padahal ini bukan Ramadhan, tapi Mama lagi pengen.” Lani tertawa kecil, lalu menurunkan suaranya dramatis. “Jangan bilang-bilang ya, tapi aku udah curi satu potong pisang.”
Dari latar suara Lani, terdengar benturan panci pada kompor, derik sendok mengaduk santan. Rasanya manis menyeruak dari imaji, menempel di lidah Nadine yang kering.
“Kamu gimana di kampus?” Lani melanjutkan. “Kos aman? Tetangga kamar masih yang suka karaoke sampai subuh itu?”
“Sudah pindah kayaknya. Sekarang gantian suara kucing berantem,” jawab Nadine. “Lebih tenang… kadang-kadang.”
“Kadang-kadang,” ulang Lani pelan, seperti mencatat sesuatu. “Mbak, hari ini makan apa? Jangan bilang cuma roti sama kopi, ya. Aku bisa mengadu ke Mama.”
Nadine melirik meja: ada sisa roti yang mengeras di piring, dan gelas yang berbekas garis kecokelatan di dindingnya. Ia memutar badan, menatap sisi lain kamar agar objek-objek itu keluar dari pandangannya.
“Tadi makan,” katanya, berusaha membuat suaranya enteng. “Kita bertiga ke kafe baru. Tempatnya bagus.”
“Kita bertiga? Dengan siapa? Safira sama Paqita?”
“Iya,” jawab Nadine, menautkan jari-jari agar tidak gemetar. “Ramai. Hangat.”
“Terus…” Lani menahan tawa. “Ada cowok ganteng yang melirik kakakku? Mengaku saja—aku sudah siap jadi adik ipar idaman.”
“Apa sih,” Nadine terkekeh. “Kamu kebanyakan nonton drama.”
“Kakakku juga sedang hidup dalam drama, kan?” Lani menimpali ringan. “Eh, benar, tadi Mama nanya, kapan Mbak pulang? Kangen, katanya.”
Nadine mencondongkan badan ke dinding dan menggambar lingkaran kecil di atas lututnya dengan ujung jemari. Pertanyaan yang hangat itu justru membuat rongga dadanya terasa sempit. Ia ingin menjawab: secepatnya, tapi apa yang bisa ia bawa pulang? Cerita tentang bunga berduri dan kata-kata miring yang menguntit?
“Kalau jadwal kuliah agak longgar,” katanya hati-hati. “Mungkin minggu depan.”
Lani menghela napas cukup panjang, bukan kecewa, lebih seperti menyimpan rindu yang terlalu kenyang. “Oke. Aku catat ya, mungkin minggu depan.” Suaranya kembali centil. “Tapi kalau Mbak bawa titipan basreng pedas paling enak di kota kita, mungkin bisa jadi pasti minggu depan.”
Nadine tertawa sungguhan kali ini. Tawa yang menepuk-nepuk bahu dari dalam, meski tidak mengusir gelap seluruhnya. “Aku usahakan, Neng.”
“Aku tunggu!” Lani menurunkan suara, seolah membisikkan rahasia. “Mbak, aku cerita sesuatu… Tadi sore ada anak baru di kelas seni, namanya katanya Dio. Semua orang heboh karena dia pinter gambar. Terus, terus… dia duduk dekat aku. Hah! Ternyata semesta belum meninggalkan kita.”
“Wah,” Nadine pura-pura takjub. “Kalau begitu, adekku siap jadi model lukis?”
“Model? Aku lebih cocok jadi kurator. Atau jadi muse, mungkin.” Lani tertawa ngakak, lalu merapatkan suara lagi. “Mbak… kamu sendiri gimana? Ada yang deketin? Aku tahu kamu bakal menyangkal, tapi feelingku ini jarang salah. Spill dikit, dong.”
Bayangan wajah Andi—tatapan tajamnya di pojok kantin, suaranya yang tenang seperti sungai di malam hari—melintas cepat di kepala Nadine. Ada sesuatu dari cara Andi memerhatikannya; bukan sekadar menatap, tetapi membaca. Seolah ia memegang halaman yang Nadine sendiri tak bisa membuka.
“Belum ada,” jawabnya, terlalu cepat. “Lagi fokus kuliah.”
“Hm.” Lani menahan suara, seperti seseorang yang sedang memeriksa peta rahasia. “Kalau begitu kenapa suaramu terdengar seperti orang yang menyembunyikan sesuatu?” Ia menambahkan nada menggoda di bagian akhir, tapi Nadine mengenal baik: di balik canda itu, ada pancingan kecil yang lembut.
“Apa sih…” Nadine menggeser posisi duduknya. Punggungnya berkeringat padahal kipas terus berputar. “Nggak ada apa-apa.”
“Benarkah?” Lani seperti menyibak tirai dengan ujung jarinya. Suara televisi di rumah merendah, mungkin Mama pindah saluran. “Aku kangen kamu, Mbak. Biasanya kamu bawel cerita hal-hal kecil—tukang parkir di kampus marah-marah, dosen favoritmu pakai sepatu warna tabrak, atau roti canai di kantin lagi enak. Sekarang… kau terdengar seperti orang yang berjalan pelan di koridor yang lampunya berkedip. Ngerti nggak maksudku?”
Kata-kata Lani melesak masuk begitu saja. Nadine menatap langit-langit, memandangi bayangan kipas yang bergerak seperti bunga raksasa memutar tanpa bunyi. Di tenggorokannya ada rasa besi yang samar. Ia melirik meja secara tidak sengaja; mawar itu tetap di sana, menghitam, seperti lubang kecil di malam.
“Kadang-kadang orang capek, Lani,” katanya, berusaha ringan. “Tugas menumpuk. Aku cuma butuh tidur panjang.”
“Kalau butuh tidur, matamu akan bilang ‘capek’. Tapi matamu…” Lani berhenti sebentar, suara di seberang menjadi lebih pelan. “Matamu bilang ‘takut’.”
Sunyi menetes di antara keduanya, seperti air dari kran yang tidak ditutup rapat. Nadine memutar ponsel, memperhatikan kilau halus pada tepi casing. Betapa mudahnya untuk bercerita sekarang: mengosongkan d**a, membiarkan suaranya mengalir menyebutkan mawar-mawar itu, tulisan miring, mimpi yang memanggil namanya dari tempat yang tak bernama. Tetapi begitu mudahnya juga untuk membuat Lani ikut terjebak di pusaran yang belum ia pahami.
“Lani,” katanya pelan, “kau masih kecil.”
“Empat belas bukan kecil, Mbak,” protes Lani otomatis, lalu menurunkan nada lagi. “Tapi… baiklah. Kalau memang kamu nggak mau cerita, aku tunggu. Aku cuma… aku cuma nggak suka mendengar suaramu seperti ini.”
Dari dapur rumah, suara Mama terdengar memanggil, samar, ditelan jarak. Lani menoleh—Nadine bisa membayangkan bagaimana ia menoleh—lalu kembali ke telepon.
“Mama nanya, kau mau kolak?” Lani tertawa sendiri. “Dia lupa kau ratusan kilometer dari sini.”
“Bilang aku juga kangen,” kata Nadine, suara menjadi lebih serak dari yang ia maksud. “Nanti kalau pulang, aku minta porsi dua.”
“Deal.” Lani mengubah posisi telepon, terdengar kresak-kresek plastik keripik lagi. “Eh, Mbak, pertanyaan random—kamar kosmu… masih yang jendelanya kecil itu, kan? Aman? Kuncinya? Pintu? Jangan tidur lupa dikunci.”
Nadine tersentak ringan, bagian belakang lehernya terasa dingin. “Aku selalu kunci.”
“Jangan lupa, ya.” Lani seperti menepuk pundak dari jauh. “Aku sering kebayang kamu di sana. Kamar sempit, kipas bunyi ‘krek krek’, lampu kuning. Kamu duduk nulis. Sambil… entahlah. Aku cuma ingin kamu aman.”
“Aku aman.” Nadine berdiri, berjalan ke pintu, menyentuh rantai dan kunci. Dinginnya logam menyejukkan kulitnya sejenak. “Aman, Lani.”
“Baiklah, aku percaya.” Lani menghela napas, kali ini lebih lega. “Mbak, aku punya ide. Besok pagi aku telepon lagi, ya? Biar kamu bangun dengan suara paling merdu sedunia ini.”
“Waduh, merdu?” Nadine terkekeh. “Yang benar saja.”
“Kamu selalu meremehkanku.” Lani kembali tertawa, lalu menurunkan suaranya menjadi bisik-bisik yang jahil. “Terakhir, pertanyaan penting: ada cowok bernama huruf A, N, atau D, nggak? Feeling-ku—”
“Lanii,” potong Nadine, setengah malu, setengah ingin lari dari bayangan nama itu. “Tidur sana. Besok sekolah.”
“Ya ampun, ketahuan banget!” Lani bersorak kecil. “Baiklah, aku berhenti. Tapi ingat… semua rahasia itu seperti s**u UHT—punya tanggal kadaluarsa. Kalau disimpan terlalu lama, rasanya aneh.”
“Perumpamaan macam apa itu.” Nadine tak bisa menahan senyum. “Kamu ini.”
“Aku kangen. Itu maksudku.” Suara Lani meredup, menjadi jernih dan sederhana. “Aku sayang kamu, Mbak.”
Nadine mengatupkan mata, menahan sesuatu yang mendesak di balik kelopaknya. “Aku juga sayang kamu.”
“Tidur yang nyenyak, ya.”
Telepon berakhir dengan beep pendek yang terlalu cepat. Nadine menatap layar yang kembali gelap, lalu menaruh ponsel di meja. Kamar kembali terisi bunyi kipas dan dengung samar listrik. Ia duduk di tepi kasur, meremas ujung selimut sampai sudut-sudut kukunya memucat.
Ada dorongan kecil untuk menangis, tapi air mata seperti takut turun, menunggu perintah yang tidak datang. Ia menoleh perlahan. Mawar di sudut meja tetap menjadi titik pekat di ruangan—hitam yang tak bisa ditafsirkan, hitam yang menyerap cahaya. Ia memperhatikan detail yang sebelumnya dihindari: satu kelopak retak halus di tepinya, duri terpanjang dengan noda merah yang lebih tua, daun yang miring seolah ditekuk tangan seseorang. Di bawah vas seadanya—gelas bening tanpa pola—ada setitik tanah gelap yang belum kering benar. Bau samar anyir bercampur wangi manis kopi yang sudah dingin, menghasilkan aroma yang tidak punya nama.
Nadine berdiri mendekat. Setiap langkah seperti menyeberangi jarak yang bukan hanya jarak lantai. Ia berhenti di depan meja, menunduk. Di samping mawar, buku catatan terbuka pada halaman kosong. Di kotak kecil bayangan vas, ada remah kertas nyaris tak terlihat. Nadine mengangkatnya dengan dua jari—hanya serpihan kecil, mungkin bekas lipatan dari sesuatu yang pernah dibuka.
Ia menahan napas, mendengarkan. Tidak ada apa-apa selain kipas dan suara jauh motor yang tak jadi berhenti. Tapi hening malam punya cara sendiri untuk bicara: ia merasa diawasi lagi, bukan lewat mata manusia, melainkan lewat kehadiran yang terlalu dekat untuk diabaikan.
Kalimat Lani berputar di kepalanya—matamu bilang ‘takut’. Nadine memejamkan mata, menarik napas sedalam yang ia bisa. Ingin rasanya ia menelpon kembali, mengakui semuanya: mawar, kertas, mimpi, tatapan seorang senior yang seperti tahu lebih dari yang diucap. Namun rasa sayang yang sama menahan kata-kata di tenggorokannya—bukan karena ia tidak mempercayai Lani, tetapi karena ia ingin melindungi sesuatu yang selama ini menjaga mereka tetap sederhana: rumah yang aman, tawa di dapur, kolak yang selalu terlalu manis.
Ia membuka mata.
Di meja, mawar tetap diam. Tapi keberdiamannya adalah kalimat yang panjang.
Nadine meraih buku catatan, menutupnya perlahan seperti menutup pintu yang tidak ingin ditutup, lalu mematikan lampu meja. Kamar tenggelam dalam temaram lampu jalan yang masuk dari jendela; garis-garis pucat memanjat dinding, melengkung di atas cermin kecil yang retak. Ia duduk lagi di kasur, punggung bersandar ke dinding. Malam menempel di kulitnya, dingin dan tipis.
Pikirannya kembali pada kalimat di kertas yang ditemukan sore tadi: Bahkan ketika kau tertawa bersama mereka, aku tetap melihatmu. Kata-kata itu terasa lebih berat setelah telepon barusan, seolah seseorang ikut mendengarkan, menghitung jeda tawa, menandai helaan napas.
Ia menoleh sekali lagi ke arah meja. Mawar itu ada. Janji itu ada. Dan Lani—orang yang paling ia sayangi—berada terlalu dekat dengan garis yang ingin Nadine tetap jauh.
Nadine menarik selimut sampai sebatas d**a, menatap kosong ke langit-langit. Ia tahu, malam ini ia tidak akan menceritakan kebenaran pada siapa pun. Bahkan pada adik yang paling peka, paling setia, paling ingin tahu.
Ia mengembuskan napas panjang yang terasa seperti mengeluarkan sebagian namanya sendiri, lalu memejamkan mata. Namun sebelum gelap benar-benar menutup, pikirannya menancapkan satu kalimat pada dinding batin:
Ia menatap mawar di sudut kamarnya—dan mengerti, tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman, bahkan dari suara yang menyayanginya.