“Kadang kasih sayang terdengar seperti bentakan yang menyakitkan telinga.”
⸻
Malam menggantung berat di luar jendela kos. Udara lembap masih menyimpan sisa hujan sore, menempel di kaca, membentuk bercak samar seperti noda air mata. Lampu kamar berpendar kuning pucat, tidak cukup terang untuk mengusir bayangan yang bergerak pelan di dinding. Nadine duduk di tepi kasur, lutut tertekuk, punggung bersandar pada dinding yang dinginnya seperti meresap masuk ke tulang.
Ponsel di tangannya bergetar. Nama Hakam terpampang jelas di layar. Kakaknya.
Napas Nadine tertahan sejenak. Ia tahu suara di seberang sana tidak akan selembut suara Lani. Hakam selalu punya cara sendiri untuk menunjukkan perhatian: keras, meledak-ledak, seolah dunia ini hanya mengenal dua warna—hitam dan putih.
Ia tekan tombol hijau.
“Din.” Suara berat itu langsung mengalun, tanpa jeda, tanpa basa-basi. “Kenapa suaramu belakangan ini aneh?”
Nadine menggigit bibir. “Aneh gimana, Mas?”
“Jangan pura-pura b**o. Aku kakakmu.” Ada bunyi gesekan kursi di seberang sana, mungkin Hakam sedang berjalan bolak-balik di kamarnya. “Kamu sakit? Ada yang ganggu? Aku bisa dengar dari cara kamu jawab telepon.”
Nadine menelan ludah. Suaranya berusaha terdengar biasa. “Aku cuma capek kuliah. Tugas numpuk.”
“Capek kuliah? Aku juga kuliah dulu, Din. Capeknya beda sama suara orang yang ketakutan. Kamu pikir aku nggak bisa bedain?”
Nada Hakam meninggi. Nadine refleks menjauhkan ponsel dari telinga, tapi ia tetap mendengarkan. Di balik kerasnya suara itu, ia bisa merasakan ketulusan yang kaku.
“Mas, tolong jangan terlalu keras. Aku beneran baik-baik aja.”
“Din!” suara Hakam makin berat. “Kalau ada orang yang ganggu kamu, bilang. Aku bisa datang sekarang juga. Jangan pernah sembunyiin hal kayak gini.”
Hening sesaat. Nadine menatap lantai. Ada semut yang berjalan melewati ubin retak, bayangannya kecil tapi jelas di bawah cahaya lampu yang goyah. Ia ingin sekali bercerita: tentang mawar-mawar hitam, kertas bertuliskan janji, mimpi-mimpi yang membuatnya terbangun dengan keringat dingin. Tapi kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan, berhenti di sana seperti batu yang tak bisa ditelan.
“Mas, sungguh, nggak ada apa-apa. Aku cuma harus belajar lebih rajin. Jangan khawatir.”
Hakam mengembuskan napas panjang, terdengar kasar di seberang sana. “Kamu ini keras kepala, persis Bapak. Padahal aku cuma mau jaga kamu.” Suaranya melembut sedikit, meski masih terasa seperti batu. “Aku sayang sama kamu, Din. Jangan bikin aku harus nebak-nebak apa yang terjadi.”
Hati Nadine bergetar. “Aku tahu, Mas. Makasih.”
Ada jeda panjang, hanya suara bising televisi samar dari rumah yang masuk lewat sambungan. Akhirnya Hakam berkata, lebih pelan: “Oke. Tapi ingat, kalau ada apa-apa, aku orang pertama yang harus kamu hubungi. Paham?”
“Iya, Mas.”
“Baik. Tidur yang cukup. Jangan terlalu banyak begadang.”
Telepon terputus dengan bunyi beep yang terlalu singkat. Nadine menurunkan ponsel, menatap layar yang kembali hitam. d**a terasa sesak tapi juga lega—lega karena percakapan selesai, meski meninggalkan sisa getar di tubuhnya.
⸻
Kamar kembali sunyi. Hanya kipas angin berdecit, krek… krek…, dan suara tetesan air dari kran di kamar mandi lorong. Nadine meletakkan ponsel di meja, menutup mata sebentar.
Saat membukanya lagi, sesuatu membuat darahnya berdesir.
Di kursi belajarnya—kursi kayu sederhana yang tadi kosong—kini ada mawar hitam. Mawar ketiga.
Ia membeku. Matanya membesar, mulut terbuka tanpa suara.
Bunga itu tergeletak sempurna, batangnya miring seakan sengaja ditata. Dari ujung duri yang paling panjang, darah segar menetes ke lantai, membentuk bercak merah tua yang baru. Bau besi menusuk hidungnya, bercampur dengan manis yang busuk.
Lampu kamar bergetar sekali lagi, cahayanya redup sebentar, lalu kembali menyala. Bayangan mawar menari di dinding, lebih besar, lebih bengkok, seolah hidup sendiri.
Kulit Nadine merinding. Dingin menjalar dari jari kaki hingga tengkuk, seperti ada tangan es yang meraba naik perlahan. Jantungnya berdetak cepat, keras, hampir tak sinkron dengan napasnya.
Ia menoleh ke pintu: terkunci rapat, rantai masih menggantung. Jendela terkunci, pengait berkarat. Tidak ada celah masuk. Tidak ada suara langkah. Tidak ada yang bisa menyusup.
Tapi bunga itu ada.
Nadine meremas ujung selimut dengan jemari gemetar, mencoba meyakinkan diri bahwa ia masih sadar, masih berada di dunia nyata. Namun bau darah itu terus menusuk, nyata, terlalu nyata.
Mawar pertama di meja. Mawar kedua di pintu. Dan kini, mawar ketiga di kursinya sendiri.
Nadine ingin berteriak, tapi suaranya lenyap. Hanya jantungnya yang terus berteriak di dalam d**a.
Ia sadar satu hal: seseorang—atau sesuatu—bisa masuk ke kamarnya kapan saja, tanpa meninggalkan jejak.
Dan tidak ada kunci di dunia ini yang bisa melindunginya dari itu.