“Semakin rapat kau menutup jendela, semakin kecil celah yang dicari rahasia.”
⸻
Lampu kamar bergetar pelan seperti demam yang menolak turun. Cahayanya menguning, memantul pada dinding yang lembap, menampakkan garis-garis kusam bekas paku yang dicabut bertahun lalu. Udara dingin merayap dari lantai ubin; dingin yang punya gigi, menggigit pelan betis Nadine. Kipas angin tua berputar, sendinya mengeluarkan nada krek… krek… setiap beberapa detik, seperti napas orang yang sedang menahan tangis.
Di kursi kayu sederhana, mawar ketiga tergeletak—hitamnya meminum cahaya. Dari salah satu duri terpanjang, darah segar menitik lambat, membentuk bulatan merah tua di permukaan kayu, lalu melebar tipis seperti mata yang mengedip. Bau besi mengisi kamar, bercampur manis pahit dari kopi sisa di gelas, menghasilkan aroma yang membuat lidah Nadine terasa logam.
“Bagaimana kau masuk…” suaranya patah di tengah jalan.
Pintu terkunci rapat. Rantai kecil masih terpasang. Jendela terkunci pengaitnya, engselnya berkarat. Tidak ada suara langkah di lorong. Tidak ada jendela terbuka. Tidak ada tangan yang tampak. Namun bunga itu ada.
Nadine bergerak otomatis. Satu tangan meraih tisu, tangan lain mengangkat batang bunga dari kursi—hati-hati pada duri—namun ujung duri menyentuh kulit jempolnya juga. Nyeri kecil menyala, setitik darahnya sendiri muncul, bercampur dengan merah yang sudah ada. Ia meringis, menahan seruan. Dengan tangan bergetar, ia menyelipkan mawar ke gelas bening di pojok meja—gelas yang sudah menampung dua mawar sebelumnya. Tiga batang kini berdiri miring di sana, seperti tiga jarum jam yang menunjuk ke arah yang sama: sesuatu yang mendekat.
Di bawah gelas, ada noda tanah basah sebesar koin. Nadine menyeka cepat dengan tisu; tisu itu menampakkan warna cokelat-hitam dan sedikit merah. Ia menumpuk tisu di tong sampah kecil, lalu menekan-nekan bagian atasnya, seolah bisa menghapus jejak dengan tekanan.
Di meja, secarik kertas menunggu: kertas tipis dengan tinta hitam miring yang sama seperti sebelumnya. Nadine sempat menyelipkannya di bawah buku, tapi saat panik tadi kertas itu tersingkap. Kalimatnya seperti menatapnya kembali:
Janji itu belum lunas. Ingat malam yang kau lupakan.
Kata lupakan terasa seperti kuku dingin yang mengusap tengkuk. Nadine mengulurkan tangan untuk menutupnya lagi—
Tok. Tok.
Ketukan itu, pendek dan tegas, memutus napasnya. Jantungnya menghantam dinding d**a.
“Din?” Paqita. Suaranya ditahan, setengah cemas, setengah kesal. “Buka. Aku tahu kamu di dalam.”
Nadine melirik ke gelas mawar—bayangannya memanjang di dinding seperti bentuk mulut yang menganga. Ia meraih cardigan panjang, menutup gelas bunga dengan itu, menyamarkannya seperti tumpukan pakaian. Bau anyir masih menembus kain; ia tak punya waktu.
“Sebentar!” teriaknya, serak.
Ia menyelipkan kertas di antara dua buku catatan, menindihnya dengan kotak pensil. Lalu ia mengusap jempol berdarahnya pada tisu kering, menutup tong sampah. Dua langkah, tangan memutar kunci, rantai dibuka.
Paqita berdiri di ambang pintu, rambutnya diikat asal, hoodie kebesaran, sandal jepit masih basah di ujung. Matanya langsung menelusuri wajah Nadine—kebiasaan lama—lalu melewati bahunya, memindai kamar. “Kenapa lama banget?” gumamnya. “Aku ketuk dua kali.”
“Maaf,” kata Nadine, berusaha terdengar biasa. “Barusan… beres-beres.”
“Beres-beres atau hilang napas?” Paqita masuk, menutup pintu sendiri, memutar kunci—refleks lama seorang sahabat yang selalu ingin ruang menjadi milik mereka berdua. “Safira nyari kamu di grup. Kamu ngilang.” Ia melempar diri ke kasur tipis, hoodie jadi bantal darurat.
Kipas angin krek… krek… lagi. Lampu berkedip sekali. Paqita memicingkan mata. “Lampu kamarmu selalu kayak mau mati.”
“Seperti kita semua,” Nadine mencoba berseloroh, tapi suaranya tak punya semangat.
Paqita mengernyit. Hidungnya yang peka tampak bergerak sedikit. “Din, kamar kamu kok bau… apa ya? Bukan parfum. Bukan kopi juga.” Ia duduk lebih tegak, hidungnya menoleh—seekor anjing penjaga yang menangkap jejak.
“Bau…” Nadine menelan ludah. “Mungkin got. Dari kamar mandi lorong.”
Paqita menatapnya. “Got baunya besi begini?”
Nadine menurunkan pandangannya. “Kamu salah cium.”
Kalimat itu jatuh terlalu cepat. Paqita tidak membalas. Ia berdiri, menepuk-nepuk celana agar rapi, lalu berjalan santai ke arah meja. Nadine ikut bangkit, refleks mensejajari.
“Aku cuma mau minum,” kata Paqita ringan, tangannya terulur ke gelas bekas kopi di sisi lain meja yang memang kosong. Tapi matanya, tanpa sengaja atau terlalu sengaja, menangkap sesuatu di tepi buku catatan: tepi kertas yang tak tertutup sempurna.
Jemarinya berhenti. “Ini apa?”
“Tidak ada,” kata Nadine terlalu cepat.
Paqita tidak mengambil gelas. Ia menunjuk tepi kertas itu. “Aku lihat kertas. Boleh?”
“Paq, jangan—”
Terlambat. Dengan gerakan sederhana yang tak bisa dibatalkan, Paqita menarik kertas itu keluar. Kertas tipis, tulisan miring, tinta hitam seperti alis yang sedang mengerut.
Ia membaca cepat. Bibirnya membentuk kata tanpa suara. Alisnya naik. Matanya mencari mata Nadine.
“Janji itu belum lunas. Ingat malam yang kau lupakan.” Paqita mengulang pelan, kali ini bersuara. “Apa ini?”
Kamar mengecil di sekitar mereka. Kipas angin terus berdecit, bohlam mengeluarkan dengung halus. Di bawah cardigan, tiga mawar berdiri dan wangi anyir merambat pelan—Nadine berharap Paqita tak mencium lebih banyak dari yang sudah.
“Apa ini, Din?” Paqita mengangkat kertas setinggi d**a. Nada suaranya bukan marah, bukan juga bercanda. Takut, tapi tegas. “Siapa yang nulis ini?”
Nadine menelan udara dingin, namun udara itu punya tepi. Ia menarik kertas dari tangan Paqita—gerakannya lebih cepat dari yang ia rencanakan—lalu melipatnya dua, empat, seperti melipat mulut yang terlalu banyak bicara.
“Lelucon,” katanya, memaksa bibirnya untuk tersenyum. “Ada yang iseng. Mungkin anak-anak baru di lantai dua. Kamu tahu kan, mereka suka—”
“Lelucon?” Mata Paqita menyipit. “Lelucon yang mengirim ancaman samar begini? Din, ini bukan tiket konser. Ini menakutkan.”
“Itu cuma—”
“Cuma apa?” Paqita melangkah satu sentimeter lebih dekat. “Kamu bilang ‘cuma’, padahal aku lihat wajahmu sejak seminggu ini seperti orang yang nggak tidur. Kamu bilang ‘cuma’, padahal kamu menghilang dari grup. Kamu bilang ‘cuma’, padahal kamarmu bau besi—” Ia berhenti, menarik napas, menatap sekeliling. “Kamu nyembunyiin sesuatu.”
Nadine memeluk kotak pensil; entah kenapa benda itu terasa seperti pelindung tipis. “Aku nggak mau kamu khawatir.”
“Aku sudah khawatir,” balas Paqita cepat. “Itu masalahnya.”
Hening sejenak, hening yang bukan kosong: hening yang penuh desakan. Lampu bergetar lagi, semut kecil menyeberangi ubin di bawah kaki mereka, menghentikan langkahnya di noda kecokelatan yang gagal dibersihkan Nadine seluruhnya. Mata Paqita tak sengaja menuruni jalur tatapan itu; alisnya mengernyit, napasnya menahan.
“Apa itu?” tanyanya datar.
Nadine menggeser kaki, menutup noda dengan telapak. “Tadi aku jatuhin teh.”
“Teh warnanya begini?” Paqita menatap sepatu Nadine, lalu menatap mata Nadine lagi, lebih lama. “Din, aku minta tolong. Sekali ini aja: jujur.”
Nadine merasa tenggorokannya menjadi sumur tanpa suara. Kata-kata seperti berdiri di bibir, lalu jatuh lagi ke dalam gelap. Ia ingin bercerita semua: mawar pertama di meja, kedua di pintu, ketiga di kursi, tulisan di kertas, mimpi di mana janji itu disebut dengan bahasa yang tidak punya tanggal. Ia ingin mengeluarkan rasa takut dari dadanya dan meletakkannya di antara mereka agar bisa diukur bersama. Tapi sesuatu menahannya—bukan hanya malu, bukan hanya takut dibilang gila—melainkan takut menyeret Paqita ke pusat pusaran yang belum ia pahami.
“Itu…” Nadine menatap permukaan buku catatan, pelan, seperti memilih huruf. “Ada orang yang… iseng. Aku nggak tahu siapa.”
“Iseng seperti apa?”
“Nggak tahu.” Suaranya menjadi sangat kecil. “Mungkin anak kampus yang… suka bercanda keterlaluan.”
“Nama?” tanya Paqita. “Kamu punya nama?”
Nadine menggeleng.
“Waktu?” tanya Paqita. “Kapan mulai? Berapa kali?”
Nadine membuka mulut, menutupnya lagi. “Aku beneran nggak tahu. Paq, tolong… sudah, ya.”
Paqita tertawa—bukan tawa senang, bukan juga mengejek; tawa pendek orang yang kehabisan kartu. “Din, aku ini sahabatmu. Aku bukan orang lewat. Aku bukan tukang gosip. Aku… aku sayang sama kamu. Kenapa kamu nggak kasih aku masuk?”
“Bukan begitu,” bisik Nadine.
“Lalu bagaimana?” Paqita menatapnya seperti menatap kaca yang mengembun, berusaha menyeka dengan telapak tak terlihat. Ia menarik napas, menahan amarah yang nyaris jadi air mata. “Atau—apakah ini tentang Andi?”
Nama itu jatuh di antara mereka seperti sendok ke lantai. Nadine mendongak, tercekat.
“Aku lihat kalian ngobrol di kantin,” lanjut Paqita, suaranya mengendur, tapi tidak kembali lembut. “Dia menatapmu… berbeda. Kalau ini tentang dia, bilang. Biar aku—”
“Tidak.” Nadine terlalu cepat menyela, dan cepatnya justru menambah curiga. “Bukan. Ini bukan tentang siapa-siapa.”
Paqita mengusap wajah. “Din… aku tidak suka begini. Aku tidak suka kita jadi seperti orang asing di kamar sempit ini.”
Kipas angin krek… krek… lagi, seolah ikut mengangguk. Dari luar jendela, motor melintas, suaranya sebentar menebal lalu tipis. Nadine merasakan dingin menjalar dari lantai ke pergelangan tangan—dari gelas cardigan di meja, wangi besi manis masih menembus kain, menempel di udara.
“Aku akan lapor ke pengelola kos,” kata Paqita akhirnya, seperti seseorang yang menabrak dinding dan memilih jalan praktis. “Minimal minta ganti kunci. Pasang gembok tambahan. Pindah kamar kalau perlu.”
“Jangan,” potong Nadine, spontan.
“Kenapa jangan?”
Nadine tidak punya jawaban yang bisa diucapkan. Karena kunci tidak masalahnya. Karena pintu bukan satu-satunya jalan. Karena sesuatu sudah menemukan cara untuk masuk melalui hal-hal yang tidak punya engsel.
Paqita memperhatikan wajah Nadine. Ia menurunkan bahu, suaranya melembut seperti kain. “Kalau kamu nggak mau cerita sekarang, aku akan tunggu. Tapi jangan tutup aku terus-menerus. Jangan bikin aku menebak dari tanda-tanda bodoh yang bahkan kamu sembunyikan setengah hati.”
Nadine menahan napas. Ada rasa bersalah yang mengembang seperti adonan roti di d**a. “Maaf.”
“Maaf itu baik,” jawab Paqita, hambar. “Tapi jujur lebih baik.”
Keduanya terdiam. Dalam diam itu, Nadine merasakan sesuatu bergerak—bukan di kamar, melainkan di antara mereka. Jarak tipis yang baru, mengilap seperti kaca di pagi hari: sulit dilihat, mudah dirasakan.
Paqita memungut hoodie-nya. “Aku ke kamar dulu. Jawab di grup. Katakan apa saja—setidaknya bikin kami tidak menebak-nebak.” Ia menatap Nadine sekali lagi, lama. “Kalau kamu butuh aku menunggu di depan pintu semalaman, aku akan lakukan. Tapi jangan jadikan aku orang terakhir yang tahu.”
Nadine mengangguk. “Terima kasih.”
Paqita membuka kunci, memutar gagang. Sebelum keluar, hidungnya kembali mengernyit kecil, menoleh ke arah cardigan yang menutupi gelas. Ia tidak bertanya. Pintu menutup pelan; klik kunci di luar terdengar seperti titik pada kalimat yang terlalu panjang.
Kamar kembali pada nadanya sendiri: dengung listrik, krek kipas, kelip lampu, dan bau besi yang tetap tinggal. Nadine berjalan pelan ke meja, mengangkat cardigan. Tiga mawar berdiri, kelopaknya memantulkan sisa cahaya kuning. Di ujung duri, darah membeku setengah, membentuk kilap gelap.
Nadine menatap kertas yang tadi ia lipat empat; diluruskan, kerutannya menjadi garis-garis seperti peta kecil. Janji itu belum lunas. Ingat malam yang kau lupakan. Ia menekan kertas itu di bawah telapak, merasakan tipisnya melawan kulit.
Ia menutup mata, menarik napas, lalu mengembuskannya lewat mulut. Sesuatu di dalam dadanya bergerak, ketakutan dan keinginan untuk jujur saling tarik-menarik seperti tali yang mulai seratnya putus satu per satu.
Ia menyandarkan dahi pada punggung tangan. Di belakang kelopak matanya, bayangan wajah Paqita terbayang—mata yang memohon dan memarahi dalam satu tatapan. Berapa lama lagi ia bisa menjawab dengan lelucon iseng? Berapa banyak lagi mawar sebelum semua alasan terdengar seperti kebohongan yang bahkan tak ia percayai?
Lampu bergetar sekali lagi. Di dinding, bayangan tiga mawar menyatu sebentar—seperti tanda.
Nadine mengangkat kepala, menatap kamar yang terasa lebih sempit daripada lima menit lalu. Ia sadar—dengan kejelasan yang pahit—bahwa rahasia ini telah tumbuh lebih cepat daripada keberaniannya. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia tidak yakin bisa terus menyembunyikan semuanya dari sahabatnya sendiri.