Hutan di malam hari dingin dan gelap.
Kaelen duduk di bawah pohon besar, tubuhnya gemetar. Tangannya masih penuh darah. Darah ayahnya.
"Dia udah pergi," bisik Lira sambil menutup mata Kaelen dengan tangannya. "Jangan lihat lagi."
Kaelen gak jawab. Matanya kosong menatap kobaran api di kejauhan. Desa Elora... rumahnya... udah jadi abu.
Tiba-tiba dadanya sakit. Panas. Kayak ada bara api yang membakar dari dalam.
"Ahh!" Kaelen memegangi dadanya dan jatuh berlutut.
"Kaelen! Kamu kenapa?!" Lira panik.
Tanda sisik di punggung Kaelen bersinar terang. Cahaya keemasan menembus bajunya yang robek. Udara di sekitarnya jadi panas. Daun-daun kering di tanah mulai menghitam dan terbakar sendiri.
"Kekuatan itu... keluar," gumam Kaelen dengan suara serak. "Ayah bilang... jangan dipake..."
"Jangan dilawan!" teriak Lira. "Lepasin aja!"
Kaelen mengepalkan tangan. Ingatan tentang tombak yang menembus d**a Doran muncul lagi. Ingatan tentang tawa Komandan Kerajaan.
"Dendam..."
BOOM!
Gelombang panas meledak dari tubuh Kaelen. Pohon di depannya langsung patah dan terbakar. Tanah retak membentuk pola seperti cakar naga.
Lira terdorong ke belakang, tapi dia gak terluka.
Saat asap menghilang, Kaelen berdiri. Matanya... bukan mata manusia lagi. Pupilnya sipit seperti mata reptil. Di lengannya, sisik hitam tipis muncul dan menghilang.
"Ini..." Kaelen menatap tangannya sendiri. "Darah naga."
Lira mendekat pelan. "Kaelen, kamu masih kamu kan?"
Kaelen menoleh. Air matanya udah kering. Yang tersisa cuma tatapan dingin.
"Aku Kaelen," katanya pelan. "Anak desa yang pendiam. Yang hidupnya hancur saat kerajaan membakar desanya."
Dia mengepalkan tangan. Api kecil muncul di ujung jarinya.
"Kini aku harus mengendalikan kekuatan ini. Untuk bertahan hidup... dan membalas dendam."
Dari kejauhan, suara terompet perang terdengar. Prajurit kerajaan masih nyari yang selamat.
Lira menarik napas. "Kita harus pergi dari sini. Sekarang."
Kaelen mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, dia tersenyum. Tapi senyumnya gak hangat.
Senja di timur mulai menyingsing. Dan bersama matahari, lahirlah naga terakhir.