Pada suatu ketika, selama bertahun-tahun lalu manusia hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk lain di Negeri Damai. Namun karena kerakusan manusia, tanah di negeri ini dipenuhi kerusakan akibat perang-perang panjang yang hampir tidak ada habisnya.
Kerajaan-kerajaan lama yang saat itu berperang memperebutkan tanah demi tanah setiap sudut negeri ini. Dan di antara kerajaan-kerajaan lama itu, ada dua kerajaan besar yang dipimpin oleh dua keluarga tua: Keluarga Wallstar dari Kerajaan Selatan dan Keluarga Dargona dari Kerajaan Utara. Keluarga Wallstar dengan panji kastel bintang putih di baliknya langit senja oren dan di bawahnya bayangan pegunungan hitam. Sedangkan Keluarga Dargona dengan panji Naga yang menggeram menyemburkan api, emas di atas merah tua.
Dua keluarga besar dan tua ini hingga kini masih ada. Namun tidak seperti dulu, kini mereka bersahabat, layaknya teman perang. Dalam perang lama, yang terjadi lebih 100 tahun lalu itu. Kedua keluarga ini dipimpin oleh dua lelaki hebat: Aldric Wallstar dan Frederic Dargona.
Dahulu makhluk-makhuk magik masih berkeliaran dengan tenang di halaman-halaman depan manusia. Tapi kini entah mereka takut atau marah dengan manusia, membuat mereka sulit kali dijumpai. Mereka mengungsi ke hutan-hutan belantara saat api perang pertama berkecamuk.
Begitu juga dengan para penyihir—komunitas wanita-wanita yang akrab dan mampu mengendalikan kekuatan bernama sihir. Komunitas-komunitas penyihir ini tersebar di berbagai penjuru negeri: Selatan, Barat, Timur dan Utara. Setiap dari mereka memiliki pandangan dan cara hidup yang berbeda. Sedikit sekali informasi mengenai mereka. Dipercaya siapa yang bertemu para penyihir akan kehilangan nyawa dengan cepat.
Namun pada perang terakhir juga, mereka ikut berperan serta dalam peristiwa bersejarah itu. Rata-rata dari mereka berperang karena ingin melindungi wilayah mereka dengan cara ikut dalam salah satu kerajaan yang ada di wilayah mereka. Dan sayangnya kebanyakan dari mereka tidak menyadari dampak buruk menggunakan kekuatan sihir untuk berperang. Sihir-sihir itu sama halnya m*erusak* alam seperti alat-alat yang diciptakan manusia, tetapi lebih berbahaya. Dan kini mereka menyesal ikut andil dalam perang terakhir itu. Tapi tetap ada di antara mereka yang masih berada dalam koalisi kerajaan, seperti di Kerajaan Utara. Sedangkan Kerajaan Selatan, sudah lama sekali mereka memutuskan hubungan dengan wanita-wanita sihir itu. Sudah lama mereka tidak terlihat di wilayah Selatan.
“Bunda,” potong Varel kepada Ratu yang sedang bercerita. “Aku ingin mendengar bagian para penyihir lebih jauh.”
Ratu tersenyum, dan membalikkan halaman yang berisi mengenai penyihir.
Penyihir-penyihir itu berpenampilan necis serta nyentrik, biasanya mereka memakai topi kerucut panjang serta tidak lupa membawa sapu yang digunakannya untuk terbang. Kebanyakan dari mereka memiliki wajah-wajah buruk rupa akibat efek samping sihir yang digunakan, tapi tidak sedikit juga mereka memiliki kecantikan baik alami atau pun karena pesona sihir mereka. Mereka memiliki koleksi-koleksi buku yang begitu banyak, dan kebanyakan berisi macam-macam mantra atau resep suatu ramuan.
Tempat tinggal mereka adalah desa-desa terpencil di kedalaman hutan. Rumah mereka adalah pondok-pondok yang saling berjajar acak dan juga sesak padat. Sekeliling mereka terdapat pohon besar nan tinggi melindungi, sehingga mereka dapat berkamuflase dari mata orang tapi kadang juga ada yang terlewat. Orang-orang itu akan di sihir agar melupakan apa yang ia lihat. Namun ada sebagian lainnya ada yang lebih agresif dengan menjadikan orang itu tumbal atau hal-hal tak terbayangkan lainnya.
Setiap wilayah komunitas penyihir itu dipimpin oleh seseorang yang dipanggil Ratu Penyihir. Tidak penyihir sembarangan yang memiliki gelar tersebut. Mereka untuk mendapat gelar itu harus menghadapi ujian panjang yang dirahasiakan. Setiap wilayah memiliki adat kebiasaan yang berbeda dalam menentukan yang berhak mendapat gelar Ratu Penyihir. Setelah prosesi panjang dan melelahkan bagi para kandidat yang selamat (karena ada saja kandidat yang mati dan tidak selamat akan ujian yang dilaksanakan), barulah sebuah ritual pengangkatan dilakukan kepada penyihir terpilih.
Penyihir-penyihir memiliki makhluk kepercayaan mereka yang disebut familiar. Familiar ini konon adalah bagian dari roh-roh alam yang ada di dunia. Dan mereka menciptakan wujud fisik mereka menyerupai binatang-binatang, namun banyak juga dari mereka memiliki wujud yang tidak biasa. Hal itu disebabkan dari roh-roh alam itu berasal dari berbagai binatang lain yang saling menyatu menjadi kesatuan yang utuh, sehingga menciptakan wujud yang magis, tidak terbayangkan, dan juga unik.
Familiar itu memiliki ikatan batin dengan empunya. Mereka tidak dapat dipisahkan, dan jika dipisahkan baik secara fisik atau jiwa maka akan ada efek samping pada diri si penyihir, salah satunya adalah kematian. Familiar memiliki pikiran dan kesadaran tersendiri, walau sebagian besar dari diri mereka tergambar dari sifat dan karakter empunya. Familiar juga butuh makan layaknya makhluk hidup lain. Biasanya makanan mereka tergantung dari jenis wujud binatang yang mereka gunakan. Familiar mampu mati layaknya makhluk lain.
“Bunda,” panggil Varel lirih. “Kemana para penyihir sekarang? Kenapa mereka tidak ke Kerajaan Selatan lagi? Apakah mereka membenci kita? Atau kita yang malah membenci mereka?”
Ratu bingung bagaimana menjawab pertanyaan sang anak. Dia hanya mengeluarkan senyum tipis, terlihat terurai rambut pirangnya yang menyala dalam kamar yang remang. Rambut panjang Varel yang halus dibelainya. Ia mengalihkan pembicaraan.
“Sepertinya kau harus segera potong rambut ya anak muda.” Ratu dan Varel tertawa. “Sekarang tidurlah dulu. Besok adalah hari penting untukmu. Selamat tidur, putraku.”
Dicium keningnya Varel. Tersisa kehangatan sebuah kasih dan sayang padanya.
“Selamat tidur juga Bunda.”
***
Sementara itu di lain tempat, jauh di arah selatan.
“Jamur mahkota (cek), lebah madu (cek), gading babi hutan (cek), akar merah (cek), abu bintang (cek), nightshade (cek), bunga wolfsbane (cek), lemak beruang (cek), lemak sapi (cek), surai kuda unicorn (cek), garam dan gula (cek),” ucap seorang gadis di meja kerjanya. “Apa lagi ya ... oh ya bunga lidah naga (cek), darah dan taring dire wolf (cek), serta terakhir sarang burung walet (cek). Oke sepertinya sudah semua.”
Gadis itu merenggangkan badan. Dia akan bersiap untuk melakukan sesuatu pada hari esok. Saat ia akan berdiri dari mejanya, segelas minuman hangat tumpah ke atas buku yang sedang dibacanya. Bagian bawah buku itu kertasnya mulai basah. Membuat dirinya panik.
“Aduh, aduh ... s*ial, s*ial. Jangan sampai buku ini rusak. Kalau rusak, bisa habis aku dengan Mama.” Pikirnya membayangkan hal-hal menakutkan yang akan terjadi pada dirinya nanti jika buku ini benar sampai rusak.
Namun, sesuatu teks muncul pada bagian kertas yang basah itu. Huruf demi huruf mulai nampak. Tertulis di sana: “Dibutuhkan darah seorang bangsawan atau keturunan para raja dari jenis laki-laki muda.”
“A-Apa-apaan ini?!?!” jerit geram gadis itu. “Sebuah teks rahasia? S*ial, aku tidak menduganya. Bagaimana ini? Darah bangsawan? Bangsawan itu seperti apa? Binatang? Monster? Salah satu jenis familiar? Atau manusia? Bahkan raja pun aku tak tahu apa itu. Apa berkaitan dengan ratu seperti Mama ya? Tidak mungkin aku berani menanyakan macam hal ini. Aku berniat merahasiakan ritual sihir ini.”
“Luna!” teriak panggil seseorang dari luar. “Oy! Luna! Aku tahu kau ada di dalam. Keluarlah kau babi kecil!”
“Aduh, kenapa harus sekarang sih. Aku harus segera pergi dari sini.”
Gadis itu segera mengumpulkan semua bahan yang telah dikumpulkannya sejak berbulan-bulan lalu. Buku berisi informasi mantra yang ingin dia gunakan juga tak lupa ia bawa. Dia melarikan diri dari jendela kecil di kamarnya.
Dan tak lama kemudian suara dobrakan terdengar di belakangnya. Ia lari dengan sekuat tenaga. Melewati semak-semak hingga tumbuh-tumbuhan liar. Suara teriakan terdengar dibelakangnya, “LUNASTIRAAAA!!!”
Gadis itu meninggalkan selembaran gambar karikatur di kamarnya, membuat kesal seseorang yang melihatnya itu. Gadis itu tersenyum dan tertawa kecil sambil terus berlari dengan kaki pendeknya.