3 bulan lalu. Di hari yang cerah dan indah di desa penyihir Selatan. Namun, kali ini lagi-lagi keributan terjadi di desa yang damai itu.
“Luna! Jangan lari kau!” teriak Morgana.
“Haha ... haha tangkap saja aku kalau kau bisa Morgana!”
Lunastira berlari sejak dari pasar, ia sepertinya mengerjai Morgana hingga ia marah besar. Dirinya dan Morgana tidak pernah akrab sejak dahulu. Alasannya sederhana yaitu “rivalitas”, namun bukan rivalitas yang sehat. Luna sejak kecil sering dirisak oleh Morgana. Luna yang berbadan mungil itu tidak mampu menandingi tubuh Morgana yang bongsor. Dan lagi, Luna sering kali kalah dalam adu sihir. Membuatnya menjadi olok-olokkan di desa. Padahal ibunya adalah Ratu Penyihir di desa Selatan.
Penduduk desa tidak takut mengejek atau memperlakukan Lunastira sebagai penduduk biasa. Karena memang tidak ada istilah perlakuan khusus di desa penyihir. Semua dipandang sama, kecuali Ratu Penyihir dengan alasan beliaulah pelindung desa. Luna dan ibunya hampir tidak pernah terlihat bersama di satu tempat, atau biasanya di antara mereka menjaga jarak satu sama lain. Memang Ratu Penyihir sibuk dengan segala urusan yang ada sehingga perhatian dan kasih sayangnya pada Luna tidak tersalurkan dengan merata.
Sejak usia muda Lunastira merasakan itu semua. Untung dirinya memiliki Aivi—familiar tersayangnya yang tidak akan meninggalkannya. Setiap keluh kesah ia sampaikan pada Aivi. Walaupun sebenarnya tanpa diungkapkan juga, Aivi akan mengerti apa yang dirasakannya. Tapi begitulah manusia, butuh seseorang yang dapat mendengarnya tanpa perlu menghakimi.
Luna dikejar hingga ke area lapangan dekat kediaman Ratu Penyihir. Dia masih saja tertawa melihat Morgana mengejar di belakang, dan matanya tidak melihat arah jalanan di depannya. Saat itulah dia menabrak sang Ratu Penyihir.
“Aduduh ....” Lunastira terjungkal. Morgana tertawa, namun dengan cepat menahannya.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN!” geram sang Ratu. Insting mereka mengatakan suatu hal berbahaya pada diri mereka. Air muka mereka berubah.
Di dalam ruangan takhta.
Ratu Penyihir duduk anggun di singgasananya yang terbuat dari berbagai jenis tumbuhan dan tanaman yang dirakit dan dianyam penuh ketekunan. Singgasana itu sudah ada sejak dahulu kala, entah berapa usia singgasana tersebut. Kursi istimewa itu memiliki pernak-pernik dari bunga-bunga yang warna-warni warnanya. Ruangan takhta itu indah dan gemerlap, seakan di tempat yang berbeda. Keindahan dan keharuman memancar.
Lunastira dan Morgana duduk bersimpuh di hadapan sang Ratu.
“Jadi, apa yang sebenarnya kalian lakukan?” tanya Ratu Penyihir.
Dengan cepat Luna dan Morgana saling menunjuk dan saling menyalahkan hingga suara mereka beradu. Ratu penat mendengar mereka.
“DIAM!” mereka pun terdiam. “Kalian ini ya, selalu saja. Ada saja permasalahan yang terjadi antara kalian. Mau sampai kapan? Sudah beratus-ratus kali diucapkan: kalian ini kawan dan sekutu di desa ini. Jangan sampai menjadi musah dan lawan. Karena akan merugikan untuk desa dan yang lain.”
Akhirnya mereka mendapat ceramah dari sang Ratu. Dan biasanya ceramah dari beliau tidak akan memakan waktu sebentar.
Beberapa waktu kemudian, ceramah selesai. Mereka berdua terbujur lemas belum makan sejak pagi. Itu alasan mereka berada di pasar, untuk membeli makanan atau sekedar kudapan. Tetapi mereka malah berlari mengitari desa.
Morgana dipersilahkan untuk keluar terlebih dahulu. Ada kecemburuan di wajah Luna. Baru setelah Morgana menghilang di balik pintu, Luna dipersilahkan. Sebelum keluar, Ratu memanggilnya.
“Luna ... jangan kamu mencari musuh seperti ini dong,” ucap lirih sang Ratu. “Kau yang akan rugi sendiri nantinya.”
“Tapi, Morgana duluan yan—”
“Ya aku tahu itu.”
“Lalu kenapa? Kenapa tidak pernah membelaku? Aku ini anakmu!” tandas Luna.
“Ini bukan soal kenapa. Tapi—”
“Sudahlah, Mama tidak akan pernah mengerti atau pun membelaku,” ungkap Luna. “Aku sadar itu. Oleh karena itu, aku akan membuat Mama dan semua orang di desa ini mengakuiku. Mengakui kalau aku ini pantas dihargai, kalau aku ini juga memiliki kekuatan sihir yang sama atau bahkan lebih dari mereka dan Mama. Entah dengan cara apa pun itu nanti.”
Lunastira pergi dan menutup pintu dengan cukup keras. Ratu berusaha memanggil namanya namun suara tak mampu keluar.
Lunastira menyender di balik pintu itu sambil menghela napas cukup dalam. Aivi menghampirinya.
“Bagaimana ceramah dari Ratu? Menyenangkan?” ledek Aivi.
“Haha ... lucu sekali kamu Aivi.” Mereka tertawa.
“Ayo Luna, aku sudah lapar sejak tadi. Aku menunggumu. Lihat, bulukku mulai rontok kalau tidak dikasih nutrisi yang sehat.”
“Kau menungguku?” tanya Luna bingung. “Kenapa tidak makan lebih dulu? Kan, kamu tahu kalau aku diceramah Mama pasti akan lama.”
“Ya masa familiarnya makan dulu meninggalkan tuannya yang cantik ini.” Mereka kembali tertawa. Luna mengangkat Aivi dan mengelus-elusnya lembut.
***
Malam harinya mereka berada di perpustakaan umum desa. Cahaya lampu-lampu di bangunan tua dari pohon itu terlihat indah dan menghangatkan. Musim dinginnya sepertinya akan tiba. Lunastira membaca berbagai tumpukan buku di meja panjang perpustakaan. Tinggal beberapa orang di tempat. Ketenangan dan keheningan yang begitu khidmat di tempat suci para pencari ilmu itu.
“Kau mencari apa sih, Lun? Dari tadi kau tumben sekali fokus membaca?” tanya Aivi yang berjalan mengitari sekeliling meja Luna.
Luna terdiam tidak menjawab.
“Kali saja aku dapat membantu, katakan saja. Toh, aku ini familiarmu.”
Mendadak Lunastira berteriak. “S*ial! Kenapa aku mengatakan itu pada Mama.” Dia mengingat kata-katanya terakhir sebelum beranjak dari ruangan Mamanya siang tadi. “Mana mungkin bisa melebihi Mama. Aku ini hanya anak curut. HAAA!”
Dari kejauhan seorang pustakawan mendiamkan Lunastira. Mendadak dirinya menjadi canggung. Orang-orang yang tersisa di sana memelototi dirinya.
“Ada apa kau mendadak berteriak Luna?” tanya Aivi berbisik.
“Aku tidak menemukan buku yang aku cari.”
“Memang buku apa?” Aivi memperhatikan tumpukan buku-buku di mejanya. “Apa tidak ada satu pun di buku-buku ini yang kau cari?”
“Aku mencari buku untuk mendapatkan kekuatan sihir dengan cepat ....” bisik Luna.
“Untuk apa kau buku macam itu?”
“Tentu saja untuk mendapatkan kekuatan.”
Mereka terdiam. Saling berpikir. Aivi mondar-mandir dengan kedua kakinya di hadapan Luna. Seketika Aivi tersenyum dan mengetukan kedua tangannya seolah ia mendapat ide brilian.
Mereka keluar dari perpustakaan. Jalanan desa di malam hari begitu indah. Cahaya lampu-lampu warna-warni dari tanaman-tanaman hias bersebaran. Dari bawah hingga ke ujung atas pepohonan. Cahayanya menyilaukan namun tidak menyakitkan mata.
“Kita mau kemana?” tanya Luna.
“Sudah ikuti aku saja.” Aivi terbang dengan sepasang sayapnya yang mungil layaknya Cupid, tapi tanpa busur cintanya.
Akhirnya mereka tiba di lokasi yang Aivi arahkan. Tapi ... Luna tersadar, jika tempat mereka berada adalah tempat tinggal pribadi sang Ratu Penyihir.
“A-Apa yang kita lakukan di sini, Aivi?”
“Heh? Bukannya kamu tadi bilang, mau mencari buku untuk mendapatkan kekuatan sihir secara instan? Di sini lah tempatnya.”
“Jangan bercanda kau. Kita tidak mungkin diperbolehkan melihat-lihat koleksi buku Mama. Apalagi malam-malam seperti ini.”
“Ya sudah kita cari cara lain saja,” ucap Aivi.
Lunastira bingung apa yang ia harus lakukan. Dia berpikir bahwa koleksi buku miliki sang Ratu lebih banyak varian dari pada yang ada di perpustakaan. Dan mungkin saja salah satu dari buku-buku itu, terdapat buku yang ia cari.
Akhirnya Luna memutuskan untuk menyusup ke ruangan kerja ibunya, yang dimana buku-buku koleksi pribadi berada.
Kini mereka masuk dengan mode siluman yang menjadi salah satu sihir kesukaannya. Dalam tempat pribadi Ratu itu tidak banyak penjaga. Mereka dapat menyelinap dengan mulus. Untuk ke ruangan kerja, Luna harus melewati kamar sang Ratu. Di sana terlihat pintu kamarnya terbuka sedikit, dan cahaya lilin memancar. Terdengar suara Ratu dengan familiarnya yang sepertinya sedang bicara. Lunastira yang tidak bisa menahan rasa penasarannya pun menguping sedikit percakapan tersebut:
“Mengapa kamu begitu keras pada putrimu sendiri, Arisia?” tanya Moona.
“Tidak ada alasan khusus,” jawab Ratu. “Toh, tanpa aku bilang padamu juga kau pasti sudah mengerti kan, Moona?”
“Ini bukan masalah mengerti atau tidaknya. Tapi aku merasakan ketidaknyamanan dan ketidaktenangan dari hatimu. Apa yang sebenarnya kau rasakan itu?”
“A-Aku hanya lelah, tidak lebih dan tidak kurang.”
“Terkadang kau tetap keras kepala ya, Aris. Jika kamu memang tidak ingin membicarakannya sekarang, ya sudah. Aku akan menunggu. Tidurlah sekarang Aris, malam sudah berada di puncaknya.”
“Terima kasih, Moona,” ucap lirih Ratu sambil mengelus familiar berbentuk kucing tersebut. Dan Moona hanya tersenyum.
Lunastira yang sedikit mendengar pembicaraan itu langsung bergegas ke ruangan kerja Ratu. Ada rasa campur aduk di hatinya setelah mendengarkan pembicaraan Mamanya dengan sang familiar. Terbesit dalam pikirannya, mungkin memang sang Ratu tak pernah memiliki perasaan sayang dan cinta terhadap dirinya sebagai anak. Kemudian dia cepat-cepat jauhkan pikiran-pikiran dan perasaan aneh dalam diri. Ia langsung terkagum dengan ratusan atau bahkan ribuan buku koleksi pribadi sang Ratu.
“Jadi mulai dari mana kita?” ucapnya sambil menggosokkan kedua tangannya layaknya seorang kriminal yang akan mencuri. Ya memang dia akan mencuri salah satu buku dari sana.
Berjam-jam terlewati. Matahari mengintip dari jendela ruang kerja. Lunastira tertidur entah berapa jam. Air liurnya sedikit menetes di buku yang sedang terbuka. Aivi menyadarkannya dari alam mimpi.
“Lunaaa ... bangun, oy!”
Diri Luna masih berusaha mengumpulkan jiwanya yang melayang-layang entah kemana. Dengan cepat Aivi mengeluarkan sihir kecil berelemen air ke mukanya. Terbangunlah dia dengan kaget dan mengigau.
“Luna, kita harus cepat pergi. Sebelum seseorang datang kemari.”
“Oh, oh, iya-iya,” sahut Lunastira. “Aku harus membawa buku ini. Sepertinya buku ini yang aku butuhkan.”
“Ya sudah, bawalah buku itu. Kita pinjam untuk sementara waktu.”
Mereka pun berhasil melarikan diri tanpa halangan. Hampir-hampir saja ia tertangkap jika tak segera beranjak dari sana. Namun, Luna lupa membereskan buku-buku yang masih berserakan di lantai dan meja.
***
Selama 3 bulan terakhir itu Lunastira ditemani Aivi tentunya, bepergian mencari bahan-bahan yang dibutuhkannya untuk melakukan ritual sihir yang tertulis dalam buku. Semua bahan-bahan tersebut telah dikumpulkannya dengan susah payah. Namun kini, semua usaha itu seakan sia-sia. Dengan adanya bahan terakhir yang belum ia dapatkan mana mungkin ritual sihir itu akan berhasil. Ia tidak memprediksi soal teks tersembunyi dalam buku. Dalam hatinya ia merasa beruntung, coba jika ia tidak menyadari teks rahasia tersebut, bisa-bisa ritual itu akan berakhir gagal dan menimbulkan efek samping yang tidak diketahui.
Lunastira duduk menyender di pohon besar dengan ditemani api unggun kecil. Aivi sudah terbaring tidur. Dia menatap api unggun yang menari-nari tanpa henti sejak tadi. Ia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan darah seorang bangsawan itu. Tidak pernah dalam hidupnya mendengar kata itu. Maklum saja, dia tidak pernah pergi jauh dari desa dan juga dalam buku-buku tidak ada kata macam itu tertulis. Jadi wajar saja dirinya bingung tak karuan.
Dan lagi, kini ia menjadi incaran Morgana dan penyihir-penyihir lainnya yang sepertinya sudah mengetahui kalau dirinya lah yang menyusup ke ruangan kerja sang Ratu dan mencuri salah satu buku koleksinya.
Malam semakin pekat. Bintang-bintang berkerumunan di langit, mengintip di antara atap pepohonan. Gadis penyihir ini kini mulai mengantuk. Angin musim semi mulai mengeluarkan auranya. Matanya mulai terpejam letih. Selamat malam gadis penyihir. Semoga besok engkau bertemu dengan takdirmu.