Angin berhembus cepat, berlalu bagai air sungai yang tenang. Daun-daun hijau dan kuning pada pepohonan yang saling bersatu mengkokohkan diri ikut bergoyang oleh hembusan angin dari arah utara. Langkah kaki cepat terdengar menginjak daun-daun kering di tanah. Suara ranting patah yang ikut terinjak membuat binatang yang tinggal di sekitar pepohonan langsung melirik cepat ke arah suara. Suara napas cepat mulai terdengar oleh mereka.
Tanah mulai bergetar pelan dan semakin mendekat semakin terasa kencang. Binatang-binatang yang sejak tadi dengan awas memperhatikan dengan cepat melarikan diri. Insting mereka mengatakan bahaya datang mendekat.
Dua orang yang saling berlari di depan mulai kehilangan tenaganya, napas mereka mulai tidak teratur. Keringat membasahi mereka. Tanah lembek menempel di alas kaki mereka.
“Sampai kapan kita harus berlari?” tanya seorang bocah laki-laki yang ditarik oleh gadis muda.
“Sampai nyawa kita memang sudah pasti akan selamat,” jawab singkat gadis itu.
“Sebenarnya makhluk apa yang mengejar kita?”
Gadis itu melirik ke arah belakang mereka. Hutan Belantara itu terlihat mencekam dengan sedikitnya sinar matahari yang masuk. Mata-mata tajam terlihat jelas mengarah pada mereka. Gigi taring tajam mereka meneteskan sisa cairan berwarna merah dari mangsa mereka sebelumnya. Langkah kaki mereka lebih panjang dan cepat membuat kedua orang itu mulai terkejar.
Monster belantara—makhluk ajaib penghuni pedalaman hutan-hutan liar dan tidak terjamah manusia. Dengan berbagai ukuran tubuh dan bentuk yang benar-benar tidak biasa dan jauh berbeda dengan binatang-binatang pada umumnya. Kebanyakan dari mereka memang terlihat seperti binatang buas biasa, seperti monster belantara yang mengejar dua orang itu.
Makhluk mirip badak dengan sisik bagai baja dan dua cula bagai tombak perang di samping hidung dan satu cula di tengah berdiri tegak bagai menara yang seakan menandakan keperkasaannya kepada mangsanya. Selain makhluk mirip badak itu, ada serigala raksasa yang sering dipanggil Direwolf dengan bulu yang lebih tebal yang menyelimuti tubuh besarnya yang 3 hingga 5 kali lebih besar dari serigala biasa; dengan pada kepalanya memiliki sebuah simbol yang asing bagi manusia. Dan seekor monster belantara yang sejak tadi mengikuti dengan cepat di atas pohon, berlari tanpa suara tapi terlihat sebuah surai panjang berwarna merah keemasan; ekor panjang bergerigi sesekali mencoba mencambuk dua orang itu.
Gadis itu lengah setelah memperhatikan ke belakang mereka. Monster belantara kini menghadang mereka di depan. Makhluk mirip singa dengan wajah seperti m*onyet itu sejak tadi benar-benar mengincar mereka, seolah-olah makhluk itu belum makan sekian lama.
Mereka kini terkepung oleh monster belantara di depan dan belakang mereka. Semua monster belantara terlihat lapar dan marah melihat dua sosok manusia itu di hadapan mereka.
Apa ini akhir dari hidupku, pikir gadis itu sambil menggenggam tangan pemuda buta itu. Ia tersenyum. Raungan monster mulai menggema di antara mereka.
“A-Aku takut, Luna,” ucap gemetar pemuda itu.
“Tenang saja, Varel,” berusaha menenangkan.
***
Tiga puluh jam sebelumnya.
Keramaian di kemah ini benar-benar membuat Varel tidak nyaman. Entah sudah berapa jam dirinya berada di sana. Dengan tangan dan kaki yang terikat rantai besi yang sudah berkarat. Tawa-tawa dan suara tumpahan serta tuangan minuman terdengar jelas olehnya.
“Kita akan kaya,” ucap salah satu bandit kurus.
“HAHA, tidak kusangka menjadi kaya akan semudah ini,” sahut pria gendut
“Kau akan apakan hasil jarahanmu ini nanti?” tanya bandit berjenggot.
“Sudah pasti aku akan melacur lah, haha....”
“Mantap, kalau begitu aku akan ikut kau di kota nanti.”
“Ngomong-ngomong untuk apa kita menculik bocah buta itu?” tanya penasaran dari pria gendut itu.
“Hah? Kau belum dengar? Dia itu pangeran, ya memang dia buta,” mereka tertawa. “Tapi bos kita mendapat pekerjaan ini dari seseorang, dan dia berani membayar mahal untuk itu.”
“Lalu apa yang akan kita lakukan dengan dia?” tanya bandit berjenggot.
Dari belakang seorang dengan penampilan paling mencolok dan eksentrik ikut nimbrung dengan mereka. Sambil meminum segelas bir murahan yang dingin, lalu ia menjawab, “tentu saja kita akan membawanya ke yang punya kontrak, bodoh!” Ia memukul kepala anak buahnya itu dengan gelas kayu yang dipegangnya.
Tawa mereka kini makin heboh. Walau matahari baru saja siap akan naik pada puncaknya, mereka tidak peduli waktu untuk kapan saja meminum minuman yang sejak tadi membuat Varel terasa mual.
“Hei, lihat! Putri tidur sudah bangun,” salah satu bandit botak mendekati kurungan. “Bagaimana tidur anda, Yang ... Mulia.”
Yang lain tertawa melihat tingkah bandit botak itu yang meniru gaya penghormatan pada bangsawan. Bos mereka berdiri dan ikut mendekat. Mendorong si botak menjauh. Bos bandit itu melihat tajam pada Varel. Mata butanya menjadi sorotannya. Dalam dirinya k*ejam itu ada rasa iba pada pangeran buta di hadapannya, tapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. Ia tidak mungkin membawa perasaan ke dalam sebuah pekerjaan. Walau dia hanya tergolong bandit, ia juga punya harga diri seorang profesional.
“Siapapun kalian, tolong jawab: dimana aku? Apa yang kalian inginkan dariku? Harta kerajaan? Uang tebusan? Atau apa? Jujur saja aku tidak seberharga yang kalian pikirkan.”
Bos bandit itu sempat hening sejenak, sedangkan anak buahnya di belakang malah tertawa seakan Varel mengucapkan suatu hal paling lucu.
“Kau tidak perlu tahu siapa kami atau keinginan kami,” jawab bos bandit. “Kami hanya melakukan pekerjaan, dan masalah uang tebusan? Itu tidak perlu. Karena kami akan dibayar dengan harga yang sangat tinggi, hanya demi bocah buta ingusan seperti kau.”
Si botak yang berada di samping menumpahkan minumannya ke kurungan dan tertawa. Tapi itu membuat bos bandit itu marah dan dengan cepat memukul si botak itu, “Kau ini bodoh atau apa? Kau ingin mengotori harta kita.” Dirinya terus memukuli si botak hingga ia hampir tidak sadarkan diri. “Ini contoh jika kalian berani macam-macam pada tawanan kita yang istimewa ini. Kalian harus jaga baik-baik jangan sampai ada lecet sedikit pun pada tubuhnya.”
Anggota lainnya mendekat dan membawa si botak ke tendanya.
Dari kejauhan Lunastira menyimak dengan teropong yang dibawanya.
***
Lunastira terkekeh hingga membuat Aivi bingung dengan tingkahnya. Aivi terbang menghampiri.
“Apa yang kau lihat, Luna?” tanya Aivi.
“Kunci terakhir yang ku butuhkan, Vi!” ia menjawab, kembali terkekeh. “Apakah Dewi Keberuntung berpihak padaku? Haha.”
Aivi terbang ke ujung tebing yang sedikit menjorok itu, lalu matanya yang lebar itu menyelisik ke arah kemah di bawah tebing itu. Terlihat orang-orang berpakaian tidak biasa saling heboh dan bersorak-sorai berpesta.
“Ada apa dengan para manusia itu? Apa hubungannya dengan kau, Luna?”
“Lihat di arah jam 2 sana,” Aivi melihat-lihat lagi, terlihat sebuah kurungan. “Kurungan itu berisi seorang bangsawan laki-laki, Vi. Dia bisa jadi kunci untuk ritual mantra yang akan aku lakukan.”
“Apa kau benar-benar yakin dengan ini? Kau tidak ingin kembali ke desa saja dan minta maaf pada semuanya?”
“Apa kau tidak salah ngomong, Vi?” ucap Lunastira dengan nada tinggi. “Jika aku kembali dengan tangan hampa, sama saja aku menyerah. Dan aku akan tetap sama menjadi Lunastira yang direndahkan dan dihina. Aku harus melakukan ini, Aivi. Aku akan membuktikan pada mereka, kalau ... kalau aku bisa sama atau bahkan lebih dari mereka. Aku mohon, Aivi, untuk kali ini saja dukunglah aku.”
Aivi melihat mata Lunastira yang biru, terlihat dalam matanya bagai laut yang memantulkan cahaya kelap-kelip sebuah bintang. Aivi sebagai familiar Lunastira, tentu saja akan selalu mendukung dirinya. Ia juga tahu apa yang dirasakan olehnya selama ini, dan itu memang membuat Luna begitu menderita. Ini memang mungkin kesempatan baginya.
“Iya, Luna, tentu saja aku akan mendukungmu,” Lunastira memeluk Aivi, dan keduanya tersenyum. “Jadi apa rencanamu?”
“Kita akan menunggu para pemabuk itu tertidur,” Lunastira mencoba menjelaskan rencanannya yang dibuat dengan mendadak itu. “Lalu setelah kita pastikan mereka semua terlelap, kita bergegas menyelinap ke kemah mereka. Dan kita dengan mode sembunyi-sembunyi akan mengendap ke arah kurungan berisi sosok bangsawan itu. Dengan cepat kita membebaskannya, lalu kabur secepat mungkin.”
Lunastira selesai menjelaskan dengan senyum di wajah, seakan rencananya adalah rencana paling luar biasa.
Mereka pun akhirnya menunggu, dan duduk di sebuah batang kayu yang tergelatak persis dekat tebing tersebut. Sambil terus bolak-balik melihat para bandit rendahan itu, yang masih saja berpesta di siang bolong seperti tidak peduli dengan waktu. Hingga Lunastira benar-benar bosan dan muak melihat wajah dan tingkah mereka.
Lunastira terjaga setelah dibangunkan oleh Aivi. Dirinya tertidur beberapa saat sejak tadi. Sedangkan Aivi terus mengawasi dan bahkan sempat melakukan pengamatan terakhir saat para bandit tersebut yang akhirnya tidur pulas.
“Jadi, aku sudah berputar-putar di atas kemah mereka, dan sudah pasti jumlah mereka sekitar 17 sampai 19 orang dan aku juga melihat 3 anjing penjaga yang ternyata juga ikut tertidur.”
“Baiklah, ini sudah waktunya.”
Mereka bergegas menuruni tebing dengan memutarinya dari arah barat kemah.
Saat sudah mendekati kemah mereka mulai menunduk dan Lunastira memanterai dirinya dengan sihir mode siluman—yang dimana membuat dirinya akan tidak kasat mata dan efeknya akan bertambah jika penggunanya berjalan menunduk dan mengendap-endap.
Saat sudah memasuki area kemah, bau dari minuman alkohol begitu memenuhi udara di sana seakan sudah mengikatkan dengan para penghuni kemah. Tumpahan minuman berwarna kemarahan dan juga gelas-gelas kayu bergelatakan hampir dimana saja. Para bandit tidur dengan lelapnya, mengeluarkan suara dengkuran yang begitu hebat.
“Sungguh, pria adalah yang terburuk,” ucap Luna sambil mendekap mulut dan hidungnya.
Lunastira mengendap-endap dengan begitu hati-hati, sedangkan Aivi terbang dengan sayap putih kecilnya yang bagaikan burung merpati. Mata mereka saling mengawasi sekeliling mereka. Banyak di antara bandit itu tertidur di meja dan tanah tanpa alas. Api unggun sederhana sempat dinyalakan oleh salah satu dari mereka. Api itu menari menghangatkan tubuh mereka yang berada dalam jangkaunnya. Angin malam berhembus dari gunung di arah tenggara, membuat malam musim semi ini terasa begitu sejuk.
Langkah Lunastira begitu ringan hingga terasa seperti ikut melayang seperti Aivi. Dia terus mengarah ke arah kurungan bangsawan yang berada di timur laut kemah.
Seorang pemuda menguap keluar dari salah satu tenda dari depan Lunastira hingga membuatnya sempat terkejut. Dengan mata mengantuk pemuda itu berjalan ke arah semak-semak di samping tendanya. Mereka beruntung pemuda tersebut tidak menyadari keberadaan makhluk ajaib yang mampu terbang tersebut.
Lunastira berpikir untuk membiarkan pemuda itu melakukan kegiatan privasinya, dan segera berjalan cepat ke arah kurungan yang tinggal beberapa meter saja.
Saat sampai di depan kurungan besi, Lunastira melihat sosok bocah yang terbaring dengan selimut yang sudah robek sana-sini. Aivi ikut melihat keadaan yang nahas untuk seorang bocah itu.
Lunastira memanggil dengan berbisik-bisik pada bocah itu. Bocah itu terbangun dari tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak. Dalam kurungan yang tidak tertangkap cahaya bulan atau cahaya api, membuat wajah bocah bangsawan itu tidak tampak dengan jelas oleh mereka. Mereka hanya melihat jika bocah itu terlihat kebingungan dengan panggilan bisik-bisik dari Lunastira. Dia pun berpikir kalau bocah itu tidak menyadari kehadirannya karena efek sihirnya masihlah aktif, lalu dengan cepat ia menghilangkan sihirnya.
Bocah itu mendekat ke arah pintu kurungan, cahaya bulan mengarahkan cahayanya persis pada mereka. Terlihat tangan dan kaki kurusnya terbelenggu borgol besi. Perlahan wajahnya nampak. Lunastira dan Aivi terkejut dengan wajahnya, bukan karena kerupawanan seorang pangeran, tapi dengan mata pangeran tersebut yang ternyata buta.