Mata bulat kelabu itu terlihat kosong bagaikan tak berjiwa. Namun pikiran aneh itu segera Lunastira hilangkan dalam kepalanya. Sosok bocah itu akhirnya mulai bersuara.
“Siapa di sana?”
“H-Hey, iya, halo, apa kau benar seorang anggota keluarga kerajaan?” pertanyaan di jawab pertanyaan oleh Lunastira. Dia tidak ingin usahanya ini sia-sia, ia ingin memastikan siapa bocah buta ini sebenarnya; sebelum dirinya membuka pintu besi kurungan di hadapannya tersebut.
“Eh, iya ... aku dari keluarga kerajaan,” rasa bingung timbul dari diri Varel. “Untuk apa kau menanyakan itu, N-Nona”
“Ti-Tidak apa, aku hanya ingin memastikan saja.” Dia tertawa pelan.
Aivi memperhatikan tingkah Lunastira tersebut.
“Baiklah, akan aku bukakan pintu, Yang Mulia.”
Sungguh siapakah gerangan gadis bersuara manis di hadapannya, pikir Varel. Apa dia salah satu bandit itu? Jika iya, suara manisnya terlalu bagus untuk berada bersama dengan orang biadab yang menculik dirinya.
Lunastira segera memeriksa gembok kurungan tersebut dengan saksama juga hati-hati. Ia mengambil sesuatu dari tas kantong yang tergelantung di pinggulnya. Sebuah alat seperti peniti kecil ia keluarkan, lalu ia mencoba memasukannya di lubang kunci.
“Tenang saja, Yang Mulia, aku bukan orang jahat seperti penculik-penculik ini,” katanya untuk meyakinkan Varel.
Dalam hanya beberapa saat saja, Lunastira berhasil membuka gembok tersebut. Dirinya belajar secara autodidak teknik membuka kunci itu, ia belajar dari sebuah buku koleksi milik ibunya (entah alasan apa terdapat buku tersebut di sana). Suara gembok tersebut membuat puas dirinya, juga membuat tenang bocah buta itu. Dia merasa akan segera bebas dari kurungan yang menyesakkan itu.
Namun, rasa puas dan tenang dari mereka hanyalah datang sekejap. Seketika berubah menjadi tegang dan terkejut karena salah satu anggota bandit yang sebelumnya dibiarkan bu*ang *air oleh Luna itu malah lewat di hadapan mereka. Bandit muda itu memergoki dengan mata kantuknya, melihat Lunastira yang sedang membukakan pintu kurungan, dan juga ikut kaget melihat makhluk aneh nan ajaib yang terbang di sisi gadis penyihir itu.
Dengan cepat Lunastira memantrai pemuda bandit itu sebelum membuat pekerjaannya bertambah repot. Ia menyihirkan sebuah mantra untuk membuat pemuda itu terasa membeku sekujur tubuhnya. Namun sialnya, postur pemuda itu ketika dibekukan ia setengah mengangkat kaki siap berlari, dan hal itu membuat tubuh pemuda tersebut tidak seimbang sehingga membuat jatuh ke arah kanannya yang berdiri sebuah tenda yang terdapat sebuah ekor berbulu panjang mengintip dari sela tenda yang terbuat dari bahan kulit binatang.
Tubuh beku dari pemuda itu membuat ekor anjing itu terjepit hingga membuat anjing yang berada di dalam tenda meraung dan melolong begitu kencang hingga menyadarkan orang-orang di sekitarnya. Kepanikan merisak ketenangan diri mereka.
“Apa yang terjadi?” tanya sang pangeran, lalu tangannya yang masih terborgol itu ditarik cepat oleh sang penyelamat.
Lunastira menepuk keningnya yang juga berbarengan dengan Aivi. Sungguh merepotkan misi penyelamatan ini, pikir Luna.
Para bandit tersentak dari tidur lelapnya. Kepala mereka begitu terasa berat, ingin sekali mereka muntah akibat mual yang dirasakan diri mereka. Si bos bandit yang tidur nyenyak di tenda pribadinya dengan kasur empuk dengan selimut bulu domba khas Timur; benar-benar marah akan suara gaduh yang tiba-tiba muncul itu. Salah satu bandit yang tertidur di depan kurungan segera bangun melihat sosok asing dengan pintu kurungan yang telah terbuka itu.
Sungguh buruk sekali keburuntungan mereka malam itu. Anjing-anjing lain ikut melolong dan segera keluar dari tenda mereka berada. Seketika para bandit sudah berdiri dengan kedua kakinya walau masih terasa tidak seimbang tubuh mereka, mereka dengan cepat ikut pada keluar melihat keributan apa yang terjadi.
Hening sejenak di antara mereka lalu bos bandit keluar tendanya dengan jubah tidurnya.
“Ap-Apa-apaan ini? Woi! Siapa kau? Mau apa kau dengan harta kami?” Para anak buahnya langsung bersigap dengan s*enjata di tangan atau tangan kosong siap menyerang.
Tanpa menjawab apa-apa Luna langsung bergegas undur diri. Ia melempar sihir air ke setiap api yang dalam jangkauannya; hingga membuat uap yang cukup pekat untuk mengalihkan pandangan mereka. Namun efek uap tersebut begitu cepat menghilang menjadi oksigen. Mereka terlihat berlari ke arah hutan di utara bagian kemah. Lunastira juga sempat memotong ikatan tali kuda-kuda yang diikatkan di dekat pohon-pohon pintu masuk hutan.
“CEPAT KEJAR MEREKA!” perintah bos bandit, dengan cepat bergegas kembali ke tendanya untuk berganti pakaian. Para anak buahnya dengan gesit juga bersiap; berganti pakaian, mengambil s*enjata, dan juga mengejar kuda-kuda yang berlarian tidak jauh dari kemah. Salah satu dari mereka mencoba melacak jejak langkah mereka sebelum semua bergegas menyusul mereka.
***
Entah sudah berapa jauh mereka dari kemah para bandit biadab itu. Yang pasti cukup jauh untuk mengambil napas sejenak.
Lunastira baru menyadari kaki bocah bangsawan itu, dia sejak tadi melarikan diri dari kemah menahan rasa sakit. “Kenapa kau tidak bilang kalau kakimu terborgol juga? Kalau tahu akan aku buka kan sejak tadi dengan cepat.” Lunastira menunduk dan segera melepaskan belenggu pada kaki dan tangan bocah buta itu. Terlihat bekas pada kulit pergelangan kaki dan tangannya yang memerah dan luka lencet yang sejak tadi di tahan seorang bocah.
Bocah bangsawan tersebut hanya tersenyum dengan memperlihatkan giginya yang putih rapih. “Aku ... hanya tidak ingin merepotkanmu, Nona,” kata pelan keluar dari bibir tipisnya.
Aivi yang juga mengistirahatkan diri dengan duduk di pundak kiri Luna (untung saja tubuhnya tidaklah begitu berat). “Kita sebaiknya bergegas melanjutkan pelarian mencari tempat bersembunyi, di sini masih kurang aman menurutku.”
Wajah bocah itu terlihat terkejut sekaligus bingung ketika mendengar suara lain berbicara, “Aku kira kita hanya berdua, Nona?” ucapnya. “Maafkan aku tidak menyadari keberadaanmu nona bersuara imut.”
Aivi tertawa atas sanjungan dari bocah buta tersebut, begitu juga Lunastira berusaha menahan tawa. “Terima kasih, Yang Mulia,” katanya dengan tubuh melayang sambil berpose hormat.
“Tidak usah panggil aku ‘Yang Mulia’ seperti itu,” kata bocah itu. “Walaupun aku memang seorang pangeran, aku tidak begitu suka formalitas. Panggil saja aku Varel.”
Lunastira menaikkan alis mendengar ucapan bocah bernama Varel tersebut. Ia sadar jika dirinya lebih dari apa yang dibutuhkan untuk ritual yang ingin dilakukannya.
“Aku juga belum memperkenalkan diri pada anda, Yang Mul—maksudku Varel, namaku Lunastira, kau boleh saja panggil aku Luna jika namaku terlalu panjang untuk kau sebutkan.” Mereka bersalaman. Kemudian ia menggenggam tubuh Aivi dengan kedua tangannya dengan lemah lembut, mengarahkannya langsung ke Varel. “Dan ini nona bersuara imut, yaitu Aivi.”
Begitu terkejutnya Varel menggendong tubuh mungil seukuran kucing, namun bertelinga panjang seperti kelinci. Bulu pada tubuhnya begitu halus. “Ya salam kenal, Varel.” Aivi terlihat senang digendong oleh Varel, tidak ada orang lain yang pernah menggendongnya selain Luna atau ibunya Luna.
“M-Makhluk apa ini?”
“Familiar,” jawab singkat Lunastira.
Saat ingin bertanya lebih lanjut, terdengar suara gemeresik terdengar dari kejauhan, malam mulai semakin menyatu dengan keheningan. Suara-suara binatang-binatang kecil pun hampir tak terdengar. Mereka harus cepat melanjutkan pelarian mereka, mencari tempat aman untuk bermalam.
***
Mereka berjalan sekitar 1 jam kurang. Cahaya bulan mulai nampak menyelinap masuk ke dalam hutan. Jamur-jamur dan lumut-lumut pun ikut menyalakan keindahannya. Hutan ini adalah bagian dari hutan-hutan yang memiliki energi alam yang kuat.
Mereka menemukan sebuah lahan hijau yang dilindungi pohon ek yang berdiri dengan gagahnya. “Kita bermalam di sini saja,” kata Luna sambil mencari tempat untuk duduk.
“Kau akrab dengan hutan ini, Luna?”
“Hmm, tidak juga sih,” jawabnya. “Tapi, aku rasa hutan ini pernah aku lewati beberapa waktu lalu, saat....” Lunastira teringat. Ini salah satu tempat ia menemukan bahan untuk ritualnya. Ia tidak melanjutkan, lalu tertawa. Aivi menyadari tingkah aneh tersebut. “Ayo istirahat, pangeran, maksudku Varel.”
Lunastira menemukan jamur raksasa pada salah satu pohon-pohon ek. Ia kemudian mendorong (pelan) Varel untuk duduk. Varel kaget akan dorongan tersebut, tapi segera merasa nyaman setelah bokongnya mendarat di sebuah jamur raksasa yang ukurannya pas sekali dengannya.
“Apa ini?”
“Jamur,” jawabnya sambil ikut segera duduk di salah satu jamur. “Kami menyebutnya jamur bedking (kasur raja), karena ukurannya yang cukup lebar dan nyaman untuk diduduki.”
“Bed-king? Apa jamur ini bisa untuk ditiduri juga?”
“Tergantung tubuhmu pas tidaknya dengan jamur itu, jika cukup ya bisa saja.”
Varel mencoba merebahkan diri di jamur berukuran tidak biasa itu. Dan ukurannya cukup pas untuk tubuhnya, walau ada beberapa sudut yang sedikit tidak nyaman karena mentok dengan batang pohon. Lalu ia kembali ke posisi duduk.
“Boleh aku bertanya pada kalian?”
“Ya, tentu,” jawab Luna dan Aivi bersamaan.
Sebelum Varel sempat membuka mulut, sesuatu diberikan kepadanya. Ia genggam itu. “Makanlah itu,” kata Luna. “Itu adalah roti madu atau ditempatku disebut roti esal.”
Beberapa saat Varel meraba makanan bertekstur sedikit kasar itu, seperti roti biasa pikirnya. “Makanlah, pangeran, itu buatan Luna.” ucap Aivi yang juga sedang mengunyah potongan bagiannya. Lunastira sedikit malu dengan ucapan Aivi.
Dimakanlah roti tersebut. Walau terasa kasar, pada gigitan pertama roti itu benar empuk dan lembut. Madu di dalamnya meleleh seketika dan rasa-rasanya seakan menari dalam setiap kunyahan. Lunastira melihat ekspresi senang Varel itu, terasa puas di hatinya.
“Jadi, aku ingin bertanya pada kalian,” kata Varel sambil masih memegang rotinya yang belum dihabiskan. “Aivi adalah familiar, bukan?” mereka mengangguk walau tidak mampu terlihat oleh Varel. “Jadiii ... kamu adalah penyihir?” pertanyaan tersebut diajukan ke Lunastira yang masih mengunyah potongan terakhir rotinya.
“Ehm, iya ... bisa kau bilang begitu.” Ada rasa bimbang sedikit dalam hatinya, karena ia tahu tidak ada yang pernah mengaku penyihir seperti itu. Karena hal macam itu dilarang oleh peraturan yang tertulis di desanya. Para penyihir adalah komunitas yang tersembunyi serta rahasia. Dia bingung menjelaskan kepada Varel. Apakah ia harus jelaskan atau ....
Lunastira yang bimbang sejak tadi masalah pengakuannya tersebut, tetapi malah Varel terlihat terkagum dan merasa heboh. Wajahnya nampak tidak percaya dan gembira. Luna dan Aivi kebingungan dengan tingkah Varel yang seakan memenangkan sebuah hadiah kompetisi atau mendapatkan kado yang paling luar biasa sejagat raya.
“Ada apa denganmu, Varel?”
“K-KAU PENYIHIR...!” ucapnya cukup lantang.
“Psst... pelankan suaramu!”
“Maaf, maaf. Aku hanya, sungguh tidak percaya,” ujarnya. “Ini sungguh tidak aku bayangkan, kalau aku akan bertemu salah satu penyihir.” Lunastira bertatap singkat dengan Aivi. “Belum lama ini, aku sempat diceritakan tentang kalian kaum penyihir. Walau aku sering kali mendengarkan cerita atau kisah mengenai penyihir, aku sungguh tidak pernah bosan.”
Wajahnya berseri-seri dengan cahaya bulan yang kini berada di atas kepala mereka. Mata-mata binatang sesekali terlihat mengintip dari atas pohon atau semak-semak. Lunastira tidak mengkhawatirkan mereka, karena daerah mereka berada aura magisnya terasa aman dan justru menenangkan diri.
Beberapa saat mereka mendengarkan pembicaraan bagaimana bahagianya dan bergairahnya Varel yang kini berada di luar kastelnya. Ia bukannya tidak bahagia tapi entah darimana, jiwanya merasa ingin sekali di tempat-tempat alam seperti ini. Mungkin berkaitan dengan sesuatu tentang garis keturunan leluhurnya yang jauh di masa lalu adalah seorang penjelajah atau sesuatu seperti itu.
Varel terlihat kesakitan pada pergelangan bekas belenggu besi; Lunastira menawarkan untuk memberikan pertolongan pertama padanya. “Sebelumnya aku minta maaf, aku bukan penyihir penyembuh, jadi ilmu penyembuhanku tidak begitu hebat dan hanya meredakan sakit saja. Tapi jika butuh sihir ini, bilang saja, aku pasti akan membantu.” Luna tersenyum melihat Varel yang terlihat begitu tenang.
Setelah itu, mereka hening sejenak. Varel menyenderkan diri di batang pohon yang tebal, dan Lunastira menatap ke arah bulan purnama sambil mengelus lembut Aivi yang mulai terlelap di pangkuannya. Angin malam menghembus pelan membuat nyaman diri mereka. Sesekali suara-suara binatang kecil terdengar, saling bersautan. Varel kini mulai merasa kantuk, ia mulai merebahkan diri di atas jamur raksasa tersebut. Diberikannya sebuah selimut polos yang cukup tebal dan ternyata pas sekali menutupi dirinya.
Lunastira masih melamun jauh menatap ke langit.
“Kau tidak tidur, Luna?” tanya Varel.
“Ya sedikit lagi,” sahutnya. “Aku boleh bertanya padamu satu hal, Varel?” Varel hanya berdeham pelan menjawab. “Apa keluargamu ada kaitannya dengan The Messenger of Nature?” Varel hampir tidak mendengarkan ucapan Luna, sehingga ia menanyakan ulang pertanyaan tersebut. Tapi Luna hanya tersenyum dan akan menanyakannya lain waktu.
Mereka kini tertidur dalam pelukan sejuknya alam. Malam ini terasa tidak biasa olehnya, dirinya yang terbiasa tidur hanya berdua dengan Aivi. Kini, ada sosok lain bersamanya. Laki-laki yang tidak pernah ia jumpai seumur hidupnya. Haruskah dirinya lebih berhati-hati pada Varel? Dia selalu diberitahu jika kaum laki-laki adalah sosok manusia paling berbahaya. Tapi sejak tadi, dirinya tidak merasakan aura berbahaya dari Varel. Apakah karena dia buta? Atau karena dia hanya seorang bocah? Pikiran-pikiran tadi sejenak mengganggu malamnya. Namun suara halus terdengar menenangkannya. Dan perlahan, dirinya ikut tertidur.
***
“Bagaimana? Apakah kita sudah dekat dengan para curut itu?” keluh bos bandit di atas pelananya, kuda coklat dengan bercak putih di kepala. “Sudah lama kita mengejar mereka dan belum terlihat batang hidung mereka.”
Salah satu pelacak yang memimpin di depan dengan anjing-anjing sambil terus melihat ke tanah mereka berpijak, melacak jejak-jejak yang tertanda pada tanah. Banyak bekas injakan pada tanah yang coklat kehitaman, rumput-rumput tertekan membentuk jejak kaki yang berukuran sedang; sudah dipastikan itu adalah jejak-jejak mangsa mereka.
Beberapa diantara mereka ada yang naik kuda berdampingan dengan bos bandit, dan sisanya berjalan kaki membawa perlengkapan dan alat-alat penting lainnya. Dan salah satu anggotanya yang berjalan kaki adalah bandit muda yang sebelumnya sempat menjadi beku. Dia menjadi bahan lelucon kawan bandit yang lainnya. Ada rasa malu dalam dirinya. Ia ingin sekali kembali ke desanya menjadi petani kacang seperti kakek neneknya. Mungkin setelah kontrak ini berakhir, pikirnya.
Beberapa meter dari sana, kuda-kuda mereka tiba-tiba meringkik berulang-ulang. Tanah bergetar cepat. Batang pohon di kiri dan kanan mereka mendadak bersinar, terdapat sebuah sigil (simbol sihir/magik) pada batang-batang tersebut. Mereka pun ikut panik. Bos bandit itu dengan beberapa anak buahnya yang naik kuda segera melompat menjauh dari area bercahaya tersebut. Dan BOOOM... suara ledakan kecil pada tanah dan roboh. Tanah pada area tersebut berubah menjadi lumpur kehitaman yang begitu lengket. Banyak di antara mereka terjebak di dalamnya, termasuk kereta pengangkut mereka.
Wajah bos bandit memerah, kesal dan naik pitam. Kali ini dia sungguh kehabisan kesabaran. Jika dia tidak berhasil membawa bocah bangsawan itu pada pemilik kontrak, ia tidak akan mendapat bayaran, dan juga dia hanya akan mendapat kerugian. Sambil menatap kosong pada anak buahnya yang tenggelam dalam lumpur hisap itu, dia bersumpah akan menangkap dua anak bedabah tersebut.
“Sepertinya, kita membutuhkan mereka,” ucapnya kepada sisa anak buahnya.