Matahari sudah memancarkan sinarnya. Fabio dan Lunastira yang saling berboncengan menaiki kuda unicorn yang dengan gagahnya menolong dan menyelamatkan mereka. Kini mereka berada di padang rumput yang sudah mendekati kota, yang kiranya berjarak kurang dari 10 km.
Kuda unicorn itu berlari seperti bersama angin yang terus mengitari mereka karena saking cepat lajunya, konon kecepatan kuda mistik itu dua hingga tiga kali kuda dari jenis paling cepat di Eventyrland.
Tembok kota Einsfield mulai terlihat begitu juga dengan ladang-ladang yang berada di pinggir kota itu. Tinggal hitungan menit saja sebelum racun itu benar-benar membuat Varel dan Lumi mati lemas.
Mereka berhenti persis di depan rumah Lumi, mereka melompat dengan terburu-buru; Lunastira langsung menuju pintu bergegas, Fabio sempat berhenti sejenak untuk mengatakan terima kasih pada kuda penyelamat itu, Fabio kemudian menyusul Luna.
Semua tampak heboh ketika melihat Luna masuk melewati pintu depan, tampak pada wajah mereka berseri-seri, diikuti Fabio di belakang.
Lunastira mendekati Varel dan Lumikki yang terbaring di dekat perapian; Luna menyentuh kening mereka berdua, suhu tubuh mereka lebih tinggi dari sebelumnya. Yang lain heboh bertanya bagaimana perjalanan mereka dan sebagainya, tapi Luna hanya mampu fokus pada kedua anak baik yang terbaring di depan matanya.
“Apa yang harus aku lakukan, Tyra?” Memotong semua pertanyaan di sekitarnya.
“Kau hanya harus memotong buah Apel Emas itu, agar mudah dimakan oleh mereka, Luna. Seperti mereka memakan buah biasanya.”
“Kau yakin? Tidak perlu sesuatu hal yang perlu dilakukan?”
Tyra menggeleng. “Percayalah,” katanya, “buah emas itu bukanlah buah sembarang buah. Semua buah di pohon yang kau dapatkan apel itu, semuanya adalah buah dengan memiliki khasiat khusus dan tersembunyi. Tapi Apel Emas, dianggap sebagai buah penyempuh segala penyakit dan bahkan penangkal racun paling ampuh yang pernah ada.”
Aivi memberikan pisau kepada Luna, dan segera dipotongnya buah apel yang seukuran kepalan tangan orang dewasa, tekstur lembut bahkan mulus, mengeluarkan aroma manis dan harum seperti melati tetapi jauh lebih harum seperti campuran rempah kering yang dikumpulkan dan mengeluarkan aroma manis yang saling menyatu-padu.
Buah itu dipotong kecil menjadi delapan potong. Lunastira memasukan satu potongan kecil itu kepada Varel, dan satu lainnya diberikan kepada Lumi dengan bantuan Fabio. Semua menatap penuh harap pada mereka. Potongan buah tidak mampu mereka gigit dan kunyah, karena semua otot tubuh menjadi lemas tidak mampu digerakkan. Karena tidak ada pilihan lain, Lunastira menggigit potongan itu dan dikunyah, dan hasil kunyahan dia masukkan ke mulut tipis Varel. Dan untuk Lumi, potongan buah dikunyah oleh Tyra dan kawan fairy lainnya dengan cepat dan hati. Sedikit saja dari kunyahan itu ditelan mereka, akan membuat mereka segera kembali membaik.
Semua hening, memandangi Varel dan Lumi dengan mata penuh harapan yang menyala. Tapi belum tanda-tanda mereka. Apakah mereka telat? Atau Apel Emas itu tidak mujur seperti kata Tyra? Apa semua perjuangan dan harapan mereka sia-sia? Semua pertanyaan saling berputar di kepala mereka masing-masing ... tapi dengan cepat runtuh seketika saat jari mereka mulai bergerak sedikit. Wajah mereka mengeluarkan senyuman yang berseri-seri. Varel dan Lumi mulai mendapatkan kembali kesadaran dan tenaganya.
Yang lain mendekati mereka yang perlahan bangkit. Sukacita memenuhi dan mengelilingi rumah sederhana itu. Senyuman dari Varel dan Lumi bersinar paling terang di sana, kenyamanan dan keamanan yang merasakan saat itu terasa akrab tapi disaat bersamaan juga asing. Namun yang pasti semua perasaan yang bergejolak antara mereka semua, membuat harapan itu menjadi kenyataan.
Beberapa saat kemudian, setelah Lunastira dan Fabio menjelaskan semua kepada yang lain, mereka mengangguk-angguk kagum dan mata mereka berbinar. Semua cerita pencarian itu membuat Varel terharu, matanya berkaca-kaca. Semua terasa seperti mimpi di musim panas, hangat dirasakan tapi ketika bangun terasa aneh tapi nyata.
“Lumi, kita akan pamit dari sini,” ucap Luna. “Kita sudah terlalu lama menunda waktu. Dan sekarang ku rasa adalah waktu yang tepat untuk pergi.”
“Tidak kah kalian bisa menginap satu malam lagi? Besok pagi baru kalian pergi?” Mata sedih dan perasaan menggantung di hati Lumi.
Lunastira menatap kawan seperjalanannya, tapi belum ia berbicara, Varel yang memotongnya. “Aku setuju, sekarang adalah waktu tepat untuk kita bergegas pergi.” Semua memandang khidmat kepada Varel, sebuah aura agung terpancar untuk sesaat. “Racun itu bukti jika memang ada orang atau bahkan kelompok entah dari mana, telah mengincar nyawaku. Dan mereka bahkan tidak segan menggunakan itu juga kepada teman-teman serta orang di sekitarku. Aku tidak ingin itu terjadi lagi. Oleh karena itu Lumi, kumohon mengertilah. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, hanya karena diriku yang lemah tidak berdaya ini.”
Semua termenung, memikirkan perkataan dari Varel; semua mengerti dan memahami apa yang disampaikan Varel tersebut, tapi memang sebuah perpisahan itu selalu berat untuk diatasi, apalagi bagi orang yang telah banyak mengalami yang namanya kehilangan.
“Kami janji ini hanya perpisahan sementara Lumi.” Semua mengangguk setuju atas perkataan sang Pangeran, dan perasaan yang tidak nyaman di hati Lumi kini mulai terasa tenang.
Mereka bersiap-siap, dan bergegas pergi. Mereka mengambil perlengkapan mereka di toko Pak Wesline, yang diantar oleh Lumi. Para fairy mengantar mereka pergi hanya dari dalam rumah, karena tidak ada yang tahu jika ada fairy yang tinggal di sana.
Mereka berpamitan dengan Pak Wesline yang berwajah ceria dan penuh tawa itu. Walau tidak dekat dan akrab dengan mereka, Pak Wesline menganggap ketiga pelanggan barunya itu seperti anaknya sendiri. Saat keluar dari tokonya, mereka juga berpapasan dengan si ibu pemilik toko baju di seberang, mereka mengucapkan terima kasih.
Lumikki mengantar mereka ke gerbang utara kota. Begitu berat rasanya ia mengucapkan selamat tinggal, sejak tadi dia terus berusaha menahan air matanya dari mata birunya. Dan ketika mereka saatnya berpisah, seperti yang diduganya, air matanya malah menetes tidak kuasa ia tahan.
“Jangan mengucapkan ‘selamat tinggal’, Lumi. Tapi ucapkanlah ‘sampai jumpa kembali’. Dengan begitu kesempatan kita akan bertemu kembali akan lebih tinggi, dan itu akan menjadi sebuah harapan yang menetap di hatimu selalu. Jadi ‘sampai jumpa kembali.’”
Lagi-lagi Varel mengeluarkan kata-kata yang menulusuk lurus ke hati yang mendengarnya. Mereka melambaikan tangan, bukan dengan air mata tetapi dengan senyuman paling lebar dan tulus yang pernah mereka tampakan. Varel dan yang lain mulai tampak mengecil di ujung jalan sana, Lumi tidak berhenti melambaikan tangannya untuk sesaat.
“Kita akan bertemu lagi. Kak Varel, Kak Luna, Kak Fabio, dan Aivi!”
***
Keesokan harinya.
Empat sosok gadis berpakaian aneh dan tidak biasa masuk ke kota Einsfield. Dua di antara mereka memegang sapu yang panjangnya seukuran dari mereka. Terlihat juga empat binatang yang tidak pernah dijumpai oleh penduduk sana, membuat mereka benar-benar terlihat paling mencolok di kota Eisnfield tersebut. Mereka adalah Morgana dan kawan-kawan.
Mereka tidak menunda-nunda dan membuang waktu. Mereka saling berpisah untuk menemukan keberadaan atau jejak dari Lunastira. Morgana yakin sekali, jika Lunastira berada atau pernah di kota tersebut.
Di antara mereka saling menanyakan pejalan kaki yang lewat di depan mereka, atau juga bertanya pada orang-orang di warung minum atau tempat makan yang ada. Tapi kebanyakan dari mereka tidak menjawab pertanyaan dari empat gadis penyihir itu, karena penampilan mereka sungguh asing bagi mereka dan juga mereka tidak ingin campur urusan mereka berempat. Sampai akhirnya Dirna menemukan petunjuk akan bukti keberadaan Lunastira.
“Kau yakin, Dirna? Luna benar-benar pernah di sini?” tanya Morgana bersemangat.
“Iya!” Kepalanya naik-turun cepat. “Aku bertemu dengan seorang pak tua, namanya kalau tidak salah ... Pak Wes ... wes, Wesline ah ya. Dia berada di salah satu warung minum bersama dengan wanita berpenampilan indah namun juga nyentrik, seperti Bu Eva kalau di desa kita, pasti wanita itu juga penjahit seperti Bu Eva.”
“Cepat, ke intinya saja, Dirna!”
“Ah, iya, maaf ... maaf.” Dia terkekeh. Kemudian menyampaikan apa yang dia dapatkan informasinya dari Pak Wesline.
Semua terdiam beberapa saat. Mendengarkan dengan saksama. Terkejut dengan fakta baru yang mereka temukan—jadi benar jika Lunastira tidak lah sendiri.
“Siapa pun bocah itu dan pemuda kurus yang bersama Luna. Kita tetap akan menangkap dan membawa Luna kembali secepat mungkin.” Semua mengangguk mengerti instruksi dari Morgana.
Namun di dalam lubuk hatinya, Morgana kepikiran dengan kedua sosok laki-laki yang membersamai Luna dalam perjalanannya itu. Bagaimana mungkin ia dapat mendapatkan donor dengan begitu saja, pasti ada keanehan atau hal yang tersembunyi. Dan itu semua akan terungkap jika Morgana dan yang lain berhasil mengejar Lunastira yang berada sehari lebih jauh dari mereka.
***
Suara gemuruh langkah kaki kuda yang cepat dan kuat di padang rumput hijau. Empat kuda dari peranakan yang berbeda berlari dengan gagahnya, kepulan asap dan debu mengikuti di belakang mereka. Dan di atas pelana empat kuda itu, empat sosok pria dengan jubah hitam dengan persenjataan lengkap yang mereka selipkan di tubuh mereka atau juga ada di kuda mereka. Di antara empat sosok itu, ada satu orang yang memimpin mereka. Cahaya senja sudah berkilauan di padang rumput itu. Waktunya istirahat untuk mereka. Mereka beristirahat di pepohonan yang tumbuh jarang di padang tersebut.
“Ah, lelah sekali ... Kau tidak lelah, Ezio?” Eryck membaringkan tubuhnya di tanah yang berumput hijau lebat, dan terdapat bunga-bunga kecil tumbuh di sana.
“Iya, tentu saja lelah. Tapi aku harus mempersiapkan rencana untuk nanti.” Matanya melihat sebuah lembaran lebar.
“Sebenarnya apa yang ditugaskan padamu oleh Talos? Apakah Luke akan menyusul seperti yang dikatakannya?”
Ezio menghiraukan perkataan dari Gilbert. Matanya memang diarahkan ke lembaran coklat tua itu, tapi tampaknya ia membayang jauh ke saat dia mendapat tugas itu.
Ezio teringat beberapa jam sebelumnya, saat mereka masih di Benteng Elvaros.
“Kau gila Talos!” teriaknya.
“Tenanglah, Ezio, tenang. Dengarkan apa yang disampaikan Talos. Ini adalah cara bagaimana kau membayar akan kesalahan ... kesalahan fatalmu selama ini.” Luke merangkul adiknya itu. “Kau tahu, aku tidak peduli kau tertarik atau bahkan mencintai gadis penyihir itu, tapi Ezio, semua itu adalah tindakan yang melanggar peraturan. Dan dengan kau melakukan ini, akan menjadi bukti kesetiaanmu pada persaudaraan ini. Kumohon....”
Matanya termenung kosong, teror dan ketakutan menyelimuti dirinya saat itu. Ia membayangkan wajah gadis yang ia cintai ... gadis yang temui beberapa tahun yang lalu, dimana itu adalah misi pertamanya saat tanpa ditemani oleh anggota lainnya.
“Ezio, anakku, aku tidak memaksamu untuk melakukan itu. Toh, cara ini juga belumlah seratus persen terbukti mampu mengatasi sihir-sihir sesat itu. Tapi dengan kau melakukannya, mencobanya, itu akan menjadi bukti kesetiaanmu bukan padaku, tapi pada saudara-saudaramu di sini. Dan berhasil atau tidaknya cara ini, itu masalah belakangan, karena itu nantinya akan menjadi s*****a pamungkas kita membasmi dari wanita-wanita amoral yang tersebar di Eventyrland.”
“Zio ... Ezio ... Ezio! Sadarlah, makanan sudah siap. Ayo makan.” Axel memberikan mangkuk kayu berisi rebusan daging kelinci dan beberapa sayuran, serta ditemani anggur hangat.
Cepat atau lambat, Ezio akan menghadapi ketakutan terbesarnya. Apakah dia harus melawan kakaknya dan hengkang dari Brotherhood of the Witch Hunter, demi kekasih hatinya yang adalah seorang penyihir? Atau dia harus mengorbankan nyawa kekasihnya demi kebaikan persaudaraan yang telah memberinya tempat dan alasan hidup?
“Aku harus bagaimana ... Alyna.”