Varel ... Varel....
Suara lembut menenangkan memanggil sang pangeran kecil yang masih berbaring nyenyak di ranjang empuknya. Dalam kepalanya, mimpi indah sedang ia alami. Aroma lavender dan kayu manis memenuhi dimensi mimpi itu, cahaya terang namun tidak panas dan langit biru tenang membawa gumpalan awan-awan putih terbang bersama angin. Tubuh mungilnya diguncangkan oleh sosok di luar dimensi indah itu, membangunkan dengan suara yang begitu lembut dan tidak asing baginya.
Kelopak matanya yang berat mulai menangkap cahaya samar-samar, ada sosok di hadapannya. Udara kala itu terasa manis, khas udara pagi di daerah selatan. Sosok itu kembali memanggilnya, perempuan di hadapannya begitu cantik dengan rambut pirang keemasan bagai cahaya mentari pagi, matanya yang biru menatap mata kelabunya. Ialah Ratu Miranda.
“Bunda.”
“Pagi, sayangku.” Ratu mencium kening sang anak. “Ayo cepatlah bangun, Varel. Pagi indah ini harus dimulai dengan baik, karena kau juga memiliki banyak agenda hari ini, bukan?”
Varel sempat terdiam, duduk di atas ranjang dengan selimut masih menutupi setengah tubuhnya. “I-Iya, Ferdinand kemarin sudah mengingatkanku juga.” Dia membuka selimut dan bergerak ke pinggir ranjang, mendekati sang bunda. “Apa aku harus melakukan ini, Bun? Apa Ayah tidak terburu-buru dengan semua yang ia rencanakan? Ak—"
Jari telunjuk Ratu yang panjang melengkung indah diarahkan ke mulut Varel sebelum ia mengucapkan sesuatu lebih banyak. “Shhh ... tenanglah, Varel, tenang. Semua akan baik-baik saja. Kau sudah tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Kamu sudah 10 tahun, nak. Dan Raja—Ayahmu pasti percaya denganmu, kalau tidak, dia tidak akan mempersiapkanmu untuk hari ini, kan. Tenang, aku akan mengawasimu dari kejauhan dan aku akan menyemangatimu terus menerus sampai itu cukup untuk dirimu, sayang.”
Kata-kata itu membuat Varel jauh lebih tenang, dan itu seolah jadikan sebagai bahan bakar penyemangat di hatinya.
Gorden terbuka lebar, jendela-jendela kamar dibuka oleh para pelayan, udara dan angin pagi itu seolah ikut menuntun Varel untuk segera bersiap untuk hari penting itu. Dia pun segera bersiap dibantu dengan bibi Viona dan pelayan-pelayan lainnya. Ratu Miranda pergi mencari raja yang entah sedang berada dimana kala itu.
Mungkin kiranya pukul setengah sepuluh lebih Varel telah selesai, ia kini sudah beraroma paling harum dari sabun mandinya serta sudah rapih dengan pakaian resmi kerajaan yang bagus dan gagah dipakai olehnya.
Raja sedang berbicara dengan para penasihat-penasihat kerajaan di halaman kastel yang berupa taman yang ditanamkan tanaman-tanaman hias nan indah dari segala penjuru Eventyrland. Mereka pun juga berpakaian resmi dengan warna kebanggaan Kerajaan Selatan dan Keluarga Wallstar yaitu biru gelap.
“Tuan-tuan,” kata Raja bernada wibawa tinggi. “Saya harap kalian semua mampu memberikan penilaian yang layak serta tetap kepada pangeran. Bukan karena diri saya, tapi karena dirinya layak diberikan penilaian-penilaian dari Anda sekalian yang akan menentukan nasib kerajaan ini juga.” Raja meneguk tetesan terakhir dari wine pada gelasnya. “Saya tahu, banyak di antara kalian yang tidak setuju dan juga tidak menyukai keputusan saya mengadopsi anak misterius yang ditemukan di kandang kuda 10 tahun lalu itu, tapi tidak seperti kalian, aku seolah melihat suatu tanda dari kejadian malam dingin kala itu. Sebuah tanda yang kurasa adalah pertanda baik bagi bukan hanya wilayah selatan, tetapi juga untuk seluruh Negeri Damai ini.”
Seorang prajurit pembawa pesan menghampiri dan berbisik pada Raja, dan penasihat-penasihat yang mengelilingi dirinya memandang dengan hormat walau ada gejolak dalam hati mereka mengenai pangeran putra mahkota mereka. Raja Henrik pamit undur diri, panggilan sang ratu kepadanya membuatnya tidak mampu menolak. Ketika beliau menjauh, banyak di antara mereka berbisik-bisik entah mengenai apa, tapi dari kejauhan sang kapten kastel dan pelindung ibu kota yaitu Ferdinand mengawasi dengan mata bagai elang.
“Ada apa, Sayangku?” Raja menghampiri dan mengecup kedua pipi manis dari Ratu. “Kenapa kau tampak khawatir? Apa ini mengenai Varel? Atau ada hal lain dipikiranmu?”
Ratu memandang jauh ke cakrawala dari kamar mereka. Raja berdiri di samping ikut memandang jauh entah melihat apa, mungkin sama dengan yang dilihatnya. “A-Aku hanya memikirkan bagaimana Varel nantinya. Maksudku ... apa pun hasil nanti, Varel tetap memiliki sebuah tanggung jawab yang begitu besar yang harus ditanggung tubuh kecilnya itu. Entah aku harus bagaimana menyikapinya. Aku tahu, Yang Mulia membutuhkan ahli waris serta putra mahkota, tapi tetap saja rasanya berat sekali melihat Varel harus menanggung semua itu.”
Mereka hening sesaat, menikmati pemandangan indah lembah yang terhampar di depan sana. Kemudian barulah raja berkata, “Sejujurnya aku juga terkadang memikirkan hal yang sama sepertimu, tapi dengan cepat aku segera hilangkan pikiran hal itu; karena aku ingin percaya kepada Varel, percaya jika dia memang sesuatu yang ditakdirkan kepada kita berdua. Jadi percayakan saja padanya, dia adalah anak yang baik dan aku yakin dia tidak akan berubah, akan selalu menjadi putra kecil tersayang kita.”
Raja tersenyum kepada Ratu Miranda. Suara ketukan dari pintu terdengar, sudah waktunya. Sebelum mereka bergegas keluar, sang ratu mengecup lembut bibir tebal sang raja. “Terima kasih, terima kasih sudah menjadi ayah yang baik bagi Varel, dan selalu menjadi pasangan yang melingkapi diriku yang lemah dan rentan ini. Terima kasih, Henrik.”
Halaman kastel sudah diramaikan oleh tamu-tamu undangan, dari keluarga bangsawan baik anggota penasihat kerajaan maupun yang bukan, hadir juga perwakilan keluarga Tundra yang dimana kepala keluarga mereka tidak dapat hadir dan Stefan kala itu menyempatkan hadir. Bapa Lenny juga sebagai salah satu penasihat, terutama penasihat rohani kerajaan, ikut hadir di sana walaupun banyak yang melihatnya dengan tatapan aneh dan asing, karena Bapa Lenny berbeda dengan mereka; berkulit hitam dan mampu menjadi penasihat raja dari sudut pandang rohani. Hal itu sungguh membuatnya menjadi pembicaraan kala itu, saat awal ia menginjakkan kaki di kastel.
Suasana kastel cukup ramai, karena jarang sekali kastel mengadakan acara; dan walau acara penilaian kelayakan Varel sebagai putra mahkota itu termasuk tertutup, tapi pasti nantinya akan tersebar ke seluk-beluk ibu kota Sterden melalui para pekerja-pekerja kastel yang juga dapat menyaksikan walau dari “kursi belakang”.
“Kau bisa Varel,” ucap Ferdinand yang berada di belakangnya. “Aku sudah mengajarkanmu banyak hal, walau memang belumlah semua. Tapi ini adalah waktu membuktikan kemampuanmu.”
“Ferdinand,” desah Varel. “A-Aku ... bagaimana jika aku gagal? Bagaimana kalau akhirnya aku hanya mengecewakan kalian? Raja dan Ratu? Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana jika akhirnya semua berantakan, Ferdinand. Aku harus apa?”
Bahu mungil Varel saling digenggam erat oleh kapten senior itu, untuk memberikan kekuatan kepadanya. “Kau tidak harus memikirkan itu semua, Pangeran.” Ferdinand berusaha meyakinkan. “Tidak ada kata gagal dan sukses jika belum dilakukan. Oleh karena itu lakukanlah! Lakukan seperti yang sudah aku arahkan dan ajarkan, lakukan seperti yang sudah Raja dan Ratu berikan kepadamu selama ini. Masalah gagal atau tidaknya nanti, itu akan bisa kau hadapi dengan baik. Seperti yang selalu kukatakan: buatlah satu kekuranganmu itu menjadi kelebihanmu.”
Tidak lama suara sambutan memanggil diri Varel untuk keluar ke hadapan para penasihat kerajaan dan bangsawan di halaman kastel. Sekali lagi Ferdinand menyemangati anak laki-laki yang dulu ia temukan di kandang kuda, bayi mungil itu kini menjadi anak laki-laki yang baik dan tangguh, sepuluh tahun sudah berlalu dengan cepat, pikirnya.
Setelah diinsturksikan oleh Ferdinand arah jalan keluar untuk menghadap ke para penasihat, Varel bergegas keluar dengan berjalan tenang dan gagah walaupun dirinya buta sekalipun dia tetap terlihat bagai pangeran yang seharusnya dimiliki oleh kerajaan.
Sekiranya Varel melangkahkan kakinya dua puluh langkah dari tempat awal ia berada tadi menuju ke halaman kastel yang dimana para penasihat duduk di panggung yang didirikan untuk melihat dan menyaksikan keahlian dan kemampuan Varel selama ini.
“Varel ‘Henrikson’ Wallstar.” Namanya dipanggil dengan lantang. “Kami di sini sekalian sudah menyempatkan waktu untuk melakukan tradisi penilaian kepada pangeran sekaligus putra mahkota Kerajaan Selatan, yang telah dilakukan dan dilaksanakan sejak generasi-generasi sebelum kita, ini sekaligus untuk menghormati leluhur kita terutama pemimpin dan raja kita terdahulu.” Semua mata di halaman kastel dan juga di sekitarnya menyaksikan dengan kilatan pada mata mereka. “Sebelum dimulai, Pangeran. Ada yang ingin saya tanyakan satu hal saja pada Anda.” Varel mengangguk. “Apakah Anda sudah siap? Bukan hanya siap melakukan tradisi yang telah dilakukan leluhur saja, tapi juga siap menanggung beban sebagai putra mahkota yang nantinya akan suatu saat akan dinobatkan menjadi raja di Selatan? Ini adalah hal besar, bukan hanya untuk Anda, tapi juga seluruh negeri Selatan dan penjuru Eventyrland akan juga menjadi tanggung jawab Anda. Seperti leluhur Anda: Raja Aldric Sang Pendamai, Raja Godric Sang Pengadil, dan juga Raja Henrik Sang Penjaga Perdamaian dan raja-raja sebelum mereka.”
Atmosfir di sana mulai terasa lebih berat dan pekat, hal itu membuat tubuhnya terasa tertekan ke dalam bumi, beban gravitasi seolah menariknya ke dalam. Ia mengambil napas dalam, membayangkan suara di sekitarnya menjadi hening dan memfokuskan suara hatinya yang bersumber dari suara-suara orang tersayangnya, suara-suara itulah yang terasa menguatkan dirinya selama ini. Setelah hembusan napas lembut dikeluarkan, suara sekitarnya mulai kembali terdengar namun lebih tenang dan ringan.
Raja dan Ratu menyaksikan panggung lantai atas bangunan yang berada di sisi halaman. Keduanya memperhatikan Varel dengan rasa bangga. Terkadang Ratu Miranda tersenyum tipis melihat putranya itu berdiri di sana dengan gagahnya.
Setelah sambutan dan hal-hal tambahan kecil lainnya, penilaian akan segera dimulai. Yang pertama adalah keahlian pedang dan bela diri.
Demi menjaga kesempurnaan dalam penilaian, maka lawan untuk pangeran bukanlah Ferdinand atau orang pilihan melainkan salah satu kesatria yang mampu bersikap netral dalam pertarungan dan hasil penilaian nantinya.
Selama lima tahun ke belakang, Varel aktif diajarkan dasar-dasar seni pedang dan bela diri. Walau dirinya buta, Varel menunjukan sebuah peningkatan yang signifikan dari awal ia memulai hingga kini. Varel adalah anak yang tangguh dan tidak mudah patah semangat, memang terkadang ada rasa yang berat dialami tapi ia mampu dengan cepat menghilangkan atau menahannya.
Lawan tanding Varel nampak meremehkan dirinya, tampak dari wajahnya yang menyeringai dan tawa kecil saat berhadapan dengannya. Karena halaman kaste luas serta memiliki tanah kosong yang biasanya digunakan untuk menanam sayur-mayur kebutuhan kastel, kini dijadikan arena kecil dan sederhana untuk Varel dan kesatria bertarung.
Varel bertarung dengan tenang, ia mampu menghindar berbagai serangan yang dilontarkan kepadanya, membuat lawannya merasa tidak senang dan seolah dipermalukan. Sejak awal Varel diajari sebuah teknik untuk mampu merasakan getaran dari suara gerak di sekitarnya, oleh sebab itu ia mampu bertahan beberapa serangan awal itu. Ferdinand bisa dikatakan berhasil mengajarkan hal itu kepadanya tapi ternyata masih belum cukup apa yang diajarkannya itu. Varel mampu bertahan tapi tidak mampu memberikan serangan berarti, entah karena tidak ingin menyakiti lawannya atau karena ia tidak dapat menemukan titik lemah dari lawannya.
Kesatria itu mengambil kesempatan dengan menyerang tubuh bagian Varel dan membuatnya terjatuh ke tanah berpasir itu. Varel kesakitan, kesatria itu sedikit tertawa dibalik helm besi kesatrianya. Varel bangkit dan kembali menyerang tanpa diduga oleh kesatria itu. Waktu terus berjalan, jam pasir terus turun dengan cepat bagai tetesan air.
Varel sudah kembali berdiri dengan kedua kakinya, sedang musuhnya itu kini merasakan sakit terkena pedang kayu yang digunakan mengenai sela-sela dari baju zirahnya. Beberapa yang orang menyaksikan pasti berpikir jika lawannya curang dan lainnya, tapi padahal itu adalah salah satu poin penilaian. Meski putra mahkota baru sepuluh tahun umurnya, ia harus mampu menghadapi lawan-lawan berat yang akan dihadapinya di masa yang akan datang.
Varel dengan cepat bergerak mengikuti udara di sekitarnya, menuju ke kesatria yang berdiri dengan tanpa pertahanan yang memadai. Sang kesatria berusaha kembali ke zona pertarungan, dia menangkis serangan pangeran. Ada emosi yang mengikuti dari serangan balik itu. Dia menghempaskan pedangnya yang membuat Varel terdorong jatuh. Kesatria itu memanfaatkan kesempatan, pedang kayu diangkatnya tinggi dan siap meluncur ke arah pangeran, dan tanpa diduga kembali Varel mampu menahan serangan yang cukup kuat itu kepadanya. Dan waktu jam pasir telah habis.
Tes pertama selesai. Varel menunjukan sebuah bakat dan keahlian yang tidak terduga. Sang kesatria itu menjulurkan tangannya pada Varel dan mengangkat tubuh kecilnya untuk bangkit. “Pertarungan hebat, Tuanku,” ucap sang kesatria dengan bangga. “Semoga suatu saat kita dapat bertempur bersama.”
Varerl tersenyum kecil. Ferdinand bersorak-sorai mendekati dan mengantarkan Varel ke pinggir untuk beristirahat. “Kerja bagus, Varel. Kamu hebat. Lawanmu juga sepadan. Jika kau tidak buta, dia pasti kalah.”
Pangeran Varel tidak menjawab, dia terdiam dan telinganya berdengung. Ternyata telinganya meneteskan darah, Ferdinand menyadari itu segera memanggil mantri dan biarawati untuk mengobati dengan segera, karena tes berikutnya akan dimulai.
Setelah diobati, Varel diminta beristirahat sejenak. Ferdinad telah meminta waktu istirahat untuknya, dan diterima oleh para penasihat.
Lima belas menit kemudian, Varel kembali ke lahan kosong yang tadi dijadikan arena pertarungan. Kini telah disiapkan sebuah lingkaran jerami untuk sasaran panahan. Varel telah bersiap, busur panjang sudah ada di tangannya. Salah satu pelatih dan pengawas dari prajurit muda lah yang telah melatih Varel memanah sekiranya setahun ke belakang, karena diminta bantuan oleh Ferdinand. Selama setahun itu juga Varel bisa dikatakan mampu melakukan panahan tapi tidaklah mahir. Dan benar saja, dari sepuluh anak panah hanya empat yang mengenai sasaran dan satu di antaranya tepat sasaran di tengah. Seperti halnya seni pedang, Varel juga memanfaatkan angin di sekitarnya untuk mampu mengarahkan anak panah, tapi ternyata memang tidak sepenuhnya mampu ia lakukan.
Tes ketiga adalah berkuda. Ferdinand jugalah yang mengajarkan berkuda, dan Varel juga diberikan sebuah nasihat untuk berkuda: “Ketika kamu berkuda, jangan sampai rasa cemas dan takut menyelimuti, karena kuda adalah hewan yang sensitif oleh itu. Maka kamu harus percaya diri saja, dan percayakan pada kudamu, karena kuda juga termasuk kawan manusia yang paling setia. Percayakan saja, Varel, percayakan saja.”
Tes berkuda itu dilakukan di lapangan yang tepat berada di luar kastel, tempat dimana para kavaleri berlatih. Varel memiliki kuda yang menjadi salah satu kawannya yang diberikan oleh Ratu Miranda sekitar dua tahun lalu, yang diberi nama olehnya Branco kuda putih yang terdapat corak coklat terang padanya.
Varel mampu melewati rintangan dan lompatan yang ada di sana, dia hanya perlu percaya pada kuda kesayangannya itu saja. Tapi memang terlihat jelas teknik berkudanya tidak mampu dikatakan mahir dan baik. Setelah selesai tiga putaran itu, Varel turun dari kudanya dan membelai kuda betina putih itu serta tidak lupa ia berterima kasih pada Branco.
Yang terakhir adalah tes diplomasi dan ilmu pengetahuan umum. Tes itu dilakukan di dalam kastel, dan karena Varel tidak dapat melihat, tes itu dilaksakan lisan dan dibantu dengan penguji dari salah satu penasihat. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan perihal diplomasi, dan bagaimana Varel menyikapinya. Jawaban-jawaban yang diberikan Varel tergolong cukup tapi tidak memuaskan bagi penguji, termasuk juga kepada ilmu pengetahuan yang nampaknya Varel ada kelemahan di beberapa bidang. Memang pada kenyataannya, Varel sebagai bangsawan dan sekaligus putra mahkota harus memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan yang tinggi, karena jika tidak, kearah mana nanti kerajaan itu akan mengarah.
Setelah seharian penuh, akhirnya hasil telah ditetapkan oleh para penasihat mengenai hasil hari ini. “Pangeran Varel,” ungkap penasihat. “Setelah melihat dan menyaksikan aksi Anda hari ini, kami percaya jika Anda memang tidak dapat diremehkan. Anda berhasil membuktikan kemampuan Anda, yang dipelajari selama ini. Tapi ... rasa-rasanya memang kemampuan itu belumlah matang. Jangan takut, meski hari ini gagal. Masih ada kesempatan lima tahun mendatang. Karena memang begitulah adanya, setiap lima tahun sekali sejak usia sepuluh, calon raja harus diuji kelayakannya. Dan kami harap, lima tahun yang akan datang, Anda memberikan kejutan-kejutan lainnya pada kami.”
Semua orang yang hadir kemudian bertepuk tangan dan berdiri. Perasaan dalam diri Varel campur aduk hari itu, ada rasa menyesal dan sedih seolah menghantui tapi di sisi lain ada kebanggaan tersendiri mengikutinya. Dari jauh Raja dan Ratu juga memberikan tepuk tangannya, wajah mereka semringah bangga meski gagal. Tapi harapan yang mereka percayakan pada Varel akan selalu ada padanya, dan itulah yang akan menjadi pemicu dan bahan bakar semangat dalam diri Varel untuk terus melangkah maju.