Bram menutup telinga dengan kedua tangan, tapi suara itu tetap menerobos masuk. Gonggongan anjing tetangga yang berjarak tiga rumah, dengung kulkas di dapur, detak jantung adiknya yang tidur di kamar sebelah—semuanya terdengar seolah berlangsung tepat di samping kepalanya.
"Sialan," gumamnya pelan.
Sudah seperti ini sejak ia kecil. Indra Bram selalu berbeda. Saat anak-anak lain bermain petak umpet, ia bisa mencium keringat teman yang bersembunyi di balik tembok dari jarak puluhan meter. Saat ulangan, ia bisa mendengar guru membalik lembar soal di ruang sebelah. Dulu ia kira semua orang begitu. Ternyata tidak.
Bram menatap kalender di dinding. Lingkaran merah melingkari tanggal lusa. Ulang tahunnya yang ke-21. Entah kenapa, mendekati hari itu, segalanya terasa makin liar di dalam tubuhnya.
"Kak Bram, sarapan!" teriak Lila, adiknya yang berusia sepuluh tahun, dari bawah.
Bram bangkit. Cermin di sudut kamar memantulkan sosoknya: tubuh tinggi, bahu lebar, rambut hitam berantakan, dan mata cokelat yang—kalau ia perhatikan baik-baik—kadang berkilau keemasan saat cahaya tertentu menimpanya. Ia mengusap wajah, mencoba mengabaikannya seperti biasa.
Di meja makan, ibunya, Bu Ratna, menuangkan teh. Wajah perempuan itu selalu menyimpan sesuatu, semacam kewaspadaan yang Bram tak pernah mengerti.
"Tidur nyenyak?" tanya ibunya.
"Lumayan." Bram berbohong. Ia hampir tak tidur. Tiga malam ini bulan makin penuh, dan tubuhnya seakan menolak diam.
Lila menyodok lengannya. "Kak, kemarin Kakak ngegeram ke Pak Hendra. Anjing dia langsung kabur, lho. Lucu banget."
Bram mengernyit. "Aku nggak ngegeram."
"Ngegeram. Aku denger. Kayak serigala."
Bu Ratna menjatuhkan sendok. Bunyi logam beradu lantai memecah pagi. Bram menoleh, dan untuk sepersekian detik, ia melihat ketakutan murni di mata ibunya. Bukan kaget biasa. Ketakutan yang dalam, lama, terpendam.
"Bu?"
"Nggak apa-apa." Ibunya cepat memungut sendok, tangannya gemetar. "Cuma kaget."
Bram tak percaya, tapi ia tak mendesak. Ia menyendok nasi goreng, dan saat itulah baunya menyergap—bau besi, bau darah, samar dari arah luar. Ia berdiri otomatis, kursi terdorong ke belakang dengan kasar.
"Ada apa, Kak?" Lila menatapnya bingung.
"Nggak ada." Bram memaksa duduk lagi. Tapi jantungnya berdebar. Bau itu nyata. Sesuatu di luar sana, sesuatu yang berdarah, dan tubuhnya ingin keluar, ingin berlari, ingin—berburu.
Pikiran itu membuatnya merinding sendiri.
Setelah sarapan, Bram pergi ke bengkel tempatnya bekerja paruh waktu. Pak Yusuf, bosnya, sudah berkutat di bawah mobil. "Bram! Bantu angkat mesin ini, berat."
Bram menghampiri. Mesin blok itu beratnya mungkin seratus kilogram lebih. Dua orang biasanya butuh katrol untuk mengangkatnya. Bram mencengkeram, dan tanpa banyak usaha, mengangkatnya sendirian.
Pak Yusuf melongo. "Astaga. Kamu makan apa, sih?"
Bram buru-buru menurunkan mesin itu, jantungnya berdebar lagi. Ia tak bermaksud. Tenaga itu datang begitu saja, seperti otot-ototnya menyimpan kekuatan yang tak masuk akal. Ia tersenyum kaku. "Kebetulan lagi fit, Pak."
Tapi Pak Yusuf menatapnya lama, seolah baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tak mungkin.
Sepanjang hari, Bram berusaha bersikap normal. Tapi malam datang, dan dengan malam, datang bulan. Ia berdiri di teras, menatap langit. Bulan itu hampir bulat sempurna, putih perak, dan saat menatapnya, dada Bram terasa ditarik—seakan ada tali tak kasat mata yang menghubungkan dirinya dengan bola cahaya itu.
Darahnya berdesir. Telapak tangannya gatal. Dan jauh di kejauhan, di balik hutan kota yang gelap, sesuatu melolong.
Bram membeku. Lolongan itu bukan anjing. Terlalu dalam, terlalu liar, terlalu—memanggil. Dan yang lebih menakutkan, tubuhnya ingin menjawab.
Tanpa sadar, kerongkongannya bergetar, dan satu geraman rendah lolos dari bibirnya.
Di dalam rumah, ia mendengar ibunya berdoa pelan. Dan satu kalimat menyelinap di antara doa itu, kalimat yang membuat seluruh tubuh Bram dingin:
"Tolong, jangan sampai mereka menemukannya."