Bram tidak bisa tidur. Kalimat ibunya berputar terus di kepala. Mereka. Siapa mereka?
Pukul dua dini hari, ia menyelinap turun. Lantai kayu berderit, tapi telinga Bram yang tajam memastikan langkahnya tak membangunkan siapa pun. Ia mengarah ke kamar ibunya, lalu berhenti. Dari celah pintu, cahaya remang menyala. Ibunya masih bangun.
Lewat celah itu, Bram melihat Bu Ratna duduk di tepi ranjang, memegang sebuah benda. Kalung. Liontinnya berbentuk kepala serigala dari logam tua, dengan mata batu merah yang menangkap cahaya lampu. Ibunya mengusap liontin itu seperti orang berdoa, bibirnya bergerak tanpa suara.
Bram mendorong pintu. "Bu."
Ibunya tersentak, cepat menyembunyikan kalung di balik telapak tangan. "Bram! Kamu belum tidur?"
"Kalung apa itu?"
"Bukan apa-apa, sayang. Cuma warisan lama."
Bram melangkah masuk dan duduk di samping ibunya. Dari dekat, ia bisa mendengar jantung ibunya berdetak cepat, mencium aroma keringat dingin yang menguar dari kulitnya. Ketakutan. Ibunya ketakutan.
"Bu, tadi pagi Ibu bilang 'jangan sampai mereka menemukannya'. Siapa mereka?"
Wajah Bu Ratna memucat. "Kamu... dengar itu?"
"Bu, aku dengar banyak hal yang seharusnya nggak kudengar. Aku selalu beda. Indraku, tenagaku, dan—" Bram menelan ludah. "Dan setiap purnama, aku merasa seperti mau meledak. Aku perlu tahu kenapa. Tolong."
Untuk waktu yang lama, ibunya hanya diam, menatap dinding. Lalu ia menghela napas panjang, seolah meletakkan beban yang sudah ia panggul puluhan tahun.
"Ulang tahunmu yang ke-21," kata ibunya pelan. "Lusa. Aku berharap punya lebih banyak waktu. Tapi sepertinya darahmu lebih cepat dari rencanaku."
"Darahku?"
Bu Ratna menggenggam tangan Bram. Tangannya kecil, hangat, gemetar. "Bram, ayahmu... bukan orang biasa. Dan kamu juga bukan."
Bram menatapnya, tak mengerti. Ayahnya meninggal saat ia masih bayi, kata ibunya. Kecelakaan. Itu yang selalu ia tahu.
"Ada hal-hal di dunia ini yang orang biasa nggak lihat," lanjut ibunya. "Hal-hal yang berjalan di antara kita, menyamar jadi manusia. Ayahmu salah satunya. Dan dia keturunan yang sangat tua. Sangat langka."
"Bu, Ibu ngomong apa, sih?"
Ibunya menatap liontin di tangannya. "Werewolf, Bram. Manusia serigala. Itu darah yang mengalir di tubuhmu. Dan begitu kamu 21 tahun, darah itu akan bangun sepenuhnya."
Bram tertawa kecil, refleks. Tawa yang langsung mati di tenggorokannya saat melihat wajah ibunya. Tak ada gurauan di sana. Hanya kesungguhan, dan duka.
"Itu... nggak masuk akal," kata Bram, tapi suaranya goyah. Karena di dalam dirinya, sesuatu beresonansi dengan kata itu. Werewolf. Seakan tubuhnya sudah lama tahu, dan baru sekarang otaknya menyusul.
"Telingamu," kata ibunya. "Penciumanmu. Tenagamu. Amarah yang sulit kamu tahan. Dan rasa tertarik pada bulan. Itu semua tanda, sayang. Aku sudah melihatnya sejak kamu kecil, dan setiap tahun aku berdoa darah ibumu yang menang. Tapi tidak. Kamu anak ayahmu."
Bram berdiri, mondar-mandir. Kepalanya berdenyut. "Kalau benar—kalau aku benar... seperti itu—kenapa Ibu nggak pernah cerita?"
"Karena aku mau melindungimu." Suara ibunya retak. "Ayahmu mati karena darahnya. Dibunuh. Oleh kawanannya sendiri yang berkhianat, dan oleh kawanan lain yang memburunya. Kamu keturunan terakhir, Bram. Garis darah Purnama Hitam. Dan kalau mereka tahu kamu masih hidup, kamu nggak akan pernah aman."
Bram berhenti. "Kawanan lain?"
Ibunya hendak menjawab, tapi tiba-tiba kepala Bram berputar ke jendela. Telinganya menangkap sesuatu. Langkah. Pelan, hati-hati, terlatih. Tiga set langkah, mengelilingi rumah dari arah kebun belakang. Dan bau—bau yang sama dengan tadi pagi. Besi. Darah. Dan sesuatu yang liar, seperti bulu basah dan tanah hutan.
"Bu," bisik Bram, bulu kuduknya berdiri. "Ada orang di luar."
Wajah Bu Ratna langsung pucat pasi. Ia mencengkeram lengan Bram dengan kekuatan yang mengejutkan.
"Mereka sudah datang," bisiknya. "Lebih cepat dari yang kutakutkan."