"Lila," kata Bram, suaranya berubah tajam. "Aku harus bangunkan Lila."
"Tidak." Ibunya menahan. "Kalau kamu naik, mereka akan tahu posisi kita. Dengar, Bram. Dengarkan tubuhmu. Berapa orang?"
Bram menutup mata. Indranya yang biasa ia tekan, kini ia biarkan terbuka. Detak jantung mereka. Satu di belakang dekat sumur. Dua bergerak ke samping rumah. Napas mereka tenang, terlatih, seperti pemburu yang sudah biasa.
"Tiga," bisiknya. "Mengepung."
"Mereka belum yakin kamu di sini. Mereka mengikuti aromamu, tapi aroma darahmu baru aktif sebagian. Kita masih punya peluang." Ibunya menarik Bram ke lemari, mengeluarkan tas kecil yang sudah lama disiapkan—Bram baru sadar itu, tas darurat yang selalu ada tapi tak pernah ia tanyakan. "Kalung ini," ibunya mengalungkan liontin serigala ke leher Bram, "milik ayahmu. Selama kamu memakainya, sebagian aromamu tersamarkan. Jangan pernah lepas."
Liontin itu dingin di dada Bram, lalu perlahan menghangat, seakan mengenali kulitnya.
Krak. Suara ranting patah di belakang. Mereka makin dekat.
"Bu, aku nggak bisa tinggalin Ibu sama Lila."
"Kamu yang mereka cari, bukan kami." Mata ibunya berkaca-kaca tapi keras. "Selama kamu jauh, kami aman. Kalau kamu di sini, kami semua mati. Mengerti? Kamu harus lari."
Bram menggeleng. Tapi saat itu, kaca jendela dapur pecah.
Semua terjadi cepat. Sesosok bayangan melompat masuk—manusia, tapi bergerak terlalu cepat, terlalu lentur, dengan mata yang menyala kuning di kegelapan. Bram bereaksi tanpa berpikir. Tubuhnya bergerak sebelum otaknya memerintah, mendorong ibunya ke belakang dan menahan serangan itu dengan lengannya.
Cakar mengoyak lengan bajunya. Rasa panas membakar kulit. Bram menggeram—geraman yang kali ini ia rasakan datang dari kedalaman dadanya, sesuatu yang bukan miliknya, tapi miliknya—dan mendorong penyerang itu hingga terlempar menabrak lemari.
"Anak Purnama Hitam," desis sosok itu sambil bangkit, suaranya berat. "Aromamu lemah, tapi tetap kau. Tuan kami akan senang."
Dua sosok lain masuk lewat pintu belakang. Bram berdiri di antara mereka dan ibunya, jantung memompa, darah berdesir, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak takut. Ia marah. Amarah panas yang selama ini ia tahan kini mengalir bebas, dan terasa benar.
Matanya, ia tahu, pasti menyala emas sekarang.
"Menjauh dari keluargaku," geramnya.
Sosok pertama menyerang lagi. Bram menangkis, menangkap pergelangan tangannya, dan dengan tenaga yang mengejutkan dirinya sendiri, membantingnya ke lantai. Tulang berderak. Sosok itu mengaum kesakitan.
"Dia belum berubah penuh tapi sekuat ini?" salah satu menggeram. "Tangkap hidup-hidup! Tuan mau dia hidup!"
Mereka mau aku hidup, pikir Bram di sela kekacauan. Kenapa?
Tapi tak ada waktu. Salah satu menerjang ibunya. Bram melihatnya seperti gerakan lambat—cakar terangkat menuju leher Bu Ratna—dan sesuatu dalam dirinya meledak. Ia melompat, jarak yang mustahil untuk manusia biasa, dan menghantam penyerang itu di udara. Mereka bergulung menabrak dinding. Bram tak ingat memutuskan untuk memukul, tapi tinjunya sudah menghantam, sekali, dua kali, sampai sosok itu diam.
"Bram!" jerit ibunya. "Lari! Bawa Lila lewat jendela atas! SEKARANG!"
Bram ragu hanya sedetik. Lalu naluri mengambil alih. Ia melesat ke lantai atas, menggendong Lila yang terbangun ketakutan, dan melompat dari jendela kamar—dua lantai, mendarat berjongkok di halaman tanpa cedera, seolah tubuhnya tahu cara melakukannya sejak lama.
"Kak, ini mimpi?" tanya Lila gemetar di gendongannya.
"Iya, Lila. Pegangan, ya. Pejamkan mata." Bram berlari. Lebih cepat dari yang pernah ia tahu mungkin, kakinya menghantam tanah, kota gelap berlalu seperti aliran sungai. Di belakangnya, ia mendengar ibunya berteriak, lalu lolongan—lolongan yang menggetarkan tulang.
Dan di tengah pelarian, satu kenyataan dingin menusuk hatinya: ia meninggalkan ibunya di belakang. Sendirian. Dengan mereka.