Dua orang yang bertahun-tahun hanya saling kenal sebagai rival berdiri di bawah pohon yang sama, menyadari bahwa persaingan itu sudah lama berubah bentuk menjadi sesuatu yang lain. Tidak dramatis. Tidak ada hujan tiba-tiba atau musik latar. Hanya cahaya sore dan dua orang yang akhirnya jujur.
Di sisi lain disekolah yang sama di kantin yang bising, di sudut yang berbeda ... pertemuan lain terjadi dengan cara yang jauh kurang puitis.
Senggolan bahu. Hampir jatuh. "Eh maaf-maaf."
Dika adalah kakak kelas yang dikenal karena suaranya terlalu besar di ruang perpustakaan, humble dan presentasinya terlalu dramatis untuk materi yang sebenarnya biasa. Rhea tidak pernah benar-benar memperhatikannya .. sampai cowok itu nyengir dan berkata:
"Kamu Rhea kan? Yang teriak-teriak 'Junaedi' depan perpustakaan itu?"
Rhea tersedak. "Itu kamu yang waktu itu?!"
"Saksi mata kejadian legendaris." Dia mengangguk bangga.
"Ya Allah." Rhea menutup wajahnya. "Satu sekolah tau nggak sih." "Lumayan viral."
Seharusnya ia kesal. Biasanya ia langsung kesal untuk hal seperti ini. Tapi yang muncul justru tawa — tawa beneran, dari perut, jenis yang tidak bisa dibuat-buat dan itu sudah cukup membuat Dika tahu bahwa gadis ini menarik.
Mereka bertemu lagi karena tugas. Lagi karena presentasi. Lagi karena, sejujurnya...keduanya mulai sengaja mencari alasan.
Suatu sore di gazebo sekolah, hujan turun tiba-tiba. Mereka terjebak berdua, duduk berdampingan menonton hujan.
"Re," kata Dika pelan di tengah suara hujan deras.
"Hm."
"Kamu capek ya?"
"Kenapa nyimpulin gitu?"
"Keliatan aja"
"Masa' sih"
"Tapi nggak pernah kelihatan capek," lanjut Dika. Bukan godaan. Bukan basa-basi. Serius.
Rhea tidak menjawab. Karena tidak ada jawaban yang mudah untuk pertanyaan yang tepat sasaran.
"Siapa yang sering ngajarin kamu jangan kelihatan capek?" tanya Dika lagi. "Bukan siapa-siapa. Kebiasaan aja."
Dika mengangguk. Tidak mendesak lebih jauh. Hanya duduk di sampingnya, membiarkan hujan mengisi keheningan yang anehnya, tidak terasa canggung sama sekali.
Dua puluh menit hujan deras. Mereka bicara tentang hal-hal tidak penting. Tapi waktu Dika akhirnya pergi dan Rhea duduk sendiri menunggu hujan benar-benar reda, ia menyadari sesuatu:
Selama dua puluh menit itu, ia tidak memikirkan siapa pun selain dirinya sendiri. Tidak sedang menjaga Kirana. Tidak sedang berdiri di depan siapa-siapa. Tidak sedang waspada.
Ia hanya ada.
Dan itu anehnya, memusingkan... terasa seperti hal yang sudah lama ia butuhkan tapi tidak tahu cara memintanya.
Tapi tentu saja, tidak semua bagian dari masa itu ringan.
Karena sementara Kirana dan Juna perlahan saling mengisi, dan Rhea perlahan menemukan ruangnya sendiri ... ada sesuatu yang bergeser di antara tiga serangkai itu.
Pelan. Nyaris tidak terasa. Tapi ada.
Meja makan di kantin mulai terasa lebih lega. Jam istirahat yang dulu selalu bertiga mulai berubah jadi Rhea dan Felly saja, karena Kirana ada di perpustakaan. Senyum Kirana waktu baca ponsel mulai terasa seperti senyum yang ditujukan ke tempat lain.
Rhea tidak pernah mengatakannya. Ia bukan jenis orang yang mengungkapkan hal seperti itu.
Tapi suatu sore Kirana mengajaknya duduk berdua di gazebo sekolah, berhadapan, dan bertanya langsung:
"Re. Kamu ngerasa aku berubah?"
Rhea terdiam lama. "Iya."
"Ke arah yang buruk?"
"Bukan." Rhea menatap tangannya sendiri. "Ke arah yang aku belum sepenuhnya ngerti cara nyikapinnya."
Kirana memegang tangannya. "Aku nggak mau kamu ngerasa kehilangan aku."
"Aku nggak kehilangan kamu." Suara Rhea tidak serak, tidak dramatis ... hanya jujur. "Aku cuma lagi belajar jadi bukan yang paling di tengah. Dan itu lebih susah dari kelihatannya."
Kirana menggenggam tangannya lebih erat.
Dan mereka duduk seperti itu sebentar...tidak perlu menyelesaikan apapun, tidak perlu berjanji apapun. Hanya dua orang yang saling menegaskan: aku masih di sini.
Rhea baru belajar waktu itu, bahwa menjaga orang lain tidak berarti kehilangan diri sendiri.
Dan bahwa terkadang, hal yang paling kamu butuhkan bukan solusi. Tapi didengar.
Selayaknya hubungan yang dibangun saat kita masih SMA, dimana cinta masih sangat jauh untuk terlihat. Banyak ego, emosi dan jati diri yang belum matang. Begitu pula dengan hubungan Kirana dan Juna, mereka tak luput dari konflik batin itu, ego Juna yang masih sangat tinggi, ingin selalu membuktikan dirinya ia bisa, yang akhirnya membuat ia masih terus berhubungan baik dan kadang membantu mantan kekasihnya dulu yaitu Nabila. Sementara Kirana yang juga tentunya tak bisa memahami sikap Juna itu, Walaupun Juna membantu atas dasar kemanusiaan, ia tidak sadar bahwa hal tersebut tentu akan berdampak buruk pada hubungannya dengan Kirana. Jarak semakin besar diantara mereka, yang akhirnya menyebabkan mereka berdua akhirnya memilih menyudahi hubungan spesial mereka dengan cara yang baik.
Sementara Dika, bagai sebuah kapal yang singgah di dermaga maka ada waktunya ia harus melanjutkan perjalanannya. Ia sudah lulus terlebih dahulu dari Rhea, karena memang statusnya sebagai kakak kelas Rhea. Tidak ada hubungan spesial yang mereka jalin, tidak ada janji, tidak ada kesepakatan yang dibuat. Hanya sebuah panggilan khas dari Dika untuk Rhea "Tanaman Hias".
Entah apa maknanya, hanya mereka berdualah yang tau. Setelah lulus, Dika perlahan menghilang dari hidup Rhea dan Rhea memaklumi hal itu.
***
Tidak ada yang benar-benar siap untuk kelulusan.
Bahkan Kirana yang sudah mendaftar jurusan kedokteran di kota yang jauh sejak semester satu kelas XII, yang selalu tahu dengan pasti ke mana ia akan pergi, yang tidak pernah terlihat ragu, berdiri di halaman sekolah hari itu dengan ekspresi yang berbeda. Lebih sunyi dari biasanya. Seperti sedang mengambil foto dengan matanya sendiri, karena tahu ini salah satu gambar yang harus ia simpan sebelum berubah menjadi kenangan.
Rhea yang juga diterima di jurusan bisnis dengan beasiswa penuh dan felly yang sudah mendaftar kejurusan ekonomi yang sudah ia idam-idamkan sejak lama. Sedangkan Juna ia mengambil Jurusan hukum di kampus yang sama dengan dimas, felly dan Rhea. Dan Dimas mengambil jurusan yang sama dengan Felly.
Aula penuh dan panas. Nama-nama dipanggil. Tepuk tangan datang silih berganti.
Ketika nama Kirana disebut, suara tepuk tangan lebih ramai...Juara Umum untuk ketiga kalinya berturut-turut, semua orang sudah tahu dari jauh hari. Ia berjalan ke depan dengan langkah yang tenang, mengambil piagam dengan kedua tangan.
Tapi Rhea, yang berdiri di barisan belakang, melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Tangan Kirana gemetar sebentar waktu menerima piagam itu.
Hanya sebentar. Lalu hilang, disimpan kembali ke tempat yang hanya Kirana yang tahu.
"Kali ini pun tetap Juara 1," bisik Felly di samping Rhea.
Rhea mengangguk. Tapi tenggorokannya tiba-tiba terasa sesak dengan cara yang tidak ia harapkan.
Di barisan lain, Juna berdiri bersama Dimas. Waktu nama Kirana disebut ia bertepuk tangan dan tanpa ia sadari, senyumnya berbeda dari senyum biasanya. Lebih tulus dari itu. Lebih ringan.
Dimas melirik. Tidak berkata apa-apa.
Sesudah acara, halaman sekolah berubah menjadi lautan foto dan pelukan dan tawa yang terlalu keras untuk menyembunyikan haru.
Di bawah pohon besar dekat lapangan, pohon yang jadi saksi bisu saat Juna bilang *"aku suka kamu"* berbulan-bulan lalu Kirana berdiri sendirian sejenak. Memandang ke lapangan kosong yang sudah lama jadi bagian dari latar belakang hidupnya.
Juna menemukannya di sana.
"Selamat," ucapnya.
Kirana menoleh. "Kamu juga."
Hening. Angin sore berhembus membawa aroma rumput dan tanah kering yang sudah hafal mereka kenal.
"Kamu inget nggak, di sini—"
"Inget," potong Kirana pelan.
Lebih hening lagi. Tapi bukan hening yang tidak nyaman.
"Masih ada rasa?" tanya Juna akhirnya langsung, tanpa basa-basi, karena ia tidak pernah pandai membulatkan hal-hal penting dengan kata yang berputar-putar.
Kirana menatapnya lama. Hubungan mereka yang memang sudah usai setelah beberapa bulan yang lalu, disebabkan oleh kesalahpahaman terhadap masalalu Juna yang tiba-tiba muncul kembali. Akibat masalah itulah, mereka berdua akhirnya menyadari, Juna yang selalu merasa punya tanggungjawab kepada Nabila yang akhirnya menjadi boomerang terhadap dirinya sendiri dan Kirana yang merasa ia tidak memiliki hati yang lapang untuk berbagi perhatian Juna. Mereka sepakat bahwasanya belum ada kecocokan diantara mereka.
Kali ini, Ada sesuatu di tatapannya yang jujur dan tidak menyakitkan, bukan penolakan, bukan penutupan pintu dengan keras. Hanya satu orang yang sudah tahu jawabannya dengan damai, dan memilih mengatakannya dengan cara yang sama.
"Aku beneran selesai, Jun."
Juna mengangguk pelan. Tidak ada yang runtuh di wajahnya. Mungkin karena ia juga sudah tahu….sudah tahu sejak lama bahwa ini bukan kisah yang berakhir dengan mereka berdua, dan entah sejak kapan ia sudah damai dengan itu.
"Aku tau." Ia tersenyum kecil. "Semoga sukses ya."
"Kamu juga."
Mereka berdiri di sana satu momen lagi di bawah pohon yang sama, dua orang yang pernah saling mengisi ruang satu sama lain, yang sekarang berdiri di titik yang sama tapi dengan arah yang berbeda dan cakrawala yang berbeda pula.
Tidak ada yang perlu disesali. Tidak ada yang perlu ditambahkan.
Perpisahan yang bersih adalah hal yang paling langka. Dan mereka mendapatkannya.
***
Rhea memeluk Kirana sampai Kirana menepuk punggungnya karena kehabisan napas.
"Tega banget ninggalin aku sama Felly di sini."
"Kita masih bisa chat."
"Chat beda, Ran. Chat dingin."
"Bisa VC juga kan?"
Felly menyeruak dari sisi lain, menyelipkan diri di antara mereka dengan cara yang tidak minta izin. "Aku juga mau ikut. Geser, Re."
"Kamu yang geser."
"Nggak mau."
Kirana tertawa di tengah dua sahabatnya yang masih sanggup ribut bahkan di momen sepenting ini, dan itulah kenapa ia menyayangi mereka. Karena di dunia yang sering terlalu serius, Rhea dan Felly selalu tahu cara membuat sesuatu yang berat terasa cukup ringan untuk ditanggung.
Di belakang mereka, Dimas berdiri canggung dengan wajah orang yang ingin ikut pelukan tapi tidak tahu caranya masuk. Felly yang menoleh duluan pura-pura jengkel, tapi sudut bibirnya sudah naik, dan berkata: "Udah, sini lah."
Dimas masuk tanpa diundang kedua kali. Empat orang, satu pelukan yang terlalu ramai dan terlalu hangat.
Rhea dan Kirana saling memandang, bertanya-tanya kenapa ada dimas disini. Dan ternyata diam-diam sahabatnya felly memang sudah menjalin hubungan spesial dengan sahabat karib Juna itu.
Rhea memejamkan mata sebentar di dalam kepungan itu. Menghirup aroma parfum Kirana yang sudah hafal ia kenal. Mendengar Felly yang masih bisa ribut. Merasakan sekolah ini, koridor yang sudah ribuan kali ia lewati, kantin yang gorengannya sudah hafal ia pesan, perpustakaan yang menjadi tempat perang pertama dengan seseorang yang sekarang sudah ia maafkan, menjadi sesuatu yang terasa seperti rumah yang akan segera ia tinggalkan.
*Simpan ini,* katanya dalam hati. *Simpan baik-baik.*
Hari kelulusan. Gerbang sekolah tutup untuk terakhir kalinya bagi mereka.
Rhea berdiri di depan gerbang itu sebentar....memandang ke dalam, ke koridor yang dulu setiap pagi ia sapu, ke kantin yang bising yang selalu terasa lebih hidup waktu bertiga.
Ia menarik napas.
Di sini ia menemukan dua sahabat yang tidak ia minta tapi selalu ia syukuri. Di sini ia belajar bahwa melindungi orang lain tidak berarti ia tidak perlu dilindungi juga. Di sini ada buku teori kuantum, dan perang kecil di koridor, dan nama yang waktu itu ia eja salah tapi ternyata akan ia ingat sangat lama.
Dan di sini ... di sekolah yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari masa lalu ...ia meninggalkan versi dirinya yang belum tahu bahwa kadang, orang yang paling keras kamu benci di awal adalah orang yang paling dalam menggoreskan luka di akhir.
Ia memalingkan wajah.
Melangkah pergi.
Tidak menoleh.
Tapi jauh di dalam dadanya, ada sesuatu yang tidak ikut pergi. Sesuatu yang belum selesai, yang akan terbawa sampai ke kampus, sampai ke kamar kos yang sempit, sampai ke malam-malam dengan teh yang mendingin dan foto lama yang muncul tiba-tiba di ponsel.
Cerita sesungguhnya belum dimulai.
Tapi pintunya sudah terbuka sejak lama, bahkan sebelum Rhea menyadarinya.