Hari ini diKampus bukan sekolah.
Itu hal pertama yang Rhea pelajari bukan dari dosen, bukan dari buku orientasi yang tebalnya menyaingi kamus, tapi dari cara kakinya harus bergerak lebih cepat dari biasanya setiap pagi.
Di SMA dulu, "datang pagi" berarti tiba sebelum bel berbunyi. Di sini, datang pagi berarti menyelinap masuk ke perpustakaan sebelum mahasiswa lain bahkan membuka mata, membuka laptop di pojok paling jauh dari pintu, dan mulai
mengerjakan hal yang tidak akan sempat ia kerjakan nanti.
Karena nanti, ada toko paman yang butuh dijaga.
Dan sesudah itu, ada belajar yang tidak bisa ditunda.
Hidup Rhea berputar dengan presisi yang tidak banyak orang tahu bukan karena ia menyembunyikannya, tapi karena ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Mengeluh itu mewah. Ia tidak mampu beli. Rhea memang merupakan mahasiswa yang berhasil memperoleh beasiswa penuh dengan jalur prestasi. Ia memang berasal dari keluarga yang kurang mampu, karena sejak kecil ia sudah kehilangan ayahnya dan hanya tinggal bersama ibu dan neneknya saja selama ini. Ia bertekad dengan beasiswa ini, ia akan berusaha untuk memperbaiki nasib keluarganya kedepan.
Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia duduk di tangga depan gedung fakultas dengan laptop terbuka di atas lutut. Rambut diikat asal. Earphone sebelah kiri. Wajah setengah sadar tapi jari masih bergerak di keyboard karena otak sudah duluan bangun meski tubuh belum sepenuhnya setuju.
Ia tidak menyadari ada yang mengamatinya...sampai seseorang duduk disebelahnya tanpa permisi.
"Kamu nggak punya hobi tidur ya?"
Rhea tidak menoleh. Ia hafal suara itu.
"Punya. Tapi nggak punya waktu."
Arjuna Sektiya. Ia duduk, menaruh tas disebelahnya, dan melirik layar laptop Rhea dengan rasa penasaran yang tidak ia sembunyikan.
"Jam segini udah ngerjain apa?"
"Proposal lomba bisnis."
"Lagi?"
"Beasiswa tambahan."
Juna terdiam sebentar.
Ia pernah mengenal Rhea sebagai gadis yang berteriak namanya salah di depan perpustakaan SMA dan mendeklarasikannya sebagai musuh. Gadis yang ribut, cepat ngomong, dan selalu punya komentar untuk segalanya. Ia pikir, waktu tahu mereka satu kampus, ia sudah tahu siapa Rhea.
Ternyata tidak.
Yang duduk di sebelahnya sekarang adalah orang yang sama ...tapi dengan lapisan yang tidak kelihatan dari luar. Disiplin. Tekad yang tidak perlu dideklarasikan karena sudah terlihat dari caranya duduk, dari kecepatan jarinya mengetik, dari cara
matanya tidak lepas dari layar meski ada orang asing yang baru saja duduk tanpa izin di sampingnya.
"Kamu nggak capek?" tanyanya, setengah serius.
Rhea akhirnya menoleh. Satu detik. Lalu kembali ke layarnya.
"Capek itu mahal. Nggak bisa sering-sering."
"Mahal gimana?"
"Kalau capek, berhenti. Kalau berhenti, ketinggalan. Nggak ada yang mau nunggu."
Juna menatap profilnya...sudut mata yang sedikit lelah, bahu yang tidak benar-benar rileks, tapi rahang yang set dengan cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa menyerah bukan pilihan hari ini.
"Kamu selalu jawab kayak quotes Pinterest."
Rhea menahan senyum. "Kalau hidup gue bisa jadi motivasi orang, lumayan."
"Ada yang termotivasi."
"Siapa?"
"Gue."
"Itu menyedihkan."
Juna tertawa kecil.
Rhea melanjutkan mengetik. Juna tidak pergi. Mereka duduk berdampingan dalam diam yang anehnya tidak canggung, sampai bel masuk berbunyi dan keduanya bergerak ke arah yang berbeda tanpa mengucapkan sampai jumpa.
Minggu-minggu berikutnya, Juna mulai melakukan hal-hal kecil yang tidak Rhea minta.
Bukan besar. Bukan dramatis. Hanya kecil yang terasa seperti kebetulan tapi terlalu sering untuk benar-benar kebetulan.
"Gue anter pulang?"
"Enggak."
"Gue bawain kopi?"
"Gue nggak minum kopi."
"Gue temenin ngerjain tugas?"
"Gue fokus kalau sendirian."
Rhea menjawab setiap tawaran dengan cepat, tegas, dan tanpa ruang negosiasi. Bukan karena tidak menghargai. Tapi karena ia hafal bagaimana cerita seperti ini biasanya dimulai..dari hal-hal kecil yang terasa tulus, dari perhatian yang datang
tanpa diminta, dari seseorang yang pelan-pelan mengisi ruang sampai kamu tidak sadar ia sudah terlalu dalam.
Ia tidak mau.
Belum.
Atau mungkin tidak pernah. Ia belum memutuskan.
Suatu sore di kantin kampus bersama Juna ..teh manis, gorengan yang dibeli dua-duanya karena kebiasaan lama tidak mati Felly duduk di depan mereka dengan ekspresi orang yang sudah menyiapkan komentar sejak pagi.
"Lo sadar nggak sih, Re?"
"Apaan."
"Gue ngerasa kayak lagi nonton sinetron." Felly menyesap tehnya santai. "Tapi salah satu pemerannya nggak sadar lagi shooting."
Rhea menatapnya. "Maksudnya?"
Felly melirik Juna. "Lo mau jawab sendiri apa gue bantu?"
Juna pura-pura batuk. "Ehm."
"Gue cuma peduli," ucapnya setelahnya, kepada Rhea.
"Peduli itu beda sama intens."
"Lah gue nggak intens."
"Lo muncul terus tiap gue ada di sini."
"Itu... kebetulan."
"Tiga kali seminggu."
"Kampusnya kecil."
Felly menahan tawa dengan menyumpal mulutnya pakai gorengan.
Rhea menoleh ke Juna langsung, tanpa basa-basi, seperti caranya selalu menyelesaikan hal-hal yang tidak perlu berputar-putar.
"Jun. Serius. Lo baik. Tapi jangan kebanyakan baik."
"Kenapa emangnya?"
"Nanti gue alergi."
Juna tertawa kecil. "Alergi sama kebaikan?"
"Alergi sama pola."
Hening sebentar. Bukan hening yang canggung tapi hening yang berat, seperti kalimat yang baru saja dilempar dan belum ada yang mau mengambilnya duluan.
Juna yang akhirnya bergerak.
"Aku bukan pola lama."
Rhea menatapnya lurus. Matanya tidak marah. Tapi serius dengan cara yang jarang-jarang ia tampilkan.
"Aku nggak bilang kamu pola lama." Ia meletakkan gelasnya. "Aku bilang aku hafal polanya."
Juna tidak menjawab.
Dan itu, justru itu yang membuatnya tahu bahwa Rhea tidak sedang menolak karena tidak peduli. tetapi karena hati-hati.
Felly yang menguap dan pamit lebih dulu, pura-pura ada keperluan padahal jelas sekali ia hanya ingin memberi mereka ruang.
Dimas yang muncul dari arah parkiran dan langsung dibajak Felly dengan alasan yang tidak meyakinkan. Dan Rhea yang
segera membereskan tasnya sebelum situasi berubah menjadi sesuatu yang lebih berat dari yang ia siapkan hari ini.
"Gue duluan."
"Oke."
Ia pergi. Juna tidak mencegah.
Dan malam itu, duduk sendirian di kamar kosnya, Juna memikirkan kalimat itu lebih lama dari yang ia rencanakan.
*Aku hafal polanya.*
Ia tidak marah mendengarnya. Yang ia rasakan justru lebih rumit dari itu, semacam pengertian yang sakit, menyadari bahwa ia berada di sisi yang baru dari dinamika yang dulu pernah ia ciptakan. Bahwa ada orang yang sekarang harus berhati-hati karena cara orang seperti dirinya bergerak.
Ia tidak suka perasaan itu.
Tapi ia tidak menghindarinya juga.
Beberapa hari kemudian.
Hujan turun tanpa pemberitahuan, seperti biasanya di kota ini tiba-tiba, deras, dan tidak peduli dengan rencana siapa pun.
Rhea berdiri di halte kecil depan kampus, tas dipeluk di d**a supaya tidak basah, menatap layar ponsel dengan ekspresi orang yang tahu ojeknya masih dua puluh menit lagi dan hujannya tidak akan berhenti dalam dua puluh menit.
"Lo nunggu ojek?"
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
"Iya."
"Bisa lama."
"Gue tau."
"Gue anter."
"Enggak."
Juna berdiri di sebelahnya, jaket yang sudah basah di satu sisi karena ia jelas berlari dari parkiran tanpa payung juga. Keduanya menatap hujan yang turun ke jalanan kampus dalam diam.
"Kenapa sih nggak mau?" tanya Juna akhirnya. Bukan kesal — hanya ingin tahu, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.
"Karena gue nggak mau kebiasaan."
"Anter sekali doang."
"Dulu juga mulai dari sekali."
Juna mengerti maksudnya tanpa perlu penjelasan lebih. Ia diam sebentar, menatap genangan air di trotoar yang mulai melebar, lalu berkata dengan suara yang jauh dari nada menggoda atau merayu:
"Re."
"Hm."
"Aku nggak mau jadi kesalahan yang sama buat kamu."
Rhea tidak langsung menjawab.
Di luar, hujan masih deras. Sebuah motor menerobos genangan dan mencipratkan air ke tepi jalan. Seseorang berlari dengan tas di atas kepala, tidak berhasil tetap kering, tapi tetap berlari.
"Makanya jangan mulai," ucap Rhea akhirnya.
Pelan. Tanpa amarah.
Juna nyaris tertawa tapi yang keluar bukan tawa biasa. Lebih seperti helaan
napas yang pasrah. "Lo kejam ya."
"Realistis."
"Gue beneran kagum sama lo, Re."
"Kagum itu berbahaya."
"Kenapa?"
Rhea menoleh ke arahnya untuk pertama kali sejak mereka berdiri di sana. Matanya tidak menghindar, tidak menyerang hanya melihat, dengan cara seseorang yang sudah terbiasa menimbang segala sesuatu sebelum berbicara.
"Karena kagum itu awalnya. Terus jadi perhatian. Terus jadi kebiasaan. Terus jadi ekspektasi. Dan waktu ekspektasi nggak ketemu kenyataan" Ia berhenti. "Lo tau sendiri ujungnya kemana."
Juna menatapnya.
"Lo ngomong dari pengalaman."
Bukan pertanyaan.
Rhea mengalihkan pandangan kembali ke jalanan. "Semua orang ngomong dari pengalaman."
Mereka diam lagi. Lebih lama kali ini.
Notifikasi ojek masuk tiga menit lagi. Rhea memasukkan ponsel ke saku.
"Lo tumbuh dengan pilihan," ucapnya tiba-tiba, pelan.
"Gue nggak. Jadi cara gue
ngeliatin orang beda. Cara gue ngeliatin niat orang, beda."
Juna tidak menjawab.
Bukan karena tidak ada yang mau dikatakan. Tapi karena ia tahu, waktu itu, bahwa tidak semua hal perlu langsung direspons. Ada hal-hal yang lebih baik didengar dulu, disimpan dulu, dipahami dulu sebelum bicara.
Ojeknya tiba. Rhea naik tanpa menoleh.
Dan Juna berdiri di halte yang sama, sendirian, dengan hujan yang mulai mereda dan satu kalimat yang terasa seperti cermin yang tidak ia minta tapi tidak bisa ia hindari.
***
Malam itu di perpustakaan, mereka duduk berseberangan tanpa sengaja... dua orang yang ternyata punya jadwal belajar malam yang sama, di gedung yang sama, di lantai yang sama.
Rhea tidak berkomentar waktu melihatnya. Juna juga tidak.
Mereka duduk. Membuka buku masing-masing. Dan entah berapa lama berlalu dalam hening yang produktif dan anehnya tidak tidak nyaman.
Juna yang pertama angkat kepala.
Ia melihat Rhea serius, pensil di telinga kiri, bibir sedikit bergerak membaca sesuatu dalam hati, rambut yang mulai lepas dari ikatannya tapi tidak ia perbaiki karena fokusnya ada di tempat lain.
Ia melihat tanpa sadar terlalu lama.
Lalu cepat-cepat mengusap wajahnya dan kembali ke bukunya.
"Kamu tau nggak," ucapnya kemudian, karena diam terlalu lama mulai terasa aneh.
Rhea tidak menoleh. "Apa lagi?"
"Kamu jauh lebih menarik sekarang."
Kali ini Rhea menoleh lambat, dengan ekspresi orang yang tidak yakin baru saja mendengar apa. "Sekarang?"
"Dibanding dulu."
"Dulu nggak menarik?"
"Dulu galak."
"Sekarang?"
"Galak juga. Tapi versi upgrade."
Rhea menahan senyum dengan cara yang tidak sepenuhnya berhasil. "Jun."
"Iya?"
"Jangan kagum sama gue cuma karena gue kuat."
Juna menurunkan penanya. "Kenapa?"
Suara Rhea lebih pelan dari biasanya. Bukan sedih tapi jujur, dengan cara yang tidak sering ia lakukan.
"Karena gue capek jadi kuat terus."
Hening.
Bukan hening biasa, hening yang terasa seperti ada sesuatu yang baru saja masuk ke ruangan tanpa ketuk pintu dulu. Juna menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka mulai sering bersinggungan di kampus ini, ia tidak mencari
kata-kata yang tepat untuk dibalas. Ia hanya mendengar.
"Gue nggak kagum karena lo kuat," ucapnya akhirnya, pelan.
"Terus?"
"Karena lo tetap baik meski hidup nggak adil sama lo."
Rhea mengalihkan pandangan ke bukunya. Cepat. "Stop."
"Kenapa?"
"Gaje."
"Itu tulus."
"Makanya stop."
Juna terkekeh pelan bukan karena geli, tapi karena ada sesuatu yang hangat dan sedikit menyentuh dari cara Rhea menghindari pujian seperti menghindari benda panas. Seperti seseorang yang tidak terbiasa menerimanya, dan tidak tahu harus
meletakkannya di mana.
"Kamu nggak nyaman dipuji ya?"
"Iya."
"Kenapa?"
Rhea menoleh sebentar. Matanya bertemu dengan matanya. Lalu ia memalingkan wajah lagi.
"Nanti gue percaya."
Kalimat itu keluar ringan, tapi Juna mendengar berat yang ada di baliknya.
*Nanti gue percaya.* Dan untuk seseorang yang sudah terluka karena terlalu percaya, itu bukan hal kecil.
Ia tidak berkata apa-apa lagi malam itu.
Mereka kembali ke buku masing-masing. Jam perpustakaan berdetak. Seseorang di meja sebelah mengetik terlalu keras. Dan di sudut yang tidak jauh, dua orang yang punya sejarah lebih panjang dari yang kelihatan duduk dalam diam yang tidak lagi
sepenuhnya kosong.
Di luar, dari balik rak buku yang pura-pura jadi tempat sembunyi yang sempurna, Felly dan Dimas memperhatikan.
"Lo liat nggak?" bisik Dimas.
Felly menyipitkan mata ke arah meja itu, ke Juna yang masih melirik Rhea sesekali dengan ekspresi yang ia gagal sembunyikan, dan Rhea yang pura-pura tidak menyadarinya tapi ujung bibirnya naik tipis setiap kali.
"Liat."
"Juna udah kena."
Felly mengangguk pelan. "Dan Rhea lagi pasang pagar beton."
"Terus gimana?"
Felly menutup bukunya, berdiri, dan menarik lengan Dimas untuk pergi dari sana.
"Kita tunggu aja." Ia tersenyum. "Beton paling kokoh pun lama-lama retak kalau yang datangin banjir, bukan ketukan."
Dimas meliriknya. "Itu dari mana?"
"Dari gue. Baru barusan. Bagus kan?"
"Bagus Sih, tapi agak lebay"
"Sama aja."
Mereka pergi, meninggalkan dua orang di meja pojok yang tidak tahu bahwa percakapan mereka baru saja jadi bahan analisis orang lain.
Dan Rhea, yang sejak tadi pura-pura fokus pada bukunya, akhirnya menghembuskan napas panjang waktu langkah Juna akhirnya menjauh setelah perpustakaan tutup.
Ia menatap halaman buku yang sama yang sudah ia baca tiga kali tanpa satu kata pun masuk.
*Gue nggak kagum karena lo kuat. Tapi karena lo tetap baik meski hidup nggak adil.*
Ia menutup buku itu lebih keras dari yang diperlukan.
"Gaje," gumamnya sendiri.
Tapi senyumnya tidak menurut untuk hilang.