Kali ini Rhea lagi-lagi datang paling pagi.
Laptop terbuka.
Headset terpasang.
Ekspresi fokus seperti CEO startup yang lagi cari investor.
Juna datang membawa dua roti.
“Gue nggak pesen catering,” ucap Rhea tanpa menoleh.
“Gue tau.”
“Terus?”
“Lo belum sarapan.”
“Lo HRD hidup gue?”
“Gue investor masa depan.”
Rhea akhirnya menoleh.
“Investor apaan?”
“Waktu.”
“Return-nya?”
“Senyum lo.”
Rhea langsung menyipitkan mata.
“Gombal lo makin mahal ya.”
“Jelas dong”
Rhea menahan senyum.
“Taruh situ.”
Itu sudah kemajuan.
Biasanya langsung ditolak.
Dari kejauhan, Felly dan Dimas mengamati. (Lu berdua ye, nggak ada kerjaan kah ampe ngintilin mereka mulu gua tanya…author mode julid back)
“Liat nggak?” bisik Dimas.
“Liat. Dia diterima rotinya.”
“Itu berarti 10% kemajuan.”
“Ekonomi pertumbuhan lambat,” gumam Felly.
Beberapa hari kemudian di kantin.
Rhea lagi presentasi rencana bisnis ke senior kampus.
Juna duduk agak jauh, pura-pura baca buku hukum.
Padahal kupingnya aktif.
Setelah selesai, Juna mendekat.
“Keren.”
“Apanya?”
“Lo ngomongnya tenang banget.”
“Karena gue udah latihan.”
“Lo gugup nggak?”
“Banget.”
“Kelihatan nggak?”
“Enggak.”
“Berarti lo hebat.”
Rhea mengangkat alis.
“Jun.”
“Iya?”
“Lo kalau muji tuh kayak dosen pembimbing.”
“Serius?”
“Iya. Nggak romantis sama sekali.”
Juna terdiam dua detik.
“Gue nggak lagi romantis.”
“Bagus.”
“atau mau diromantisin” godanya
“Nggak”
“Gue lagi konsisten.”
Rhea pura-pura menutup telinga.
“Stop”
Sore harinya, hujan turun sangat deras.
Sambil menunggu hujan reda, Rhea berdiri di lobi kampus sambil menghitung stok barang jualannya di ponsel.
Seperti biasa, kalau sudah seperti ini Juna pasti muncul lagi.
“Lo ke kos naik apa?”
“Ojek.”
“Bisa lama.”
“Nggak papa”
“Gue anter.”
“Nggak usah”
“Re.”
“Apa.”
“Lo nggak capek nolak?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena gue nggak terima.”
Juna tertawa kecil.
“Jutek banget sih.”
“Biarin”
“Kenapa sih kayak gitu?”
“Ya nggak papa. harus ada alesan?”
“Bukan gitu”
“Drama.”
Juna tidak menjawab.
Karena ia tahu kata itu punya sejarah.
Di meja lain, Felly dan Dimas lagi diskusi serius. Bukan tentang materi kuliahnya sendiri, tapi materi percintaan orang lain.
“Menurut lo Juna sadar nggak sih kalau Rhea sengaja pasang tembok?” tanya Dimas.
“Dia sadar.”
“Terus kenapa nggak mundur?”
“Karena dia bukan tipe yang gampang mundur sepertinya”
“Berarti tipe apa?”
“Yang nunggu temboknya dibuka dari dalam.”
Dimas mengangguk kagum.
“Lo cocok jadi konsultan cinta.”
“Gue cocok jadi konsultan ekonomi. Cinta nggak ada ROI jelas.”
“ROI apa lagi tuh.”
“Return of Investment.”
“Kalau Juna?”
“Return of Intention.”
Dimas bengong.
“Gue nggak ngerti kamu ngomong apa yank…tapi keren.”
Felly tertawa.
Keesokan harinya, mereka sedang berada di perpustakaan.
Rhea duduk bersila di kursi, rambut sedikit berantakan.
Juna duduk di depannya. Dia melihat rambut Rhea yang sedikit menutupi matanya. Tanpa sadar dirinya mendekat dan membenarkan rambut itu kebelakang telinga Rhea.
“Juna, ngapain lo”
“Itu rambut kamu, ntar nggak bisa liat”
Rhea tidak menjawab Juna. Tapi ia merasakan pipinya sedikit menghangat karena perlakuan itu.
“Lo tau nggak,” ucap Juna pelan.
“Apa lagi.”
“Gue kagum.”
“Udah sering bilang.”
“Tapi kali ini beda.”
“Bedanya?”
“Sekarang gue nggak cuma kagum karena lo kuat.”
“Terus?”
“Karena lo nggak pernah manfaatin orang.”
Rhea berhenti mengetik.
“Jun.”
“Iya.”
“Lo lagi bikin pidato apa?”
“Enggak.”
“Serius banget.”
“Gue emang serius.”
“Makanya gue takut.”
Hening.
“Takut kenapa?”
“Orang serius biasanya jatuhnya dalam.”
Juna menatapnya lebih lama.
“Dan kalau gue jatuh?”
“Jangan ke gue.”
Jawabannya cepat.
Tapi nadanya… tidak setajam biasanya.
Beberapa hari kemudian.
Rhea lagi sibuk kirim paket jualan.
Juna datang membantu tanpa diminta.
“Taruh mana?”
“Situ.”
“Ini juga?”
“Iya.”
“Lo nggak keberatan gue bantu?”
“Selama gratis.”
“Gratis.”
“Ada syaratnya loh”
“Nggak usah bantuin kalau gitu”
“hehe…becanda Re. Aku bakal terus bantuin lo”
Rhea menatapnya.
“Jun.”
“Hm?”
“Lo nggak cape?”
“Cape apa?”
“Berusaha.”
Juna tersenyum kecil.
“Gue nggak lagi berusaha.”
“Terus?”
“Gue cuma pengen ada di dekat lo”
Rhea terdiam beberapa detik.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak punya balasan cepat.
Malam itu, di kamar kosnya, Rhea duduk sendirian.
Ia memikirkan kalimat itu.
“Gue cuma pengen ada di dekat lo”
Bukan memaksa.
Bukan nuntut.
Hanya ingin ada.
Dan entah kenapa, itu yang paling mengganggu.
Karena konsistensi lebih berbahaya dari gombalan.
Besoknya di kampus.
Rhea datang terlambat, wajahnya lelah.
Juna langsung berdiri.
“Lo sakit?”
“Enggak.”
“Kelihatan pucat.”
“Kurang tidur.”
“Lo nggak bisa gitu terus.”
“Bisa.”
“Re.”
“Apa.”
“Jangan selalu ngerasa sendirian.”
Rhea menatapnya pelan.
“Gue nggak sendirian.”
“Terus?”
“Gue punya diri gue.”
Jawaban itu mantap.
Juna tersenyum kecil.
“Dan gue?”
“Lo teman.”
Jawaban aman.
Sengaja.
Di belakang mereka, Dimas berbisik ke Felly (haduhhh ni bedua lagiii)
“Teman itu udah ada kemajuan belum?”
Felly menghela napas.
“Untuk Rhea? Itu udah bonus.”
“Kenapa?”
“Karena dia nggak gampang masukin orang ke hidup dia”
Dimas mengangguk.
“Berarti Juna masih ujian tahap satu.”
“Masih banyak bab.”
Sore menjelang magrib.
Mereka berjalan keluar kampus berdampingan.
Sunyi tapi nyaman.
“Jun.”
“Iya?”
“Seriusan mau ngikutin gue mulu”
“Nggak ngikutin kok”
“Lah ini apa namanya”
“Nemenin” jawab Juna sambil tersenyum
“Perasaan dulu kamu nggak gini gini amat deh Jun”
“Dari dulu aku nggak berubah kok”
“nggak lo berubah”
“Apanya?”
“semuanya”
“Masa’ sih”
“Lo nggak takut gagal lagi?”
“Takut.”
“Terus kenapa masih maju?”
“Karena kali ini gue nggak mau gagal lagi”
Rhea menatap jalan di depan.
“Kalau gue nggak pernah berubah pikiran?”
“Gue tetap hormatin itu”
Hening.
Kalimat itu sederhana.
Tapi dewasa.
Rhea tersenyum kecil, nyaris tak terlihat.
Dan Juna menangkapnya.
Itu cukup untuk hari itu.
Fase ini masih panjang.
Belum ada pengakuan.
Belum ada kepastian.
Hanya satu yang jelas
Juna tidak lagi mengejar dengan tergesa.
Dan Rhea tidak lagi menolak dengan emosi.
Mereka berjalan di garis tipis antara teman… dan sesuatu yang mungkin tumbuh.
Juna benar-benar tidak pergi.
Bukan dalam arti dramatis.
Bukan dalam arti posesif.
Ia hanya… selalu ada.
Saat Rhea lembur proposal tengah malam,
Juna mengirim pesan:
“Air minum jangan lupa. Makan juga”
Saat Rhea presentasi lomba dan gagal masuk final,
Juna datang dengan dua es krim.
“Gue nggak butuh gula,” kata Rhea.
“Gue butuh alasan buat duduk di sini,” jawab Juna santai.
Saat Rhea harus kirim 20 paket jualan sendirian,
Juna sudah berdiri lebih dulu di depan kosnya.
“Lo tukang ojek sekarang?” tanya Rhea.
“Part-time.”
“Nggak sanggup ngegaji gue”
“Nanti Liat perkembangan.”
“Lo makin mirip proposal investor.”
Tapi tetap saja…
ia membiarkan Juna membantu.
Dan itulah yang membuat semuanya semakin rumit.