Memang Ada momen-momen tertentu di mana Rhea tidak ingin jadi orang yang kuat. Sore itu adalah salah satunya.
Ia duduk di tangga fakultas dengan proposal di tangan proposal yang sudah ia revisi sebelas kali, yang sudah ia kirim ke delapan sponsor berbeda, dan yang baru saja ditolak oleh yang terakhir dengan email tiga kalimat yang tidak menyebutkan alasannya secara spesifik, karena rupanya bahkan penolakan pun bisa dikirim dengan cara yang tidak menghormati kerja keras orang.
Langit di atas kampus berwarna oranye tipis menjelang magrib. Orang-orang bergerak pulang. Dan Rhea duduk saja di sana, menatap kertas itu, membiarkan dirinya lelah sebentar sebelum ia harus berdiri dan mulai lagi.
Wajahnya lelah.
Juna duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat.
“Lo habis dimarahin dosen?” tanya Juna.
“Nggak.”
“Terus?”
“Proposal ditolak sponsor.”
“Berarti cari sponsor lain.”
“Lo gampang banget ngomongnya.”
“Karena gue nggak ngerjain.”
Rhea tersenyum tipis.
“Minimal lo jujur.”
Juna menatapnya pelan.
“Re.”
“Iya.”
“Lo tau kan kenapa gue selalu ada?”
Rhea diam beberapa detik.
“Tau.”
“Terus?”
“Jangan ngomong”
Jawabannya cepat. Tegas. Seperti pagar otomatis.
“Kenapa?” tanya Juna lembut.
“Karena gue ngerti.”
“Ngerti apa?”
“Arti perhatian lo.”
Hening.
“Dan gue nggak mau pura-pura nggak tau.”
Kalimat itu bukan penolakan kasar.
Tapi pengakuan bahwa ia sadar.
Dan sadar membuatnya semakin hati-hati.
Malam itu, Rhea duduk sendirian di kamar kos.
Ia memegang ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan satu nama.
Kirana.
Telepon berdering beberapa kali.
“Halo?” suara Kirana terdengar tenang dari seberang kota.
“Ran.”
“Re? Tumben nelpon. lagi nggak sibuk?”
“Nggak, pengen nelpon aja. Lagi nggak belajar anatomi?”
“Baru selesai. Kenapa?”
Rhea terdiam sebentar.
“Kamu sibuk?”
“sedikit. tapi Untuk kamu? Enggak deh”
Kalimat itu langsung membuat d**a Rhea hangat.
“emang bisa begitu. aku nggak ganggu bu dokter kan?”
“Ih apaan sih Re. Nggak lah…ada apa?”
“Ran…”
“Iya?”
“Menurut kamu… kalau seseorang berubah… kita boleh percaya lagi nggak?”
Hening beberapa detik.
“Kamu lagi ngomongin siapa?”
“Kira-kira.”
Jeda singkat.
“Juna?” tanya Kirana pelan.
Rhea mendengus kecil.
“Kok lo tau”
“Ya taulah felly sering cerita”
“Ih emang dasar dia”
“Kenapa? Benerkan” balas Kirana sambil tertawa tanpa beban diseberang sana
“Lo masih peka ya.”
“Re. Kamu nelpon tengah malam dan tanya soal berubah. Ya Jelas siapa lagi coba.”
Rhea tertawa kecil.
“Dia nggak pernah nyerah.”
“Kamu mau dia nyerah?”
Rhea diam lagi beberapa detik
“Nggak tau.”
“Dia masih kayak dulu?”
“Nggak.”
“Lebih baik?”
“Iya.”
“Lebih dewasa?”
“Iya.”
“Terus masalahnya?”
Rhea menghela napas.
“Gue nggak mau jadi orang yang kayak… lupa.”
“Lupa apa?”
“Lupa kamu.”
Suara di seberang sana melembut.
“Re.”
“Hmm.”
“Aku sudah selesai sama dia”
“Aku tau.”
“Bukan cuma selesai. Aku benar-benar nggak punya rasa lagi”
Rhea diam.
“Kalau kamu takut karena aku, jangan.”
“Aku nggak mau kayak istilah pagar makan tanaman”
“Itu kalo aku masih ada hubungan sama Juna. udah masa lalu itu Re…lagian udah lama banget itu”
“Gue bukan takut karena kamu doang.”
“Terus?”
“Aku lagi bangun hidup ku Ran.”
Kirana tertawa pelan.
“Kamu dari dulu memang gitu.”
“Gimana?”
“Selalu taruh hati paling akhir.”
Rhea terdiam.
“Kamu suka dia?” tanya Kirana tiba-tiba.
Rhea langsung menjawab cepat,
“Enggak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Re.”
“Apa.”
“Kamu kalau bohong suaranya lebih cepat.”
Rhea menutup wajahnya dengan tangan.
“Gue cuma… nyaman.”
“Nyaman itu bahaya kan”
“Makanya.”
“Kamu takut?”
“Iya.”
“Takut jatuh?”
“Takut gagal fokus.”
Kirana tersenyum di seberang sana.
“Re, kamu bukan lagi anak SMA.”
“Justru itu.”
“Kamu boleh punya perasaan tanpa kehilangan tujuan.”
“Kalau tujuannya berubah?”
“Berarti kamu tumbuh”
Hening panjang.
Suara napas mereka terdengar samar.
“Dia nggak pernah nyatain,” ucap Rhea pelan.
“Kenapa?”
“Katanya belum waktunya.”
Kirana tertawa kecil.
“Itu dewasa.”
“Justru itu yang bikin gue makin tau.”
“Tau apa?”
“Dia serius.”
Hening lagi.
“Re,” suara Kirana menjadi lebih dalam.
“Kalau kamu memang suka, jangan tolak cuma karena takut.”
“Gue nggak nolak karena takut.”
“Terus?”
“Karena gue belum siap.”
“Hmmm”
Rhea menatap langit-langit kamar kosnya.
“Ran.”
“Iya.”
“Kalau suatu hari gue berubah pikiran…”
“Kamu nggak perlu minta izin.” Jawab Kirana cepat
Kalimat itu membuat mata Rhea berkaca-kaca.
“Lo baik banget sih. Gue makin salah kalau gini”
“Kita udah beda fase. kamu nggak salah Re”
“Kamu nggak sakit?”
“Enggak. ngapain. udah dibilang itu masa lalu”
“Bener?”
“Aku lebih bahagia jadi dokter yang sibuk daripada jadi orang yang terus mikirin masa lalu.”
Rhea tersenyum pelan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar lega.
Keesokan harinya di kampus.
Rhea duduk seperti biasa.
Juna datang membawa minuman lagi.
“Gue harus buka kafe biar lo nggak nolak minum,” ucapnya.
Rhea menatapnya lama.
“Jun.”
“Iya?”
“Lo capek nggak?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena gue nggak lagi ngejar.”
“Terus?”
“Gue nunggu.”
Rhea menatapnya lebih dalam dari biasanya.
“Nunggu apa?”
“Sampai lo nggak lagi pakai tembok.”
Rhea tersenyum tipis.
“Tembok gue tinggi.”
“Gue nggak manjat.”
“Terus?”
“Gue duduk depan gerbang.”
Rhea tidak bisa menahan tawa kecil.
“Lo aneh.”
“Gue konsisten.”
“Beda tipis.”
Hening.
Lalu Rhea berkata pelan,
“Jun.”
“Hm?”
“Kalau gue bilang jangan dulu?”
“Gue tetap di sini.”
“Sebagai?”
“Teman yang sabar.”
Rhea mengangguk pelan.
Tembok itu tidak runtuh.
Tapi pintunya… sedikit terbuka.
Di kamar kosnya malam itu, Rhea tersenyum kecil.
Ia tahu arti perhatian Juna.
Ia tahu arah perasaan itu.
Dan untuk pertama kalinya….
Ia tidak sepenuhnya menolak.
Ia hanya menunda.
Karena kali ini,
ia ingin memastikan..
Jika ia melangkah,
Itu bukan karena kesepian.
Bukan karena nostalgia.
Tapi karena benar-benar memilih.
***
Malam itu Rhea baru saja selesai live jualan.
Lampu kamar kosnya masih menyala terang.
Laptop terbuka.
Catatan keuangan berserakan di meja.
Ia merebahkan diri sebentar sambil membuka ponsel.
Dan di sana…
Satu nama yang lama tidak muncul.
Dika.
Pesan masuk.
Tanaman Hias masih fotosintesis nggak?
Rhea membeku satu detik. Ini aku nggak salah liat
Lalu tanpa sadar… tersenyum.
Sapaan itu.
Sudah lama sekali ia tidak mendengarnya.
Ia mengetik balasan.
Masih. Tumben banget, Kakak kelas masih sok sibuk?
Balasan datang cepat.
Sok sibuk? Aku sibuk beneran.
Lagi ospek kepanitiaan. Hidupku tidak santai lagi.
Rhea tertawa kecil.
Dika tetap Dika.
Ringan.
Tidak berat.
Tidak dramatis.
Tumben inget aku, Kak.
Aku selalu inget tanaman hias favoritku.
Rhea menggeleng sambil tersenyum.
Dan tanpa ia sadari
senyum itu lebih lepas daripada beberapa hari terakhir.
Keesokan siangnya di kampus, Rhea duduk di kantin bersama Juna.
Juna lagi-lagi membantunya menghitung stok barang.
“Lo harus pisahin yang preorder sama ready stock,” ucap Juna serius.
“Lo jadi konsultan gratis sekarang?”
“Iya. Gajinya senyum.”
“Murah banget.”
Ponsel Rhea berbunyi.
Notifikasi w******p.
Nama di layar cukup jelas karena Rhea belum sempat menggesernya.
Dika.
Juna tidak sengaja melihatnya.
Hanya sekilas.
Tapi cukup.
Rhea membuka pesan itu tanpa terlalu memikirkan.
Eh Tanaman Hias, di kota lo ada rekomendasi kopi enak nggak?
Aku ada rencana main ke sana bulan depan.
Rhea membalas cepat.
Banyak. Tapi mahal.
Diskon kakak kelas ada?
Rhea terkekeh kecil.
Juna terdiam.
Ada sesuatu yang aneh di dadanya.
Bukan marah.
Bukan cemburu yang meledak.
Tapi rasa tidak nyaman yang pelan.
“Teman lama?” tanya Juna santai, berusaha terdengar biasa.
Rhea mengangguk.
“Iya.”
“Kakak kelas ya?”
Rhea menoleh sebentar.
“Lo baca?”
“Kelihatan.”
“Dika.”
Juna tahu nama itu.
Nama itu tentu tidak asing
Ia pernah melihat bagaimana Rhea dulu menonton pertandingan basket hanya untuk orang itu.
“Oh.”
Hanya itu yang keluar.
“Dia lagi apa?” tanya Juna, masih berusaha ringan.
“Katanya mau ke sini bulan depan.”
“Main?”
“Katanya sih.”
Hening kecil di antara mereka.
Rhea kembali fokus ke ponsel.
Dan untuk pertama kalinya, Juna merasa bukan lagi orang yang paling dekat duduk di sampingnya.
Ia masih di sana.
Tapi perhatiannya terbagi.
Dan itu cukup membuat dadanya terasa sempit.
Di meja sebelah, Felly memperhatikan perubahan ekspresi Juna.
“Lo liat nggak?” bisiknya ke Dimas.
“Liat apa?”
“Wajah hukum itu berubah.”
Dimas melirik.
“Oh.”
“Oh apaan?”
“Dapat saingan kali??.”
Felly menyeringai kecil.
“Plot twist.”
Sore itu, saat Rhea dan Juna berjalan keluar kampus, suasananya sedikit berbeda.
Biasanya Juna banyak bicara.
Hari itu ia lebih diam.
“Lo kenapa?” tanya Rhea akhirnya.
“Enggak.”
“Lo kalau enggak kenapa-kenapa, nadanya nggak kayak gitu.”
Juna tersenyum tipis.
“Dika dulu deket banget ya sama lo?”
Rhea berhenti sebentar.
“Kenapa?”
“Cuma nanya.”
“Iya.”
“Sampai mana?”
Rhea mengangkat alis.
“Wawancara kerja?”
“Gue cuma pengen tau.”
“Kenapa pengen tau?”
Juna terdiam beberapa detik.
“Karena gue nggak suka ngerasa ketinggalan cerita.”
Rhea memandangnya.
ia menangkap sesuatu di mata Juna…
Bukan keseriusan.
Bukan konsistensi.
Tapi rasa takut.
“Kita cuma teman,” jawab Rhea akhirnya.
“Dulu juga?”
“Iya.”
“Sekarang?”
“Masih.”
Juna mengangguk pelan.
Tapi rasa itu belum hilang.
Karena ia tahu…
Beberapa ‘cuma teman’ bisa berarti banyak.
Malamnya Rhea kembali menerima pesan dari Dika.
Serius ya aku mau ke kota lo.
Jangan pura-pura sibuk.
Rhea tertawa kecil.
Aku memang sibuk.
Tanaman hias sibuk tumbuh ya?
Iya. Biar nggak layu.
Rhea menyandarkan punggung ke dinding.
Perasaan itu bukan cinta yang mendadak.
Bukan rindu yang menggebu.
Hanya hangat kecil dari masa lalu yang pernah menyenangkan.
***
Di kamar kosnya, Juna duduk memikirkan hal yang sama.
Ia tahu ia belum menyatakan perasaannya.
Ia memilih sabar.
Memilih menunggu.
Tapi kehadiran Dika seperti pengingat…
Bahwa Rhea punya cerita sebelum ia datang.
Dan mungkin… cerita itu belum benar-benar selesai.
Ia mengetik pesan.
Lo udah sampai kos?
Rhea membalas.
Udah.
Beberapa detik kemudian Juna menambahkan.
Gue nggak cemburu.
Rhea langsung tertawa.
Siapa bilang lo cemburu?
Enggak ada
Berarti lo ngerasa.
Juna menatap layar.
Tertangkap.
Gue cuma nggak mau kalah start.
Balasan Rhea datang cukup cepat.
Ini bukan lomba, Jun.
Kalimat itu sederhana.
Tapi menenangkan.
Keesokan harinya di kampus, Juna kembali seperti biasa.
Membantu.
Hadir.
Tidak berubah.
Namun kali ini, ada kesadaran baru dalam dirinya.
Ia tidak lagi satu-satunya kemungkinan.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia mendekati Rhea…
Ia merasakan ancaman yang nyata.
Bukan dari masa lalu Kirana.
Tapi dari masa lalu Rhea.
Dan mungkin…
ini ujian pertama bagi konsistensinya.