Namanya Alya. Seseorang yang menganggu perhatian Rhea akhir-akhir ini
Mahasiswi Fakultas Hukum angkatan yang sama dengan Juna.
Cerdas, aktif di organisasi debat, dan tipe yang berbicara dengan penuh percaya diri.
Awalnya biasa saja.
Sampai suatu siang di kantin fakultas hukum, Alya duduk tepat di sebelah Juna.
“Jun, nanti kamu jadi ikut diskusi publik kan?” tanyanya sambil membuka laptop.
“Iya,” jawab Juna singkat.
“Kamu bisa bantu aku review materi? Argumenku masih lemah di bagian hukum perdata.”
Juna mengangguk.
“Boleh.”
Alya tersenyum lebar.
Dan kebetulan sekali…
Rhea sedang berdiri beberapa meter dari situ bersama Felly.
“Eh itu bukannya Juna?” tanya Felly santai.
Rhea menoleh.
Dan di situlah ia melihatnya.
Juna duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang terlihat sangat nyaman tertawa bersamanya.
Rhea hanya menatap dua detik.
Lalu berbalik.
“Oh.”
“Oh apaan?” tanya Felly.
“Teman fakultasnya mungkin”
“Teman?”
“Iya.”
“Lo tau namanya?”
“Enggak.”
“Berarti bukan cuma teman.”
Rhea langsung melirik tajam.
“Lo nggak usah mulai.”
Felly menahan senyum.
Sore itu, Juna tetap datang ke fakultas bisnis seperti biasa.
Seolah tidak ada yang berubah.
Rhea sedang sibuk presentasi kecil dengan tim lombanya.
Juna duduk di bangku belakang.
Alya muncul beberapa menit kemudian.
“Jun, kamu di sini?” tanyanya ringan.
Juna sedikit terkejut.
“Iya. Kenapa?”
“Kita jadi diskusi jam lima kan?”
“Oh iya.”
Rhea tidak menoleh.
Tapi telinganya jelas menangkap semuanya.
Alya melirik ke arah Rhea.
“Oh, kamu lagi bantu teman?” tanyanya.
“Iya.”
Alya tersenyum tipis.
“Oke. Jangan lupa ya.”
Lalu ia pergi.
Rhea tetap menatap layar presentasi.
Seolah tidak peduli.
Setelah rapat selesai, Juna mendekat.
“Lo udah makan?” tanya seperti biasa.
“Udah.”
“Serius?”
“iya bener.”
“Lo bohong.”
“Lo cerewet.”
Juna tertawa kecil.
Biasanya Rhea akan mulai bercanda.
Hari itu, ia lebih singkat.
“Lo kenapa?” tanya Juna.
“Kenapa apaan?”
“Nadanya beda.”
“Perasaan lo aja.”
Hening.
“Teman fakultas lo cantik,” ucap Rhea tiba-tiba.
Juna mengangkat alis.
“Siapa?”
“Tadi.”
“Oh. Alya.”
“Namanya Alya.”
“Iya.”
“Dekat?”
“Enggak.”
“Sering bareng.”
“Karena satu tim debat.”
Rhea mengangguk kecil.
“Oke.”
“Oke apaan?”
“Ya oke.”
Dan ia langsung berjalan lebih dulu.
Di belakang mereka, Dimas muncul entah dari mana.
“Bro.”
“Apa.”
“Lo tau nggak Rhea tadi ngeliatin lo?”
“Ngeliatin apa?”
“Ngeliatin lo sama Alya.”
Juna berhenti berjalan.
“Dia cemburu?”
Dimas mengangkat bahu.
“Kalau ditanya pasti bilang enggak.”
Juna tidak bisa menahan senyum kecil.
Tapi ia tidak ingin salah langkah.
Ia tahu Rhea bukan tipe yang akan bereaksi langsung.
Malam itu, Rhea dan Kirana video call.
“Kamu keliatan capek,” ucap Kirana.
“Biasa.”
“Kampus?”
“Iya.”
Hening sebentar.
“Ran.”
“Iya?”
“Kalau ada cewek deket sama… ya seseorang yang deket sama kita… itu normal nggak sih kalau kita ngerasa aneh?”
Kirana tersenyum kecil.
“Normal.”
“Aneh itu berarti apa?”
“Berarti kamu peduli.”
Rhea langsung cepat menjawab.
“Enggak. Gue cuma nggak suka situasi ribet.”
“Re.”
“Apa.”
“Kamu cemburu?”
“Enggak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Kamu kalau cemburu biasanya lebih jutek.”
Rhea terdiam.
“Kamu tau banget ya.”
“siapa sih yang kenal kamu lebih baik dari aku.”
Rhea tidak membalas.
Keesokan harinya di kampus.
Alya kembali duduk bersama Juna.
Kali ini lebih dekat.
Mereka tertawa cukup lama.
Rhea lewat di depan mereka.
Tanpa menoleh.
Tanpa senyum.
Tanpa komentar.
Hanya langkah yang sedikit lebih cepat.
Juna melihat itu.
Ia langsung berdiri.
“Gue ke fakultas bisnis dulu,” katanya pada Alya.
“Sekarang?”
“Iya.”
Alya mengangguk.
“Oke.”
Rhea sedang mengangkat kardus barang di lobi fakultas ketika Juna datang.
“Lo butuh bantuan?” tanya Juna.
“Enggak.”
“Berat.”
“Bisa.”
Juna tetap mengambil satu kardus.
“Lo kenapa sih?” tanya Juna pelan.
“Kenapa apaan?”
“Lo beda.”
“Lo juga.”
“Bedanya?”
“Lo punya tim debat sekarang.”
Juna tersenyum tipis.
“Lo cemburu.”
“Jangan geer.”
“Re.”
“Apa.”
“Gue tetap di sini.”
“Ya silakan.”
“Bukan itu maksudnya.”
“Gue tau.”
Hening.
“Gue nggak tertarik sama Alya.”
Rhea menoleh.
“Kenapa jelasin ke gue?”
“Karena gue nggak mau lo salah paham.”
Rhea menatapnya beberapa detik.
“Jun.”
“Iya?”
“Gue nggak salah paham.”
“Terus?”
“Gue cuma nggak mau mikir.”
Dan itu lebih jujur dari penolakan.
Di kantin, Felly dan Dimas kembali jadi komentator.
“Bab baru nih,” bisik Dimas.
“Siapa yang goyah duluan?” tanya Felly.
“Menurut lo?”
“Rhea.”
“Kenapa?”
“Karena dia mulai bereaksi.”
Dimas tertawa kecil.
“Dan Juna?”
“Dia nggak pindah arah.”
Dimas mengangguk.
“Berarti ini ujian konsistensi.”
Felly tersenyum.
“Dan ujian hati.”
Sore itu, Rhea duduk sendirian di tangga.
Ia memikirkan satu hal yang mengganggunya.
Kenapa ia merasa tidak nyaman melihat Alya tertawa bersama Juna?
Bukankah ia sendiri yang selalu memasang jarak?
Bukankah ia yang berkata jangan dulu?
Ia menghela napas panjang.
“Gue nggak cemburu,” gumamnya.
Tapi hatinya sedikit tidak setuju.
Di sisi lain, Juna berdiri di depan fakultas bisnis menunggu Rhea keluar.
Ia bisa saja membiarkan situasi berkembang dengan Alya.
Lebih mudah.
Lebih sederhana.
Tapi ia tidak mau mengulang kesalahan.
Ia tidak ingin bergerak karena luka.
Ia ingin bergerak karena pilihan.
Dan pilihannya masih berdiri di dalam gedung itu…
Dengan tembok tinggi,
tapi pintu yang perlahan mulai terbuka.
Dua tahun.
Kalau dihitung cepat, itu hanya delapan semester mata kuliah umum dan jurusan.
Tapi bagi Juna, itu adalah delapan semester belajar satu hal:
sabar.
Rhea sekarang tidak lagi sejutek dulu.
Masih tajam? Iya.
Masih sinis? Kadang.
Tapi tidak lagi menutup pintu sepenuhnya.
Suatu sore di kantin kampus.
Rhea duduk dengan laptop terbuka, menghitung laporan keuntungan kecil bisnis onlinenya.
Juna duduk di seberangnya.
“Lo tau nggak,” ucap Juna santai.
“Apa lagi.”
“Dua tahun lalu lo nggak bakal biarin gue duduk selama ini.”
Rhea tanpa menoleh menjawab,
“Dua tahun lalu gue lebih hemat kursi.”
“Sekarang?”
“Sekarang gue lebih hemat energi marah.”
Juna tertawa kecil.
“Berarti gue lulus probation?”
“Belum.”
“Masih kontrak?”
“Masih magang.”
Dari meja sebelah, Felly menyikut Dimas.
“Magang dua tahun. HRD mana yang tega.”
Dimas menahan tawa.
“Ini perusahaan paling lama promosi.”
Alya datang membawa dua gelas kopi.
“Jun, ini pesanan kamu.”
Juna terlihat sedikit canggung.
“Oh iya, makasih.”
Alya tersenyum ramah, lalu melirik Rhea.
“Halo.”
Rhea membalas singkat.
“Hai.”
Alya menaruh satu kopi di depan Juna.
“Aku udah tambahin gula, kamu kan nggak suka pahit.”
Rhea berhenti mengetik sebentar.
Juna menatap kopinya.
“Iya, makasih.”
Alya pergi setelah beberapa kalimat ringan.
Hening kecil tercipta.
Rhea kembali mengetik.
“Lo nggak minum?” tanya Juna.
“Minum apa?”
“Reaksi.”
Rhea mendengus.
“Gue bukan sinetron.”
“Cemburu dikit?”
“Lo pengen?”
Juna tersenyum kecil.
“Enggak. Cuma nanya.”
Rhea akhirnya menoleh.
“Jun.”
“Iya?”
“Kalau ada orang yang jelas-jelas perhatian ke lo, kenapa lo nggak pindah aja?”
Juna tidak menjawab langsung.
Ia mengaduk kopi pelan.
“Karena gue nggak lagi cari yang perhatian.”
“Terus?”
“Gue cari yang gue pilih.”
Rhea terdiam. Pipinya sedikit memerah sekarang
Kalimat itu tidak berat.
Tapi jelas.
Beberapa hari kemudian, hujan turun deras seperti dulu.
Rhea berdiri di depan lobi fakultas bisnis.
Juna sudah lebih dulu datang membawa payung.
“Lo kayak satpam hujan,” ucap Rhea.
“Gue konsisten.”
“Lo punya hidup nggak sih?”
“Punya.”
“Di mana?”
“Di sini.”
Rhea memutar mata.
“Jun.”
“Iya?”
“Gue masih belum bisa janji apa-apa.”
“Gue nggak minta janji.”
“Terus?”
“Gue cuma minta kesempatan duduk di sebelah lo.”
Rhea menatapnya beberapa detik.
“Dua tahun masih belum cukup?”
“Kalau buat lo belum, ya belum.”
Rhea akhirnya tersenyum kecil.
Itu bukan senyum sopan.
Itu senyum yang mulai menerima.
Di sisi lain kampus, Felly dan Dimas lagi diskusi serius.
“Menurut lo Rhea udah mulai?” tanya Dimas.
“Udah.”
“Seberapa persen?”
“60%.”
“Kenapa bukan 100%?”
“Karena dia masih mikir terlalu banyak.”
Dimas mengangguk.
“Dan Juna?”
“Dia udah 120%.”
“Berarti overqualified.”
Felly tertawa kecil.
“Yang bikin gue salut, dia nggak pindah meski Alya jelas banget.”
Dimas mengangguk pelan.
“Itu beda ya. Ngejar karena ego sama ngejar karena yakin.”
Felly menatap jauh ke arah Rhea dan Juna yang berjalan berdampingan di bawah payung.
“Dan dia yakin.”
Suatu malam di perpustakaan kampus.
Rhea duduk bersandar, wajahnya lelah.
Juna duduk di sampingnya.
“Lo sakit?” tanya Juna pelan.
“Enggak.”
“Lo keliatan capek.”
“Capek biasa.”
“Lo nggak harus kuat terus.”
Rhea menoleh.
“Lo dari dulu selalu bilang gitu.”
“Karena dari dulu lo selalu maksa.”
Hening.
Rhea menatap meja.
“Jun.”
“Iya?”
“Kenapa sih lo nggak nyerah?”
Juna tersenyum kecil.
“Karena gue nggak lagi ngejar bayangan.”
“Terus?”
“Gue ngejar orang yang nyata.”
Rhea terdiam lama.
“Gue bukan orang yang gampang.”
“Gue tau.”
“Gue banyak mikir.”
“Gue tau.”
“Gue takut salah.”
“Gue tau.”
“Terus?”
“Gue tetap di sini.”
Jawaban itu tidak berubah sejak dua tahun lalu.
Dan justru karena tidak berubah, ia terasa lebih dalam.
Suatu sore, Rhea duduk di tangga fakultas.
Juna datang tanpa membawa apa-apa.
Tidak kopi.
Tidak roti.
Hanya duduk.
“Lo nggak bawa suvenir hari ini?” tanya Rhea.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Gue mau coba nggak jadi bantuan logistik.”
Rhea tertawa kecil.
“Lo bisa juga ya santai.”
“Gue belajar.”
Hening yang nyaman.
Tidak perlu obrolan besar.
Hanya duduk berdampingan.
Dan itu terasa berbeda.
Tiba-tiba Rhea berkata pelan,
“Jun.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari gue bilang iya…”
Juna langsung menoleh.
“…itu bukan karena lo nunggu lama.”
“Tapi?”
“Karena gue siap.”
Juna tersenyum pelan.
“Gue tau.”
Dan untuk pertama kalinya, tidak ada tekanan di antara mereka.
Tidak ada buru-buru.
Tidak ada kompetisi dengan Alya.
Karena dua tahun itu bukan tentang siapa yang lebih cepat.
Tapi siapa yang tetap tinggal.
Di kejauhan, Felly dan Dimas memperhatikan lagi.
“Kayaknya tinggal nunggu satu bab lagi,” bisik Dimas.
Felly tersenyum.
“Slow burn itu emang lebih enak.”
Dimas mengangguk.
“Dan Juna lulus probation?”
Felly tertawa kecil.
“Kayaknya udah masuk tahap kontrak tetap.”
Sekarang ceritanya sudah matang.