Semester ini berbeda. Rhea bukan hanya sibuk. Ia seperti berlari. Proposal bisnisnya lolos inkubasi kampus.
Ia masuk program pendanaan mahasiswa.
Ditambah proyek freelance kecil yang tidak boleh ia sia-siakan.
Kalendernya penuh.
Senin–Jumat kuliah dan rapat.
Sabtu pitching.
Minggu laporan keuangan.
Dan Juna?
Perlahan ia mulai merasa seperti tamu di jadwal Rhea.
“Lo kapan kosong?” tanya Juna suatu sore lewat pesan.
Balasan datang dua jam kemudian.
Maaf baru balas. Lagi rapat.
Minggu depan mungkin.
Minggu depan.
Bukan besok.
Bukan lusa.
Juna menatap layar lama.
Ia tidak marah.
Ia hanya… sedikit lelah.
Beberapa hari kemudian, Juna sengaja datang ke fakultas bisnis.
Biasanya Rhea duduk di tangga atau kantin.
Hari itu tidak ada.
Ia bertanya pada salah satu teman Rhea.
“Rhea?”
“Oh lagi ke kantor inkubator.”
Juna mengangguk.
Ia berjalan ke arah gedung itu.
Tapi sampai di depan pintu, ia berhenti.
Rhea terlihat sedang presentasi serius di dalam ruangan kaca.
Tangannya bergerak menjelaskan slide.
Wajahnya fokus.
Matanya menyala.
Juna berdiri cukup lama di luar.
Lalu tersenyum kecil. “Dia makin cantik aja kalau lagi serius gitu” gumamnya.
Ia tidak masuk.
Ia tidak ingin mengganggu.
Ia hanya ingin melihat.
Dan itu sudah cukup.
Malamnya, ia mengirim pesan.
Presentasi lo keren.
Balasan datang setengah jam kemudian.
Lo di sana?
Iya.
Kenapa nggak masuk?
Lo lagi fokus banget takut ganggu
Beberapa menit hening.
Lalu pesan masuk.
Makasih ya.
Sederhana.
Tapi Juna menyimpannya seperti sesuatu yang penting.
Di sisi lain, Felly memperhatikan perubahan kecil.
“Lo keliatan capek,” ucapnya pada Juna di kantin.
“Enggak.”
“Lo bohong.”
Juna tersenyum kecil.
“Gue cuma… jarang ketemu dia sekarang.”
“Dan?”
“Beda aja.”
Dimas ikut nimbrung.
“Bro, ini bukan saingan. Ini jadwal.”
Juna tertawa tipis.
“Iya. Gue tau.”
“Lo mau mundur?” tanya Felly.
“Enggak.”
“Terus?”
“Gue cuma belajar menjaga jarak. Dia punya prioritas sekarang”
Rhea sendiri hampir tidak sadar bahwa ia mulai jarang melihat Juna.
Bukan karena sengaja.
Tapi karena waktunya benar-benar padat.
Suatu malam, ia membuka chat dan menyadari..
Juna sudah tidak lagi banyak mengirim pesan panjang.
Hanya singkat.
Udah makan?
Jangan lupa istirahat.
Semangat pitching besok.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada “kapan ketemu?”
Rhea terdiam cukup lama.
Kenapa justru itu terasa berbeda?
Beberapa hari kemudian, akhirnya mereka bertemu di perpustakaan.
Tidak sengaja.
Rhea membawa banyak berkas.
Juna berdiri dari mejanya.
“Lo makin kurus.”
“Lo makin cerewet.”
“Lo tidur nggak sih?”
“Kadang.”
“Re.”
“Apa.”
“Lo nggak harus ngerjain semuanya sendirian.”
Rhea tersenyum tipis.
“Gue nggak sendirian.”
“Tapi lo jarang cerita.”
“Karena lo sibuk juga.”
Juna tertawa kecil.
“Gue nggak sesibuk itu.”
“Gue tau.”
Hening kecil.
Untuk pertama kalinya, Rhea yang membuka percakapan.
“Jun.”
“Iya?”
“Lo capek?”
Pertanyaan itu membuat Juna terdiam.
“Sedikit,” jawabnya jujur.
“Kenapa nggak bilang?”
“Karena gue nggak mau jadi beban tambahan.”
Rhea menatapnya lama.
“Lo bukan beban.”
“Gue tau. Tapi gue nggak mau ganggu ritme lo.”
Rhea duduk perlahan di kursi seberangnya.
“Jun.”
“Hm?”
“Gue lagi fase penting.”
“Gue tau.”
“Gue takut kalau gue terlalu fokus ke hal lain, gue kehilangan momentum.”
Juna mengangguk.
“Dan gue nggak mau jadi alasan lo kehilangan momentum.”
Hening.
Kalimat itu bukan dramatis.
Tapi dewasa.
Malam itu, Rhea duduk di kamar kosnya.
Ia memikirkan satu hal yang mengganggu.
Kenapa justru ketika Juna tidak memaksa, ia merasa kehilangan sedikit?
Kenapa ketika Juna jarang muncul, ia mulai mencari?
Ia membuka chat.
Jun, besok lo ada waktu?
Balasan datang cepat.
Ada. Kenapa?
Mau makan bareng.
Tapi cuma satu jam.
Juna tersenyum di kamarnya.
Satu jam cukup.
Keesokan harinya, mereka duduk di warung kecil dekat kampus.
Tidak mewah.
Tidak romantis.
Hanya dua piring nasi dan dua gelas teh.
“Lo tau nggak,” ucap Rhea pelan.
“Apa.”
“Dulu gue takut lo terlalu dekat.”
“Sekarang?”
“Sekarang gue takut lo terlalu jauh.”
Juna tersenyum kecil.
“Gue nggak ke mana-mana.”
“Tapi lo lebih diem.”
“Gue belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak bikin lo merasa ditarik.”
Hening.
Rhea menatapnya.
“Jun.”
“Iya?”
“Kalau suatu hari gue berhasil… bener-bener berhasil…”
“Gue bakal tepuk tangan paling keras.”
“Kalau gue gagal?”
“Gue tetap duduk di sini.”
Rhea menahan senyum.
“Lo capek nggak sih jadi sabar terus?”
“Capek.”
“Terus kenapa nggak pergi?”
Juna terdiam beberapa detik.
Karena jawabannya sederhana.
“Karena gue masih mau.”
Dan itu cukup.
Di meja lain, Felly dan Dimas yang kebetulan lewat memperhatikan dari jauh.
“Masih bertahan,” gumam Dimas.
Felly tersenyum pelan.
“Yang diuji sekarang bukan cinta.”
“Terus?”
“Ketahanan.”
Dimas mengangguk.
“Dan mereka nggak lagi remaja.”
“Makanya nggak ada drama.”
Sore itu, setelah satu jam selesai, Rhea berdiri.
“Gue harus balik.”
“Gue tau.”
“Jun.”
“Hm?”
“Makasih ya.”
“Untuk?”
“Udah nggak bikin gue merasa dikejar.”
Juna tersenyum kecil.
“Gue bukan ngejar.”
“Terus?”
“Gue jalan pelan.”
Rhea mengangguk.
Ia merasa tenang bukan karena sibuk.
Tapi karena tahu..
Seseorang tetap ada.
Tanpa memaksa.
Tanpa menghilang.
***
Kesibukan Rhea masih sama.
Proposal, pitching, laporan, kelas, bisnis fashion kecilnya yang makin berkembang.
Tapi ada satu hal yang berubah.
Ia mulai sadar…
di sela-sela jadwal yang penuh,
yang ia cari bukan cuma kopi atau istirahat.
Tapi Juna.
Suatu malam, setelah presentasi yang melelahkan, Rhea duduk sendirian di tangga fakultas.
Biasanya Juna akan muncul dengan pertanyaan klasiknya:
“Lo udah makan?”
Hari itu tidak ada pesan.
Tidak ada notifikasi.
Rhea membuka ponselnya.
Tidak ada chat baru dari Juna.
Aneh.
Biasanya minimal satu pesan masuk.
Ia mengetik lebih dulu.
Jun, lo lagi sibuk?
Balasan datang hampir satu jam kemudian.
Lagi di fakultas. Diskusi debat.
Singkat.
Tidak seperti biasanya.
Rhea membaca ulang pesan itu.
Ada yang berbeda.
Di fakultas hukum, Alya duduk di samping Juna dengan berkas debat di tangannya.
“Kamu kelihatan capek,” ucap Alya lembut.
“Sedikit.”
“Kamu terlalu sering ke fakultas bisnis ya.”
Juna tersenyum tipis.
“Enggak juga.”
Alya menatapnya cukup lama.
“Kamu tau kan, nggak semua orang akan selalu ada.”
Juna tidak menjawab.
Alya melanjutkan pelan,
“Kalau kamu lelah, kamu boleh berhenti.”
Juna menghela napas.
Lelah.
Bukan karena Rhea.
Tapi karena ia memang lelah akhir-akhir ini.
Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri…
sampai kapan?
Sementara itu, ponsel Rhea berbunyi lagi.
Nama yang lama tidak muncul.
Dika.
Tanaman Hias lagi sibuk tumbuh?
Rhea tersenyum kecil.
Lagi hampir layu.
Waduh. Butuh pupuk?
Rhea tertawa pelan.
Dika masih ringan seperti dulu.
Tidak berat.
Tidak penuh intensitas.
Hanya hangat kecil yang santai.
Kamu kapan ke sini?
Minggu depan jadi. Ada acara kampus juga.
Rhea terdiam sebentar.
Dua arah berbeda sedang berjalan.
Satu konsisten tapi lelah.
Satu ringan tapi jauh.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar membandingkan.
Besoknya, Rhea datang ke fakultas hukum.
Jarang sekali ia ke sana.
Dimas yang melihat langsung menyenggol Felly.
“Wah. Pergerakan.”
Felly tersenyum tipis.
“Dia nyari.”
Rhea berdiri di depan ruang debat.
Melihat dari luar, Juna dan Alya sedang berdiskusi cukup dekat.
Alya tertawa kecil.
Juna terlihat serius, tapi tidak menjauh.
Dada Rhea terasa aneh.
Bukan marah.
Bukan cemburu yang tajam.
Tapi rasa kehilangan yang belum terjadi.
Dan di situlah ia sadar.
Ia bukan sekadar terbiasa.
Ia butuh.
Setelah diskusi selesai, Juna keluar ruangan dan sedikit terkejut melihat Rhea.
“Lo di sini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Lagi pengen lihat hukum ribut.”
Juna tertawa kecil.
Alya keluar beberapa detik kemudian.
“Oh, kamu Rhea ya?” ucap Alya ramah.
Rhea mengangguk.
“Iya.”
“Kamu sering disebut.”
Rhea melirik Juna.
“Oh ya?”
Juna terlihat canggung.
“Cuma cerita biasa.”
Alya tersenyum tipis.
“Jun, nanti jangan lupa revisi argumen ya.”
“Iya.”
Alya pergi.
Hening kecil tercipta.
“Lo capek?” tanya Rhea tiba-tiba.
Juna menatapnya.
“Lumayan.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Lo sibuk.”
“Terus?”
“Gue nggak mau nambah beban.”
Rhea menghela napas.
“Lo tau nggak bedanya terbiasa sama butuh?”
Juna mengernyit.
“Apa?”
“Terbiasa itu kalau nggak ada, kita masih jalan.
Butuh itu kalau nggak ada, kita mulai nyari.”
Juna terdiam.
“Gue nyari lo kemarin.”
Kalimat itu pelan.
Tapi jelas.
Juna menatapnya lama.
“Kenapa?” tanyanya hati-hati.
“Karena gue sadar, gue nggak cuma nyaman.”
Hening panjang.
Angin sore kampus berhemb
“Dika chat gue lagi,” ucap Rhea pelan.
Juna sedikit kaku.
“Oh.”
“Tapi rasanya beda.”
“Beda gimana?”
“Dulu hangat. Sekarang cuma nostalgia.”
Juna tidak langsung menjawab.
Ia ingin memastikan.
“Dan Alya?” tanya Rhea balik.
“Alya baik.”
“Terus?”
“Tapi gue nggak pernah pindah.”
Kalimat itu tidak keras.
Tapi pasti.
Rhea menatapnya.
“Jun.”
“Hm?”
“Kalau gue bilang gue butuh lo…”
Juna menelan ludah.
“…itu bukan karena gue takut kehilangan.”
“Terus?”
“Karena gue sadar lo selalu ada.”
Hening.
Tidak ada musik latar.
Tidak ada adegan dramatis.
Hanya dua orang yang akhirnya berdiri di titik yang sama.
Dari kejauhan, Felly dan Dimas menyaksikan lagi.
“Kayaknya ini bukan lagi 60%,” gumam Dimas.
Felly tersenyum kecil.
“Udah lewat 80%.”
“Pengakuan kapan?”
“Juna masih nahan.”
“Kenapa?”
“Karena dia nggak mau ini terjadi saat dia lelah.”
Dimas mengangguk.
“Dia mau berdiri tegak waktu ngomong.”
Malam itu, Juna duduk di balkon kosnya.
Pesan dari Alya masuk.
Kamu baik-baik aja?
Juna mengetik sebentar.
Iya. Makasih ya.
Ia berhenti.
Lalu menambahkan.
Tapi aku sudah memilih sejak lama.
Pesan terkirim.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ragu.
Di kamar kosnya, Rhea membuka chat Dika.
Kak, minggu depan jadi ke sini?
Ia mengetik lagi.
Kalau jadi, kita ngopi. Tapi jangan lama. Aku sibuk.
Balasan datang cepat.
Tanaman Hias sekarang galak banget.
Rhea tersenyum kecil.
Besoknya di kampus, Juna berjalan berdampingan dengan Rhea.
Tidak ada jarak canggung.
Tidak ada tembok tinggi.
Hanya langkah yang mulai sejajar.
“Re,” ucap Juna pelan.
“Iya?”
“ada yang mau gue omongin penting sama kamu. tapi nggak dalam keadaan setengah.”
Rhea mengangkat alis.
“Berarti?”
“Gue mau pastiin ini bukan cuma momen.”
Rhea tersenyum kecil.
“Lo serius banget.”
“Iya.”
“Gue tau.”
Dan kali ini…
Rhea tidak lagi menjauh.